Arsip untuk Juni, 2011

Kerja Abad 21

 Abstrak

“Setiap orang perlu bekerja untuk makan” begitulah kiranya kurang lebih kredo abad 21 ini. Semua dituntut untuk menjadi semakin cepat, semakin besar, semakin kecil, semakin praktis, dan semakin efisien tentunya.

Berada didunia kerja tentu adalah sebuah persaingan yang ketat. Bahkan pada kenyataanya selaku pelamar kerja, kita harus menyesuaikan diri dengan tuntutan yang diinginkan oleh pemilik tempat kerja.Setelah kita bekerja dalam sekian rentang waktu tertentu, kebanyakan dari kita akan kehilangan idealisme dan semangat yang ketika muda begitu kita junjung.

Sejujurnya saya juga tidak tau, dalam rentang berapa lama rasa idelis saya memudar digantikan dengan tuntutan-tuntutan ekonomistik. Bisa jadi 15 tahun? 5 tahun? 6 bulan? Atau bahkan seminggu? I just simply dont know..

Seperti yang akan saya paparkan pada bagian ke-2 tulisan ini, rasanya sulit sekali bagi kita untuk menghindar dari tuntutan ekonomi (kecuali bila kita benar-benar beruntung, atau mempunyai kemampuan yang memadai untuk mendapatkan tempat tertentu yang tidak semua orang bisa mendapatkanya) jadi pilihan kita adalah apakah kita menyerahkan diri saja dalam arus kapitalisme beserta modernitas tersebut seperti yang dikatakan Weber, atau terus mengkritisinya seperti Marx dulu.

 Kerja dan Konstruksi Sosial

Seperti kebiasaan masyarakat belakangan ini, kita semua terkonstruksi untuk melakukan suatu kegiatan-bertujuan; yaitu kerja ( Rasio Instrumental – Habermas)  . Ada banyak cara untuk mencapainya, beberapa orang yang lebih beruntung, akan terlebih dahulu menempuh pendidikan sebelum melakukan “kerja”, dan yang kurang beruntung mungkin telah melakukan “kerja” selama sepanjang hidupnya.

Kata “Kerja” disini mengandung banyak kontradiksi, mengambil pendekatan Marxisme dan pesimisme ala Mazhab Frankurt, bahwa di era ini (Kapitalisme lanjut) kerja bukanlah sebuah hasil karya seseorang atas alam atau idenya, tapi kerja merupakan suatu bentuk alienisasi untuk bertahan hidup, dimana seseorang melakukan hasil karya sesuai dengan perintah keinginan pemilik modal, pekerja menjadi terasing dari karya-nya sendiri, bahkan karena himpitan ekonomi dan manipulasi penindasan oleh pemilik modal, pekerja menjadi terasing kepada sesamanya, sesama pekerja, untuk saling bersaing, serta di tingkat ekstrim, pekerja bahkan terasing dari dirinya sendiri. Para  pelaku kerja (pekerja, buruh), ternyata juga berlaku sebagai konsumen, membeli barang dari hasil kerja pekerja dari pemilik modal yang lain.

Post-modernitas, melalui warisan dari modernisme (dan kapitalisme tentunya), rupanya telah memodifikasi bentuk penindasan ini menjadi sedemikian halus, sedemikian manipulatif, sehingga seolah subordinasi kelas menjadi hal yang wajar, lumrah. Herbert Mercuse dalam One Dimentional Man yang dikutip oleh Kritik Ideologi dari F. Budi Hardiman, mengatakan “Manusia modern adalah rasional secara bagian-bagian namun irasional secara keseluruhan”, kita berbondong-bondong secara sukarela telah menyerahkan diri kedalam lingkaran subordinasi pemodal dan terjun bebas ke alienisasi diri.

Bagaimana subordinasi yang tampak demikian seram diatas diselundupkan?  Ada banyak jalan, misalnya sedari kecil, masyarakat kita telah terbiasa dengan kotak ajaib: televisi. Disana terjadi peperangan antar pemilik modal untuk memperebutkan setiap slot iklan atau apapun untuk membujuk penonton-nya untuk melakukan “konsumsi”.  Hyperrealitas mana yang maya dan mana yang nyata tampak begitu kabur, karena hampir semua adalah permainan kepentingan untuk meredifinisi kata “Benar” dan “Baik” secara semena-mena.

Stratifikasi sosial agaknya juga telah banyak berubah, Pengelompokan kelas masyarakat tidak lagi hanya terdistribusi berdasarkan jenis kerja, namun mengarah pada hal-hal yang lebih kreatif : aktualisasi diri melalui konsumsi. Contoh yang cukup membuat heboh adalah Gadis kecil di cina yang menjual ginjalnya demi membeli perangkat elektronik terkini, demi gengsi.

Karena tuntutan-tuntutan tersebut kita menjadi lupa untuk  mempertanyakan arti kebenaran dan hanya mengandaikanya begitu saja. Festisisme berupa penyembahan berhala dari komoditi pemodal terus kita terima sebagai satu-satunya kebenaran utama (single ultimate truth). Di ranah pendidikan, basis ekonomi mempengaruhi suprastruktur pendidikan. Semenjak kecil, kerja telah menjadi tujuan praktis.

Kerja dan Reduksionisme :

Kerja di era kapitalisme mereduksi berbagai pemikiran-pemikiran kritis sejarah manusia, sebut saja Materialisme dan Hedonisme dari Marx dan Epicurus berubah menjadi Materialisme dan Hedonisme praktis, menjadi hanya pemenuhan kebutuhan praktis singkat semata, Idealisme menjadi idealisme buta yang tidak menerima kebenaran-kebenaran lain diluar kebenaran dirinya.

“dan tidak ada ikatan hubungan tersisa antara pelindung dan manusia selain dari ikatan antar kepentingan, selain dari ikatan antar pembayaran dengan uang”– Karl Marx, The Communist Manifesto

Kerja (sekali lagi) tidak menjadi karya manusia atas alam, tapi lebih kepada upaya produksi yang saling berlomba satu dan yang lain, para buruh pun turut ditekan untuk bersaing demi upah, sebagian yang beruntung mampu melakukan konsumsi untuk memperoleh kelas sosial, yang kurang beruntung, upah menjadi hanya instrumen untuk bertahan esok hari, ditambah model kerja outsourcing yang lebih menguntungan kaum pemodal. Kerja dituntut untuk menjadi semakin praktis, semakin efisien demi keuntungan tertinggi.

Karena itu, teknologi merupakan permainan yang tidak berhubungan dengan benar, adil, indah dll, tapi dengan efisiensi” – F. Lyotard, The Postmodern Condition.

Kerja, menjadi alasan manusia untuk melakukan eksploitasi atas alam. Pembukaan lahan atas nama perolehan komoditas untuk mengembangkan kapital. Karena bila kapital tidak bergulir dan berkembang, berarti bencana untuk semua orang. Depresi, Inflasi, resesi, atau apalah namanya akan menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaanya, kehilangan sumber upah.

Alam dan Kerja Manusia menjadi oposisi binair dimana alam-sama halnya dengan hubungan pekerja dan pemodal- berada dibawah subordinasi penuh pengendalian pasar. Mungkin benar kata Rousseau dari Filsafat Modern F. Budi Hardiman, yang mengatakan kalau kemajuan manusia adalah niscaya, karena bersumber dari sifat-sifat manusia yang destruktif.

  Profil “Kerja” di Indonesia tahun-tahun kedepan.

Profil “keerja” di Indonesia sebenarnya bisa diliat dari dua sisi; sisi optimistik dan sisi pesimistik.

Dari segi pesimistik, kita akan diajak untuk berputar lagi dari kegagalan Marx –meski dengan semangat yang menggebu- untuk mewujudkan kesadaran kelas dan keeruntuhan kapitalisme dengan sendirinya yang digambarkanya dengan “seperti matahari yang terbit di barat” dengan kendaraan berupa revolusi proletar atas alat produksi. Rupanya toh Marx terlalu jatuh pada positivisme warisan Comte. Kapitalisme kerja ditambah dengan buruknya birokrasi dan lemahnya pemikiran kritis membuat Indonesia menjadi ladang empuk para investor baik lokal maupun asing.

Maka jangan heran, bila kita seperti ayam kelaparan di lumbung jerami, kita menjadi pengemis di negeri sendiri yang katanya adalah negeri dengan kekayaan SDA yang melimpah. Kredo “Kerja untuk makan” adalah mitos baru yang menggantikan mitos-mitos lama yang telah ada sebelumnya (metafisika, rasio, positivisme,dll) dimana proses legitimasinya didasarkan dari hubungan manipulatif subordinasi yang samar, mapan, dan berbelit.

Sistem hukum yang carut-marut (sering tidak selaras dengan asas Obligation edga omnes – jaminan negara untuk menegakkan hak asasi manusia melalui penerapan dan penegakan hukum yang berlaku), politik yang tidak stabil, dan heterogintas masyarakat yang tidak dibarengi semangat kebersamaan dan persatuan membuat kita kembali ke keadaan homo homini lupus, hanya saja dengan cara yang lebih berbeda, lebih halus.

Dari sisi opimistik, tentu kita bisa banyak berharap pada generasi muda. Melalui berlimpahnya media informasi, seharusnya disertai penggunaan akses secara positif, bisa menciptakan generasi kritis untuk kemudian menggerakkan kesadaran kolektif melalui proses diskursus. Sekiranya realisasi APBN 20% untuk pendidikan juga dapat turut membantu mewujudkan kesadaran kolektif tersebut.

Sekarang mari kembali pada satu pertanyaan terakhir.. “untuk apa kita bekerja?” dari pemaparan panjang lebar diatas, jawaban untuk pertanyaan tersebut bisa dikembalikan pada setiap individu namun kiranya kita sepakat dalam hal menolak kerja dalam artian sebagai penindasan.

 Daftar Pustaka :

  • Hardiman, F. Budi. Kritik Ideologi. Kanisius. 2009. Jogjakarta.
  • Hardiman, F.Budi. Filsafat Modern. Gramedia Pustaka Utama. 2007. Jakarta.
  • Hardiman, Fransisko Budi. Demokrasi Deliberatif. Kanisius, 2009.
  • Marx, Karl. Membongkar akar krisis global (kumpulan tulisan). Resist book. 2009. Jogjakarta.
  • Sugiharto, I Bambang. Postmodernisme. Kanisius. 1996. Jogjakarta.

                                                  

Marx, Marxisme vs Kapitalisme & Konsumerisme

Bila sampeyan berbicara mengenai Marx, apa yang akan terlintas di benak anda untuk pertama kali? Soal Atheisme? Kapitalisme? Revolusi Buruh? Atau bahkan mungkin peristiwa G30S PKI? Apapun itu saya menyarankan untuk tidak terburu-buru dalam men-judge Karl Marx. Karena secara personal, sejujurnya apa yang dicita-citakanya adalah sebuah kemerdekaan, kebebasan, kebahagiaan, untuk terlepas dari belenggu –dalam hal ini masyarakat berkelas-yang membutakan manusia. Meskipun ramalanya mengenai kejatuhan Kapitalisme tidak kunjung tiba, dan bahkan semakin sedikit negara yang menggunakan pahamnya, pemikiran mendalam dan kritis dari seorang Marx tetaplah layak untuk dikaji. Setidaknya Marx memberi kita sebuah warisan, yaitu harapan untuk menuju masyarakat yang bebas. Namun bebas dari Marx berbeda dengan bebas menurut para liberalis, Marx justru berpendapat bahwa keberadaan hak milik –atas alat produksi yang dikuasai golongan tertentu-lah penyebab dari munculnya masyarakat berkelas, ayo kita cicipi sekilas pemikiran Karl Marx ini:

 “Para filsuf tidak lebih dari sekadar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubahnya” – Marx

Karl Marx lahir di Trier 1818, Marx lahir dikala sedang hebohnya revolusi industri yang kelak akan dia kritisi dampaknya. Dikala muda Marx menaruh minat pada jurusan hukum sebelum kemudian mengurungkan niatnya dan beralih ke fakultas filsafat di universitas Berlin, dia menaruh minat mendalam pada pemikiran GWF Hegel, yang kemudian memberikan pengaruh besar pada filsafatnya nanti. Pada usia 23 tahun Marx memperoleh gelar Doktor dari Universitas Jena (wow!). Karena pemikiranya, dia hidup berpindah-pindah, dari Paris, Brussel, hingga akhirnya menetap di Inggris bersama sahabatnya, Engels.

Marx dan Hegel

George Willem Fredrich Hegel adalah filosof yang terkenal dengan metode dialektikanya. Pada masa Pencerahan, instrumen utama yang digunakan dalam menalar dunia adalah Rasio (conciusness, kesadaran) nah, bagi Hegel, kesadaran adalah suatu proses yang dicapai terus menerus dari satu tegangan (tesis) yang berbenturan dengan tegangan lain (antitesis) sehingga pada akhirnya melahirkan kesadaran absolut (sintesis), hal ini dilkenal sebagai “Fenomenologi roh” yang berbentuk roh absolut dimana kesadaran untuk memperolehnya didapat dari sejarah manusia (proses dialektik) . Jadi rasio yang berlaku disini adalah rasio yang menyadari asal-usul pembentukanya.

  

Marx pada dasarnya setuju pada pemikiran Hegel, namun dengan pandanganya yang materialistik, dia menjungkir balikkan pemikiran Hegel bahwa kesadaran itu tidak terbentuk melalui manusia menuju Yang Absolut, melainkan secara materialistis dalam artian; bahwa kesadaran itu pada dasarnya terbentuk dari sistem kerja produksi manusia dalam mengolah alam, proses dialektik tersebut disebut sebagai materialisme dialektik dan sejarah alat produksinya sebagai materialisme historis. Jadi secara singkatnya, Marx memodifikasi dialektika Hegel dalam bentuk sejarah produksi manusia dan berpendapat bahwa sejarah manusia adalah sejarah perkembangan alat produksi (ekonomi), disini dimaksudkan bahwa pemikiran manusia terstruktur dengan ekonomi sebagai dasarnya dimana pada akhirnya akan menentukan pola superstrukturnya (hukum, iptek, seni, dll).

Perjalanan Materialisme Historis

Materialisme Historis yang didasarkan dari dialektik mengandaikan tercapainya zaman melalui era-era berikut: komunis primitif, kuno, feodal, kapitals, dan berujung pada komunis. Masyarakat pada setiap era memiliki ciri-cirinya tersendiri dengan hubungan produksi dan kelas sosial yang berbeda. Dari setiap hubungan kelas dan produksi tersebut, Marx menilai bahwa akan ada pihak yang mengambil keuntungan dan yang dirugikan, dalam bentuk eksploitasi dimana satu kelas menindas kelas yang lain (kecuali era komunis primitif dan komunis).

Pada era komunis primitif tidak ada eksploitasi, hal ini karena masih sangat sederhananya kebutuhan dan terbatasnya pengetahuan manusia, kemudian berkembang menjadi Masa Produksi Kuno, dimana dimasa ini lah pemisahan kelas lahir, penyebabnya sudah dapat kita duga, yaitu pemilikan produksi dengan menggunakan budak dari kelas lain.

Pada masa Feodalisme, yang berkuasa adalah para pemilik tuan tanah dengan kekuataan paksaan berupa senjata. maysaralkat diluar kelompo2k mereka untuk bekerja sebagai petani yang menggarap tanah yang disewakan oleh para pemilik tanah. Setelah revolusi pertanian,  yang memungkinkan perolehan hasil pertanian secara efektif, para pemilik tanah kemudian membuat akta pembatasan dimana para pekerja kemudian tidak diperbolehkan untuk menggunakan lahan kosong milik tuan tanah feodal sehingga kehilangan tanah tempat memperoleh SDA dan pencaharian mereka, kenapa? Karena tanah tersebut dialih fungsikan sebagai tempat beternak domba yang dianggap lebih menguntungkan pemilik tanah. Kejadian tersebut kemudian dikenang sebagai Domba mengunyah manusia dengan mulut mereka sendiri karena begitu berlimpahnya lahan kosong untuk diolah, dan disaat bersamaan banyak orang tidak memiliki pekerjaan dan alat produksi untuk memenuhi kebutuhan dan ditempat lain domba-domba tersebut terkonsentrasi di tangan sedikit orang (feodal).

Bila pada masa feodal kekuasaan produksi ada pada pemilik tanah, melalui pengolahanya maka pada masa Kapitalisme para pemilik modal menginvestasikan uangnya pada peralatan industri, pabrik-pabrik,karena tidak tersedianya lapangan kerja, maka masyarakat pun menjual tenaganya pada masyarakat kapitalis,  menjadi buruh yang kemudian dibayar dengan upah yang sangat rendah dan waktu kerja yang tidak manusiawi. Dasar pengupahan dari masa kapitalis adalah “nilai lebih” yang tertanam pada barang.

