Arsip untuk November, 2010

Dari Satjipto Rahardjo sampai Derrida

“…Tanpa perubahan cara bernegara hukum seperti itu, hukum hanya akan menjadi permainan kepentingan dan gagal membawa bangsa ini kepada kesejahteraan, keadilan, kebahagiaan, dan kemuliaan.” -Satjipto Rahardjo

Alm. Satjipto Rahardjo, dalam bukunya “Membedah Hukum Progresif” mengajak kita untuk menengok kembali dan menyadarkan bahwa undang-undang dan peraturan tertulis lainya bukanlah satu-satunya alat problem solving yang bisa kita gunakan.

Beliau menolak hukum positif yang hanya berlandaskan pada hukum tertulis karena hal tersebut pada suatu kekuasaan tertentu dinilainya akan membawa pada penyalahgunaan kekuasaan (power abuse), dan mendorong untuk menemukan “hukum baru” karena hukum bukanlah prodak “jadi” melainkan suatu proses yang mengikuti masyarakat yang diaturnya sehingga harus dicari serta digali terus. Beliau lebih menekankan pentingnya Human Capital yang berhati nurani dalam sistem hukum sehingga hukum bukan cuma corong perundangan.

Dalam buku tersebut, Prof Tjip memberi contoh yang menarik mengenai “kerinduan” untuk kembali pada nilai lokal (hal 13). Adanya hukum positif adalah suatu kebutuhan di era sekarang, tapi meski demikian hal itu tidak bisa membuat kita membuang nilai kearifan lokal budaya kita.

update : lihat juga tulisan Joni Emirzon di halaman 204 Membedah Hukum Progresif yang bersangkutan dengan Etika-moralitas hukum.

everything is text, there is nothing beyond text” – Jacques Derrida

Sekarang, ayo kita sedikit tengok ke Derrida. Derrida adalah seorang filsuf perancis yang terkenal dengan konsepnya mengenai “Dekonstruksi” dan “Differance”. Pemikiran Derrida banyak dijadikan acuan dalam menjawab tantangan modernisme.

Yang saya angkat disini adalah ketidakpuasan Derrida terhadap modernisme yang dianggapnya keliru dalam menafsirkan suatu pemikiran dengan berusaha memberi “makna/definisi” pasti pada suatu wacana. Dia berpendapat bahwa suatu makna tidaklah bisa bersifat tertutup melainkan selalu terbuka, karena makna bahasa yang tertutup pada suatu kuasa cenderung digunakan untuk menarasikan kelanggengan suatu kekuasaan. Differance dan Dekonstruksi adalah bentuk dari bantahan Derrida tersebut.

Differance berbeda dengan Difference yang dalam Bahasa Inggris hanya berarti “perbedaan”. Differance Derrida mengandung 2 hal; yaitu penundaan pada suatu makna dan mengakui perbedaan pandangan.

Sedangkan Dekonstruksi berarti membongkar  dari wacana yang di-Differance kan agar memungkinkan untuk ditemukanya makna baru, yang intinya adalah “menolak semua konsep yang menafikan dan menenggelamkan keunikan masing-masing individu” (Audifax, Psyche 2008). Demikian Dekonstruksi ini bukanlah Destruksi yang cuma memecah belah, tapi dia bersifat affirmatif dan dilakukan [meski bukan metode] demi membuka institusi pada kemajuan baru.

Sintesis ; Teks yang selalu terbuka

“Pencarian makna lebih dalam hendaknya menjadi ukuran baru dalam menjalankan hukum dan bernegara hukum” – Satjipto Rahardjo

Setelah melihat secara garis besar, meski masing-masing bergerak bidang yang berbeda kita bisa mendapati sintesis dan interdependensi dari keduanya. Teori Derrida menurut saya memberi sentuhan dasar bagi Hukum Progresif Satjipto Rahardjo. Keduanya menolak Positivistime dan kekakuan kita terhadap pemaknaan yang menutup kemungkinan pada “yang lain” yang me-lena-kan kita pada tujuan semula.

Differance dan Dekonstruksi Derrida  [entah secara sengaja atau tidak] di-affirmasi oleh Satjipto Rahardjo yang menolak pembacaan UU secara tekstual, logis-dogmatis semata, keduanya juga sepakat kalau dalam dekonstruksi [yang kaitanya pada hukum tertulis] harus dibersihkan dari kekuasaan dan kepentingan, untuk dikembalikan pada tujuan dasar (restropektif) yaitu untuk kemajuan itu sendiri.

Melalui pemakaian logika yang disertai nurani juga keterbukaan, akan membawa kita pada dimensi pemaknaan yang baru, bersih,  kaya dan lebih segar. Melampaui teks, melampaui positifistik. setuju nggak?

update bacaan yang berkaitan juga; Kevin O Doneill – Postmodernisme, Zainal Abidin – Filsafat Manusia, Audifax – Psyche,  St. Sunardi – Nietzsche .

nb.tulisan ini terbuka untuk di differance dan didekonstruksi.. silahkan kritiknya

Iklan

Melampaui Modernitas (Postmodern II)

Beberapa waktu lalu saya sempet mempost kan soal postmodern, tapi setelah saya baca ulang kok rasa-rasanya masih terlalu abstrak, terlalu mengambang. Disini saya coba menyederhanakan lagi :

Sebenarnya, postmodern muncul dalam rangka untuk menjawab beberapa nilai dari pemikiran modern (yang diawali Rene Descartes) yang dianggap gagal. kenapa? modernisme dianggap melahirkan revolusi industri yang menyebabkan perubahan struktur sosial besar-besaran, eksploitasi alam yang berlebihan, juga dogmatis dan fanatisme sempit agama, etika borjuisme yang sewenang-wenang, dan lain sebagainya tersebut adalah beberapa dari sekian banyak hal yang ditentang oleh postmodernisme. Pada hal-hal diatas postmodernisme melakukan pembongkaran, dan penelanjangan sehingga bisa terlihat “apa itu” secara sebenarnya sebelum kemudian merekonstruksi ulang.

Kredo Postmodernisme adalah untuk merayakan “ya pada perbedaan“. Karena penilaian mengenai benar-salah, baik-buruk, adalah menjemukan dan tidak mungkin. Semua orang berhak dan bebas [dengan bertanggung jawab] untuk meyakini keyakinanya, jalan yang dianut. Karena itulah postmo menolak adanya kebenaran hakiki dari cerita-cerita besar, aliran utama atau  mainstream. Bahkan dengan berani postmo mengatakan kalau Filsafat sudah mati, seni sudah mati, dan ilmu pengetahuan sudah mati !.

Postmo menolak kejadian sepertian penyaliban Kristus, pencungkilan mata Galileo, pembakaran Copernicus, konflik antar etnik, antar agama  supaya tidak terulang lagi, hargai sesama , hargai kemungkinan yang akan datang, katakan  “ya pada hari besok“. Selalu terbuka, itulah postmodern. Untuk mengurangi prasangka buruk mengenai postmo , ada kutipan bagus mengenainya :

Postmodern knowledge is not simply a tool of the authorities; it refines our sensitivity to differences and reinforces our ability to tolerate the incommensurable. Its principle is not the expert’s homology, but the inventor’s parology– Francis Lyotard

Sebenarnya, penjelasan diatas juga masih sangat kurang untuk menjelaskan tentang postmodernisme yang paling sederhana sekalipun, kalau berminat mengenal lebih dalam, silahkan baca buku Postmo yang kini sudah banyak tersedia 😀

Selamat Pagi, Postmodernisme

Haaa postmodern? apa itu ? istilah ini makin sering dipakai dan dikutip dimana-mana, tapi apa sebenarnya postmodernisme itu, dan kenapa? Postmodern secara etimologi terdiri dari post (melampaui) dan modern (sekarang), jadi postmodern adalah suatu paham (dalam artian luas) yang mengkritisi dan melampaui nilai-nilai dan pandangan yang diusung oleh zaman sebelumnya terkhusus pada modernisme yang dinilai gagal setelah melahirkan arus kapitalisme dan eksploitasi alam yang berlebihan. Tapi pada dasarnya post-modern justru menolak definisi pada dirinya, karena bila demikian maka postmodern malah akan kembali pada modernitas yang dikritisinya.

Zaman pencerahan dari Renessaince, Illumination, dan Aufklarung yang mencoba membebaskan diri dari dogmatisme pada abad pertengahan ternyata justru membawa kita kepada suatu jurang baru; Perkembangan teknologi, yang ditandai dengan munculnya revolusi industri dan munculnya aliran-aliran filsafat yang berorientasi pada manusia sebagai subyek dunia. Hal ini bisa dilihat dari filsafat Hegel, materialisme Marx, imperatif kategoris Immanuel Kant, sampai Lebenswelth dalam fenomenologi Husserl.

Akibatnya adalah orientasi epistemologi yang kental dengan suasana pencarian Logos yang melahirkan logosentrisme dan oposisi binair. Hasilnya berujung pada eksploitasi yang berlebihan pada alam, susunan patriarkial gender, pemarginalan budaya lokal, dan masih banyak lagi.

Adalah Nietszche diera perbatasan modernisme dengan semangatnya gigih mengabarkan tentang matinya tuhan-tuhan manusia, maka Postmodern seolah mengadopsi semangatnya dengan menolak keberadaan metanarasi, cerita-cerita utama dan besar (mainstream) karena pada hakekatnya [kebenaran mutlak akan] hal tersebut adalah tidaklah memungkinkan (karena itulah postmodern juga disebut sebagai era dimana the death of philosphie, the death of art, and the death of science).

Sebagai manusia dengan berbagai keterbatasanya yang berdiri dalam kungkungan bahasa (dan sayangnya hampir selalu bahasa tidak netral), kita tidak bisa meraih semua nilai, pengetahuan, dan kebajikan, selalu ada yang luput yang tidak kita punyai dan dimiliki oleh yang lain.

Dari suatu  wacana, kita dapat meilihat dan memahami secara berbeda-beda, apa yang menurut pikiran kita ada tidaklah selalu benar. ya karena itu tadi, manusia tidak bisa meraih semuanya, selalu ada “yang lain”.

Tidak ada masyarakat tanpa keyakinan dan kepercayaan pada yang lain– J.Derrida

Kebenaran adalah ilusi yang keilusianya tidak tampak – F.Nietzsche

Setelah perbatasan modernitas, kritik atas zaman modern terus berlanjut. Dari Michael Fouccault, Roland Barthes, Francis Llyotard, Julia Kristeva, Gadamer & Adorno dari Mazhab Frankurt, Jacques Derrida yang kondang dengan “dekonstruksi” dan “differance”, dan favorit saya J.B. Habermas dengan “Diskursus” dan “Ruang Publik”-nya yang banyak menjadi acuan negara demokrasi sekarang.

Lalu, apa yang menjadi arah dari postmodern ini? tidak kemana-mana selain mengalir kedepan. Postmodern mengajak kita untuk merayakan keberagaman dan berani mengatakan YA yang suci pada hari besok. Selalu bersikap kritis terhadap aliran utama, cerita besar (metanarasi), bukan demi sebuah kepentingan tertentu, tapi justru untuk mengakomodir pandangan-pandangan yang biasanya dimarginalkan dan ditenggelamkan dalam cerita-cerita besar tersebut.

Lalu setelah berpanjang-lebar ria, bagaimana dengan sumbangsih Postmodern dalam kehidupan kita ? diantaranya yang cukup menonjol dan terekspos [yang saya tunjukkan] antara lain :

  • Gerakan feminis dan post feminisme
  • Arus balik terhadap Kapitalisme
  • Toleransi terhadap nilai-nilai Religius
  • Pengangkatan kembali budaya lokal
  • Kesadaran untuk kembali pada lingkungan dan alam
  • tenggang rasa dari suatu paham-paham
  • dan lainlain

See? dia sudah ada disekitar kita kok, baik anda suka maupun tidak 🙂

Namanya Minsih..

Sabtu 13 november lalu akhirnya dapat kesempatan  juga buat rame-rame bertandang ke salah satu tempat pengungsian di Boyolali. Kira-kira 2 jam perjalanan dari semarang, saya bersama rombongan sampai ke posko PMI untuk menaruh obat-obatan dan dilanjutkan penyaluran logistik ke tempat penampungan tidak jauh dari situ.
Dari sekitar 270 pengungsi yang ada disitu, saya dapet kesempatan sebentar buat ngobrol dengan Eyang Minsih. Beliau menuturkan kalau bersama 6 anggota keluarga yang lain mengungsi ke Boyolali karena pemukimanya hanya berjarak 4 kilo dari puncak Merapi yang sedang sensi itu.

Hebatnya, meski berada ditengah keterbatasan, Eyang Minsih tetep sempet buat tersenyum, beliau berkata kalau sebenarnya sama saja tinggal di kampung maupun di penampungan selama mereka masih bisa bersama-sama.

“sayang satu, sayang semua”

Begitu kira-kira kalimat dari Yang Minsih, yang menggambarkan kalau dimanapun mereka berada, mereka tetap menyayangi satusama lain.

Jadi malu, karena selama ini seringkali kita berhubungan dengan orang lain atas dasar kepentingan tertentu saja, ada udang dibalik batu. Tapi syukur masih ada orang-orang seperti Eyang Minsih dan kawan-kawan yang tidak (atau belum?) termarjinalkan oleh gegap gempita merek.

Sentilan dari Minsih dan kawan-kawan di penampungan juga membuat saya berpikir, apa harus menunggu ada bencana-bencana dulu baru mata kita terbuka pada sesama. Para korban Merapi, Mentawai, Wasior dan lainlain mungkin sedikit lebih beruntung, karena mereka disorot oleh media. Sadarkah teman, kalau disekitar kita ndak sedikit orang yang kondisinya lebih susah dari mereka?

Saya juga jadi merasa bersalah, karena hanya bertandang dan tidak sempat berbuat apa-apa. Saya malu, karena berlagak menjadi turis dan para teman-teman di penampungan seolah jadi obyek pemandangan wisata saya.

Untuk semuanya, semoga keadaan menjadi lebih baik kedepan ya… amin.

Fotofoto dari: Satrio Prabhowo Trihadmojo

nb. ini dia senyum para jagoan kita, para pembawa harapan 😀


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

November 2010
S S R K J S M
« Okt   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors