Namanya Minsih..

Sabtu 13 november lalu akhirnya dapat kesempatan  juga buat rame-rame bertandang ke salah satu tempat pengungsian di Boyolali. Kira-kira 2 jam perjalanan dari semarang, saya bersama rombongan sampai ke posko PMI untuk menaruh obat-obatan dan dilanjutkan penyaluran logistik ke tempat penampungan tidak jauh dari situ.
Dari sekitar 270 pengungsi yang ada disitu, saya dapet kesempatan sebentar buat ngobrol dengan Eyang Minsih. Beliau menuturkan kalau bersama 6 anggota keluarga yang lain mengungsi ke Boyolali karena pemukimanya hanya berjarak 4 kilo dari puncak Merapi yang sedang sensi itu.

Hebatnya, meski berada ditengah keterbatasan, Eyang Minsih tetep sempet buat tersenyum, beliau berkata kalau sebenarnya sama saja tinggal di kampung maupun di penampungan selama mereka masih bisa bersama-sama.

“sayang satu, sayang semua”

Begitu kira-kira kalimat dari Yang Minsih, yang menggambarkan kalau dimanapun mereka berada, mereka tetap menyayangi satusama lain.

Jadi malu, karena selama ini seringkali kita berhubungan dengan orang lain atas dasar kepentingan tertentu saja, ada udang dibalik batu. Tapi syukur masih ada orang-orang seperti Eyang Minsih dan kawan-kawan yang tidak (atau belum?) termarjinalkan oleh gegap gempita merek.

Sentilan dari Minsih dan kawan-kawan di penampungan juga membuat saya berpikir, apa harus menunggu ada bencana-bencana dulu baru mata kita terbuka pada sesama. Para korban Merapi, Mentawai, Wasior dan lainlain mungkin sedikit lebih beruntung, karena mereka disorot oleh media. Sadarkah teman, kalau disekitar kita ndak sedikit orang yang kondisinya lebih susah dari mereka?

Saya juga jadi merasa bersalah, karena hanya bertandang dan tidak sempat berbuat apa-apa. Saya malu, karena berlagak menjadi turis dan para teman-teman di penampungan seolah jadi obyek pemandangan wisata saya.

Untuk semuanya, semoga keadaan menjadi lebih baik kedepan ya… amin.

Fotofoto dari: Satrio Prabhowo Trihadmojo

nb. ini dia senyum para jagoan kita, para pembawa harapan😀

6 Responses to “Namanya Minsih..”


  1. 1 Satya Wicaksana November 15, 2010 pukul 11:11 pm

    nice gan
    pelajaran berharga bagi yang mengerti

  2. 3 satrio November 17, 2010 pukul 1:10 pm

    gan photografernya ganteng ya gan

  3. 4 guilin November 18, 2010 pukul 8:09 am

    amiin.. pengalamannya inspiratif🙂

  4. 5 fernando November 20, 2010 pukul 1:20 am

    manstap gan !
    ayo gan kreasi mu gak cuman di minsih aja ! ane dukung gan ! nih ane kasih cendol :bigcendol:

  5. 6 rianadhivira November 20, 2010 pukul 3:04 am

    @all : yoi, bencana ala memang wajar, tapi jangan sampai bencana moral ya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

November 2010
S S R K J S M
« Okt   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: