Arsip untuk Mei, 2011

50 besar, Terimakasih ya VHR-Media :*

Lama ga ada juntrunganya, iseng-iseng maen ke VHR-Media buat ngecek hasil lomba. Awalnya ga ngarep apa-apa, malah sempet bingung sebelah mana halaman pengumumanya.

tapi akhirnya ketemu juga, langsung cek list 100 tulisan terbaik. Page 1, 2, …5¬†bawah sendiri, wow ada si JuPe tulisan saya nongol disitu. Memang sih, nggak masuk reward 20 besar, tapi lumayan laah, ternyata tulisan abal-abal saya diapresiasi sama para juri termasuk mbak Happy Salma *lirikmesra ūüėõ

Iklan

The Hangover’s Soundtrack : Stu’s song

What do tigers dreams of?
When they take a little tiger snooze
Do they dream of mauling zebras
Or Hallie Barry in her catwoman suit

Don’t you worry your pretty striped head
Were gonna get you back to Tyson and your cozy tiger bed
And then were gonna find our best friend Doug
And then were gonna give him a best friend hug
Doug Doug Oh Doug Doug Dougie Doug Doug

but if hes been murdered by crystal meth tweekers…then were shit out of luck.

hahahaha enjoy it pals ! 

Sekilas Kritik Positivisme Ilmu Pengetahuan

Positivisme yang dipelopori oleh August Comte, upaya untuk merobohkan metafisika abad pertengahan melalui pencapaian pengetahuan demi pengetahuan, atau lebih gampangnya membersihkan pengetahuan dari subyektifitas manusia. Pada zaman pencerahan, manusia digiring untuk keluar dari dogmatis-mistisisme abad pertengahan, melalui jalan mem-positif-kan ilmu pengetahuan agar sahih, dan pasti.

Semangat Positivisme tidak hanya berkutat di ilmu pengetahuan alam semata, namun juga pada ilmu tentang masyarakat, atau ilmu sosial. Jadi bisa dikatakan bahwa melalui perkembangan teknologi dan positivisme pengetahuan, manusia bertekad agar masyarakat dapat dikontrol sebagaimana dalil-dalil ilmu alam.

Disinilah titik baliknya, ilmu pengetahuan yang positivistik sesuai dengan ilmu alam tadi, yang bersifar netral dan universal, ternyata bila ditempatkan pada ilmu pengetahuan sosial menjadi sangat berbeda. Karena dengan sifat netral dan universal tadi justru membuat pengetahuan tentang masyarakat menjadi mandeg dan tidak kritis.

Rasio, atau kesadaran yang diharapkan di abad pencerahan sebagai jalan dari kemandegan dogmatisme-mistis abad pertengahan justru menciptakan mistisisme baru dari dirinya. Sehingga melalui pengetahuan yang bersifat “pasti” itu tadi, justru kita kembali terjebak pada ritual dogmatis dari mistisisme. Atau dapat dikatakan secara singkat, mitos baru menggantikan mitos lama.

Pemikiran Positivisme di bidang sosial sangat berpengaruh pada eranya (hingga kini?).Marx pun menyesuaikan teorinya agar dapat diterima secara positivistis sebagai pengetahuan, yaitu melalui pernyataan bahwa kegiatan sejarah manusia adalah mengenai perkembangan alat produksi melalui kerja, dimana manusia dipandang dan direduksi hanya sebagai manusia yang melakukan produksi dalam masyarakatnya, atau sngkatnya rasionalitas  penguasaan alam.

Dunia hukum abad 19 juga  turut mengadopsinya melalui John Austin dimana hukum dianggap legitim dan diterapkan semata karena dia telah disahkan oleh lembaga yuridis yang berwenang. Jadi disini hukum direduksi sebagai semata sekumpulan peraturan yang dilegalkan oleh institusi yang berwenang, titik. Hal tersebut juga tampak pada teori Hans Kelsen mengenai Grundnorm yang berupa sekumpulan peraturan atau tata-nilai tertinggi (contohnyam dinegara kita adalah Pancasila), hal ini terasa janggal karena hal tersebut berarti grundnorm seolah tidak bisa dipertanyakan kembali, taken for granted.

Kini, positivisme banyak diserang oleh para kritikusnya. Nietzsche dalam berfilsafatnya menggunakan aforisme karena dia merasa bahwa manusia positifisme telah terjebak pada dekadensi (kemandekan) sistem, sebagaimana yang sudah diuraikan diatas, mitos yang menggantikan mitos lama. Nietzsche menolak segala bentuk kekuasaan tunggal melalui kalimatnya yang terkenal : “Got is Tot” ¬†dengan mengesampingkan hegemoni dari pengetahuan, agama, maupun negara, yang mengangkangi atau mereduksi “manusia”.

Satjipto Rahardjo, juga kembali menggaungkan hukum progresif, yaitu dengan mengembalikan hukum sebagai alat kebahagiaan manusia, hukum ada untuk manusia, bukan sebaliknya.

Jurgen Habermas, menambahkan rasio komunikasi untuk melengkapi rasio-atas-tujuan (kerja) dari Marx. sehingga melalui komunikasi, selalu tersedia ruang untuk mengkoreksi kembali (proseduralis), melalui diskursus dan ruang publik.

Dan masih banyak lagi, yang intinya adalah manusia bukanlah obyek yang semata-mata sama dengan ilmu alam. Pemakaian logika yang tertutup, akan membawa kita pada jurang dekadensi. Sebagai contoh sederhana, pendefinisian mengenai “perempuan” akan membawa perempuan sebagai kaum yang dikenai represifitas terus menerus (seperti yang kita lihat pada permasalahan bias gender). Manusia seharusnya dibebaskan dari segala hal yang mereduksinya, termasuk positivisme pengetahuan.


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors