Deliberasi Hukum

Abad 20 telah kita lewati dan tanpa terasa dan sadari sinar pagi abad 21 sudah menyongsong didepan. Bila kita melongok lebih kebelakang lagi, sebenarnya selama sejarah manusia telah terjadi beberapa perubahan dan pergeseran dari berbagai aspek kehidupan. Mulai dari pemikiran dengan dominasi mistisisme, yang kemudian dilanjutkan secara filosofis, hingga dari segi ilmu pengetahuan yang senantiasa dinamis bergerak mengikuti alur jaman dan menciptakan era yang berbeda-beda demi menjawab tantangan di tiap-tiap generasi.

            Saya akan mencoba sedikit mengupas mengenai hal-hal pokok yang terjadi selama masa modern bawaan dari abad pencerahan dari Rennesaince, Illumination, hingga Aufklaung, yang mempengaruhi pula perkembangan paradigm terhadap hokum. Meski demikian, pembahasan yang saya bawa tidak akan melulu monoton mengenai hokum tetapi juga akan menyangkut beberapa segi keilmuan lainya karena menurut hemat saya, suatu ilmu pengetahuan tidaklah dapat berdiri sendiri benar-benar terpisah dari dunia keilmuan lainya.

            Suatu perubahan, akan membawa kita pada perubahan lainya, seperti keterbukaan teknologi informasi yang turut membawa perubahan dalam segi social dan menciptakan kebutuhan baru, sehingga terjadi dekonstruksi social dalam masyarakat.

           Tujuan untuk mengingatkan kita pada sebuah pertanyaan klasik mengenai “Siapa kita sebenarnya?” dan “Pada jaman apa kita berdiri sekarang?” “Apa itu benar dan salah?” “Apa yang seharusnya kita perbuat?” Semuanya memang sekilas tidak lebih dari pertanyaan yang sederhana, remeh-temeh, tapi kalau kita mau menggali sedikit lebih dalam dari pertanyaan semacam itu, barangkali kita kemudian akan tercenung karena jawabanya tidaklah semudah yang dibayangkan.

            Pertanyaan dari kegelisahan itu akan selalu timbul dan melewati redefinisi-redefinisi yang usianya bahkan sama dengan usia sejarah umat manusia. Ketundukan Socrates dengan meminum racun dari cara berpikir orang yunani yang dikritisinya, Penyaliban Kristus, lahirnya Muhammad, pembakaran Copernicus, pencongkelan mata Galileo, berkembangnya rasionalitas dari Descartes hingga pewartaan matinya tuhan oleh Nietszche, Perang Dunia I dan II, munculnya Madzhab Frankurt, pendaratan di bulan, semuanya saling sambung menyambung, hal yang satu muncul sebagai kritisi dan jawaban dari sebuah usaha untuk melampaui jamanya.

            Satu hal yang pasti dan tidak dapat kita elakkan adalah sebuah kenyataan bahwa sekarang, saat ini, adalah zaman kita. Seringkali kita terlampau asyik berkutat dengan kehidupan sehari-hari hingga tidak memperdulikan kemana sebenarnya zaman ini bergerak, terhanyut kedalam arus besar, cerita-cerita besar, mainstream, metanarasi, yang seringkali mereduksi arti “manusia” hanya sebagai “manusia yang memenuhi kriteria mainstream” dan memarginalkan “yang lain”.

            Menjembatani berbagai kepentingan dan menuju kepentingan bersama, mungkin terdengar sulit tercapai dan tidak realistis mengingat banyaknya tatanan nilai yang menjadi acuan penghakiman tentang “apa itu manusia”.

            Namun demikian saya justru melihat kemungkinan besar tercapainya tujuan yang terjembatani bersama dengan meminimalisir pemarginalan dengan satu kata sederhana yang sebenarnya telah akrab di telinga kita (meski sekarang mungkin sudah banyak dilupakan) yaitu : musyawarah, diskursus. Tentu saja diskursus yang saya maksudkan disini adalah sebuah arena yang adil dan fair untuk semua peserta atau bahkan yang bukan peserta sekalipun. Lalu, bagaimana penerapanya diskursus didalam hokum?

Tahapan-tahapan

Tan Malaka, salah satu anak bangsa dalam bukunya MADILOG (materialism, dialektik, logika) sempat mengungkapkan bila bangsa kita mau benar-benar merasakan kemerdekaan maka harus melewati beberapa tahapan dimana antara lain ; Logika mistis yaitu pemikiran yang masih kental dengan mistisisme yang kemudian akan memacu manusia untuk senantiasa bertanya dalam fase Filosofis dan Ilmu pengetahuan beserta cabang-cabangnya pada fase ketiga.

Era Pencerahan

Berusaha keluar dari kungkungan dogmatism, adalah ciri yang sangat mencolok di era pencerahan. Namun demikian, era pencerahan juga masih enggan meninggalkan dogmatism agama, sehingga membuat satu kaki berpijak pada akal manusia, dan satu kaki lainya masih berada di awing-awang keagamaan.

Dimulai dari itali oleh Rene Descartes dengan dualism Cartesian-nya, semangat ini kemudian menyebar hingga pemikir macam Bacon, Voltaire, Diderot, Locke, Hobbes, Kant, Rousseau, Montesque, Husserl, dan lain-lain. Makalah ini akan membahas mengenai pemikiran dari beberapa tokoh diatas.

berbuatlah sebagaimana maxim perbuatanmu diterima secara universal´- Immanuel Kant

            Immanuel Kant adalah seorang yang dikenal dengan teori Imperatif Kategoris yang kemudian banyak menjadi rujukan dan kritisi dari para filosof etika sampai abad keduapuluh mulai dari Alen Ayer hingga Habermas. Dari teori tersebut maka dapat dipetik bahwa perbuatan baik adalah kewajiban dari manusia tanpa mengharapkan timbale balik apapun (termasuk didalamnya pahala agama). Jadi manusia berbuat baik karena dia memang sudah seharusnya berbuat baik, titik.

            Maka teori hokum dari Immanuel Kant pun juga diangkat dari Imperatif Kategoris tersebut. Kant memasukkan hokum kedalam rasio praktis yang berarti mengenai apa yang seharusnya diperbuat oleh manusia. Karena Imperatif Kategoris bersifat otonom, maka hokum pun juga harus mempunyai sifat keharusan yang otonom dengan peraturan yang sifatnya heteronom dan harus dipatuhi terlepas dari apapun motifnya.

            Beralih pada tokoh Perancis, J.J.Rousseau menolak apa yang disebut sebagai kekuasaan absolute. Rousseau memiliki pandangan yang mirip dengan Locke dan Hobbes yang beranjak dari sebuah kontrak social.

            Namun berbeda dari kedua tokoh dari daratan Inggris tersebut, Locke dengan keadaan asali dan Hobbes dengan Homo homini lupus dan Negara sebagai Leviathan-nya, Rousseau berpendapat bahwa manusia yang tadinya bebas dari kungkungan aturan, untuk kemudian menyerahkan haknya untuk hidup secara teratur. Maka Rousseau berpendapat bahwa hokum adalah milik public, dan bukan hanya kekuasaan penguasa tunggal saja, karena dia adalah wujud dari kemauan dan kepentingan bersama.

            Rousseau yang pada dasarnya bersifat pesimis pada kemajuan manusia, ( seperti missal ekonomi dari keserakahan dan etika dari kesombongan antar kelas ) menaruh harapanya pada hokum untuk menuju hidup yang berdasar keadilan dan kesusilaan. Ada kebebasan individu sebagai warga Negara yang kemudian di batasi oleh keinginan umum.

            Hukum yang berasal dari kehendak umum tersebut berarti setiap orang, setiap individu harus tunduk pada kepentingan umum. Hal ini adalah cikal bakal dari paham demokratis. (hal tersebut kemudian banyak dikritik karena Rousseau terlalu terpaku pada suara mayoritas dan menenggelamkan minoritas).

            Masih di Perancis, Montesquieu Dalam L’Esprit das Lois (Roh Hukum) dia berpendapat bahwa system hokum merupakan hasil dari kompleksitas berbagai factor empiris kehidupan manusia. Menurut Montesquieu, ada dua factor pembentuk struktur social dan hokum, yaitu factor fisik yang meliputi kondisi alam masyarakat itu tinggal, dan factor moral yang meliputi agama, adat istiadat, kebiasaan, dan lain-lain.

            Karena pada tiap masyarakat mempunyai kondisi yang berbeda, maka relativisme juga berlaku di teori Montesquieu. Perbedaan kondisi alam dan budaya pada suatu masyarakat tentu menyebabkan perbedaan nilai yang dianut yang membedakan dari masyarakat lain.

 Sumbangan dari Montesquieu yang berharga antara lain adalah sumbanganya dalam bentuk pemerintahan. Montesquieu berpendapat bahwa bentuk pemerintahan Republik dengan pemisahan kekuasahan (power separation) adalah bentuk yang paling memungkinkan disbanding model lain. Dengan adanya pemisahan kekuasaan antara eksekutif, yudikatif, dan legislatif, maka akan menghindarkan dari penyalahgunaan wewenang karena diantara ketiganya terdapat asas check and balances yang membatasai ruang gerak dari masing- masing lembaga.

Power Separation sebenarnya telah ada dalam teori John Locke dan J.J. Rousseau, namun bentuk Trias Politica dari Montesquieu menyempurnakan teori dari keduanya. Dengan pembatasan dari Trias Politica tersebut, para warga Negara juga bisa turut serta dalam aktifitas politik.

 Pintu Gerbang Perbatasan

Sekali lagi manusia mengalami pergeseran, revolusi perancis, revolusi industri, turut menyumbang poin perubahan. Paham liberal yang dimulai oleh John Locke mendapat tantangan keras dari Marx dengan Komunisme dan revolusi protelarnya yang menjungkir balikkan ajaran para Hegelian.

Beberapa tokoh yang juga ikut meramaikan era ini adalah positifisme dari Augusto Comte, kehendak manusia dari Arthur Schopenhauer, lompatan eksistensialisme dari Krierkegaard, pendekatan fenomenologi dari Edmund Husserl .

“Tuhan sudah mati” – F. Nietzsche

            Dari banyaknya tokoh yang muncul, muncul tamparan keras dari jerman. Dia adalah Friedrich Nietszche yang melakukan kritisi atas modernitas, sekaligus membuka gerbang postmodernisme yang kini ramai diperbincangkan. Nietzsche muncul dengan gaya filsafat yang bisa dibilang nyentrik dengan menggunakan aforisme-aforisme pada karya-karyanya. Dengan penuh semangat dia menahbiskan dirinya sebagai nabi yang terlahir bukan untuk zamanya, namun untuk masa sesudahnya.

            Nietzsche berusaha meruntuhkan segala bentuk dogmatisme, termasuk didalamnya agama, Negara, ilmu pengetahuan, metafisika, dengan mengatakan melalui mulut Zarathrusta bahwa tuhan sudah mati, dan manusia kembali pada nihilisme. Mengadopsi teori kehendak buta dari Schopenhauer, Nietzsche mengatakan kalau kita ber-ada tidak lain adalah karena kehendak untuk berkuasa ( will to power). Dan manusia adalah sebuah rentangan dari hewaniah di satu sisi dan adimanusia (ubermensch) di ujung yang lain.

            Singkatnya, Nietzsche berniat menghancurkan era modernism yang terlalu kental pada pencarian kebenaran logos yang justru mengarah pada logosentrisme dan oposisi binair, Bahkan Nietzsche mengatakan kalau kebenaran adalah ilusi yang keilusianya tidak tampak.

            Serangan terhadap modernism ternyata terus berlanjut bahkan setelah kematian Nietzsche di tahun 1900. Munculnya psikoanalisa dari Freud, yang disusul eksistensialisme Sartre dan Simmone de Buvoir. Munculnya Perang Dunia I dan II membuar prihatin sejumlah cendikia termasuk Adorno, Gadamer, dll. Mereka kemudian sepakat berkumpul di Frankurt yang kemudian dikenal sebagai Madzhab Frankurt. Namun rupanya Madzhab Frankurt pun justru mengarah pada pesimisme pada masa depan pengetahuan.

            Tapi waktu terus bergulir, dan modernism lambat laun terus terkikis. Michael Fouccault, Muhammad Iqbal, Francis Lyotard, Betrand Russel, Julie Kristeva, hingga filsuf kondang Jacques Derrida dan Jurgen Habermas turut meramaikan kejatuhan era modernism.

            Catatan : Gerakan yang mencolok dari era modernism antara lain gerakan feminism, dan munculnya gerak balik melawan kapitalisme, gerak balik menuju budaya local, dll.

 Menuju Hukum yang Deliberatif

            Lalu bagaimana dengan hokum? Apakah juga mengalami pergeseran? Jawabanya adalah “iya”. Pada ranah hokum juga turut muncul paham yang seakan mengikuti tantangan yang terdapat pada tiap era. Muncul aliran-aliran Neo-Kantian, dari Kelsen sampai Radbruch, Neo-positivisme Max Webber, bahkan juga muncul Neo Marxis dan Feminist Legal Theory.

            Bila modernism kental berkutat dengan pencarian “Benar” dengan berusaha menggiring pada satu aliran besar logos, maka Post-modern justru berusaha memecah aliran besar tersebut dan mengajak untuk mengatakan “ya-pada-hidup” (ja sagen). Permasalahanya adalah, bagaimana mengakomodir kepentingan sedemikian banyak elemen?

            Permasalahan tersebut juga muncul pada ranah hokum. Menurut Jurgen Habermas yang dikutip oleh Fransisko Budi Hardiman di bukunya “Demokrasi Deliberatif”, Habermas berpendapat kalau hokum muncul bersamaan sekaligus terpisah dengan dunia moral dari Sittlickheit ( dunia tradisional ). Kenapa? Karena pada era sekarang, Sittlickheit dianggap tidak bisa memenuhi semua pertanyaan sehingga membutuhkan penjelasan rasional, maka disini Habermas dan Hardiman berpendapat kalau hokum beserta proses pembuatanya adalah jawaban rasional.


            Habermas juga mengambil Lebenswelth (dunia subyektif) dari fenomenolog Husserl, namun disini Habermas menggunakanya justru sebagai modal, yaitu suatu pandangan untuk mencapai consensus dalam proses diskursus.

            Teori Diskursus Habermas berangkat dari kritik atas rasio praktis imperative kategoris Imannuel Kant.Filsafat Kant terlalu kental nuansa logosentrisme-nya. Hal ini bisa dilihat dari maximnya yang tersohor tersebut. Menurut Habermas, seseorang tidaklah bisa bertindak atas dasar penilaian moralnya seorang diri, dan hal tersebut haruslah diperbincang dalam sebuah diskursus untuk mencapai tujuan bersama.

            Menurut Habermas dan Hardiman, hokum yang legitim adalah hokum yang diterima secara intersubyektif. Agar hokum dapat diterima secara intersubyektif maka dia harus mampu berfungsi secara dualism. Dualisme disini adalah hokum harus mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikatif, tapi juga sekaligus mampu bersifat strategis, mampu mengakomodir lebenswelth sekaligus system (system ekonomi, pemerintahan, dll) sebagai penjaga kebebasan sekaligus memaksa keharusan dalam kewajiban.

                                                                                            

            Sifat akomodir dua kepentingant tersebut baru bisa dipenuhi setelah sebelumnya melalui proses diskursus. Namun demikian bagaimana seseorang dapat memperoleh keanggotaanya sehingga diskursus dapat berlangsung adalah permasalahan yang lain, maka Habermas berpendapat bahwa untuk dapat melegitimasi hokum melalau diskursus maka tiap orang pastilah memiliki Hak-hak dasar, namun hak-hak dasar tersebut juga sebelumnya harus dilegitimasi juga, melalaui sebuah otonomi politis. Jadi disini Hak-hak dasar dan Otonomi Politis keduanya bersifat saling mengandaikan, komplementer.

            Tidak hanya berhenti sampai disitu, Habermas juga melengkapi Check and Balance dari Trias Politica Montesqiueu dengan mengatakan kalau pembagian ketiga kekuasaan berdasarkan eksekutif, legislative, dan yudikatif saja tidaklah cukup.

            Habermas berpendapat bahwa kekuasaan politis baru dapat terlaksana dalam bentuk hokum dan sebaliknya, hokum hanya dapat diberlakukan dan dijamin oleh kekuasaan politis. Dengan demikian dia telah bertindak lebih jauh lagi dengan mengembalikan rakyat pada sumber kekuasaan. Jadi diluar ketiga unsure check and balance. Jadi ada satu unsure lagi yang ditambahkan oleh Habermas, yaitu teorinya yang terkenal mengenai Ruang Publik.

            Pada ruang public, Rakyat ditempatkan pada sebuah proseduralisme. Bila pada Diskursus bertujuan untuk melakukan koreksi nilai untuk mendapat kesepakatan, maka proseduralisme bertujuan untuk melakukan koreksi kembali pada realisasi hasil diskursus. Jadi rakyat tidak ditempatkan pada suatu kekuasaan terpusat semacam MPR, hal ini juga merupakan solusi dari metode demokrasi Rousseau yang mengatakan bahwa seluruh rakyat harus hadir pada sebuah musyawarah.

            Pada era Rousseau permasalahan yang belumlah serumit yang ada sekarang, dimana jumlah penduduk dan kondisi geografis yang berbeda-beda membuat teori Rousseau tersebut terasa sangat tidak realistis. Melalui Ruang Publik, hal tersebut dapat terjembatani, karena keberadaan Ruang Publik itu sendiri tidak terbatas. Dia ada sepanjang terdapat aspirasi dan bertemunya masyarakat yang saling mengeluarkan pendapatnya.

            Sering kita jumpai belakangan ini kerap terjadi demonstrasi menentang peraturan yang diterapkan oleh lembaga legislative maupun pemerintah, hal itu menunjukkan keberadaanya sebagai fungsi proseduralis. Namun demikian bukan berarti keberadaan Ruang Publik ini tanpa kritik, kita juga mendapati bahwa pihak penguasa, yang memanfaatkan kekuasaanya dengan melakukan penggiringan opini. Maka sebaiknya untuk mengimbangi hal tersebut masyarakat sebagai ruang public, sebagai sumber dari kekuasaan, sebagai tempat berlangsungnya, muara dari peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga penguasa juga kritis terhadap apa yang terjadi, contoh yang menarik adalah keberadaan Wikileaks yang membuat gempar inteligen Amerika.

            Sebagai tempat berlangsungnya Proseduralis dan sekaligus Sumber Kekuasaan, rakyat pada akhirnya dapat melakukan revisi pada hokum yang telah dikeluarkan. Disinilah Proses diskursus kembali berputar sehingga menimbulkan hokum yang bersifat dinamis.

 Kesimpulan dan Saran

Kita telah mengamati bahwa hokum ternyata juga mengalami perubahan seiring dengan perkembangan yang terjadi disekitarnya. Pada perjalananya, dia senantiasa mengalami evolusi dan melengkapi kekurangan masa sebelumnya.

Pada hokum yang diperoleh dari hasil Diskursus, dia senantiasa berada pada ranah yang siap untuk dikoreksi. Perkembangan teknologi dan pendidikan juga mempengaruhi efektifitas dari teori ini. Kemunculan alat komunikasi yang semakin canggih terasa semakin mendekatkan kita dari bentangan kondisi geografis. Bila demikian maka Ruang  Publik akan semakin terbuka, arus informasi juga semakin meluas dan dapat dimiliki oleh setiap masyarakat.

Namun demikian, penggiringan wacana adalah suatu momok yang ditakuti yang mengganggu keadilan dari keberlangsungan proses diskursus dan proseduralisme. Bagaimanapun juga Ruang Publik yang benar-benar terbuka –lah yang menjanjikan terus berlangsungnya check and balances.

Ruang public juga mengingatkan kita bahwa hokum (formil) bukanlah jalan satu-satunya, meski kita harus akui potensinya sebagai pengatur yang mempunyai fungsi yang tegas. Prosuderalisme mengingatkan kita bahwa rakyatlah sumber sekaligus muara dalam tiap peraturan hokum, maka hokum yang dapat dikoreksi melalui proseduralisme juga tidak dapat berdiri sendiri seolah-olah sebagai satu elemen penentu, Hukum juga dalam sejarah perkembanganya tidak dapat berdiri sendiri, selalu terdapat kaitan interdependensi dengan bidang lainya karena toh hokum pada akhirnya tidaklah lebih dari pengejawantahan dari golden rule :

Berbuatlah sebagaimana ingin diperbuat

Berikut adalah kutipan dari buku Franz Magnis Suseno, Etika Abad Kedua puluh yang saya kira sangat relevan bila ditempatkan pada bagian akhir makalah ini. Franz Magnis Suseno mengajak kita untuk mewujudkan bersama-sama :

  • Sebuah budaya nir-kekerasan dan hormat terhadap kehidupan
  • Sebuah budaya solidaritas dan tatanan ekonomis yang adil
  • Sebuah budaya toleransi serta kehidupan dalam kejujuran
  • Sebuah budaya untuk kesamaan hak dan kerjasama antara laki-laki dan perempuan

 Daftar Pustaka

Hardiman, Fransisko Budi. Demokrasi Deliberatif. Kanisius, 2009

Hardiman, Fransisko Budi . Filsafat Modern, Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Gramedia, 2004

St. Sunardi. Nietszche. LKiS, 2009

Tanya, Bernard L, dkk. Teori Hukum. Genta Publishing, 2010

O’Donnel, Kevin. Postmodernisme. Kanisius, 2009

Suseno, Franz Magnis. Etika Abad Kedua puluh. Kanisius 2006

2 Responses to “Deliberasi Hukum”


  1. 1 Yanuar April 27, 2011 pukul 12:22 pm

    Mba aku masih bingung. Jadi arti dari Deliberasi itu sendiri apa? Trus kalau dikaitkan dengan Deliberasi Hukum pada masyarakat modern sekarang gimana yah?
    Trims

  2. 2 rianadhivira April 27, 2011 pukul 2:26 pm

    deliberasi berarti menimbang-nimbang. jadi deliberasi hukum adalah hukum yang senantiasa menimbang-nimbang, siap untuk dikoreksi secara proseduralis dari ruang publik.

    contohnya mungkin saat publik menolak pemberian sanksi pada briptu norman, disitu terjadi koreksi proseduralis dari ruang publik (masyarakat).

    Spiral mode pada penegakan HAM di kalangan internasional juga merupakan bentuk proseduralisme nilai-nilai HAM.
    contoh teoritis lainya akan saya susulkan di tulisan selanjutnya.

    nb: saya laki-laki, manggilnya mas dong😛


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

April 2011
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: