Bunga Ridho

Di suatu negeri yang jauh disana, ada seorang pemuda, Ridho namanya. Di negeri itu, layaknya semua orang, Ridho dibesarkan untuk patuh pada larangan-larangan, dan anjuran untuk melakukan hidup yang baik. Hidup yang baik, dengan berdasarkan pada ukuran-ukuran negeri itu. Tentu, larangan itu ada benarnya, meski sedikit atau banyak, tak banyak orang tahu. Yang jelas, larangan-larangan dan anjuran-anjuran itu memang lebih mirip suatu misteri, dimana tak seorangpun paham, namun terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Tidak seorangpun, ah, barangkali yang lebih tepat adalah “nyaris” seorangpun. Adalah pria berjubah dengan mahkota, hitam-hitam warnanya, yang menjadi rujukan bagi seluruh warga di kota itu untuk menerjemahkan larangan-larangan dan anjuran-anjuran yang maha suci itu. Dia tak sendirian, bersama dirinya terdapat pula serombongan orang, dengan derajat kesucian lebih rendah, membantunya untuk menyampaikan larangan dan anjuran sampai ke pelosok negeri. Tentu, pria bermahkota jauh lebih suci dibanding yang lain, tapi entahlah, semuanya memang serba misterius, karena siapa yang boleh punya mahkota, bagaimana awalnya, dan bagaimana mahkota itu bisa sampai sebagai perlambang kesucian tak seorangpun tahu, atau peduli. Yang jelas semua harus patuh.

Pernah suatu ketika, dalam masa kecilnya Ridho melihat bagaimana seorang dihukum karena tanpa sengaja meludahi kertas bertuliskan larangan-larangan dan anjuran-anjuran yang maha suci itu. Konon, kertas itu memang sudah ada di pinggiran jalan, ketika orang malang itu meludahinya tanpa mengetahuinya. Kebetulan, ada orang yang melihatnya, dan dia pun diurus untuk dihukum. Pria itu digiring beriringan ke pusat kota, tempat orang-orang menerima hadiah karena jasanya, atau seperti si malang, hukuman karena nasib sialnya. Di hadapan kerumuman orang itu, diumumkanlah kejahatanya, dan tanpa pembelaan, setelah orang dengan jubah dan mahkota hitam-hitam memberikan anggukan, dicabutlah dua kuku dari jari kelingking sebelah kiri dan kanan dari si malang itu, yang meronta-ronta sambil menahan tangis. Itu semua dilakukan di hari rabu, hari yang suci ketika si mahkota dan jubah hitam-hitam akan tampil di aula kota dan memberikan tafsiran barunya mengenai anjuran-anjuran dan larangan-larangan suci. Setiap rabu, semua orang diharuskan untuk bersuka cita, pekerjaan harus ditinggalkan sejenak, segalanaya diperbuat untuk menyambut sang mahkota dan jubah hitam-hitam, dengan segala kesucian yang menyertainya.

Meski samar, Ridho masih ingat betul peristiwa itu. Meski memalingkan muka karena tak tahan melihat hukuman yang diberikan, namun pekikan erangan itu menebus telinga siapapun di negeri itu, bahkan yang tak hadir di pusat kota pun tahu, dan ikut merasakan ngerinya dari hukuman itu. Sakit memang sepertinya. Tapi bukankah itu yang seharusnya kriminil dapatkan? Meski nyeri, Ridho turut pula meludahi orang yang kehilangan dua dari sepuluh kehormatanya.

Kuku, bagi orang-orang di negeri itu adalah perlambang kehormatan. Hal itu tertera menjadi salah satu bagian anjuran-anjuran dan larangan-larangan suci. Makanya, setiap orang di negeri itu selalu rajin merawat kukunya. Sebagian bahkan menghiasnya dengan menambahkan warna-warni, juga dengan tanda atau pola tertentu, untuk menjunjukan kedudukanya. Sama misteriusnya seperti anjuran-anjuran dan larangan-larangan suci, tak seorangpun pernah tahu ataupun bertanya, bagaimana kuku harus diperlakukan begitu teristimewa. Yang jelas, tiap hukuman dari kejahatan yang dianggap melecehkan kesucian dari larangan dan anjuran suci akan ditimpakan berupa pencabutan kuku dengan keji. Jumlah kuku yang dicabut bergantung daripada tingkat kejahatan yang dilakukan. Bila seluruh kuku telah habis, maka orang itu lantas dilepaskan lagi ke kerumuman, dimana orang tanpa kuku tersebut boleh diapakan saja, dia boleh dijadikan budak, di siksa, atau di bunuh, semuanya secara cuma-cuma dan tanpa konsekuensi bagi pembunuhnya. Layaknya anjing jalanan yang dipenuhi kudis di kulitnya, yang boleh dibunuh atau diapakan juga.

Sebagai seorang periang, suatu ketika sehabis pulang dari mencari kayu bakar, Ridho berjalan sembari bersenandung. Senandungnya tiba-tiba terhenti, karena di penghujung jalan, dilihatnya sesuatu yang maha cantik di penghujung matanya. Ridho tak kuasa menoleh, dilihatnya sekuntum bunga, tak tahulah apa namanya, namun cantiknya menyihir Ridho hingga ia terus terpana selama beberapa saat, sembari tanpa tersadar berjalan kearahnya. Matanya tertuju pada tiap kelopak yang lentik, dan batang yang gemulai dari bunga itu. Tiap langkahnya mendekatkan dirinya pada suatu yang tak bisa dijelaskan, hatinya berdebar-debar, dan kulitnya berkeringat dengan deras, lidahnya kelu, tegukan tenggorokanya terasa berat, dicobanya untuk menolehkan kepalanya, namun ia tak sanggup. Dilihatnya tangkai bunga yang mungil itu dari kejauhan sembari dengan langkah yang makin mendekat, tubuhnya semakin tak karua-karuan, lekukan kecil di tangkainya, hingga mahkota bunga yang elok, membuat nafasnya memburu. Semuanya serba tak terkendali, hingga langkahnya dihentikan paksa oleh penjaga.

“Kenapa?” ujarnya, si penjaga hanya menunjuk. “Kenapa?” katanya sekali lagi. Sembari mendengus kesal, di tunjuk lah lagi. Ternyata itu adalah tembok suci. Bunga mungil jelita itu tubuh di sela-sela tembok suci itu. Tembok yang berisikan anjuran-anjuran dan larangan-larangan suci, lewat guratan-guratan yang cuma bisa dibaca oleh pria suci dengan mahkota dan jubah hitam-hitam. Tak seorangpun boleh mendekat, supaya tak menodai kesucian daripada tembok itu, katanya. Oleh penjaga, Ridho dipaksa untuk pergi. Ridho pun pergi, sembari menoleh sesekali, pada bunga yang nampaknya selalu mengundangnya untuk datang lagi dan lagi.

Sampai di rumah, Ridho sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi. Ingatanya terus terngiang akan setiap jengkal daripada bunga mungil itu tadi. Dalam kilasan-kilasan yang tak seberapa lama itu, makin lama, makin malam, makin larut, makin tersiksalah si Ridho dari sisa-sisa gambaran dari ingatanya yang sia-sia itu. Dicobanya untuk makan, tapi lidahnya tak lagi mengecap apapun. Dicobanya untuk menutupkan mata, tapi justru ketika itulah bayangan akan bunga itu semakin hadir dan hadir, dalam sahutan merdu yang seolah membawanya kembali ke pojokan tembok suci itu.

Esoknya, dengan mata yang belum sempat terkatup malamnya, pergilah lagi Ridho ke jalan di seberang tembok suci itu. Dilihatnya lagi bunga itu dari kejauhan. Hanya sebentar, kembali Ridho ke rumahnya. Jarak antara dirinya dan si Bunga justru membuatnya semakin merana. Tak habis-habis rasanya Ridho diterpa badai rindu untuk selalu memandang bunga dari dekat. Sialnya, kenapa bunga itu tumbuh di dekat tembok suci. Tapi, kenapa memangnya orang tak boleh mendekat pada tembok suci itu? kenapa aku tak boleh untuk menyapa bunga itu? Pikir Ridho. Pikiran penuh kesia-siaan. Karena satu-satunya penghalang dirinya dengan bunga itu adalah tembok suci yang berisi larangan dan anjuran yang suci, dan dilindungi oleh penjaga yang suci pula. Semua yang suci itu melebur menjadi satu, sebagai perihal yang membuat godaan kerinduan untuk melihat bunga mungil itu semakin hebat. Senandungnya kini hilang. Berganti kemurungan dan diam yang tak tergantikan. Kawan-kawanya menanyakan dirinya, mengapa kini senandungnya hilang sudah, Ridho hanya tersenyum simpul. Sembari pergi berlalu.

Hingga akhirnya, kini Ridho sudah tak lagi dapat menahan gejolak debar di dadanya. Pergilah lagi ia ke jalan di seberang pojokan tembok suci, tempat dimana bunga itu dengan damai memanggil namanya. Ridho berjalan kecil, menjawab panggilan itu dengan senyum yang tertahan, dengan gemetar tangan, dan kaki yang lunglai. Dalam situasi demikian, penjaga sudah menoleh kearahnya, dan sebelum Ridho sampai ke pekarangan dari tembok suci tersebut ditahanlah dia, dan diseretnya, diperintahkan untuk segera pergi. Terseret dan tertohok, Ridho mengangguk, dan hendak pulang. Pulang. Sebelum bunga itu memanggilnya lagi, dan dengan satu langkah yang mantap, berlarilah ia untuk melihat bunga itu dari dekat. Masuklah ia dalam pekarangan tembok suci itu, penjaga yang lengah itu lalu berlari pula mengejarnya. Tidak lebih dari tiga atau empat kejap, Ridho bisa melihat bunga itu dari jarak yang pantas. Menjawab panggilan dari bunga itu. Tiga empat kejap yang membawa senandungnya kembali. Tak lama memang, karena kemudian dia mendapati dirinya telah disergap oleh lima orang penjaga suci. Yang melemparkanya kedalam penjara bawah tanah.

Hari itu hari senin, dan Ridho sudah mendapatkan vonis untuknya, dia telah menodai pekarangan tempat tembok suci yang berisikan ujaran dan larangan suci berdiri selamanya. Selamanya, karena tak seorangpun tahu berapa lama tepatnya. Toh, tak jelas pula bagaimana membuktikanya tentang berapa lamanya. Yang jelas, Ridho kini menunggui dirinya untuk mendapatkan hukuman dari penodaan tempat sucinya itu. Ridho tahu betul, tak ada apapun di dunia ini yang bisa menyelamatkanya. Bahwa kehormatanya tak akan lagi utuh pada esok hari rabu. Bahwa segalanya akan berbeda tepat ketika kukunya dicerabut darinya.

Datanglah rabu, hari ketika seseorang mendapatkan penghakiman atas perbuatanya. Hari itu orang tersebut adalah Ridho. Dalam kegugupan yang gagap itu, takjublah Ridho, melihat dirinya berada tepat di pusat kota. Ia telah melihat beberapa kali hal ini, tapi menjadi pesakitan yang dihukum sebagai pusatnya, ini adalah yang pertama baginya. Sayup-sayup terdengar orang berbicara, dan tatapan-tatapan mata yang tajam menatapnya. Sebagian mengasihaninya, mengatakan bahwa dirinya hanya bodoh. Sebagian yang lain mengecamnya karena menodai tembok suci itu. Tak lama, keluarlah orang dengan mahkota dan baju hitam-hitam. Orang-orang terhenyak atas kehadiranya. Tenggelam dalam aura suci, melalui orang yang suci, yang mengeluarkan titah-titah yang tak kalah sucinya. Dengan satu gerakan yang anggun, dilihatnya Ridho, keduanya bertatapan dalam hening tanpa kata-kata.

Ridho menjalani betul tiap kejap dari hari rabu siang itu. Dalam penantian yang akan membuat dirinya tak sama lagi. Ridho hanya mengingat bagaimana bunga mungil itu, yang dengan cantiknya memanggilnya, dan bagaimana dirinya memenuhi panggilan itu. Lamunan itu sempat pecah. Karena ternyata Ridho dijatuhi hukuman berupa pencabutan lima kukunya. Setengah dari kehormatanya hilang sebagai ganti atas kerinduanya, ganti atas jawabanya atas panggilan dari bunga itu. Ridho kemudian mengalami lagi kejap-kejap yang menyakitkan dari pencabutan daripada setiap kukunya. Di bawah hujaman tatapan orang banyak. Di bawah orang-orang suci yang menjatuhinya  hukuman, atas kenistaan yang melekat padanya. Dirinya kini bukan lagi orang dengan kehormatan yang penuh. Dia hanya punya setengah daripada yang lain. Dalam setiap jabat tangan ataupun salam, orang akan melihatnya sebagai orang dengan kehormatan yang lebih rendah dari yang lain. Bayang-bayang itu menghampirinya. Seusai kuku dari jari kelima dicerabut dan dipisahkan darinya. Dalam sakit yang mengiris, Ridho diam-diam bersenandung.

Dalam hatinya, berarti ia masih bisa satu kali lagi mengunjungi bunga mungil nan jelita di pojokan tembok suci itu. Satu kali lagi. Sambil barangkali sekalian saja meludahi tembok itu.

***

Ngehek dimana-mana

Orang bilang kalau ancaman terbesar di abad 20 ini adalah teroris, beberapa yang lain bilang fundamentalis, separatis, liberalis, dan yang agak lumayan kenceng hari-hari ini, kominis. Padahal, kalau dihitung-hitung, kekuatan is-is itu sebenernya nggak begitu jago. Untuk bikin suatu ancaman keamanan secara nyata, mereka harus bersusah-payah untuk  mengkoordinir orang-orang, lalu mengumpulkan sumber daya baik manusia maupun uang, menyebar jaringan, belum lagi kerja ideologi seperti khotbah dan ceramah, dan kerja-kerja merepotkan lainya. Terbayang, betapa kelompok-kelompok yang kecil itu bergeliat-geliat menggelinjang, apalagi kalau sudah dikejar-kejar dan di kepo-in para indoomi telur , wah ya semakin repot.

Tapi sebenarnya, diluar ancaman-ancaman kroco semacam itu, ada satu pihak yang kalau dihitung-hitung, memiliki potensi ancaman yang jauh lebih besar. Lewat apa? lewat hak monopoli untuk mencetak uang, lalu penguasaan militer, jejaring komunikasi yang luas, dan aturan-aturan yang digunakan untuk membenarkan dirinya sendiri. Siapakah pihak itu? eng-ing-eng, yak anda betul, tidak lain dan tidak bukan adalah negara itu sendiri. Lewat penguasaan sumber daya yang berlimpah dan hak-hak prerogatifnya, negara adalah pihak dengan potensialitas melakukan kekejaman lebih besar daripada is-is yang cupu itu, apapun ideologinya yang dipakai untuk pajangan.

Negara nggak butuh legalitas untuk perbuatanya, hal itu bisa dipikir belakangan, biasanya untuk membenarkan dirinya sendiri (adakah yang menantangi saya meminta contoh?). Setelah ada peraturan yang membenarkan, siapa memangnya yang mau mengadili negara itu kalau instrumenya sudah bodoh? ya ndak ada. Kan sekarang eranya HAM, sekarang HAM itu dijunjung tinggi, dan lain sebagainya.Itu semua gombal mukiyo tai kebo alias bull shit. Jaminan HAM itu bagaikan orang yang lagi butuh jurus maut supaya pacarnya ndak jadi meninggalkanya, seperti kasus Rasyid Ridha, sang jomblowan yang rayuanya konsisten gagal.

Kita-kita ini, rakyat jelata, memangnya bisa apa kalau negara pengen membubarkan diskusi? bilang kebebasan berekspresi? lha wong mereka aparat kok, mereka yang menafsirkan hukum, mereka yang pakai seragam. Kita bisa apa kalau karena pengen trendi dan pakai kaos bermotif tertentu terus lantas ditangkap, diinterogasi dan lain sebagainya? Apa kewenangan kita untuk mengadili? wong lembaga yudisialnya juga diatur sama pengaturan yang ngehek. Lalu mau protes apa kalau mau nobar film dokumenter biar gaul, terus dibubarkan sama ormas. Aparat lalu datang, biasanya telat. Hampir nggak mungkin panitianya lega karena berpikir penyelamat telah tiba, dan mereka akan mengamankan dan membela untuk lanjut nonton. Boro-boro bro! bubar bubar, biasanya karena ndak punya ijin, atau kalau lebih apes lagi, dituduh terindikasi disusupi is-is. Mau sok-sokan mbikin melek masyarakat dan bikin pelatihan? peuh, sama aja, siap-siap disatroni dan dibubarkan. Bersolidaritas? siap-siap aja ditangkap dan dituduh provokator. Pembunuhan massal tanpa pengadilan, pembuangan dan sebagainya?jangan harap ada penyelesaian.Lama-lama, kita butuh ijin buat nobar keluarga final KDI dirumah, butuh ijin buat arisan, butuh ijin buat nongkrong dan makan di kantin, butuh ijin buat pup, buat nyiram pup, buat bernafas. Masih percaya sama jaminan HAM?. Negara punya dalih yang lebih sakti daripada HAM, yaitu : atas nama PEMULIHAN/MENJAGA KETERTIBAN/KESATUAN. Kok kedengaran familiar ya?

dkj_dlm10382168_1016851591678229_594646456049492685_n

Lalu biasanya akan ada orang terpelajar, memakai baju rapi dan rambut klimis pakai pomade, dengan suara bijak bilang, itulah konsekuensi demokrasi, kita harus legowo. Betulkah? NAZI, yang membunuh para Yahudi itu demokratis loh, mereka partai yang memenangi Pemilu. Sambil membetulkan rambutnya, biasanya dia bilang lagi; saya tahu banyak kok soal masalah itu, kan semua ada hukumnya. Kamp konsentrasi, kebiri, juga kamar gas itu juga diatur kok. Apartheid di Afsel juga omong-omong itu sah kok, dibuat berdasarkan hukum yang berlaku. Hukum yang mana?

Apesnya, potensialitas terbesar dari perenggut kebebasan kita itu justru hidup lewat uang kita-kita yang cekak ini. Para birokrat dan borjuis ningrat sering bilang negara itu buat rakyat, tapi yang jarang ditanyakan, rakyat macam apa. Jadi, siapakah pihak yang paling berbahaya? yang punya banyak indoomi telur untuk disebarkan, yang bisa memilih untuk menjaga atau membubarkan diskusi, membatalkan nobar mesra anda, menangkapi dan menyita kaos trendimu, yang punya sistem pengawasan yang luas. Ya, negara ada dimana-mana, jadi dimanapun, siap-siaplah berurusan dan hidup bersama si Ngehek itu.

***

gambar 1 dari sini
gambar 2 dari sini

Dibawah Payung Yang Berisik itu

Dulu sekali, saya pernah coba bikin komunitas membaca kecil-kecilan, yang sifatnya santai dan terbuka. Sayangnya, karena tanggepan yang pada dingin, rencana itu jadi cuma sekedar rencana. Beberapa tahun berselang, tahun 2012, saya ketemu dengan Mas Luluk di Komunitas Tjipian yang waktu itu diadakan di gedung Kompas. Disitupula saya ketemu mas Sy yang ternyata playboy, dan Mas Said yang Asuembarangan. Setengah menantangi, Mas Luluk bilang ke saya, bikin agenda diskusi rutin yuk! 

Sebagai orang panturanan, tentu gengsi untuk mengelak dari tantangan. Dan dari situlah, komunitas aneh terbentuk. Kerjaanya membedah buku dari minggu ke minggu. Orang-orangnya juga bentuknya ndak jelas. Kadang yang katanya ngisi materi malah kabur. Kadang yang pemantik diskusinya datang, tapi pesertanya nggak datang. Tapi karena tantangan panturanan itu, acara tetep jalan. Kekurangan pemateri bisa diakali dengan bikin paper cadangan, kekurangan peserta juga tidak masalah karena peserta bisa dicari dengan model rengasdengklok, atau bahkan walau yang datang hanya 2-3 orang sekalipun, diskusi tetap berjalan. Jadilah tiap minggu secara rutin ada sekumpulan orang di pojokan kantin FH Undip membicarakan apa saja, nyaris tanpa modal uang apapun, mungkin cuma sekedar fotokopi paper, dan nebeng ngudud modal korek saja.Tentu banyak juga ledekan, tapi sebagai komunitas yang aneh, komunitas ini malah ikut meledek dan menertawakan dirinya sendiri. Absurd memang.

Awalnya kami ndak tahu harus menamai apa komunitas ini. Karena memang biasanya diskusi dibawah payung di kantin, asal saja menamainya jadi Komunitas Payung. Dan viola, jadilah nama ini dipakai sampai sekarang.

komunitas-payung

Satu hal yang sangat saya sukai, selain tidak ada uang, disini juga nggak ada senioritas. Yang paling muda sekalipun boleh mengatai yang tua. Kalau pas ada gawe acara, yang kedapetan jadi koordinator ndak cuma dateng nyuruh-nyuruh, tapi juga ikut angkut-angkut. Pada beberapa kesempatan, ketika ada uang rejeki, semuanya malah pada lempar-lemparan pada gak mau nerima atau ngurus. Hasan misalnya, bilang juoh, mbok kiro aku kere? sambil menolak uang itu, meski saya tahu kalau malamnya dia cuma makan nasi dan mendoan dikasih kecap.

Lama-lama, dari komunitas yang terbatas dari soal diskusi saja, agenda kegiatan mulai bertambah banyak. Masih dengan tanpa modal uang, Komunitas ini menjadi bagian dari acara -acara di Semarang, dan terutama dengan ciri khasnya yang selengekan ala-ala pantura dan orang-orang yang aneh di dalamnya.

Rasyid Ridha misalnya, banyak gagasan penting darinya untuk komunitas aneh ini. Dari membuat blog komunitas aneh (sebentar lagi mau ganti domain ke .com katanya), kemudian meluncurkan buletin, belakangan juga lagu-lagu wagu, itu ide dari kang ocid. Cuma memang entahlah, apakah dia sedemikian sayang dengan komunitas ini atau sekedar pelampiasan dari cintanya yang putus ndak jelas. Ada juga Gerry Pindonta, yang belakangan aktif di apa yang dia bilang sebagai seni rupa pertunjukan. Gerry ini gondrong dan konon banyak yang naksir, makanya, Rasyid sering dekat-dekat, berharap ketularan jodoh katanya. Kritik sinisnya kelewat tajem, kadang kayak tanpa perasaan. Ada juga Samuel Bona. Untuk satu ini nyaris ndak perlu diragukan lagi kehebatanya dalam agitasi, dia juga ndak punya udel kalau nantangin orang. Doni Hidayat, mahasiswa kenes yang genit tapi militan. Kelvin Yanto juga harus disebut disini, diantara orang-orang aneh, dia sering diledekin karena aneh. haha. Kelvin ini bersumpah kalau dia tidak akan pacaran sebelum Komunitas Payung bisa jadi komunitas yang mapan dan mandiri secara ekonomi. Kelvin ini juga sering membikin kata-kata mutiara, satu yang saya tidak bisa lupa:

Walaupun aku jomblo, belum tentu aku menikah

418067_3219045594290_1467266437_n

Diluar itu, tentu banyak juga nama-nama lain. Ada Galang Taufan, Gema Ramadhan, Ibnu Hayyan, Dimas Shidiq, Unu Herlambang, Dimas Fahri, Wildan Sukhoyya, Bakhrul Amal, Kurniawan Febry, Rizki Mubarok, Adi Seno, dan lain sebagainya. Tapi dari segi keanehan, memang mereka yang disebut khusus diataslah yang paling menonjol sehingga harus disebut secara khusus. Sekarang, tugas besar ada di bahu mereka-mereka itu. Mereka tengah ada di smester akhir, dan barangkali sebentar lagi akan pulang kampung. Pertanyaanya, apakah komunitas ini akan dilanjutkan? entahlah, biar waktu yang menjawab.

Kalau generasi kedua sukses dengan memanfaatkan media viral, maka tantangan berikutnya adalah studi interdisipliner. Dari komunitas diskusi ke komunitas riset, lalu dari riset jadi aksi. Masih jauh memang, dan mungkin sejauh itulah jodoh Kelvin Yanto yang terikat dengan sumpahnya.

Batas Tipis Pengangguran

Lama sekali rasanya semenjak terakhir ngeblog, ada lebih dari 2 tahun mungkin? Berawal dari iseng-iseng melihat blog ini, yang sudah dikerubungi sarang laba-laba dan kutu dimana-mana, rasanya kangen juga untuk mencoret-coretnya.

Masih dalam rangaka iseng, saya lihat tiap-tiap postingan lama saya dulu, rasanya malu sekali, itu tulisan atau sampah, sok serius tapi gagal, sok sarkas tapi garing, dan sok intelektual ala mahasiswa ngehek lagi orasi di depan gedung DPRD. Tapi sudahlah.

Sekarang saya tengah mencoba menjauhi profesi baru: pengangguran. Setelah selesai menulis tesis yang menghabiskan banyak tenaga itu, saya kni hanya bisa berlindung dibalik tidak kunjung lulusnya studi psikologi. Jadi, jarak saya dengan status pengangguran hanya dipisahkan oleh skripsi yang nyaris selesai setelah 16 smester lamanya.

Sebagai orang nyaris pengangguran, terasa betul rezim normalitas berusaha menaklukan tubuh dan pikiran ini. Hampir setiap hari orang tua menyarankan untuk memotong rambut -yang akhirnya saya lakukan juga-, kemudian mengganti dandanan supaya lebih rapi, lalu setengah mati menyuruh untuk pakai sepatu. Semua itu, konon, sebagai bentuk penghargaan atas diri sendiri. Cuma saya masih sangsi, kenapa seseorang harus diharga dengan cara-cara macam begitu? dan yang lebih penting, seja kapan berambut cepak-rapi, memakai kemeja lengkap dengan sepatu merupakan bentuk penghargaan? pertanyaan yang sama dengan sejak kapan perempuan di nusantara diajarkan untuk malu atas payudara mereka? alamak pusing sekali.

140331bridgegatetfd

Semua kekuasaan katanya dibikin supaya tubuh menjadi sehat dan patuh, supaya produktif. Saya, yang nyaris pengangguran ini, sulit rasanya membayangkan kepatuhan yang monoton itu, seperti Sissyphus yang dikutuki menggelindingkan batu keatas, yang kemudian jatuh, begitu terus berulang-ulang. Tapi entahlah, mungkin usaha monoton itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia? mungkin dtengah kesia-siaan itu, saya harus bayangkan kalau orang yang jadi Sissyphus itu, bahagia.*

 

 

*dua kalimat terakhir diadopsi dari tulisan Alber Camus dalam The Myth of Sissyphus.

Kereta Jurusan….”Y”

Matahari belum mau tenggelam, tapi begitu shift kerja rampung, Dimas sudah tergesa pulang dari kantor. Ia hendak segera membersihkan diri dan beranjak ke stasiun. Sore tadi handphone-nya berdering, sms dari Eli, sahabat istrinya, yang tinggal di luar kota, begini kiranya bunyi sms itu; “mas Dimas, Lisa sakit keras, sudah tiga hari dia tak sanggup bangkit dari tempat tidur, sudah tiga hari pula ia demam panas tinggi…” belum sempat Dimas balas, masuk lagi sms kedua; “mas, apa ndak bisa pulang nengok Lisa, kedatanganmu akan jadi obat yang murah untuknya, dan barangkali mujarab”

Tak ia balas sms itu, yang ada dipikiranya cuma satu, secepatnya sampai ke stasiun, baginya saat itu, waktu memburu dengan demikian kejamnya. Sampai di stasiun, ditukarnya tiket, dan masuk ke Peron, masih ada waktu ternyata dan seperti biasa, keretanya terlambat datang. Duduklah ia di kursi peron, kakinya tak bisa berhenti bergerak-gerak, kadang ia mainkan kedua tanganya, serba tak jelas Cuma demi membunuh waktu. Tapi cara itu rupanya tak ampuh, perlahan ia teringat bagaimana dia menikah dengan Lisa, empat atau lima tahun yang lalu, dinikahinya perempuan semampai sawo matang dengan mata bulat itu, mertuanya menyambutnya dengan girang, anaknya akan dipersunting orang kota, pegawai negeri kantoran, meski hanya sebagai tukang cap stempel kantor, sebuah pekerjaan priyayi bagi orang desa. Sang mertua yang sudah kepalang bungah itu menjanjikan, bahwa seluruh sawah sekian hektar akan diwariskan pada menantu kebangganya, pada si Dimas. Dimas setuju, tapi ia mengajukan syarat, istrinya tak usah ikut kekota, terlalu bising katanya, tak baik bagi perempuan desa yang polos. Tinggallah sang istri di desa dan Dimas bekerja di kota “x”, tak mesti sebulan sekali menengok istrinya ke desa, mereka beranak dua.

Kereta datang, ia kebagian tempat duduk disebelah jendela, nyaris dibawah pendingin ruangan, asal tau saja, pendingin ruangan di kereta kelas ekonomi bukan sembarang pendingin, ia adalah pendingin ruangan di gedung-gedung yang disulap untuk dipasang di kereta, dan konsekuensinya jelas: tetesan air, beruntung ia tak kebagian basah. Sebelahnya ibu-ibu bau pasar yang gampang tertidur dan dihadapanya, pemuda setengah baya tengah membaca buku.

Dimas duduk memangku ransel, ia pasang kuda-kuda berusaha tidur dengan memeluknya, tapi sia-sia. Ia tak bisa terlelap, bukan karena kereta itu terlalu bising, terlalu penuh dan agak kumuh –ia naik kereta termurah-, lagi ia jadi teringat, Lisa begitu baik, tipikal orang Desa dan orang Jawa yang patuh, tunduk sepenuhnya pada suami. Tak pernah satupun perintah Dimas yang ditolaknya, bahkan, meski empat bulan terakhir kiriman nafkah tak kunjung datang Lisa tak mengungkitnya, begitupula mertuanya, kebanggan pada menantu yang Pegawai Negeri dan orang kota menumpuk dalam kepercayaan pada Dimas. Tak pernah juga Lisa cemberut karena kala pulang, tak pernah ada buah tangan buat dia dan anaknya, seolah semua sudah terlanjur tenggelam dalam prestis.

Kereta tak kunjung sampai, pemandangan diluar sudah tak ada, ditelan matahari yang sudah terlanjur lelah, yang ada hanya fascade gelap diluar sana. Kalaupun ada, yang ada gambaran pilu, pengungsi banjir yang mendirikan tenda nyaris terlalu dekat dengan rel. Hampir tak ada yang menyenangkan buat dilihat dari dalam kereta.

Pernah suatu kali si sulung bertanya padanya, kenapa bapak jarang pulang? Yang keluar adalah jawaban setengah hati, sibuk, kerja, dan jawaban lain sejenis, saat itu dilihatnya si sulung, khas turunan ibunya, koreng di kaki, liur di pipi, dan berbagai pernik lain, sedangkan ibunya, ya…ibunya, sebenarnya Dimas sudah menduga ada yang tak beres dengan ibunya, dari pertama bertemu ia tampak pucat dan kurang bertenaga.

Enam jam yang berasa enam tahun itu usai juga, Dimas keluar kereta, keluar stasiun dan memesan Taxi, mahal sedikit tak apa, sudah tak ada waktu buat angkot. Makan waktu setengah jam sebelum Taxi sampai di sebuah rumah, paling ujung dari deretan rumah-rumah yang lain, tepat berseberangan dengan taman kecil tempat anak-anak main bola tiap sore. Sebelum mengetuk pintu handphonya berdering lagi, Dimas cuma lihat sekilas dan tak menggubrisnya.

ah ayah pulang juga, udah kangen aku, udah seminggu ga pulang”

“ya Tina-ku sayang, kubawakan kau kado tuk anniversary 8 tahun perkawinan kita”

Handphone kembali berbunyi, nada panjang, kali ini telepon

telepon dari siapa sayang?”

“bukan Tina, hape ini sudah mulai rusak, berisik sedari tadi, lebih baik kumatikan saja”

Semarang, 22 Januari 2014

 

Eh ada Nana !

beberapa hari yang lalu, tengah malem, handphone saya bunyi, telpon dari unknown number, biasanya kalo yang begini ini kalau enggak nagih deadline kerjaan ya nagih utang jadi ngangkatnya juga setengah hati. “halo cel, rumah makan Semarang yang buka 24 jam dimana?” suara di seberang langsung nyerocos dan oooooo… ternyata nggak lain dan nggak bukan adalah mbak Nana imigran dari Sumatra.

Dulu, pertama kali ketemu mbak Nana, first impression-nya jelek banget ketemunya ga ada 5 menit, terus saya ngutang duit parkir. Sekian tahun berlalu dan kita ketemu lagi, sekarang udah agak gendutan, udah lamar-able sak pole. Nah ini foto oleh-oleh kemaren :

IMG-20131225-WA0000

Selamat jalan mbak Nana!makasih udah mau tak culik,  semoga selalu bahagia dan makin sukses!

Emansipasi dan Hukum yang Memihak

Oleh : Rian Adhivira[1]

Srintil berusaha tersenyum sebgai usaha terakhir menolak kenyataan. Tetapi senyum itu berhenti pada gerak bibir seperti orang hendak menangis. Lama sekali wajahnya berubah menjadi topeng dengan garis-garis muka penuh ironi. Topeng itu tak hilang ketika dua orang berseragam membawanya ke ruang tahanan di belakang kantor. Srintil berjalan tanpa citra kemanusiaa. Tanpa citra budi, tanpa roh. Srintil menjadi sosok yang bergerak seperti orang-orangan dihembus angin”[2]

Banyak yang ditawarkan oleh “Hukum” kepada kita, ia menawarkan –setidaknya sebagaimana diajarkan di banyak fakultas hukum- keadilan, kepastian dan kemanfaatan, namun segera setelah beberapa tahun kita bergulat denganya akan banyak kita insafi bahwa hukum layaknya kisah kita kala kecil, tak seindah yang kita duga. Hukum juga menimbulkan masalah baru, ia tak jarang menawarkan janji kosong, dan bahkan justru menimbulkan masalah baru yang menyengsarakan.

Secuil cuplikan dari epos Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dengan tepat menyayat jantung dan nadi kita sampai ke titik penghabisan; bagaimana Srintil dan desa Dukuh Paruk yang bodoh dan buta huruf diperalat oleh Partai Komunis dan Hukum tanpa pandang bulu turut menghempaskan mereka yang hanya bertahan berdasarkan pada kebiasaan turun temurun dan wejangan tetua, cerita tersebut mengingatkan bagaimana hukum tak dapat berbuat banyak dan justru melegitimasi kekuasaan politik pasca jatuhnya kepemimpinan Soekarno. Tak berhenti sampai disitu, kisah tersebut juga menceritakan bagaimana penderitaan dialami oleh golongan yang paling rentan yaiu perempuan. Sebagaimana telah diutarakan diatas, negara menjamin kesamaan dimuka hukum, hal tersebut tertuang dengan jelas dalam Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang pada kenyataanya tak semua orang memperoleh akses yang sama dalam hukum. Beberapa permasalahan tersebut menunjukkan bahwa hukum adalah produk kekuasaan, ia dilahirkan dari rahim politik yang-dominan, sebagaimana lazimnya sebuah rezim dominasi, yang dominan melahirkan pula pembungkaman terhadap yang lain, ia tak ubahnya berkerja sebagai rezim. Dominasi tersebut tak melulu ditentukan oleh suara mayoritas, kadangkala minoritas juga membentuk suatu dinasti tirani yang dengan segala kekuatan aksesnya juga membubuhkan kepeninganya pada hukum. Dengan kata lain kalimat tersohor Louis XVI yang menyatakan “negara adalah saya” masih bergaung hingga kini, ia tak hilang pasca jatuhnya negara Bastille dan putusnya kepala Maria Antoinette, revolusi tak menghentikan tirani.

Dominasi kekuasaan yang disisipkan pada hukum mencerminkan bagaimana kekuasaan bereaksi pada peristiwa disekelilingnya, ia biasanya bersembunyi dibalik slogan-slogan kesamaan, kesetaraan, moralitas, maupun slogan keadilan yang biasanya tertuang begitu saja. Lebih tepatnya, pertanyaan yang muncul seharusnya adalah kemanfaatan untuk siapa? Kepastian untuk siapa? Dan Keadilan untuk siapa? Saya akan membuktikan hal tersebut dari ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan di dalam hukum.

Corak Maskulin Hukum

Melihat bagaimana hukum bekerja tak akan cukup dalam memahami bagaimana relasi antara perempuan dan laki-laki, relasi antar keduanya bukanlah relasi antara laki-laki dan perempuan layaknya seorang individu dengan individu lain semata, namun juga persoalan akses, perundangan, struktur, dan bagaimana kulur bereaksi, yang sejak awal Soekarno telah mengatakan hal ini. [3]

Hukum ditulis oleh laki-laki, hal ini terlihat dengan jelas dalam minimnya jumlah representasi politik perempuan, selain itu laki-laki juga dominan dalam posisi strategis yang berkaitan dengan hukum seperti polisi, jaksa, maupun hakim. Kebijakan-kebijakan yang dilairkan juga tak luput dari kritik, kebijakan masa Orde Baru misalnya pasca-pembubaran Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang dituding dengan Komunis, Reazim Orde Baru rupanya melegitimasi oplosan maut struktur sosial khas Jawa: Aristokarsi Feodal dengan terlalu banyak bumbu Patriarki yang sebetulnya dengan sangat memilukan telah diteriakkan oleh seorang Kartini melalui surat-suratnya yang dengan ironis terus dirayakan sebagai hari emansipasi perempuan tiap-tiap 21 april[4], dengan kata lain rezim Orde Baru melannggengkan ironi atau bahkan ia menyajikan sarkasme moral dan penyelundupan Hegemoni! kultur masyarakat pegangan pada moralitas maskulin kemudian dilegitimasi misalnya melalui Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Rubuhnya Orde Baru tak berarti apapun, ia hanya melahirkan mitos kebebasan dari reformasi karena ia berdiri atas tragedi Mei, tak ada emansipasi disitu kedaulatan negara yang berdiri berlandaskan reformasi masih dihantui dosa besar yang hingga kini tak kunjung usai, perempuan di Indonesia masih berhak dan wajar untuk memiliki mimpi buruk ditiap tidurnya karena ketika esok hendak mendaftar SMP, sebuah alat siap meneropong vagina mereka atas nama moralitas virgin!

Maka mutlak diperlukan beberapa perubahan besar dalam mengonsep ulang Keadilan; pertama melakukan reformasi hukum yang memperhatikan pengalaman perempuan, karena teori hukum maupun peraturan perundangan didominasi oleh laki-laki yang luput dalam memperhatikan kehidupan perempuan, kedua menyebarluaskan paham kesetaraan pada insitusi pendidikan hukum dan yang ketiga diperlukan perubahan dalam praktek hukum, misalnya bagaimana aparat harus bertindak dan lain sebagainya.[5]

Beberapa Cerita[6]

 “saya menemukan berbagai barang, mulai dari cangkul, sampai linggis, ada juga benda tajam di balik bantal tempat kami tidur. Suami saya sebelumnya telah mengancam akan membunuh saya apabila saya tak meninggalkan rumah, namun saya bingung hendak kemana. Saya memergoki suami selingkuh main dengan pelacur namun justru saya dituduh menjadi pelacur untuk memenuhi kebutuhan hidup makan dan sekolah anak-anak karena suami tak pernah memberi nafkah. Ketika saya pergi dari rumah dan hendak melaporkan suami saya kepolisian justru menyatakan bahwa saya yang salah karena sebagai istri seharusnya menerima segala perlakuan suami dan tak boleh meninggalkan rumah” – wawancara dengan ibu Ica tanggal 7 September 2013

Ungkapan diatas menunjukkan bagaimana aparat penegak hukum bereaksi terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga. Hal tersebut bertentangan dengan semangat kesetaraan gender yang dihembuskan oleh Undang-Undang nomor 23 tahun 2004 tentang PKDRT disini kultur penegakan hukum masih gagap dan belum dapat memahami bagaimana pengalaman perempuan, mereka tak memperhitungkan penderitaan, resiko, dan bagaimana beban dari seorang ibu yang membanting tulang demi kelangsungan rumah tangga. Pada kesempatan lain, hukum-pun tak dapat berbuat banyak ketika dalam beberapa kasus perempuan korban KDRT lebih memilih untuk tak melanjutkan perkaranya yang selanjutnya justru sang suami mengulangi perbuatan kekerasanya. Saya sajikan petikan wawancara dengan korban tersebut dibawah ini:

“saya sudah tiga tahun belakangan mengalami KDRT, saya disiksa suami hingga pernah bibir saya sobek dan mendapat jahitan sebanyak lima sentimeter, ketika saya memperkarakan dan suami masuk sel ia menyembah dan mencium kaki saya, melihat hal tersebut naluri saya sebagai seorang perempuan muncul, sehingga ia saya maafkan. Namun selang beberapa waktu kemudian ia mengulangi perbuatanya lagi..”– Ibu Manda dalam Forum Diskusi LRC KJ HAM dan Komunitas Sekar Taji 23 Juli 2013

saya sudah coba tak tahan-tahan kan mas, selama tigabelas tahun pernikahan saya dengar dari teman-temanya kalau dia tak pernah mencintai saya, tiap dia tau saya melaporkan ke polisi dia mendadak menjadi baik memohon maaf dan mengaku khilaf, kalau sudah demikian saya tidak tahan untuk tidak memaafkan hingga akhirnya ia mengulangi perbuatanya lagi…”– Wawancara dengan Ibu Prima tanggal 2 Agustus 2013

Carol Smart mengatakan bahwa hukum bukanlah satu-satunya instrumen, sebagai norma yang bersaing dengan norma-norma lain,[7] Smart mengingatkan bahwa gerakan feminisme tak boleh dengan mudah terlena atas solusi yang ditawarkan oleh hukum karena hukum selalu menyisakan paradoks dan inkonsistensi dengan solusi pragmatis yang kongkrit sebagaimana tertuang dalam pasal-pasal perundangan.[8]  Smart bermaksud bahwa perjuangan gerakan perempuan tak boleh berhenti dengan diundangkanya suatu undang-undang karena sifat peraturan yang selalu menyembunyikan kontradiksi pada dirinya. Smart berpendapat permasalahan perihal ketidakadilan perempuan tidak cukup dengan menambah dosis perundangan (misalnya melalui penambahan ancaman hukuman, maupun dikeluarkanya peraturan-peraturan tertentu) Smart mengatakan “the law is also refracted in the sense that ithas different applications according to who attempt to use it”.[9]

            Mengakhiri Rezim

            Beberapa cerita diatas adalah sebuah provokasi, bagaimana kita memandang hukum. Mengulang kalimat sebelumnya, ia bukanlah cerita indah masa kecil, kadangkala ia justru menjadi mimpi atau hantu yang mengusik lelap tidur kita. Maka mitos harus dibongkar, segala yang mapan termasuk struktur sosial yang stabil harus selalu diusik untuk dipertanyakan, karena persis dalam ketenangan tersebut sebenarnya tersembunyi leher-leher yang dicekik hingga tak dapat besuara dan terbengkalai. Sanggupkah? Barangkali tugas yang sulit lagi berat ditengah tren untuk mengafirkan yang berbeda dengan label “sesat” dijidat. Selamat pagi!


[1] Mahasiswa Paling Menggemaskan di Jurusan Hukum & Masyarakat FH UNDIP, Paper ini disampaikan dalam LKMM FH UNDIP yang diselenggarakan pada Sabtu 21 September 2013 bersama dengan Abdurrahman Shiddiq Surya Semesta.

[2] Ahmad Tohari. Ronggeng Dukuh Paruk. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2009. Hlm 241

[3] Lihat Soekarno dalam Soekarno. Sarinah, Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia. Panitya Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Soekarno. 1963. Hlm 14-15 ia mengatakan “Sesungguhnya, kita harus insjaf, bahwa soal masjarakat dan negara adalah soal laki-aki dan perempuan, dan soal laki-laki dan perempuan adalah satu soal masjarakat dan negara…bahwa soal perempuan bukanlah soal kaum perempuan sadja, tapi soal masjarakat, soal perempuan dan laki-laki. Dan sungguh satu soal masjarakat dan negara jang amat penting!”

[4] Lihat lebih jauh di Rian Adhivira. Pasca Hinggar Binggar Hari Kartini; Menakar Radikalitas Tindakan Kartini. Paper Diskusi yang dipresentasikan di Komunitas Payung 21 Juni 2013. Di Paper ini saya mengatakan bahwa Kartini adalah seorang Agen dalam perspektif Pierre Bourdieu, ia sebagai subyek gagal melawan habitus perempuan Jawa, disisi lain Medea yang membunuh anaknya dan NN yang memotong penis kekasihnya adalah seorang subyek radikal, dalam menghadapi kastrasinya mereka tak menyerah kalah, melainkan mengkastrasi dirinya untuk meraih yang real, suatu tindakan tak terduga yang melampaui segala penandaan.

[5] Carol Smart Feminism and the Power of Law. Routledge. New York & London. 1989 Ibid hlm 67

[6] Beberapa saya ambil dari Skripsi Rian Adhivira. Implemetasi Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 Tentang PKDRT Di Kota Semarang Dalam Perspektif Feminis Legal Theory. Telah diujikan pada tanggal 18-19 September 2013

[7] Smart mengatakan “..to construct a warning to feminism to avoid the siren call of law. But Equal importance has been the attempt to acknowlege the power of feminism to construct an alternative reality to the version which is manifested in legal discourse. I am conscious of gaps, inconsistencies, and contradiction in the preceding pages but I have none the less tried to establish a basic thesis throughout, nemely that we must produce a deeper understanding of law in order to comprehend its resistence to and denial of women;s concerns. Op Cit Carol Smart Hlm 160

[8] Loc cit

[9] Ibid hlm 164


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Agustus 2017
S S R K J S M
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors