2010, Media Informasi, dan Pluralitas

nb: tulisan ini saya ajukan untuk mengikuti lomba xl-awards. doakan saya ya teman-teman, mungkin nggak bisa harap-harap yang muluk sih, tapi yang penting nyoba deh,😀

“Aku nggak bisa pergi malem ini, tapi nanti coba aku telpon deh” -dialog antar partner kerja

“Kumpulkan tugasnya via email ya anak-anak” -ucapan dari dosen ke mahasiswanya

“aku kangen, ntar onlen doong” -gaya alternatif berpacaran

“knapa seharian km nggak sms aku?” -salah satu usaha pdkt

“tang buka blogku dong, apa pendapatmu soal tulisan blog ku?” -permintaan saya ke temen saat tulisan ini dibuat

Dialog-dialog sederhana diatas mewakili keterhadiran teknologi sebagai sarana komunikasi yang sudah melekat dikehidupan masyarakat abad 21 ini, khususnya di Indonesia. Sebagai negara yang sangat plural, baik secara demografis, geografis, maupun kultur-kultur sosialnya, komunikasi adalah hal yang vital keberadaanya untuk menjembatani perbedaan tersebut, bukan sebagai pemberangus perbedaan, melainkan pentingn perananya dalam mengurangi gesekan yang mungkin timbul dari perbedaan tersebut, sekaligus sebagai penyaji kekayaan khasanah nilai dari perbedaan-perbedaan itu sendiri. Melalui tulisan ini saya akan mencoba menghubungkan antara kemudahan dan keterjangkauan akses komunikasi dalam keterkaitanya sebagai sarana “penghubung” antar masyarakat untuk menuju kehidupan bermasyarakat yang bahagia dan meminimalisir prasangka.

Sudah pada kodrat dan menjadi kebutuhan bagi manusia untuk selalu ingin melakukan kontak dengan yang lain. Menurut John Locke dan Rousseau, keterbatasan manusia dalam kondisi asalinya pada akhirnya “mengharuskan” manusia untuk berkomunikasi satu sama lain dan membentuk interaksi sosial (F.Budi Hardiman, Filsafat Modern), Maslow dengan hierarki kebutuhanya yang mengatakan kalau manusia baru dapat melakukan self-actualization apabila kebutuhan fisiologis, kenyamanan diri, sosial, dan penghargaan telah dipenuhi terlebih dahulu atau Sartre mengenai keberadaan orang lain dalam teori psikoanalisa eksistensialismenya (F. Magnis Suseno, Etika Abad 20). Jadi pada dasarnya manusia memang mau nggak mau tidak bisa hidup tanpa berdampingan dan berkomunikasi dengan orang lain.

Bentuk dan alat-alat komunikasi yang tadinya sederhana pun sekarang sudah mengalami perkembangan yang pesat, handphone, internet, fax, teknologi 3G, sampai yang terbaru 4G yang tadinya barang mewah kini sudah jadi basic everyday items dan masih terus, terus, terus berkembang dan memasyarakat! arus komunikasi yang tadinya melulu searah dan kaku sudah berevolusi menjadi lebih dinamis, bersahabat, dan plural (Crowd, Yuswohadi) meminjam istilah pemenang Pulitzer Award, si om Thomas Friedman; “THE WORLD IS FLAT BABY !” . Bahkan  tentu kini kita tidak bisa membayangkan hidup sehari-hari tanpa keberadaan alat-alat komunikasi diatas, susah rasanya menahan diri sehari tanpa sms, sehari tanpa buka blog, sehari tanpa update status di situs social networking.

Nah, keberadaan media-media komunikasi tentu berimbas pada kemudahan akses dalam memperoleh informasi. Kasus Wikileaks, merupakan salah satu contoh yang cukup populer. Keberhasilan Wikileaks dalam membobol dokumen-dokumen top secret Amerika adalah sebuah tamparan bahwa suatu hegemoni atau kekuasan tidak bisa lagi seenaknya dan sewenang-wenang pada medianya. Media informasi sudah tidak lagi menjadi milik hegemoni tunggal, mungkin Michael Fouccault boleh tersenyum karena pembongkaranya atas hubungan antara “kekuasaan” dan media sudah diwakili Julian Assange lewat Wikileaks-nya yang sukses membuat repot intelejen Amerika .

Akses Informasi, dan Tujuan Bersama

Sila 4 Pancasila tercantum :

KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN

Pancasila, Bila ditempatkan pada Hukum Murni Kelsen menempati “Grundnorm” yang berfungsi untuk menggerakkan sistem hukum dan menjadi dasar mengapa hukum harus dipatuhi (Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum), karena bila dicermati landasan historisnya Pancasila lahir atas kesepakatan yang nilai-nilainya diambil dari kehidupan bangsa Indonesia sejak dulu mulai dari zaman kerajaan sampai sekarang (Kaelan, Pendidikan Pancasila).

Jadi musyawarah adalah  nilai yang sudah dianut masyarakat kita sejak dulu dan dikonstitusikan kedalam Pancasila. Hal ini menunjukkan corak unik dari kebudayaan kita dalam mengatasi pergesekan yang ada dengan mengedepankan Musyawarah dan “Mufakat” untuk kepentingan bersama. Kita boleh berbangga, karena kalau masyarakat pasca-modern barat baru sekarang dilanda demam diskursus ala Habermas, kita bahkan sudah memilikinya dalam nilai struktur sosial yang sudah dipakai semenjak masa pra-kemerdekaan sebagai senjata ampuh untuk problem solving.

Nah, kalau pada masyarakat kita sudah ada musyawarah demi kepentingan bersama, tapi kenapa masih sering terjadi kericuhan? bukankah melalui musyawarah untuk mufakat seharusnya gesekan semacam itu dapat dihindari? apa itu berarti musyawarah telah gagal dalam mengatasi dan menjawab masalah yang timbul? Dengan berani dan optimis saya jawab “Tidak”. Mencapai mufakat adalah memang hal yang pelik, tapi bukan berarti tidak mungkin. Saya berpendapat kalau kericuhan dan gesekan yang terjadi timbul bukan dari kegagalan musyawarah melainkan berasal dari kegagalan proses komunikasinya sehingga timbulah misscommunication, missunderstanding, missperception, dan missjudge yang kemudian berujung kearah disintegrasi.

Hambatan dalam proses komunikasi itu bisa bermacam-macam, mulai dari motivasi untuk memahami satu sama lain, kepentingan yang ikut campur dalam proses komunikasi, prasangka terhadap pihak-pihak lain, serta evasi komunikasi. Apa yang bisa dilakukan demi memotong lingkaran sesat itu? Disinilah pentingnya kemudahan dalam meraih informasi dan telekomunikasi. Melalui keterjangkauan informasi dan bertelekomunikasi akan mengurangi prasangka, menekan pengaruh kepentingan (ingat kasus Wikileaks), sekaligus menghindari terjadinya evasi komunikasi, meski tentu saja harus timbul terlebih dahulu suatu motivasi untuk mencapai konsensus kepentingan bersama. Karena dengan kemudahan akses informasi itulah maka tiap-tiap pihak bisa melihat secara lebih jelas baik tujuan, maupun keadaan dari pihak lain yang berhubungan dengan kepentingan masing-masing sehingga bargain dari musyawarah bisa dijembatani.

Kebijakan konversi gas dari minyak tanah misalnya, yang banyak dikritisi oleh berbagai kalangan. Melalui media komunikasi, Pemerintah bisa memberikan informasi berupa klarifikasi tujuan diadakanya konversi gas tersebut, sehingga masyarakat tau tujuan tersebut. Namun penyampaian tersebut menjadi sia-sia kalau tidak dibarengi dengan kemudahan pengaksesan informasi. Dengan informasi yang reachable, akan mempermudah alur penyampaian tersebut sekaligus membuka kritisi maysarakat terhadap pengimplementasian proyek tersebut demi kemajuan bersama. Pemerintah juga tidak bisa lagi sewenang-wenang dalam proses penyampaian informasi demi menjaga liability dan trust dari masyarakat karena dengan terbukanya akses informasi, masyarakat bisa mengoreksi dan mengkritisi (atau bahkan membobol seperti Julian Assenge) tindakan-tindakan pemerintah.

Gerakan Koin Untuk Bilqis, yang disebarkan melalui jejaring facebook berhasil mengumpulkan lebih dari 1 milyar rupiah untuk biaya operasi Bilqis. Semua orang boleh menyumbang, agama apapun, suku apa saja, dimana saja, arus informasi sudah melampaui hambatan jarak dan differensiasi sosial. Ada banyak contoh-contoh lain tapi melalui dua contoh diatas sebenarnya kita sudah secara tidak langsung, terjadi musyawarah atau diskursus dengan media telekomunikasi sebagai jembatan penghubungnya.

Kini terlihat jelas akan pentingnya kemudahan-keterjangakuan informasi untuk berkomunikasi , tanpa informasi yang cukup dan memadai (karena kurangnya kemudahan akses) akan mengembalikan kita kepada hambatan-hambatan berkomunikasi yang sudah disinggung diatas. Apabila kita mau menerawang lebih jauh, kita bisa melihat potensinya untuk digunakan pada masyarakat Indonesia yang sangat plural. Harus kita akui, sering terjadi prasangka dan gesekan dalam kehidupan bermasyarakat kita, yang menjadikanya penghalang untuk tercapainya tujuan bersama. Habermas sendiri mengakui hal tersebut, kemajemukan memang membuat suatu diskursus atau musyawarah menjadi menantang karena adanya gesekan kepentingan (F.Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif) dan disini saya justru melihat bahwa ketersediaan, keterbukaan, kemudahan, dan keterjangkauan informasi dapat menjadi faktor yang menentukan untuk merobohkan hambatan-hambatan yang ada.

Makin ramainya perlombaan telekomunikasi layak kita apresiasi positif, karena perlombaan untuk memberi pelayanan yang terbaik konsumen akan semakin membuka arus informasi. Pelayanan yang makin beragam, harga yang kian terjangkau dan perkembangan teknologi penunjang yang tak kunjung henti membuat akses informasi semakin membumi untuk dimiliki setiap orang. Perbedaan bahasa, jarak, dan nilai kebudayaan bisa dihadirkan bersamaaan sekaligus. Dengan adanya niatan untuk mencapai tujuan bersama, kini tidak ada lagi yang tidak mungkin. Tapi awas ! jangan kendurkan kewaspadaan ! penggiringan opini untuk tujuan sepihak seperti masa-orba dulu melalui media informasi akan selalu menjadi bahaya yang mengancam proses komunikasi yang berlangsung.

Saya tidak bermaksud mngatakan bahwa semakin terbukanya arus informasi semata-mata akan membawa dampak posotif, tidak sepenuhnya. Keterbukaan tersebut bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk membelokkan, mengaburkan fakta, menyebar pornografi dan tayangan asusila, dan lain-lain. Tapi tentu saja sikap pesimis yang timbul dari “sisi-gelap” keterbukaan informasi dan telekomunikasi bisa kita atasi dengan sikap kritis terhadap tiap informasi yang disajikan.

Jadi saya tekankan disini, terbukanya informasi dan penggunaanya sebagai sarana yang membantu untuk menentukan jalanya dinamika diskursus terhadap problem-problem yang timbul tidak bisa dilepaskan dari sikap tanggung jawab, kritis, dan keinginan demi tercapainya tujuan bersama,

Dengan terdapatnya sifat-sifat tersebut dalam pengaksesan informasi dan berkomunikasi, maka penggunaan media bisa kita optimalkan sebagai alat diskursus, alat komunikasi, yang tepat fungsi tanpa perlu membunuh kemajemukan dan justru menyajikan kemajemukan itu sendiri. Mari kita kembali ke semboyan lama kita “Bhinneka Tunggal Ika” -Berbeda tapi tetap satu jua, mari bersama kita rayakan kemajemukan dengan sikap toleransi dan saling menghargai.

Tidak ada masyarakat tanpa kepercayaan dan keyakinan pada yang lain -Jacques Derrida

gambar dari sini radenbeletz.com dan sini ijaltruelife.blogspot.com

4 Responses to “2010, Media Informasi, dan Pluralitas”


  1. 1 aphied Desember 26, 2010 pukul 11:49 pm

    pecinta filsafat ya wok ?

  2. 3 Sang Nanang Desember 29, 2010 pukul 9:03 am

    asal teknologi jangan dibablaskan menjadi Tuhan…….”tidak dapat hidup kalo nggak online” misalkan, lha piye to????


  1. 1 Suka maupun Tidak; Media Kapitalisme « rianadhivira.wordpress Lacak balik pada Januari 3, 2011 pukul 12:42 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Desember 2010
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: