dua puluh

ini dua puluh. punya kita. yang kadang terucap namun lebih sering tertahan.

dalam marun, yang membuat waktu jadi tak terhingga.

kataku, “tunggulah di barat sana”. tapi agaknya tak semua pesan dapat sampai tanpa hambatan.

tapi, semoga ia masih ada; dua puluh, untuk kesekian kalinya.

Iklan

Pejam

Kala itu senja. dan penuh harap, ku pejamkan kedua bola mata,

sembari menghitung; satu, dua, dan tiga, lalu kubuka,

dan kau pun muncul dengan gelak tawa, menyambut dengan senyum dan mata penuh bunga.

“ayo pulang”, katamu. sembari kau pegang tanganku, sembari berjalan dalam berdendang. kita berdua, terbang, dengan kepak sayapmu, kita pulang, ke peraduan.

sesampainya, kita pun bersatu dalam khilaf yang berpeluh, dalam birahi yang nyaris tanpa keluh, dalam cinta yang penuh. di waktu yang luruh.

lalu, dalam lelah, aku kan terpejam, lagi. bersamamu. dengan namamu di desahku, di dekatku, di dekapku,

pagi tiba, matahari tiba, kau pun menggeliat, dan dalam pejam, kembali aku menghitung; satu, dua, dan tiga,

dan kau masih di sana, dengan mata, tawa, dan senyum yang sama.

kini, masih di sudut ibukota dan dengan hati yang sama, kembali, ku pejamkan mata, dan mulai berhitung,

hanya saja, kini, entah sampai berapa.

kini, detak degupmu masih jelas terasa, begitu pula rambut dan aroma, dan tanganmu, di tanganku, bergelayut dalam rindu yang terbata,

kini, masih terasa, corak keningmu di bibirku waktu ku kecup dalam sayang, masih pula terasa, bibirmu kala mengukir leherku dalam cupang, dalam cinta dan birahi yang menjulang.

kini, aku masih terpejam dan mengitung, tapi kini, entah sampai berapa.

karena apa artinya bila ku buka mata dan ternyata kau tak ada? apa makna dari rembulan yang cuma punya kita berdua, bila kau tak bersamaku di sana?

kini, aku masih menghitung, hanya kini, entah sampai berapa.

yang kutahu, aku tak perlu lagi bertanya penuh terka, karena bila kubuka ini kedua mata, tanpa kira-kira, kupastikan bahwa surga itu memang tak ada.

Bulan

sayang, ayo, pegang pinggulku, dan naiklah sapu ajaibku.

kencangkan pelukmu, karena kita akan naik, naik, naik, sampai ke bulan.

di sana, kita kan tertawa,

melihat bumi berputar,

sambil diam-diam, kucuri pandang dari matamu yang berbinar.

di sana, kita kan tertawa,

melihat mereka di bumi yang fana berebut agama. merasa mana yang paling benar.

melihat konyolnya hukum-hukum negara, sembari kebencian terus ditebar.

lupa, bahwa kita hanya kebetulan saja hidup diatas batu yang mengambang di berantah angkasa, berputar,

di sana, kita kan tertawa,

menyambut matahari bersinar, sembari tanganku di pundakmu, melingkar.

diam-diam pula, kan ku patahkan sapuku, dengan sengaja.

supaya kita bisa terus tertawa,

bersama,

di pagi dan malam yang berbeda dengan mereka, di bulan yang cuma punya kita berdua,

kita kan rayakan setiap detik dari gerhana, dengan cium basah yang memburu dan membara,

berdua,

dan,

tanpa perlu lagi kita harus menengadah ke atas penuh terka, bertanya, surga itu ada dimana.

Bella – Pablo Neruda

Bella,

como en la piedra fresca
del manantial, el agua
abre un ancho relámpago de espuma,
así es la sonrisa en tu rostro,
bella.

Bella,
de finas manos y delgados pies
como un caballito de plata,
andando, flor del mundo,
así te veo,
bella.

Bella,
con un nido de cobre enmarañado
en tu cabeza, un nido
color de miel sombría
donde mi corazón arde y reposa,
bella.

Bella,
no te caben los ojos en la cara,
no te caben los ojos en la tierra.
Hay países, hay ríos
en tus ojos,
mi patria está en tus ojos,
yo camino por ellos,
ellos dan luz al mundo
por donde yo camino,
bella.

Bella,
tus senos son como dos panes hechos
de tierra cereal y luna de oro,
bella.

Bella,
tu cintura
la hizo mi brazo como un río cuando
pasó mil años por tu dulce cuerpo,
bella.

Bella,
no hay nada como tus caderas,
tal vez la tierra tiene
en algún sitio oculto
la curva y el aroma de tu cuerpo,
tal vez en algún sitio,
bella.

Bella, mi bella,
tu voz, tu piel, tus uñas
bella, mi bella,
tu ser, tu luz, tu sombra,
bella,
todo eso es mío, bella,
todo eso es mío, mía,
cuando andas o reposas,
cuando cantas o duermes,
cuando sufres o sueñas,
siempre,
cuando estás cerca o lejos,
siempre,
eres mía, mi bella,
siempre.

-Pablo Neruda

KGB – Beda

 

Sample latihan dari lagu “Beda”, yang rencananya akan dijadikan satu album dengan judul yang sama, tentang kisah cinta yang harus terbentur tembok-tembok agama dan primordialitas yang bebal–dan kerap kali membosankan. Terinspirasi dari kisah nyata, nantinya, seluruh album akan bercerita tentang Melvin, sang tokoh utama yang harus berhadapan dengan bingkai-bingkai sosial, dalam hal ini ras dan agama. Sebagaimana setiap roman, satu kisah cinta tak melulu berhasil memang. Tapi keberanian Melvin dalam canggungnya untuk menerjang setiap bingkai itu sendiri, sudah merupakan satu pencapaian, sebagai seorang Melvin, dengan seluruh darah dan dagingnya. Meski kalah. Dalam senyumnya yang sebentar, seluruh ruang-waktu terangkum dan mampat dalam hatinya yang membara.

Kami percaya, bahwa cinta, kalau itu ada, maka sebagaimana Melvin, adalah melampaui dari segala bingkai yang tersedia. Bahkan, barangkali, ketika ia lewat, tuhan-tuhan pun harus rela minggir untuk memberi jalan. Tapi, entahlah.

Lirik:

melvin~ cina~
hatinya bunga-bunga
jatuh cinta kali pertama

melvin~ cina~
sadar telah jatuh cinta
dengan seorang gadis jawa

melvin~ cina~
cintanya tiada berbalas
terhalang tembok agama

dalam tangisnya terselip doa
agar bisa hidup bersama ha aa~
tiada guna

hanya karena beda agama
cinta bisa dipaksa kalah ha aa~
sia-sia

tuhan, dewa, para berhala
baik di surga atau neraka ha aa~
kasihanilah

melvin~ cina~
cintanya tiada berbalas
terhalang tembok agama
kasihanilah.

Bisik

Kemarilah, barang sebentar,
sembari peganglah tangan kiriku yang gemetar,
“Ini rahasia”, kataku,
sibaklah rambut yang menutup daun telingamu,
condongkan tubuhmu padaku,

Supaya,
aku bisa pakai tangan kananku tuk menutup bibirku dengan benar,
agar bisik-ku tak bisa orang lain baca dan dengar,
yang meski lidahku kelu,
dan hatiku ragu,
kupersiapkan diri dengan mengulur waktu,

Supaya,
diam-diam, aku bisa kecup basah pipi merahmu yang lucu,
sambil berharap, kau akan merona tersipu.

Sama,
seperti dulu,

Semoga.

“I’m so sorry”


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

April 2018
S S R K J S M
« Mar    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors
Iklan