Semar ditengah Kapitalisme (Suara Merdeka 4 sept 2010)

Hari kebangkitan nasional pada 20 mei, mengingatkan kita akan pentingnya semangat dari amunisi akademisi-akademisi muda dalam pentingnya peran mereka dalam menancapkan tonggak perlawanan terhadap kolonialisme yang telah mengkungkung negri ini selama lebih dari 350 tahun setelah gagalnya upaya-upaya perlawanan yang sebelumnya hanya dilakukan secara sporadis.

Kemudian melongok ke lebih dari satu dekade lalu dimana para mahasiswa yang mewakili suara rakyat kembali menunjukkan keampuhanya dalam menumbangkan rezim orde baru. Dalam perspektif bahwa setiap mahasiswa adalah tonggak harapan, utusan dari para orang tuanya untuk melakukan suatu sumbangsih pada kehidupan bermasyarakat sekaligus menularkan spirit dari nuraninya untuk melakukan perubahan pada hal-hal yang bertentangan baik dari tatanan kesusilaan, tatanan hukum, maupun tatanan kebiasaan bagi sekitarnya untuk yang tidak beruntung merasakan bangku kampus atau bahkan bagi yang tidak pernah mengecap pendidikan sama sekali.

Pertanyaan yang timnbul kini adalah, dalam bentuk apa kemudian  pengejawantahan peran dari mahasiswa pada masyarakat kini dalam hiruk-pikuk himpitan sesak kapitalisme yang menurut Muhammad Yunus adalah sebuah system yang baru setengah jadi itu?

Justru sekarang inilah peranan mahasiswa Indonesia kembali diuji, tantangan ini tidak kalah berat dari penggulingan tantangan kolonialisme Belanda-Jepang maupun cengkraman Orba. Disini, sekarang,kita berperang mempertahankan identitas bangsa melawan gempuran musuh yang tidak kasat mata ini, yang bagaikan  angin topan yang bisa menghempaskan pohon sampai ke akar-akarnya, saat inilah kita harus berpegang erat pada nilai budaya. Lihatlah Jepang dan Cina dimana sukses secara ekonomi dengan tetap mempertahankan nilai kebudayaan.

Tugas mahasiswa Indonesia kini,adalah melakukan perubahan paradigma berupa penyelamatan darurat terhadap “nilai” dari warisan budaya dalam rangka menjaga supaya empek-empek, loenpia, gudeg, wingko, sate  Madura dan kawan-kawan tetap mampu bersaing melawan rumah makan-rumah makan bergaya luar negri. Supaya Semar, Gareng, Petruk, Bagong tidak kalah bersanding dengan komik-komik import. Agar kita dapat menengok kembali kekayaan khasanah budaya kita.Karena hanya dengan menjaga identitas bangsalah, kita dapat terus melaju kencang menjawab tantangan jaman.

nb:tulisan ini saya kirim ke Suara Merdeka dan di muat di rubrik Debat pada hari sabtu 4 september 2010 halaman 19 dengan judul “Terimpit Kapitalisme”. masih perlu banyak perbaikan disana-sini, tapi tetep semangat deh !

1 Response to “Semar ditengah Kapitalisme (Suara Merdeka 4 sept 2010)”


  1. 1 aphied September 10, 2010 pukul 1:11 am

    waaaah, keren tulisannya dimuat di SM.😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

September 2010
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: