Takut

di tengah udara ibukota yang pekat ini, aku bagi, takutku, kau sembatkan, takutmu, padamu, padaku, dalam langit yang sengit karena noda gas pembuangan, dalam jalan yang seolah tak pernah sampai,

ayo,

kita,

pergi,

lari,

dalam kafir, mu, ku,

kita bangun kuil ku, mu, dalam puja, mu, ku, yang tak bisa dihenti waktu, kita tulis bait-bait suci, ku, mu, berdua, dan, dalam doa ku, mu,

jangan,

berhenti,

ayo,

Iklan

Lelah

Lelahnya, semua orang tanpa henti bicara tentang hadiah surga, dan iming-iming neraka. Kini, semua diukur berdasar agama, hubungan kasih dihalangi oleh tuhan-tuhan yang berbeda, perdebatan ilmu pengetahuan dijawab dengan dalil ayat, kritik dianggap menista, menafsir berbeda diangap menoda. Semua sibuk, dengan waktu yang tersita dari usaha-suaha untuk gapai “murni” nya sendiri. Semua lupa, memangnya yang murni itu ada?

Lucunya, beberapa dekade yang lalu, saat tiran haus darah berkuasa dan memaksa semuanya menjadi mengambang, agama jarang-jarang jadi pertimbangan. Mereka yang kini rajin berteriak soal agama, tak sadarkah bahwa ketika mereka mendaftarkan diri dalam pekerjaan pegawai negeri kala sang tiran kuat perkasa, hampir tak mungkin mereka bisa lolos bila keukeuh mengenakan penutup kepala atau atribut keagamaan lain. Sebenarnya semua sama saja. Dulu mereka membebek rezim tiran yang selalu mendaku sebagai sumber kebenaran, kini mereka membebek kebenaran baru dalam jubah-jubah baru. Cara yang sama, topeng yang beda. Apesnya, orang-orang tak banyak sadar. Atau singkatnya: Bagaimana mereka yang dulu lebih memilih karir daripada agamanya sekarang berpindah arus dan mengutuki orang yang melakukan sebagaimana dia dahulu? Bagaimana bisa mereka yang  menolak sesuatu justru menggunakan sesuatu itu sendiri dengan cara yang lebih ahli?

Tapi taruhlah demikian, bukankah ditindas itu selalu tidak enak? Bukankah ini topengnya saja yang beda, caranya sama? berapa banyak orang yang berteriak paling lantang soal saudaranya seiman di tanah seberang yang ditindas oleh penguasa justru menginjak mereka punya saudara di tanah sendiri hanya karena punya tuhan atau cara menyembahnya yang berbeda? mengapa orang yang menolak paling keras soal rebutan tanah antara dua negara di timur tengah, dimana satu negara merampas kemerdekaan negara lain dengan alasan bahwa itu adalah “tanahnya yang dijanjikan”, justru sibuk merampasi kemerdekaan orang lain di bumi sendiri dengan dalih bahwa yang dilakukanya adalah sesuai dengan janji-janji kitab sucinya? dan bahwa yang kemerdekaanya dirampas adalah mereka yang nista dan sesat? Bagaimana bisa mereka yang  menolak sesuatu justru menggunakan sesuatu itu sendiri dengan cara yang lebih ahli?

Ada juga, kelompok orang-orang yang suka sekali mencari pembenaran yang seolah masuk akal, sembari mengutip dan menjual kutipan dari sarjana-sarjana besar ilmu alam, sembari memperkosanya dari konteks-konteksnya, kutipan itu dicocok, disesuaikan, degan keperluan-keperluan cara bacanya, menjadi pembenaran-pembenaran pendakuan sucinya, barangkali tanpa pernah tahu, bahwa ada masa ketika ilmu pengetahuan harus tunduk dari penafsiran kitab suci, dan bahwa mereka yang menyuarakan kebenaran harus dibunuhi, harus dibakar, harus hilang? mereka lupa, bukankah iman itu selalu tak masuk akal, bukankah keajaiban itu selalu misteri dan tak perlu sesungguhnya pembenaran dari luar dirinya? Lucunya, beberapa masih menggunakan alasan yang sama buat membenarkan tafsirnya atas kitabnya. Mereka lupa, hanya beberapa waktu lalu, di tanah-tanah seberang, dahulu orang kulit hitam direndahkan, salah satu alasanya adalah lewat bacaan kitab suci yang digunakan untuk membenarkanya, kini semua berubah, perbudakan dihapuskan dan perbuatan demikian dicela. Semua orang memujinya, termasuk disini. Tapi disini, orang-orang wandu, banci, dan homoseks dikejar lewat cara yang sama dengan rezim yang dulu menindas orang kulit hitam yang pembebasanya mereka puja, yang pengetahuan sendiri berkata para wandu dan kawanya sesungguhnya bukan suatu apa, tapi lewat alasan yang melulu suci-suci, mereka hendak dikebiri. Bagaimana bisa mereka yang  menolak sesuatu justru menggunakan sesuatu itu sendiri dengan cara yang lebih ahli?

Lelahnya, semua berputar dan berkunang, semua berteriak dan semua memaksa. Apa semua harus sama? apa beda itu dosa? tak bisakah kita tak melulu mendongak keatas, tak bisakah kita bertuhan dengan tenang, bersuci dalam remang, dan berdoa dalam sayang? tak bisakah kita letakkan urusan tuhan-tuhan, suci-suci, surga-surga, neraka-neraka, dosa-dosa, pahala-pahala, sesat-sesat, dalam hati dan benak, dalam masing-masing punya kepala sahaja. Lupakah, bahwa dahulu pernah ada orang bijak setengah buta berkata, bahwa “Ia, tak perlu dibela”?. Sepertinya, Ia yang buta, melihat lebih terang dibanding mereka dengan dua mata yang selalu sibuk haus menabuhi genderang perang. Entahlah, dalam peluh dosa ini, ditengah nyaring bising ini, saya lelah.

 

 

Angka bukan Cerita

Bung Darno menengok ke kanan, tatapanya tenggelam dalam-dalam, pada sosok jenderal lama yang dirangkum dalam pigura, yang berjaya lebih dari tiga kali sepuluh tahun lamanya, yang menyingkirkan petani, duda, janda, pria, wanita, guru, pejuang, ada yang mati telanjang, dibuang, atau hilang, yang masih hidup dipopor senjata, ditendang seragam loreng yang katanya berwibawa, lantas dirangkum dalam jumlah-jumlah, untuk membuat rezim baru, jumlah-jumlah dikumpulkan, tak peduli cerita dibaliknya, karena yang penting adalah angka.

Bung Darno mendongak ke atas, tatapanya tenggelam dalam-dalam, pada para orang alim, dengung-dengung yang berteriak tak sudah-sudah, kadang seru kadang luruh, sibuk menghitung kepala dengan imbalan dosa dan pahala, surga atau neraka, di tunjuknya orang-orang tak sependapat sebagai sesat dan durjana, sembari jumlah-jumlah dikumpulkan, tak peduli cerita dibaliknya, karena yang penting adalah angka.

Bung Darno menengok ke kanan, para teknokrat memberikan solusi-solusi, sambil membuat kalkulasi untung rugi, dalam siapa yang jual dan siapa yang beli, sibuk membuat solusi-solusi, memilih dan memilah mana yang disayang dan yang ditendang, mana yang akan kalah dan yang menang, jumlah-jumlah dikumpulkan, tak peduli cerita dibaliknya, karena yang penting adalah angka.

Bung Darno menengok ke kiri, luruh dalam harap dan asa, melihat tangan terkepal dari orang-orang muda yang setengah miskin, dan para paruh baya yang sebagian gagal kaya, dengan kata-kata menolak lupa, merapalkan dan menolak penguasa, dengan mereka yang disewenangkan dipoles dalam jumlah-jumlah yang dikumpulkan, tak peduli cerita dibaliknya, karena yang penting adalah angka.

Putus asa, Bung Darno melihat ke belakang lalu melengos ke depan, dalam lorong berisi orang besar dalam pigura, yang pidato-pidatonya pernah menggema seantero dunia, meski lalu kalah taktik dan ditendang dari kursinya, Darno berkunang, ingin dia pulang, tapi apa daya, dia cuma jalang, yang dikepung mantra-mantra dengan jumlah-jumlah, dengan nafas setengah menyerah, dia mau bicara tapi terbata, hendak memekik namun tercekik, dia cuma satu kepala, dalam lautan angka-angka, yang tak akan pernah peduli pada cerita-cerita.

 

Menara

Menara-menara dibangun sekuat tenaga menjulang ke angkasa, berlomba dengan seluruh mata angin dipenuhi pengeras suara, dengan suara menderu supaya mencapai yang maha kuasa, dengan dendang doa yang kadang syahdu namun lebih sering tanpa nada, sementara di sekelilingnya, mereka yang di bumi tak bisa mendengar dan bicara, mereka yang mau tidur harus tutup telinga, mereka yang harus merelakan malam-malamnya untuk membaca digantikan bising dengung surga, mereka yang harus menerima, karena bila mereka menolak, mereka tahu akibatnya, dikatai tak punya iman, dikatai komunis, dan dikatai tak toleran, dalam bising yang berlebih-lebih, dalam gunjing, dan kadang, dalam benci yang berbuih-buih.

Tukang Zina

Orang berjubah dan suci berteriak mengecam para tukang zina, dengan dompetnya yang berisi kartu-kartu riba, dan anak dan istrinya bermandi wewangian lebih menusuk dari bunga-bunga, dengan berkah dari doa-doa, dengan ancaman dosa-dosa, dengan gantungan surga dan neraka, yang setelahnya menunggu kiriman, dari para pemuja iman, yang meminta  berkah para lacur dan mereka yang bercinta dengan ibunya sendiri, para munafik dan para bajingan.

Ageman

Ageman adalah candu, penuh rayu, yang buang akalmu, akalku, gantikan dengan ayat yang kadang dibaca mendayu, kadang penuh seru, yang padahal, kita tak perlu.

Hukum Progresif yang Menangis dalam Kuburnya

Bukan, tulisan diatas bukan judul film horor murahan yang memamerkan birahi lewat pameran paha dan dada.

Dulu, sewaktu saya baru-baru masuk ke Fakultas Hukum di Undip, istilah “hukum progresif” menjadi sesuatu yang lekat dengan pengajaran di Undip. Istilahnya sendiri awal mulanya diperkenalkan oleh Pak Tjip, seorang profesor yang dikenal sebagai “begawan hukum”. Jujur saja, konsep, teori, dan metode untuk menyebut apa itu hukum progresif tidak pernah jelas, bahkan beberapa orang bilang  tidak pernah ada. Pak Tjip sendiri tidak memberikan klarifikasi lebih jauh secara meyakinkan mengenai apa itu hukum progresif. Tapi bukan disitu masalahnya. Bukan pada kesulitan -kalau tidak mau dibilang ketidakbisaan- untuk menerjemahkan niat baik Pak Tjip menciptakan hukum yang “mengalir”, “membebaskan”, dan “untuk manusia”. Masalahnya adalah dari bagaimana para penerusnya hari ini, memberi makna dari kata “progresif”.

Beberapa waktu lalu, saya diminta untuk bicara sedikit tentang hukum progresif, di salah satu Fakultas Hukum di Semarang. Sebagai seorang pembicara pro bono, saya iyakan saja undangan itu, acara di hotel yang cukup mewah di Semarang. Di ruang singgah saya bertemu dengan seorang guru besar, dan disinilah saya merasa sedih.

Dia menanyakan ke saya, dimana saya sekarang. Saya jawab, saya tengah menyelesaiakan tesis dari kuliah saya di Thailand. Jurusan apa yang kamu ambil. Saya bilang hak asasi manusia. Apa topikmu? saya timpali lagi, tentang 1965. Dan jawaban dia berikutnyalah yang buat saya sedih. “oh jadi kamu mbelani PKI ya?”. Saya hampir terbelalak dan mau menjelaskan, bahwa 1965 adalah peristiwa yang tidak jelas, bahwa motif dari peristiwa tersebut adalah pertarungan modal besar, dan bagaimana itu digunakan untuk menyingkirkan Bung Karno. Tapi entah bagaimana, topik kemudian bergeser soal D.N. Aidit. Dia berujar pada intinya, pantas saja kalau Aidit dibunuh. Saya menjawab, “tapi kenapa dia tidak dibawa ke pengadilan?”. Dia menjawab “Karena dia membunuh para jenderal”. Saya bilang lagi “Kalaupun dia membunuhi para jenderal, apakah lantas boleh dia dibunuh di tengah jalan sementara dia sudah ditangkap?”. Dia jawab lagi “ya karena dia sudah membunuh duluan, seperti qisos”. Saya timpali lagi “oh, memangnya dalam hukum Islam diperbolehkan membunuh diluar pengadilan?”. Dia menjawab lagi “Ya intinya karena dia membunuh para jenderal”. Dalam beberapa kesempatan selanjutnya, dia selalu bilang -dengan agak sinis- soal PKI dan kiri-kiri di Indonesia.

Yang saya tak habis pikir, bagaimana bisa seorang yang katanya giat berkampanye soal cara berhukum dengan “hati nurani”, “kontemplatif”, pendekatan “surgawi”, dan istilah-istilah “luhur lainya”, bisa dengan saat yang bersamaan, berkampanye pula soal kebengisan. Pada saat itu, saya tidak mengeluhkan mengenai minimnya klarifikasi dari istilah-istilah “moral” yang dia pakai dalam pemaparanya. Yang saya sayangkan, bagaimana seorang guru besar fakultas hukum yang bicara soal progresifitas hukum pada saat yang bersama juga bicara soal sesuatu yang sedemikian keji. Tidak tahukah dirinya bahwa peristiwa 1965 adalah tragedi yang menjadi beban buat negara ini dengan jumlah korban yang besar? dan bagaimana peristiwa tersebut menjadi jalan untuk mengubah negara ini melalui masuknya modal-modal besar yang dilegitimasi lewat pembunuhan yang tak kalah besar?

Kemungkinanya hanya dua, antara dia tak mengetahui, atau dia tahu dan jawaban diatas adalah pilihan sadarnya. Keduanya akan berujung pada simpulan yang sama-sama mengerikan. Dan disinilah, istilah hukum progresif itu, menggali kuburnya dan menangisi dirinya sendiri. Saya hanya membayangkan, bagaimana perasaan Pak Tjip, bahwa hari-hari ini idenya dibaca dengan cara demikian oleh penerusnya. Kali ini, semoga saya keliru. Semoga cuma satu pengajar dan satu guru besar itu saja yang punya pikiran semacam itu. Amin.

 


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Februari 2018
S S R K J S M
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors
Iklan