<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>rianadhivira.wordpress</title>
	<atom:link href="http://rianadhivira.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rianadhivira.wordpress.com</link>
	<description>Monggo mampir, monggoooo</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Jan 2012 19:16:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rianadhivira.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>rianadhivira.wordpress</title>
		<link>http://rianadhivira.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rianadhivira.wordpress.com/osd.xml" title="rianadhivira.wordpress" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rianadhivira.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Anggaran Renovasi DPR dan Ruang Publik Habermas</title>
		<link>http://rianadhivira.wordpress.com/2012/01/21/anggaran-renovasi-dpr-dan-ruang-publik-habermas/</link>
		<comments>http://rianadhivira.wordpress.com/2012/01/21/anggaran-renovasi-dpr-dan-ruang-publik-habermas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 14:09:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rianadhivira</dc:creator>
				<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rianadhivira.wordpress.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini, kita dihebohkan oleh berita-berita seputar biaya renovasi dan berbagai fasilitas lain untuk DPR. Berdasarkan Viva news[1], anggaran tersebut antara lain adalah untuk perawatan gedung,  perawatan rumah dinas, renovasi ruang rapat badan anggaran, pembuatan kalender, sampai biaya perawatan rusa di gedung DPR. Opini-opini publik pun bermunculan, banyak yang mengatakan kalau biaya yang diajukan diluar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=385&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Belakangan ini, kita dihebohkan oleh berita-berita seputar biaya renovasi dan berbagai fasilitas lain untuk DPR. Berdasarkan Viva news<a title="" href="/Dpr%20dalam%20Ruang%20Publik%20Habermas.docx#_ftn1">[1]</a>, anggaran tersebut antara lain adalah untuk perawatan gedung,  perawatan rumah dinas, renovasi ruang rapat badan anggaran, pembuatan kalender, sampai biaya perawatan rusa di gedung DPR.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2012/01/gedung-dpr.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-391" title="gedung dpr" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2012/01/gedung-dpr.jpg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Opini-opini publik pun bermunculan, banyak yang mengatakan kalau biaya yang diajukan diluar akal sehat, suatu pemborosan, kala kondisi selang sengkarut negara yang masih babak belur diterpa berbagai kasus korupsi, penegakan keadilan yang dinilai timpang, berbagai konflik antar golongan, dan lain sebagainya yang terus muncul seperti penyakit endemik.</p>
<p style="text-align:justify;">Ditengah cibiran, kritikan pedas, dan cemooh dari berbagai kalangan, jawaban dari para anggota dewan sendiri justru jauh dari memuaskan. Pertanda tidak sehat apakah ini? Menurut Jurgen Habermas, pertanda tersebut setidaknya dapat dianalisa sebagai sebuah keadaan dimana adanya jarak antara tindakan komunikatif (<em>Communicative Act</em>) dengan otoritas para pengambil keputusan, dengan kata lain, tidak diserapnya aspirasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya, apa yang bisa dilakukan oleh warganegara untuk menyampaikan sikap politisnya pada sela waktu antara pemilihan umum? Menurut Habermas jawabanya adalah pada suatu ruang diskursus dimana warganegara dapat menyatakan opini, kepentingan, dan kebutuhan mereka secara diskursif<a title="" href="/Dpr%20dalam%20Ruang%20Publik%20Habermas.docx#_ftn2">[2]</a> yang disebut Ruang Publik (<em>Public Sphere).</em> Sejauh suatu wacana masih relevan pada kondisi masyarakat untuk diajukan maka, tidak ada batasan pembicaraan dalam Ruang Publik, karena dia ada dalam tiap bentuk pertemuan antar warganegara untuk membicarakan sesuatu yang pada dasarnya berasal dari <em>Lebenswelth (</em>dunia-kehidupan) karena menurut Habermas, Ruang Publik yang berakar dari dunia solidaritas sehari-hari adalah Ruang Publik yang tidak dikooptasi kekuasaan<a title="" href="/Dpr%20dalam%20Ruang%20Publik%20Habermas.docx#_ftn3">[3]</a> sehingga disinilah dia menaruh harapanya dalam bentuk diskursus didalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ruang Publik yang sehat akan mendorong sebuah Demokrasi yang deliberatif, yaitu suatu demokrasi yang senantiasa menimbang-nimbang, dimana negara bukanlah kerangka pasif untuk seluruh masyarakat dan juga bukan sebuah pusat yang merangkum segalanya, melainkan sebuah instrumen sosial sensitif untuk kehidupan bersama secara politis dan suatu tempat untuk memprogram kebutuhan-kebutuhan perubahan.<a title="" href="/Dpr%20dalam%20Ruang%20Publik%20Habermas.docx#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Masyarakat Indonesia pasca reformasi 1998 memiliki kembali apa yang hilang pada orde sebelumnya, kesempatan untuk membuka kembali ruang publik yang dikendalikan oleh rezim pada zaman sebelumnya, demokrasi dibangunkan dari tidur panjangnya dan tiba-tiba bergema dimana-mana. Dari topik  yang telah kita bahas diatas, maka kiranya terdapat keganjilan yang menimbulkan pertanyaan : apakah benar keran-keran ruang publik yang konon telah dibuka semenjak reformasi 1998 turut membuka juga telinga dari para pemegang otoritas ?</p>
<p style="text-align:justify;">Saya kira jawaban dari pertanyaan tersebut baru dapat terjawab bergantung dari seberapa memuaskanya DPR memberikan penjelasanya mengenai biaya-biaya yang oleh masyarakat dinilai berlebihan, juga pada tindak lanjut berbagai permasalahan lainya. Dari situ kita dapat menilai, seberapa tajamkah ruang publik kita berfungsi atau malah impoten dan demokrasi dikuasai oleh oligarki?</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sekarang kita bisa tersenyum kecil, melihat inilah polah perilaku anggota dewan dari hasil lawatan studi banding etika ke Yunani beberapa waktu lalu. ah dasar DPR! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="/Dpr%20dalam%20Ruang%20Publik%20Habermas.docx#_ftnref1">[1]</a> <a href="http://politik.vivanews.com/news/read/280592-daftar-proyek-heboh-dpr">http://politik.vivanews.com/news/read/280592-daftar-proyek-heboh-dpr</a> diakses tanggal 21 Januari 2011</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="/Dpr%20dalam%20Ruang%20Publik%20Habermas.docx#_ftnref2">[2]</a> F. Budi Hardiman, dkk<em>. Empat Essai Etika Politik.</em>  www.srimulyani.net bekerja sama dengan Komunitas Salihara. Jakarta.  2011. Hlm 17</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="/Dpr%20dalam%20Ruang%20Publik%20Habermas.docx#_ftnref3">[3]</a> Ibid hlm 22</p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;"><a title="" href="/Dpr%20dalam%20Ruang%20Publik%20Habermas.docx#_ftnref4">[4]</a> F. Budi Hardiman. Demokrasi Deliberatif<em>:  Menimbang Negara Hukum dan Ruang Publik  dalam Teori Diskursus Jurgen Habermas</em>. Kanisius. Yogyakarta. 2009. Hlm 172</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rianadhivira.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rianadhivira.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rianadhivira.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rianadhivira.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rianadhivira.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rianadhivira.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rianadhivira.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rianadhivira.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rianadhivira.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rianadhivira.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rianadhivira.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rianadhivira.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rianadhivira.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rianadhivira.wordpress.com/385/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=385&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rianadhivira.wordpress.com/2012/01/21/anggaran-renovasi-dpr-dan-ruang-publik-habermas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18f4dc8269718b29a9507758107cd4fe?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rian adhivira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2012/01/gedung-dpr.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gedung dpr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengintip Kejujuran bersama Eksistensialisme Sartre</title>
		<link>http://rianadhivira.wordpress.com/2012/01/05/mengintip-kejujuran-bersama-eksistensialisme-sartre/</link>
		<comments>http://rianadhivira.wordpress.com/2012/01/05/mengintip-kejujuran-bersama-eksistensialisme-sartre/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 18:30:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rianadhivira</dc:creator>
				<category><![CDATA[eksistensiaiisme]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[instropeksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rianadhivira.wordpress.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Tema mengenai kejujuran selalu menarik untuk dibahas, sempat terusik di benak saya “kenapa manusia memerlukan kejujuran?” ajakan kejujuran sering kita temui dalam ajaran agama-agama, nilai-nilai budaya, dan lain sebagainya. Immanuel Kant dalam imperatif kategoris-nya misalnya, bahwa manusia haruslah jujur dalam kondisi dan situasi apapun, atau Jurgen Habermas dalam Etika Diskursus-nya dimana suatu pernyataan dalam diskursus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=376&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tema mengenai kejujuran selalu menarik untuk dibahas, sempat terusik di benak saya “kenapa manusia memerlukan kejujuran?” ajakan kejujuran sering kita temui dalam ajaran agama-agama, nilai-nilai budaya, dan lain sebagainya. Immanuel Kant dalam <em>imperatif kategoris-</em>nya misalnya, bahwa manusia haruslah jujur dalam kondisi dan situasi apapun, atau Jurgen Habermas dalam <em>Etika Diskursus-</em>nya dimana suatu pernyataan dalam diskursus yang fair haruslah mengandung unsur “ketepatan”, “kejujuran” dan “kebenaran” sekaligus<a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/Otentitas%20Eksistensialisme%20Sartre.docx#_ftn1">[1]</a>. Namun –menurut saya- tema kejujuran menarik untuk dibicarakan dalam kacamata Eksistensialisme, dalam tulisan ini Eksistensialisme Sartre.</p>
<p style="text-align:justify;">Jean-Paul Sartre bisa dibilang adalah salah satu tokoh eksistensialisme yang paling termahsyur. “Manusia Bebas” Sartre berpijak pada eksistensialisme atheisnya, yang mana dalam kondisi apapun, entah oleh suatu hukum maupun norma tertentu, manusia tetaplah bebas dalam menentukan pilihan hidupnya, membentuk dirinya secara terus menerus. Karena itulah Sartre menolak keberadaan Tuhan yang karena totalitasnya tentu manusia bukanlah makhluk yang bebas, dengan adanya Tuhan manusia sama derajatnya dengan batu dan rumput. Bukanya Tuhan ada maka manusia bebas, tapi justru karena manusia bebas, maka Tuhan tidak mungkin ada<a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/Otentitas%20Eksistensialisme%20Sartre.docx#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2012/01/sartre2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-377" title="sartre2" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2012/01/sartre2.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Cara manusia untuk meng-Ada dijelaskan oleh Sartre Dalam <em>Letre de Lneant.</em> Sartre memisahkan dua Ada yang berbeda; yaitu <em>ertre en soi</em> dan ertre <em>pour soi</em>.  Ada secara en soi berarti Ada secara padat, penuh, sama seperti benda-benda, sementara pada pour soi, Ada memiliki kesadaran, dan Ada jenis ini-lah yang melekat pada manusia, dan dengan kesadaran tersebut, manusia sebagai subyek memiliki kemampuan untuk menidak pada Ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia, dengan kesadaranya memiliki kemampuan untuk selalu bertindak menghindari maupun melampaui ke-Ada-an disekelilingnya, transenden. Dari titik itulah kemudian Sartre mengatakan kalau “<em>neraka adalah orang-orang lain<a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/Otentitas%20Eksistensialisme%20Sartre.docx#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em>” karena dengan kehadiran orang lain yang meng-obyek-kan kita, melalui tatapan matanya (<em>le regard)</em> membekukan transendensi kita, meng-<em>ensoi-</em>kan, membuat kita seolah menjadi makhluk yang imanen, menangkap dan menjatuhkanya dalam kategori-kategori dalam pandanganya, mencuri semesta dunia kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Pandangan tersebut sekilas tentu menunjukkan kalau pemikiran Sartre memiliki implikasi yang buruk pada kehadiran orang lain, liyan, namun justru dengan adanya orang lain itulah kita dapat menyadari kesadaran tersebut. Sebelum adanya orang lain, kesadaran bersifat langsung pada obyek (<em>pra-reflektif</em>), namun setelah adanya orang lain, kesadaran kemudian menyadari dirinya sendiri (<em>reflektif</em>).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2012/01/7-freedoms.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-378" title="7-freedoms" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2012/01/7-freedoms.jpg?w=254&#038;h=300" alt="" width="254" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, bagaimana manusia seharusnya bertindak? Manusia bagi sartre adalah makhluk yang eksistensinya mendahului esensi karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan untuk menanyakan keberadaanya, disini kita dapat memahami pemikiran Sartre yang menolak keberadaan Tuhan karena baginya bahwa manusia itu bebas, “<em>jadi tidak ada kodrat manusia karena tidak ada Allah yang bisa mengkonsepsikanya. Manusia sekedar ada saja. Bukannya ia merupakan apa yang dia pikirkan sendiri, tetapi ia adalah apa yang dikehendakinya, dan bagaimana ia menghendaki dirisendiri sesudah loncatan itu kedalam eksistensi, Manusia bukan lain hanyalah apa yang diciptakanya sendiri”</em><a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/Otentitas%20Eksistensialisme%20Sartre.docx#_ftn4">[4]</a>. Manusia yang dihampiri oleh lautan pilihan dan kebebasan itu tentu tak lantas membuatnya menjadi seenaknya sendiri, karena dalam setiap pilihan, langkah yang kita pilih disana, dipundak kita, sudah terkandung juga pilihan semua orang. Maka selain bertanggung jawab atas eksistensinya pada dirinya sendiri, dia juga bertanggung jawab pula pada semua orang “<em>&#8230;saya bukan hanya mengambil sebuah posisi bagi diri saya sendiri. Saya merelakan diri atas nama semua, maka, sebagai akibatnya, langkah saya mengikat seluruh umat manusia”<a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/Otentitas%20Eksistensialisme%20Sartre.docx#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Eksisensialisme Sartre mengajak kita untuk keluar dari persembunyian dengan kedok nilai, norma, atau aturan apapun dengan mengingatkan untuk jujur atas setiap pilihan kita, karena kitalah yang menciptakan nilai-nilai tersebut dalam mengambil setiap langkah dalam kebebasan kita (contoh: pelukislah yang menciptakan nilai seni, bukan sebaliknya). Maka salah atau benar-nya -dalam artian tertentu- suatu tindakan tidaklah dapat dinilai, yang dapat dinilai adalah kejujuranya, yaitu sikap <em>legowo </em>untuk mengakui bahwa pilihan tersebut adalah atas dasar kebebasanya, hal ini bukan berarti tidak jujur tidak diperbolehkan, tapi bersikap tidak jujur berarti adalah suatu kepalsuan karena menyembunyikan, mengingkari, sifat kebebasanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Zaman selalu berubah, terutama pada era globalisasi sekarang ini, dimana situasi terus berubah dengan cepat, nilai-nilai yang menjadi sedemikian majemuk dan rancu, Sartre mengingatkan bahwa kita sendirilah yang menciptakan nilai-nilai tersebut melalui langkah yang kita ambil, seruan tersebut mungkin merupakan ajakan untuk tidak takut dalam menentang arus dan menjadi “berbeda”, “unik” sekaligus mengakui perbedaan dan keunikan orang lain dengan sikap Jujur dan Bertanggung jawab, sebuah keberanian untuk mengatakan “Ya! Ini jalanku” barangkali sebuah sikap yang sulit dan mahal ditengah kegilaan untuk mengharamkan ini-itu dan gemerlap bujuk rayu barang-barang untuk dibeli.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/Otentitas%20Eksistensialisme%20Sartre.docx#_ftnref1">[1]</a> F. Budi Hardiman. <em>Demokrasi Deliberatif: menimbang negara hukum dan ruang publik dalam teori diskursus Jurgen Habermas. </em>Kanisius. 2009. Jogjakarta. Hlm 37</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/Otentitas%20Eksistensialisme%20Sartre.docx#_ftnref2">[2]</a> A. Setyo Wibowo &amp; Majalah Driyakarya <em>Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul Sartre. </em>Kanisius. 2011. Jogjakarta. Hlm 129</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/Otentitas%20Eksistensialisme%20Sartre.docx#_ftnref3">[3]</a> Ibid hlm 74</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/Otentitas%20Eksistensialisme%20Sartre.docx#_ftnref4">[4]</a> Sartre dalam “<em>L’Eksistentialisme est un Humanisme</em>” dikutip dari Franz Magnis Suseno, <em>Etika Abad Keduapuluh : 12 teks kunci. </em>Kanisius. 2009. Jogjakarta. Hlm 73.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;"><a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/Otentitas%20Eksistensialisme%20Sartre.docx#_ftnref5">[5]</a> Ibid hlm 75.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rianadhivira.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rianadhivira.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rianadhivira.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rianadhivira.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rianadhivira.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rianadhivira.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rianadhivira.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rianadhivira.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rianadhivira.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rianadhivira.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rianadhivira.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rianadhivira.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rianadhivira.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rianadhivira.wordpress.com/376/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=376&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rianadhivira.wordpress.com/2012/01/05/mengintip-kejujuran-bersama-eksistensialisme-sartre/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18f4dc8269718b29a9507758107cd4fe?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rian adhivira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2012/01/sartre2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sartre2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2012/01/7-freedoms.jpg?w=254" medium="image">
			<media:title type="html">7-freedoms</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Postingan Tahun Baru :D</title>
		<link>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/12/31/postingan-tahun-baru-d/</link>
		<comments>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/12/31/postingan-tahun-baru-d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 19:20:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rianadhivira</dc:creator>
				<category><![CDATA[basabasi]]></category>
		<category><![CDATA[buat selingan]]></category>
		<category><![CDATA[sentimentil]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rianadhivira.wordpress.com/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang taun baru ini, pasti banyak deh yang ngepost soal tempat mereka ngabisin waktu buat taun baru. Buat taun ini, saya coba suatu yang agak “beda” dikit.. saya nggak ngepost kemana saya ngabisin waktu dan dimana ngerayain taun baru, tapi dimana tempat saya paling banyak waktu sepanjang taun 2011 ini. Ini dia tempat saya nongkrong [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=367&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/12/pklundip1.jpg"><br />
</a>Menjelang taun baru ini, pasti banyak deh yang ngepost soal tempat mereka ngabisin waktu buat taun baru. Buat taun ini, saya coba suatu yang agak “beda” dikit.. saya nggak ngepost kemana saya ngabisin waktu dan dimana ngerayain taun baru, tapi dimana tempat saya paling banyak waktu sepanjang taun 2011 ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini dia tempat saya nongkrong (hampir) setiap hari, Tempat Parkir Pascasarjana Undip di Pleburan. Tempat ini Rindang, adem, harga jajananya juga ramah, seramah orang-orang disana.</p>
<p><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/12/pklundip1.jpg"><img class="alignright" title="pklUndip1" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/12/pklundip1.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/12/pklundip2.jpg"><img title="pklundip2" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/12/pklundip2.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Di tempat ini <em>dulu </em>selalu penuh sesak sama canda dan tawa, warung-warung selalu kerepotan karena dagangan mereka habis terus.</p>
<p><span style="text-align:justify;">Di tempat ini </span><em>dulu </em><span style="text-align:justify;">selalu ada pengunjung tiap waktu, Bu Made, warung andalan saya, nggak pernah sepi sampai adzan Isya’ menggema.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Di tempat ini <em>dulu </em>banyak yang pas ulang taun dikerjain, dilempar tepung, diiket, dikasih telur, sampai gak berbentuk.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sekarang </em><span style="text-align:justify;">canda tawa masih ada, tapi diselingi tawa getir waktu nulis pembukuan warung.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sekarang </em>masih ada yang dateng, semilir angin, yang sedikit menyejukkan waktu harus menutup warung sebelum Maghrib tiba.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sekarang </em>keadaan disini mirip seperti Charles Darwin bilang, <em>survival for the fittest,</em> satu-demi-satu rontok gulung tikar.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sekarang </em>tempt ini memang masih serindang dan sesejuk <em>dulu, </em>cuma lebih sunyi, lebih tenang. Terkadang<em> </em> Tenang tidak melulu berarti baik, karena dalam ketenangan ini, ada rasa yang meronta buat meelihat lagi gelak tawa disini, ditempat yang masih serindang dan sesejuk <em>dulu.</em></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Selamat Natal dan Tahun Baru Selamat Datang Hari &#8220;Besok&#8221;</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Nb. <em>Postingan ini rasanya agak sentimentil ya, tapi yoweslah menurut saya kadang orang juga perlu sentimentil, sama perlunya dengan kadang kita perlu norak, perlu marah, perlu dengki hehe <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rianadhivira.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rianadhivira.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rianadhivira.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rianadhivira.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rianadhivira.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rianadhivira.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rianadhivira.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rianadhivira.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rianadhivira.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rianadhivira.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rianadhivira.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rianadhivira.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rianadhivira.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rianadhivira.wordpress.com/367/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=367&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/12/31/postingan-tahun-baru-d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18f4dc8269718b29a9507758107cd4fe?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rian adhivira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/12/pklundip1.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">pklUndip1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/12/pklundip2.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">pklundip2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hak Asasi Manusia dan Peristiwa Mesuji</title>
		<link>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/12/17/hak-asasi-manusia-dan-peristiwa-mesuji/</link>
		<comments>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/12/17/hak-asasi-manusia-dan-peristiwa-mesuji/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 09:56:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rianadhivira</dc:creator>
				<category><![CDATA[hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rianadhivira.wordpress.com/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Bertambah satu lagi pekerjaan rumah untuk negeri ini. Pembantaian 30 orang di mesuji karena permasalahan sengketa tanah melengkapi daftar panjang kasus pelanggaran HAM di Indonesia,, menyusul sebelumnya kasus munir, trisakti, dan pembersihan G 30 S PKI oleh orba yang sempai sekarang masih jauh dari terang. Kebiadaban kasus Mesuji terekam pada video amatir yang menayangkan proses [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=356&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Bertambah satu lagi pekerjaan rumah untuk negeri ini. Pembantaian 30 orang di mesuji karena permasalahan sengketa tanah melengkapi daftar panjang kasus pelanggaran HAM di Indonesia,, menyusul sebelumnya kasus munir, trisakti, dan pembersihan G 30 S PKI oleh orba yang sempai sekarang masih jauh dari terang.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/12/20110729_014220_2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-360" title="20110729_014220_2" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/12/20110729_014220_2.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kebiadaban kasus Mesuji terekam pada video amatir yang menayangkan proses bagaimana korban disembelih layaknya hewan. Pertanyaan yang kemudian muncul: Bisakah kasus Mesuji dilihat sebagai pelanggaran berat HAM? Pelanggaran berat Ham berdasarkan UU no 26 tahun 2000 dibagi menjadi dua; yaitu kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.</p>
<p><strong><em>Pasal 7</em></strong><em><br />
Pelanggaran hak asasi manusia yang berat meliputi:<br />
a. kejahatan genosida;<br />
b. kejahatan terhadap kemanusiaan.</em></p>
<p><strong>Pasal 8</strong><br />
Kejahatan genosida &#8230; adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk <strong>menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa</strong>, ras, kelompok etnis, kelompok agama, dengan cara:<br />
a. membunuh anggota kelompok;<br />
b. mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok;<br />
c. menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya;<br />
d. memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok; atau<br />
e. memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain.</p>
<p><strong>Pasal 9</strong><br />
Kejahatan terhadap kemanusiaan &#8230;. adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung <strong>terhadap penduduk sipil</strong>, berupa:<br />
a. <strong>pembunuhan</strong>;<br />
b. pemusnahan;<br />
c. perbudakan;<br />
d. <strong>pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa;</strong><br />
e. perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional;<br />
f. penyiksaan;<br />
g. perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara;<br />
h<strong>. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu</strong> atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional;<br />
i. penghilangan orang secara paksa; atau<br />
j. kejahatan apartheid</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em>Sebelum ada penyelidikan lebih lanjut, mungkin akan terasa terlalu dini untuk menjustifikasi kasus Mesuji sebagai pelanggaran berat ham, namun secara garis besar, pembantaian di Sumatera Selatan yang menewaskan 30 orang penduduk sipil mesuji tentu bisa saja ditarik pada pasal 9 UU nomor 26 tahun 2000 (pembunuhan dan pengusiran penduduk Mesuji) dan pembantaian tersebut juga dapat kita katakan telah diatur secara sistematik (ada perencanaan dan dilakukan oleh pihak terlatih) apabila kecurigaan mengenai perusahaan (PT Silva inhutani Lampung)  yang menggunakan jasa aparat TNI atau Polri terbukti.</p>
<p> <strong>HAM dan Masyarakat Anonim</strong></p>
<blockquote><p><em><strong>Article 1 UDHR</strong></em></p>
<p><em>“All human beings are born free and equal in dignity and rights.They are endowed with reason and conscience and should act towards one another in a spirit of brotherhood.”</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"> Pasal 1 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia diatas menjelaskan bahwa setiap manusia terlahir bebas dan setara, serta memiliki hak-hak yang melekat, asali, melekatnya hak tersebut melampaui adanya negara. Namun seringkali hak-hak tersebut tidak-lah banyak berguna pada masyarakat yang anonim, yang seolah tidak memiliki kewarganegaraan –pengungsi, masyarakat suku-suku, masyarakat marjinal, yang tidak memiliki akses keadilan- seperti Masyarakat Mesuji, yang mengatakan bahwa laporan sengketa mereka dengan pihak perusahaan tidak ditanggapi oleh kepolisian. Terlebih kecurigaan keterlibatan aparat membuat warga takut untuk mengeksposenya<a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/New%20Microsoft%20Office%20Word%20Document.docx#_ftn1">[1]</a> .</p>
<blockquote><p><em><strong>Article 2 UDHR</strong></em></p>
<p><em>Everyone is entitled to all the rights and freedoms set forth in this Declaration, without distinction of any kind, such as race, colour, sex, language, religion, political or other opinion, national or social origin, property, birth or other status. Furthermore, no distinction shall be made on the basis of the political, jurisdictional or international status of the country or territory to which a person belongs, whether it be independent, trust, non-self-governing or under any other limitation of sovereignty.</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"> Maka hak-hak dasar liberal dalam UDHR-pun menjadi dilematis, apakah hak milik pribadi dan kebebasan individual tersebut justru berfungsi melegitimasi ekspansi vertikal dan horizontal pasar bebas<a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/New%20Microsoft%20Office%20Word%20Document.docx#_ftn2">[2]</a> (Mencari keuntungan, kepentingan perusahaan). Benarkah pada kasus sengeta tanah tersebut tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan maupun hukum sehingga memerlukan kekerasan dan bahkan pembantaian? Akumulasi modal mengalahkan solidaritas sosial. Tentu bukan hal demikian yang diinginkan saat Hak Asasi Manusia dideklarasikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk membaca Ham sebagaimana yang dimaksudkan dalam UDHR, yaitu manusia yang memiliki hak untuk memiliki hak-hak yang melekat padanya semenjak dia dilahirkan, serta belajar dari pengalaman buruk peristiwa-peristiwa penyimpangan kemanusiaan di masa lampau, maka pengusutan tuntas kasus Mesuji adalah suatu keharusan. Sifat Hak-hak Asasi yang melekat melampaui negara tetaplah memerlukan negara sebagai sumber legitimasi dan instrumen penegaknya. Menunda atau bahkan tidak menyelesaikanya akan membuat ratifikasi UDHR hanya menjadi pajangan konstitusi.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia –meminjam istilah Martin Heiddeger- adalah makhuk yang terlempar pada Ada, <em>Dasein </em>dimana dalam keterlemparan tersebut manusia hidup dengan dunia dan orang lain. Maka dalam hidupnya manusia seharusnya dapat hidup berdampingan satu sama lain dan saling menghargai, apapun instrumenya, entah UDHR, UDHR versi Islam, Hukum, Agama, Pengetahuan, maupun Bahasa.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/New%20Microsoft%20Office%20Word%20Document.docx#_ftnref1">[1]</a> <a href="http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/12/14/141424/Pelanggaran-HAM-Sengketa-Tanah-Mesuji-Diadukan-ke-DPR">http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/12/14/141424/Pelanggaran-HAM-Sengketa-Tanah-Mesuji-Diadukan-ke-DPR</a></p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="/Users/acer/Documents/Bahan/New%20Microsoft%20Office%20Word%20Document.docx#_ftnref2">[2]</a> Hardiman, F. Budi. <em>Hak-Hak Asasi Manusia; Polemik dengan Agama dan Kebudayaan</em>. 2011. Kanisius. Hlm 39.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rianadhivira.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rianadhivira.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rianadhivira.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rianadhivira.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rianadhivira.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rianadhivira.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rianadhivira.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rianadhivira.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rianadhivira.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rianadhivira.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rianadhivira.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rianadhivira.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rianadhivira.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rianadhivira.wordpress.com/356/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=356&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/12/17/hak-asasi-manusia-dan-peristiwa-mesuji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18f4dc8269718b29a9507758107cd4fe?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rian adhivira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/12/20110729_014220_2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">20110729_014220_2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arti Kebenaran Lewat Manusia Gua Plato</title>
		<link>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/11/13/arti-kebenaran-lewat-manusia-gua-plato/</link>
		<comments>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/11/13/arti-kebenaran-lewat-manusia-gua-plato/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 16:38:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rianadhivira</dc:creator>
				<category><![CDATA[abstraksi pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[basabasi]]></category>
		<category><![CDATA[buat selingan]]></category>
		<category><![CDATA[Romantis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rianadhivira.wordpress.com/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Ada sekawanan orang yang dibelenggu sedemikian rupa, mereka tidak bisa bergerak menghadap kearah tembok gua. Nah, didalam gua itu ada api unggun yang terletak didepan pintu masuk gua, sehingga api unggun itu menampilkan bayangan yang terdapat di dunia luar gua. Jadi apa yang kawanan orang lihat itu selama hidupnya adalah bayangan dari api unggun tersebut. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=352&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ada sekawanan orang yang dibelenggu sedemikian rupa, mereka tidak bisa bergerak menghadap kearah tembok gua. Nah, didalam gua itu ada api unggun yang terletak didepan pintu masuk gua, sehingga api unggun itu menampilkan bayangan yang terdapat di dunia luar gua. Jadi apa yang kawanan orang lihat itu selama hidupnya adalah bayangan dari api unggun tersebut.</p>
<p><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/11/platos_cave_verysmall.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-353" title="platos_cave_verysmall" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/11/platos_cave_verysmall.jpg?w=300&#038;h=240" alt="" width="300" height="240" /></a></p>
<p>Tapi entah bagaimana caranya, ada seorang yang berhasil melarikan diri dari belenggu tersebut, kemudian keluar dari gua, disana dia mendapat pencerahan (<em>enlightenment) </em>tentang dunia yang ada diluar, sebuah realita factual, yang berbeda sama sekali dari bayangan yang terpantul dari api unggun di dinding gua.</p>
<p>Sekembalinya di gua, dia menceritakan pengalamanya tersebut, tapi tidak disangka, justru dia dimaki, dan bila dia melepaskan belenggu orang-orang dalam gua tersebut dia bisa saja malah dibunuh.</p></blockquote>
<p>Cerita diatas adalah cerita klasik dari seorang Filosof Athena dari Yunani, <em>Plato</em>, murid dari <em>Socrates</em> dan guru dari <em>Aristoteles</em>. Plato terkenal dengan pemikiran <em>dualism</em>e nya yang memisahkan antara <em>dunia ide</em>, dan <em>dunia gejala</em>, yaitu dunia yang diperoleh manusia lewat persepsi indera-indera.</p>
<p><strong>“Kebenaran” Milik siapa?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada hal yang unik dari cerita manusia-gua-nya Plato, manusia yang berhasil melarikan diri dari belenggu dan melihat kenyataan yang melampaui bayangan api unggun di didinding gua ternyata <em>ndak</em> diterima oleh orang-orang yang selama ini dibelenggu dan hanya melihat realitas hanya dari bayangan api unggun, dia di-sesatkan, di-bid’ahkan, disingkirkan, mereka telah terlalu nyaman melihat realitas semu dari bayangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebenaran, bagi Plato, terletak pada dunia idea, dan dunia gejala hanyalah representasi yang tidak sempurna dari dunia idea. Satu-satunya masalah yang muncul dari manusia gua Plato diatas barangkali adalah : <span style="text-decoration:underline;">dapatkah kita mengetahui siapa diantara kita yang merupakan manusia yang melihat bayang-bayang, dan siapa yang melihat realitas diluar gua?</span></p>
<p style="text-align:justify;">Maka apa yang Benar itu dapat dicapai oleh manusia? Sering kita jumpai aksi sepihak macam pembakaran tempat ibadah, penomorduaan jenis kelamin, ras, suku, korupsi massal, dan berbagai bentuk kekerasan, mereka menganggap kebenaran versi merekalah yang pasti benar, hakiki, sedangkan yang lain salah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau seudah begitu mungkn kita boleh berpendapat, kalau yang namanya “Kebenaran” lebih baik dibunuh saja <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  #upsss</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rianadhivira.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rianadhivira.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rianadhivira.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rianadhivira.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rianadhivira.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rianadhivira.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rianadhivira.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rianadhivira.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rianadhivira.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rianadhivira.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rianadhivira.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rianadhivira.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rianadhivira.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rianadhivira.wordpress.com/352/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=352&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/11/13/arti-kebenaran-lewat-manusia-gua-plato/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18f4dc8269718b29a9507758107cd4fe?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rian adhivira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/11/platos_cave_verysmall.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">platos_cave_verysmall</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memikirkan Kembali arti &#8220;Menjadi Rasional&#8221;</title>
		<link>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/10/27/memikirkan-kembali-arti-menjadi-rasional/</link>
		<comments>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/10/27/memikirkan-kembali-arti-menjadi-rasional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 17:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rianadhivira</dc:creator>
				<category><![CDATA[abstraksi pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[basabasi]]></category>
		<category><![CDATA[budaya pop]]></category>
		<category><![CDATA[instropeksi]]></category>
		<category><![CDATA[Romantis]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rianadhivira.wordpress.com/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai masyarakat modern, kita sering membanggakan kemampuan Rasio (akal budi, kesadaran, cogito) kita dalam memecahkan masalah. Namun, rasanya kita justru menjadi terlena dalam menyikapi rasio tersebut,kita menjadi terlalu bergantung menjadi rasio. Rasio tadinya adalah upaya proyek manusia pencerahan untuk menerangi perbuatan keluar dari mitos-mitos dogmatisme justru mengkhianati tujuanya dengan menjadi mitos bagi dirinya.. Bila kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=342&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebagai masyarakat modern, kita sering membanggakan kemampuan <em>Rasio</em> (akal budi, kesadaran, <em>cogito</em>) kita dalam memecahkan masalah. Namun, rasanya kita justru menjadi terlena dalam menyikapi rasio tersebut,kita menjadi terlalu bergantung menjadi rasio. Rasio tadinya adalah upaya proyek manusia pencerahan untuk menerangi perbuatan keluar dari mitos-mitos dogmatisme justru mengkhianati tujuanya dengan menjadi mitos bagi dirinya..</p>
<p style="text-align:justify;">Bila kita melihat keseharian kita hari ini, seharusnya kita dapat menggugat, benarkah rasio tersebut menuntun kita menuju masyarakat yang tercerahkan? System kerja outsourcing yang merugikan buruh upah, eksploitasi yang berlebihan pada alam, standarisasi disana-sini, benarkah kita menciptakan kemajuan sementara disisi lain justru mengkhianati nilai-nilai emansipsi pada hidup?</p>
<p style="text-align:justify;">“Rasio” pada awal pencerahan dimengerti sebagai akal budi, sebuah sinar yang menerangi manusia menuju otonomi dirinya, rasio di masa ini berusaha untuk memisahkan diri dari dogmatism gereja. Usaha tersebut ditempuh melalui klasifikasi Ilmu pengetahuan dan diramaikan oleh para ilmuan macam Galileo, Copernicus, Darwin, Newton dll.</p>
<p style="text-align:justify;">Seiring dengan perjalananya, rasio lama-kelamaan semakin mengekerucut pada ilmu pengetahuan <em>rigourus</em> (ketat) yang diusung oleh Comte, yang kemudian disusul oleh euphoria revolusi industry dan gegap gempita <em>kapitalisme</em>. Rasionalitas seolah semakin mendapatkan legitimasinya dan iniliah yang kemudian menjadi perhatian, keresahan bagi para pemikir kritis, karena rupanya rasionalitas macam ini justru menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang sebenarnya ingin dihindarinya.<a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/10/asap_pabrik.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-349" title="asap_pabrik" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/10/asap_pabrik.jpg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Rasio, Rasionalitas, dan proses Rasionalisasi kemudian dimengerti sebagai upaya menuju pemikiran teknis yang ketat tersebut, “<em>Tindakan Instrumental</em>” bagi Adorno dan Horkhaimer, “<em>Rasio Teknokrat</em>” bagi Mercuse. Menurut <em>Jurgen Habermas</em>, seorang filsuf tersohor Jerman abad ini berpendapat bahwa sebenarnya kita telah salah mengartikan arti dari Rasio, baginya Rasio telah direduksi hanya semata-mata kegiatan yang bersifat teknis-instrumental, mengeringkan nilai-nilai dunia.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="center"><em>“Paradigma filsafat kesadaran sudah kehabisan tenaganya. Karena itu simtom-simtom kehabisan tenaga ini mesti disingkirkan dengan peralihan ke paradigm pemahaman timbal balik”- </em>Jurgen Habermas</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Baginya Rasio sendiri tidak bisa dilihat semata-mata pada dimensi teknis-instrumental tersebut, pada pemikir kritis rasionalisasi barat macam <em>Marx, Max Webber</em> dan Generasi Pertama <em>Madzhab Frankurt</em> mereka mengalami kegagalan dalam mengkritik rasionalitas karena hanya memandangnya secara sempit. Habermas sendiri berpendapat bahwa seharusnya rasio selain dimengerti dalam artian teknis-instrumental (<em>rasio instrumental) </em>tersebut juga dimengerti secara komunikatif, Habermas menyebutnya sebagai “<em>Rasio Komunikasi</em>”, dan keduanya selain memiliki sifat bahasa-nya masing-masing juga rupanya saling mempengaruhi satu sama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka dapat kita cermati sekarang bahwa rupanya “kekeringan” yang dialami oleh manusia modern dewasa ini rupanya karena tidak imbangnya pertumbuhan rasio tersebut. Rasio yang digunakan didominasi oleh salah satu bentuk rasio saja, yaitu rasio instrumental, sehingga bahasa yang digunakan oleh rasio instrumental tersebut mengintervensi bahasa komunikasi praktis sehari-hari (baca: masuknya pemahaman ekonomi-kapitalis pada pola hidup sehari-hari), kemampuan emansipasi dalam rasio dikebiri oleh pemutlakan bahasa teknis yang kurang tepat bagi bahasa komunikasi yang bersifat intersubyektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya pribadi setuju dengan Habermas, yang mengharapkan kedewasaan rasio secara seimbang, Rasio instrumental dalam hal mempelajari obyek dengan harapan menghilangkan hambatan manusia secara teknis dengan alam, berkembangnya kemampuan produksi, dan juga Rasio Komunikasi melalui terbukanya ruang berbicara yang bebas dari segala kooptasi kekuasaan, bebas tujuan melalui jalan menyingkirkan hambatan berbahasa. Dengan demikian kemajuan teknologi tidak berdiri sendiri dari emansipasi nilai-nilai dunia social-moral karena keduanya bergerak secara bersama dan terbuka pada kemungkinan <em>reflektif</em>, koreksi diri, rasio instrumental pun dapat menemukan, menyesuaikan, dirinya dalam praksis.<a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/10/mother-theresa2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-347" title="Mother Theresa" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/10/mother-theresa2.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Maka disini kita dapat merefleksi arti rasio pada diri kita sendiri, dimana menjadi rasional tidaklah berarti meninggalkan bahasa dunia sehari-hari demi kepentingan teknis. Sekarangpun kita ini masih (sangat) membutuhkan orang-orang macam Bunda Theresa, Gandhi, Romo Magnis, Pak Marhaen, Munir, dan lainya untuk menyirami dunia dari “<em>kekeringan nilai</em>”.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rianadhivira.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rianadhivira.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rianadhivira.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rianadhivira.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rianadhivira.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rianadhivira.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rianadhivira.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rianadhivira.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rianadhivira.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rianadhivira.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rianadhivira.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rianadhivira.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rianadhivira.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rianadhivira.wordpress.com/342/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=342&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/10/27/memikirkan-kembali-arti-menjadi-rasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18f4dc8269718b29a9507758107cd4fe?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rian adhivira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/10/asap_pabrik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">asap_pabrik</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/10/mother-theresa2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Mother Theresa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nietzsche, dan Matinya Cerita Besar Manusia</title>
		<link>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/10/04/nietzsche-dan-matinya-cerita-besar-manusia/</link>
		<comments>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/10/04/nietzsche-dan-matinya-cerita-besar-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 15:55:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rianadhivira</dc:creator>
				<category><![CDATA[orang besar]]></category>
		<category><![CDATA[Romantis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rianadhivira.wordpress.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[“Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan, percayalah. Jika engkau ingin (menjadi) murid kebenaran, Carilah”. – F. Nietzsche Keseharian dan rutinitas manusia modern agaknya telah membuat kita melupakan satu pertanyaan penting mengenai apa manusia itu sebenarnya. Tuntutan ekonomistik melalui kegiatan-bertujuan (yang disebut Habermas sebagai “rasio-instrumental”) atau sering kita sebut sebagai –secara sempit- “kerja”, mungkin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=328&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align:center;" align="center">“<em>Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan, percayalah. Jika engkau ingin (menjadi) murid kebenaran, Carilah”.</em> – F. Nietzsche</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Keseharian dan rutinitas manusia modern agaknya telah membuat kita melupakan satu pertanyaan penting mengenai apa manusia itu sebenarnya. Tuntutan ekonomistik melalui kegiatan-bertujuan (yang disebut Habermas sebagai “<em>rasio-instrumental</em>”) atau sering kita sebut sebagai –secara sempit- “kerja”, mungkin bisa dikatakan mereduksi arti dari pertanyaan diatas. Tujuan manusia adalah kerja, titik. Padahal tanpa kita sadari kebenaran yang kita andaikan begitu saja tanpa disertai pemikiran dan perenungan mendalam justru akan melahirkan apa yang kita sebut sebagai penindasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bentuk-bentuk penindasan ini ada bermacam-macam, bahkan kadang kita tidak sadar tentang adanya penindasan tersebut, karena sudah terlanjur mendarah daging dalam cerita-cerita besar, cara berpikir <em>mainstream, </em>yang kebenaranya seolah tidak perlu dipertanyakan lagi. Determinasi manusia berdasarkan gender misalnya (yang sedang banyak diulas belakangan) akan menciptakan bias gender sedangkan determinasi berdasar ekonomi, akan menimbulkan stratifikasi sosial yang didasarkan pada pandangan materialistik-dan-hedonistik praktis.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau manusia sudah diartikan secara sedemikian sempit, hidup akan terasa kering, karena kekayaan dari simbol-simbol manusia sepanjang sejarahnya seolah-olah langsung direduksi begitu saja menjadi sedemikian sempit dan manipulatif.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/10/antropometri-leonardodavinci.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-332" title="antropometri-leonardodavinci" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/10/antropometri-leonardodavinci.jpg?w=210&#038;h=300" alt="" width="210" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Salah seorang yang sangat bersemangat membongkar segala bentuk kebenaran total adalah <em>Friedrich Nietzsche</em>. Nietzsche membongkar jargon-jargon yang ada di zamanya. Pengetahuan, agama, bahasa, dan lain-lain, Nietzsche membuka borok manusia modern yang bersembunyi dibalik <em>rasio-</em>nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Nietszche, adalah pemikir yang berpengaruh kuat kelak dalam membukakan pintu gerbang menuju <em>postmodernisme</em>. Berbeda dengan para pemikir sebelumnya yang dalam pemaparan ide-idenya memiliki metode tertentu sehingga dapat dimengerti, Nietzsche justru menggunakan aforisme, semacam metafor yang kadang berlawanan antara satu dengan lainya. Hal tersebut membuat Nietzsche menjadi salah satu filsuf yang paling sulit dimengerti.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;" align="center"> “<em>Pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri- adalah perangkap terakhir yang dipasang oleh mora;itas, menjerat kita sepenuhnya sekali lagi</em>” -Beyond Good And Evil, Aforisme 64</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Nietzsche melahirkan beberapa karya, namun barangkali yang paling termahsyur adalah <em>Sabda Zarathrustra</em>, yang mengisahkan seorang nabi yang mewartakan kematian tuhan, <em>requiem de aeterno deo! </em>Beristirahatlah dengan tenang tuhan!. Kisah <em>Zarathrustra</em> yang pergi ke kerumuman masyarakat dan mewartakan kematian tuhan dan di-gila-kan oleh masyarakat tersebut menjadi semacam ironi karena Nietzsche sendiri pada masa tuanya justru terperosok kedalam kegilaan, mungkin dia lelah karena terus bergulat melawan dirinya sendiri dan dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk memahami pemikiranya tentang manusia menurut Nietzsche, maka kita perlu membahas sebagian besar pemikiranya. Pada dasarnya Nietzsche menolak sama sekali apa yang disebutnya sebagai sistem, karena pada sistem-sistem tersebut selalu terdapat sebuah premi dasar yang tidak dapat dipertanyakan lagi, baginya kebenaran hanyalah sebuah kekeliruan-kekeliruan yang dimana kita terus hidup diatasnya, kebenaran adalah ilusi yang bahkan keilusianya tidak tampak.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="center">“<em>Sesungguhnya, manusialah yang telah menetapkan baik dan buruk bagi dirinya sendiri. Sesungguhnya mereka tidak mengambilnya dari manapun atau menemukanya secara kebetulan; baik dan buruk itu bukanlah suara langit yang datang pada mereka</em>”-Sabda Zarathrustra Bagian Pertama Aforisme 15 tentang Seribu Satu Tujuan</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maka tidak mengherankan bila kemudian Nietzsche mengatakan tentang kedatangan <em>Nihilisme, </em>bahwa Benar-dan-Salah adalah niscaya, semua bangunan kokoh mengenai nilai-nilai manusia dirubuhkan, baik dalam hal agama, Negara, bahasa, maupun pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Darimana datangnya nihilisme ini? Dari kematian Tuhan, bagi Nietzsche manusia sudah tidak lagi membutuhkan tuhan, tuhan-tuhan sudah mati, karena manusialah yang membunuhnya, dan jangan terpuruk karena justru karena kematian tuhanlah manusia harus merayakanya dalam bentuk affirmasi penuh terhadap kehidupan, YA yang suci untuk hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini tampak jelas dari Aforisme Bagian Pertama Sabda Zarathrustra mengenai Tiga Perubahan, dimana Unta penanggung beban kemudian berubah menjadi Harimau “<em>aku akan</em>” yang merubuhkan Naga bersisik emas “<em>kamu harus</em>”, dan finalnya berubah menjadi bayi yang menandakan sebuah permulaan baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila Nihilisme menyelimuti manusia, maka apa yang hendaknya kita lakukan? Kita bisa saja turut terhanyut kedalam nihilisme seperti manusia kebanyakan, namun bagi Adi manusia (<em>Ubermensch, </em>manusia unggul) yang merayakan kematian tuhan, maka Nihilisme adalah sebuah jalan untuk menuju sebuah tatanan baru, dimana manusia tidak perlu lagi menengok keatas untuk mencari jawaban.</p>
<p style="text-align:justify;">Nietzsche juga mendapat pengaruh dari Schopenhauer, mengenai dunia sebagai kehendak, disini Nietzsche menambahkanya sebagai Dunia sebagai kehendak untuk berkuasa (<em>Will to power), </em>dan Hidup adalah sebuah kehendak untuk berkuasa, kebahagiaan hidup adalah bertambahnya kekuasaan. -Perlu dicatat bahwa kehendak untuk berkuasa bersama dengan Adi-manusia, sering disalahpahami sebagai doktrin politik dalam bentuk tiranisme, pemerintahan otoriter, padahal otoriterisasi justru akan melahirkan tuhan baru, dengan demikian justru ditentang oleh Nietzsche. Bahkan Russel dalam <em>History of western philosophy </em>mengatakan bahwa sebaiknya filsafat Nietszche supaya cepat berakhir saja.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="center">&#8230;<em>Manusia adalah seutas tambang yang terentang antara hewan dan Adimanusia – sebuah tambang diatas jurang tak berdasar&#8230;”- </em>Sabda Zarathrustra, Prolog bagian IV</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bagi Nietzsche, dalam nihilisme manusia tidak mempunyai pilihan selain maju kedepan. Di posisi yang serba salah itu,bila dia memilih untuk mundur kebelakang, maka tidak ada untungnya sama sekali dan tetaplah berbahaya, dan justru menjerumuskan pada dekadensi manusia, maka pilihan satu-satunya adalah maju kedepan dan menghadapi resiko untuk menggapai Adi-manusia.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/10/ubermensch.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-331" title="ubermensch" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/10/ubermensch.jpg?w=244&#038;h=300" alt="" width="244" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Namun Adi-manusia sendiri bisa dibilang abstrak, dan tidak tergapai. Mungkin Nietzsche menghendaki eksistensi manusia sebagai sebuah proses yang terus-menerus menjadi, dan tidak terjebak dalam dekadensi. Maka barangkali manusia yang diinginkan oleh Nietszche adalah manusia yang berdiri sendiri, manusia yang mampu mempertanyakan segala nilai, termasuk dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemikiran Nietzsche ini akan memberi pengaruh yang sangat kuat bagi para pemikir sesudahnya, sebut saja Derrida, Iqbal, Foucault, Heiddeger, dan lain sebagainya. Nietzsche –kalau boleh dibilang- adalah seorang yang lahir melampaui jamanya, pemikiranya tidak banyak dibicarakan ketika dia hidup dan baru menjadi perbincangan ketika dia sudah terlanjur babak-belur dan dihinggapi kegilaan dan setelah kematianya, upaya Nietzsche untuk membunuh Tuhan, mungkin bisa kita tanggapi sebagai sebuah upaya untuk keluar dari suatu pola pikir yang serba absolut dan munafik, membongkar cerita besar (<em>grand narration) </em>sekali lagi Nietzsche berhasil dengan sukses menggelisahkan manusia untuk mempertanyakan eksistensi dirinya, karena manusia bagi harapan Nietzsche, adalah manusia yang selalu terus menerus menanyakan segala nilai, termasuk dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini kita bisa mencermati, betapa peliknya pergulatan untuk mengetahui tabir siapa manusia itu. Meminjam Nietzsche, masihkah kita terbuai dalam dekadensi? Atau kini giliran kita untuk balik menggugat dan mempertanyakan lagi dan lagi apa itu manusia? Atau justru memilih untuk tidak ambil pusing dan kembali pada kehidupan sehari dengan begitu saja?</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita bongkar cerita-cerita besar, memungkinkan yang tercekik untuk berbicara, mempertanyakan kekuasaan yang dominan, membuka kemungkinan bagi <em>yang lain.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rianadhivira.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rianadhivira.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rianadhivira.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rianadhivira.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rianadhivira.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rianadhivira.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rianadhivira.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rianadhivira.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rianadhivira.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rianadhivira.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rianadhivira.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rianadhivira.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rianadhivira.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rianadhivira.wordpress.com/328/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=328&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/10/04/nietzsche-dan-matinya-cerita-besar-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18f4dc8269718b29a9507758107cd4fe?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rian adhivira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/10/antropometri-leonardodavinci.jpg?w=210" medium="image">
			<media:title type="html">antropometri-leonardodavinci</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/10/ubermensch.jpg?w=244" medium="image">
			<media:title type="html">ubermensch</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempatan Jalan Kala Senja</title>
		<link>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/09/18/perempatan-jalan-kala-senja/</link>
		<comments>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/09/18/perempatan-jalan-kala-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 18:29:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rianadhivira</dc:creator>
				<category><![CDATA[budaya pop]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rianadhivira.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Dibalik banyak dan menjulang berbagai gedung, ditengah gegap gempita lampu kehidupan, rupanya ada kehidupan disela-sela bayangan para kemegahan, ada yang hidup dibalik temaram lampu. Diantaranya adalah waria. Waria yang selalu dikonotasikan sebagai hal yang buruk, menjadi bahan candaan yang disusul gelak tawa yang tak kunjung henti. Namun terbesit ada rasa kagum, karena terdapat kejujuran pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=318&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center">Dibalik banyak dan menjulang berbagai gedung, ditengah gegap gempita lampu kehidupan, rupanya ada kehidupan disela-sela bayangan para kemegahan, ada yang hidup dibalik temaram lampu. Diantaranya adalah waria. Waria yang selalu dikonotasikan sebagai hal yang buruk, menjadi bahan candaan yang disusul gelak tawa yang tak kunjung henti. Namun terbesit ada rasa kagum, karena terdapat kejujuran pada para waria tersebut, waria setidaknya berani mengatakan “ya” pada hidupnya. Ternyata ada “ya” yang tulus ditengah masyarakat “normal” yang serba munafik dan berbelit.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/09/toilet_waria.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-319" title="toilet_waria" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/09/toilet_waria.jpg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Waria sering dicemooh, barangkali karena kerancuan seksnya yang dianggap keliru. Diluar wacana keagamaan dan medis-biologis, mungkin kita bisa memandangnya dalam sudut wacana yang agak berbeda, bahwa kenapa waria itu –dianggap- salah?</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak wanita yang kini menempati pos-pos yang dulunya hanya dikhususkan, di-eksklusifkan bagi laki-laki. Perempuan dirangkul untuk merayakan sikap yang dulunya hanya diperuntukkan bagi laki-laki, maskulinitas, demi kesetaraan dan kebebasan mereka bilang. Mereka dielukan sebagai pionir kemerdekaan gender, namun benarkah? Bukankah kesetaraan gender berarti dibebaskanya feminine dan maskulin secara terpecah belah keruang bebas, dimana setiap orang dapat menggapai apa saja yang mereka mau?</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/09/train_freaks1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-326" title="train_freaks" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/09/train_freaks1.jpg?w=300&#038;h=263" alt="" width="300" height="263" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Bohong besar kala kita mengatakan kesetaraan dan kebebasan tapi kita masih saja memandang yang maskulin, yang dulunya dimiliki laki-laki sebagai dewa untuk disembah. Bukanya feminine yang dulu dimiliki oleh perempuan juga –seharusnya- mendapat tempat yang sama? Kalau kita menganggukmaka kita harus mengamini juga bahwa baik pria maupun wanita berhak mengambil maskulin maupun feminine dalam dirinya, atau bahkan mengambil keduanya sekaligus pada satu tubuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin karena kita menganggap maskulin beberapa tingkat lebih tinggi, lebih mulia daripada feminine, maka tanpa sadar kita berpikir bahwa para pahlawan wanita itu dengan mengambil sifat-sifat maskulin akan naik tingkat, naik ke sebuah ketinggian baru, sedangkan para pria yang mengadopsi feminine, akan dianggap turun kasta, dalam hal ini tentu saja waria adalah para mereka itu, sehingga mereka dibuang, tidak diakui. , bisa saja kita berkata kalau kemerdekaan dan kesamaan baru mungkin terjadi bila baik maskulin maupun feminine keduanya dibubarkan saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikutnya adalah ekonomi , di zaman yang serba berhitung, tiap orang harus melakukan kerja, haru mampu menjadi bagian dari suatu proses produksi yang berbelit, untuk menghasilkan sesuatu untuk dijual, untuk dibeli. Persaingan antara pabrik satu dan lainya membuat persaingan yang berhujung pada dirangkulnya sebuah kata untuk menemani “produksi” tadi, yaitu efisiensi. Dari sinilah ada standarisasi. Agar produk dapat dijual, maka dia mengambil standarisasi dari pandangan calon konsumenya, dan disini, “waria” tidak ada pada kolom pilihan jenis kelamin pendaftaran kerja. Mereka dianggap meresahkan, seolah-olah ada rasa risih ketika berdampingan. Karena kesempatan itu sudah dirampas, maka mereka hanya memiliki tubuh untuk dijual dalam cara yang lain. Waria dianggap tidak produktif, dan tidak berharga, dan suatu rantai belenggu-pun kembali berputar.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/09/waria-ngamen.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-320" title="waria ngamen" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/09/waria-ngamen.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kalau memang demikian cara kita berpikir dan memandang pada “yang lain” dan memandang yang lain itu lebih rendah, nista, mungkin masih melekat pada diri kita kesombongan ala fasis,  mengendap, saat kita berpikir bahwa Cuma kitalah yang memeluk kebenaran yang mahabenar itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagai mengetuk patung berhala raksasa berusia ribuan tahun dan mendapati hanya kekosongan didalamnya. Saya percaya, banyak wacana yang dapat kita gunakan untuk melihat waria dan “yang lain” (agama, etnis, ras, minoritas) disamping wacana dominan yang membutakan karena menutup kekayaan wacana yang sesungguhnya ada dan berbagai wacana lain yang dapat berbicara, mendekonstruksi wacana dominan.. Dari para waria, barangkali kita dapat belajar bahwa ada masa dimana  jumlah tidaklah selalu identik dengan kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Yah, suatu saat kita mungkin akan merayakan, bahwa memang ada kehidupan yang menggeliat, di remang lampu perempatan jalan kala tiba sang senja.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rianadhivira.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rianadhivira.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rianadhivira.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rianadhivira.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rianadhivira.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rianadhivira.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rianadhivira.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rianadhivira.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rianadhivira.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rianadhivira.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rianadhivira.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rianadhivira.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rianadhivira.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rianadhivira.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=318&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/09/18/perempatan-jalan-kala-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18f4dc8269718b29a9507758107cd4fe?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rian adhivira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/09/toilet_waria.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">toilet_waria</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/09/train_freaks1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">train_freaks</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/09/waria-ngamen.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">waria ngamen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsumerisme, Mitos Dari Etika yang Membeku</title>
		<link>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/08/25/konsumerisme-mitos-dari-etika-yang-membeku/</link>
		<comments>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/08/25/konsumerisme-mitos-dari-etika-yang-membeku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 13:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rianadhivira</dc:creator>
				<category><![CDATA[abstraksi pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[budaya pop]]></category>
		<category><![CDATA[instropeksi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rianadhivira.wordpress.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Di negeri ini, kini telah hadir berbagai pusat perbelanjaan sekarang orang tidak perlu lagi pusing untuk mengeluarkan dompetnya. Namun sayangnya, baik kita sadari maupun tidak, rupanya pola hidup konsumtif telah merasuk kedalam berbagai sendi kehidupan. Tunggu dulu, lalu apa masalahnya? Berbelanja demi gaya hidup, secara tidak langsung telah menggiring pemikiran kita untuk berpusat pada tubuh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=315&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Di negeri ini, kini telah hadir berbagai pusat perbelanjaan sekarang orang tidak perlu lagi pusing untuk mengeluarkan dompetnya. Namun sayangnya, baik kita sadari maupun tidak, rupanya pola hidup konsumtif telah merasuk kedalam berbagai sendi kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tunggu dulu, lalu apa masalahnya? Berbelanja demi gaya hidup, secara tidak langsung telah menggiring pemikiran kita untuk berpusat pada tubuh (penampilan) . Tubuh menjadi sasaran obyektifikasi dari konsumerisme, karena melalui konsumsi, kita dapat mengaktualisasi diri lewat baju, perhiasan, gadget, bentuk tubuh, yang kita beli. Pola hidup yang demikian seolah-olah dilegitimasi melalui deretan iklan dan sinetron  yang memuja tubuh dengan bahasa dan symbol tertentu, aktualisasi tubuh via konsumsi dijadikan sebagai semacam ideology.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana dengan peran etika? Etika secara garis besar berbicara tentang “jalan menuju kebaikan”. Menurut Jurgen Habermas, Etika berkaitan dengan Konsensus, tentunya karena etika dihasilkan melalui diskursus untuk memperoleh kesepakatan bersama mengenai apa yang baik itu.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/08/belanja.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-316" title="belanja" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/08/belanja.jpg?w=300&#038;h=161" alt="" width="300" height="161" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Problemnya adalah ketika diskursus tersebut disandarkan pada tubuh dan konsumsi, maka obsesi atas penampakan tubuh, dan bagaimana tubuh dilihat seolah semakin menemukan alasanya. Super-ego yang didasarkan konsumsi, tentu akan menimbulkan represi yang berbasis konsumsi pula. Simbol dan nilai tubuh dikelompokkan, kita membaginya ke tingkatan-tingkatan social, barang atau bentuk tubuh tertentu mencerminkan kelas social pemiliknya.  Karena wacana tubuh itu demikian dominan, kita mulai melupakan nilai-nilai yang lain, kita terbelenggu bahwa tubuh adalah satu-satunya media aktualisasi diri, penampilan adalah segalanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada Tahap ini saat etika tubuh mulai terjebak membeku menjadi dogma dalam system tertutup, kita dapat mempertanyakan kembali, merefleksi kebelakang mengenai apa tujuan etika itu sebenarnya. Etika sebagai tujuan kebaikan bersama, atau rasionalisasi terselubung kekuasaan (pemodal-konsumerisme) yang berujung opresi maupun represi?</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika dogma itu kita terima secara <em>taken for granted</em>, maka yang terjadi adalah penindasan (marx menyebutnya sebagai kesadaran palsu), yang dalam konteks ini yang dirugikan adalah pihak yang tidak mampu mengikuti bahasa etika konsumsi atas tubuh, seolah mereka adalah makhluk yang tidak beretika, dipinggirkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita mulai mencoba meredifinisi etika, dengan mulai memikirkan dan mengenali diri kembali sikap kita pada kehidupan sehari-hari, konsensus melalui diskursus yang bebas dan adil dan dibarengi kesadaran akal sehat. Barangkali ketika ambisi pada penampilan tubuh berakhir, tubuh tidak lagi menjadi sasaran obyektifikasi membabi buta, para koruptor berdasi mulai menyadari arti dari rasa malu, dan teman-teman bercelana sobek alakadarnya tak perlu merasa begitu rendah diri,   &#8230;dan etika-pun menjadi lebih manusiawi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Referensi : </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Suseno, Franz Magnis</em>. Etika Abad kedua puluh. Kanisius. 2006. Yogyakarta.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hardiman, Fransisko Budi</em>. Kritik Ideologi. Kanisius. 2009. Yogyakarta.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sumber gambar :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">http://wartakotalive.com</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rianadhivira.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rianadhivira.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rianadhivira.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rianadhivira.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rianadhivira.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rianadhivira.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rianadhivira.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rianadhivira.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rianadhivira.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rianadhivira.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rianadhivira.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rianadhivira.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rianadhivira.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rianadhivira.wordpress.com/315/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=315&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/08/25/konsumerisme-mitos-dari-etika-yang-membeku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18f4dc8269718b29a9507758107cd4fe?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rian adhivira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/08/belanja.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">belanja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>keCantik-an, Tubuh, dan Mitos</title>
		<link>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/08/13/kecantik-an-tubuh-dan-mitos/</link>
		<comments>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/08/13/kecantik-an-tubuh-dan-mitos/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 19:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rianadhivira</dc:creator>
				<category><![CDATA[abstraksi pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[budaya pop]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rianadhivira.wordpress.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu iklan di Tv : “Awalnya perempuan tidak percaya diri pada penampilanya, kemudian dia diberi solusi prodak pemutih kulit (dalam iklan lain bisa berupa pembentuk tubuh, penghalus rambut, dll), setelah pemakaian si perempuan tadi berubah menjadi percaya diri banyak laki-laki yang salah tingkah waktu melihatnya”. Dari kotak ajaib yang tersebar di hampir setiap rumah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=307&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Salah satu iklan di Tv : “<em>Awalnya perempuan tidak percaya diri pada penampilanya, kemudian dia diberi solusi prodak pemutih kulit (dalam iklan lain bisa berupa pembentuk tubuh, penghalus rambut, dll), setelah pemakaian si perempuan tadi berubah menjadi percaya diri banyak laki-laki yang salah tingkah waktu melihatnya</em>”.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari kotak ajaib yang tersebar di hampir setiap rumah, televisi, kita sering menyaksikan iklan ataupun berbagai tayangan lainya yang menampilkan perempuan dengan tubuh ramping, berdada besar, pantat mantap, kulit putih (bahkan ada prodak dengan alat pengukur tingkat keputihan), dan rambut gemulai menawarkan produk “kecantikan”, hal tersebut seolah diaffirmasi oleh tayangan baik sinetron maupun layar lebar dalam menampilkan tokoh yang cantik dalam bentuk sebagaimana yang ditampilkan oleh iklan. 365 hari setahun, 7 hari seminggu, dan 24 jam sehari kita dicekoki “standarisasi kecantikan” tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua orang tentu ingin menjadi cantik –dan sehat tentunya- , namun demikian, kita jarang memikirkan lebih lanjut mengenai apa itu cantik? Apakah cantik itu melulu identik dengan bentuk tubuh ala <em>Barbie </em>?</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/08/barbie-pink-zebra-bikini.gif"><img class="aligncenter size-medium wp-image-308" title="Barbie-pink-zebra-bikini" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/08/barbie-pink-zebra-bikini.gif?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin itu berasal dari kegemaran kita untuk menstandarisasi sesuatu secara membabi buta. Standarisasi tersebut rupanya juga terbentuk mengenai bagaimana manusia seharusnya berperilaku, dan berpakaian dan itu tertuang dalam apa yang kita sebut sebagai <em>etika. </em>Dari situ kita memisahkan mana yang baik dan mana yang tidak baik, sehingga dalam berkegiaatan kita mengacu pada nilai-nilai yang (tentunya) kita <em>anggap</em> baik, ada tingkatan-tingkatan(stratifikasi) berdasar nilai-nilai tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan nilai yang sering kita gunakan adalah nilai kemakmuran -yang disimbolisasi melalui konsumsi-, lalu apa hubunganya? Dalam masyarakat konsumerisme dimana pemasaran melulu menyajikan wacana yang kemudian membentuk <em>mindset </em>masyarakat bahwa <em>anda adalah apa yang anda beli</em>. Dari situ kemudian terbentuklah premis bahwa perempuan yang diterima masyarakat adalah perempuan dengan bentuk tubuh tertentu, melalui “perawatan tubuh”, konsumsi alat, proses, dan produk kecantikan untuk memperoleh standard yang diinginkan masyarakat (langsing, putih, berdada besar). Perempuan yang tidak sesuai dengan kriteria akan teropresi, ter-nomordua-kan, dipinggirkan. <em>Festisisme Tubuh dan Komoditas, </em>kepercayaan yang berlebihan dan sesat atas standar bentuk tubuh dan barang-barang konsumsi. Contoh simpelnya kerap kita temui banyak perempuan yang sebegitu takutnya dengan timbangan, takut kalau bobotnya tidak sesuai dengan standar “kecantikan”.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/08/1136306p.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-309" title="1136306p" src="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/08/1136306p.jpg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kasus-kasus tersebut agaknya justru mengingkari upaya-upaya pembebasan opresi perempuan, bahwa perempuan bisa dan berhak menentukan nasibnya sendiri. Perempuan ditengah konsumerisme justru menyerahkan dirinya jatuh kedalam <em>Alienasi tubuh, </em>keadaan terasing dari tubuhnya sendiri, dandan, diet, memperbesar payudara, menghias tubuhnya <span style="text-decoration:underline;">untuk kenikmatan laki-laki,</span><em> </em>Lebih lanjut bahkan perempuan terasing dari perempuan lain karena bersaing untuk mendapatkan tubuh yang paling “ideal” (feminis thought-183). Perasaan kalau tubuhnya selalu diawasi oleh orang lain, membuat perempuan menjadi semacam polisi bagi dirinya sendiri mengenai bentuk tubuhnya, menurut Foucoult hal ini disebut <em>panoptisisme </em>sehingga seolah-olah tubuh perempuan adalah tubuh milik publik, aktualisasi diri supaya tubuhnya dilihat orang lain <em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Disini kita bisa mempertanyakan peran televisi (atau alat media lainya) sebagai pemancang standarisasi kecantikan sekaligus sebagai penyebar wacana dalam ruang publik,sejauh mana peran kekuasaan (televisi, konsumerism) pada tubuh (kecantikan) perempuan ?</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali sudah saatnya bagi perempuan untuk memberi nilai dan kembali memiliki tubuhnya sendiri, silahkan matikan televisi dan banting timbangan anda <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:center;"><em>&#8220;ah, cantik itu cuma mitos&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Referensi :</strong></p>
<ul>
<li>Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought.  Jalan Sutra. 2010.  Yogyakarta.</li>
<li>Jones, Pip. Pengantar Teori-teori Sosial. Yayasan Obor Indonesia. 2009. Jakarta.</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rianadhivira.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rianadhivira.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rianadhivira.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rianadhivira.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rianadhivira.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rianadhivira.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rianadhivira.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rianadhivira.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rianadhivira.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rianadhivira.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rianadhivira.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rianadhivira.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rianadhivira.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rianadhivira.wordpress.com/307/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rianadhivira.wordpress.com&amp;blog=11155000&amp;post=307&amp;subd=rianadhivira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rianadhivira.wordpress.com/2011/08/13/kecantik-an-tubuh-dan-mitos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18f4dc8269718b29a9507758107cd4fe?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rian adhivira</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/08/barbie-pink-zebra-bikini.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Barbie-pink-zebra-bikini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rianadhivira.files.wordpress.com/2011/08/1136306p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1136306p</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