Nilai Lebih

Pertanyaan yang kiranya mendasar pada masa kapitalisme adalah “darimana Kapitalis memperoleh keuntungan?” Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya bila lebih dahulu membahas tentang bagaimana berjalanya sistem pertukaran dengan uang.

Pada era kapitalisme, para kapitalis dengan pabrik-pabrik dan alat produksi mereka membanjiri pasar dengan komoditas-komoditas , barang-barang yang dijual dan ditawarkan kepada konsumen. Hal yang menarik adalah, bagaimana mungkin benda-benda hasil produksi yang berbeda tersebut dapat dipertukarkan satu sama lain,semisal, bagaimana bisa sebuah emas dianggap setara dengan taruhlah misalnya, 5 kg beras? Atau sepasang sepatu dengan 2 ekor kambing? Bagaimana hal tersebut dapat dikatakan sebagai pertukaran yang fair? Karena sebuah kambing tetaplah sebuah kambing dan sepatu tetaplah sepatu.

Ternyata Jawabanya adalah pada “Festisisme komoditas” semacam kepercayaan, pada nilai yang menubuh dalam bentuk “harga”.  Hal tersebut merubah nilai guna sederhana (beras untuk makan, sepatu untuk berjalan) menjadi nilai ajaib. Intinya adalah bahwa segala sesuatu tersebut, baru dapat dikatakan berguna, bila dia mempunyai kekuatan untuk dijual. Diproduksi untuk dijual.

Lalu dari mana kapitalis mendapatkan keuntungan? Jawabnya ada di 3 huruf sederhana ini: M-C-M’. Uang dalam artian modal (M-Money) , merubah, mengelola, komoditi (Comodity), untuk dijual, sehingga menghasilkan uang baru atau keuntungan(Money’). Darimana? Dari waktu kerja yang tidak dibayarkan.

Bayangkan misalnya untuk membuat 1 buah handphone, seorang pekerja membutuhkan waktu 1 jam, maka pemilik modal akan memaksa pekerja sebisa mungkin menyelesaikan Handphone tersebut kurang dari waktu yang ditentukan, semisal 45 menit, maka handphone yang dihasilkan adalah 1,25 handphone. Nah, 0,25 ini adalah waktu keuntungan dari pemilik modal atau kapitalis yang kelak akan diberi label berupa “harga”. M’ (harga) = harga bahan baku + upah tenaga kerja.

M-C-M ini adalah pola produksi kapitalis, yang berbeda dari pola sebelumnya C-M-C dimana seseorang mengolah komoditas hanya untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan hidupnya saja, Pola M-C-M membuat para Kapitalis pemilik modal untuk terus memperoleh Laba, terus menerus, dengan membuat sistem kerja yang se-efisien mungkin.

Penindasan Manipulatif

Ingat, Marx berpendapat bahwa struktur basis-ekonomi- mempengaruhi bangunan suprastruktur diatasnya. Peranan Suprastruktur (agama, hukum, seni, institusi,dll) rupanya turut melanggengkan subordinasi dan eksploitasi yang dilakukan oleh para pemilik modal. Subordinasi seperti yang dipaparkan bisa saja dilakukan dibawah senjata seperti era feodal, tapi sebenarnya cara yang paling efektif dalam hubungan subordinasi tersebut sebenarnya adalah melalui ideologi, keyakinan, dengan menanamkan bahwa sistem kelas yang demikan itu adalah adil, sehingga pihak yang didominasi tidak menyadari kondisi tersebut.

Sistem pendidikan, media massa, berperan –dalam bentuk ideologi- untuk mengaburkan, menyembunyikan realitas sebenarnya. Institusi-institusi yang seperti itu , menurut Marx berperan dalam memberikan semacam ”petunjuk hidup palsu”.

“Agama adalah candu masyarakat!” – Marx

Marx’s Prophecy : Kejatuhan Kapitalisme & Bangkitnya Buruh

“Buruh diseluruh dunia, bersatulah, kita tidak akan kehilangan apapun kecuali rantai yang membelenggu”

Dari sifat-sifat kapitalisme yang demikian, marx meramalkan bahwa Kapitalisme akan jatuh dengan sendirinya, bagaimana? Melalui persaingan antar-pemilik-modal, sehingga mereka bersaing se-efisien mungkin untuk menjual produknya dengan harga termurah, hal ini berarti semakin berkurangnya “nilai lebih” untuk mendapatkan keuntungan, hal ini berarti mereka harus menambahjam kerja demi menaikkan produksi dan nilai lebih tersebut. Dampak dari eksploitasi yang kian menjadi dari kompetisi para pemilik modal tersebut adalah alienisasi pekerjaan (manusia menjadi terasing karena produksi karya-nya ditentukan oleh pemilik modal) dan de-humanisasi (jam kerja yang tidak manusiawi).

Karena kondisi yang sedemikian tidak menguntungkan, kaum proletar pada akhirnya akan menyadari  keadaanya, kesadaran kelas muncul, dan mendorong mereka untuk melakukan sebuah revolusi guna merebut keberadaan alat-alat produksi. Hal ini berarti kaum pekerja-lah yang memimpin pemerintahan dan menguasai alat produksi tersebut dan setiap orang bebas dari subordinasi, setiap orang bisa melakukan pekerjaan yang dikehendaki, terbebas dari alienisasi pekerjaan.

….berburu di pagi hari,memelihara ternak dimalam hari, berdebat setelah makan malam, itulah yang ada di pikiranku tanpa pernah aku menjadi pemburu, nelayan, atau tukang debat” – Marx

Kritik atas Marx

Pemikiran Marx kelak akan terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu Marxisme Ortodoks dan Neo-Marxisme. Marxisme Ortodoks adalah penerapan Paham Marx secara kaku dan deterministik, antara lain adalah Lenin dan Stalin yang justru mempraktekkan kekuasaan represif dan jauh dari kebebasan yang dicita-citakan Marx.

Neo-Marxisme atau revisionis, berbeda dari Marxisme Ortodoks, mereka menyadari bahwa tuntutan dan ramalan Marx telah meleset dan tidak sesuai lagi dengan keadaan zaman, tokohnya antara lain Bertell Ollman dan Edward Vernoff. Yang patut juga dicermati adalah munculnya Madzhab Frankurt generasi pertama dengan para tokohnya antara lain : Horkheimer, Adorno, dan Mercuse. Madzhab Frankurt kemudian melanjutkan Marx dalam mengkritik Kapitalisme dalam bentuk Teori Kritis. Mereka sudah tidak lagi menaruh harapan pada kaum buruh, melainkan dari kaum intelektual, mahasiswa untuk melakukan perubahan, namun sayang, Madzhab Frankurt justru jatuh ke sikap pesimistis dalam menghadapi Kapitalisme. Sekali lagi Kapitalisme menang.

Pewaris Madzhab Frankurt, Jurgen Habermas mengatakan bahwa setidaknya ada beberapa alasan ketidak-relevanan Marxisme untuk masyarakat hari ini, antara lain :

  • Pemisahan negara dan masyarakat pada kapitalisme liberal sudah tidak lagi relevan, mengenai ekonomi sebagai basis dan politik sebagai suprastruktur diatasnya. (menurut Habermas keduanya saling mempengaruhi)
  • Perkembangan standar hidup yang sangat pesat.
  • Kelas sosial yang semakin terintegrasi dalam masyarakat dan manipulasi kelas yang semakin canggih
  • Kaum proletar yang sudah tidak lagi dapat dijadikan tumpuan harapan (Habermas menumpukan harapanya pada “rasio”)
  • Jalan yang ditempuh Uni Sovyet yang justru jauh dari cita-cita kebebasan Marx

Secara garis besar sesungguhnya Habermas ingin mengatakan bahwa Marx terlalu jatuh pada semangat positivisme yang dirintis oleh Comte, mengenai sah-atau-tidaknya suatu pengetahuan, dan terlalu terpaku pada “rasio kerja/instrumental” yang disandarkan pada pandangan ekonominya. Demikian Habermas menambahkan “Rasio Komunikasi” yang kemudian akan terwujud pada teorinya mengenai Diskursus dan Ruang Publik.

Kapitalisme Hari ini:

Pada masyarakat Kapitalisme Lanjut belakangan ini, masih dengan festisme tubuh yang berlebihan, melalui anjuran untuk melakukan konsumsi, dengan provokasi dari media massa –iklan, sinetron, dll- yang bahkan menawarkan kepada kita hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Hypperrealitas, kalau Braudillard bilang, dimana yang mana yang kenyataan dan mana yang bukan menjadi begitu kabur. Menurut Mercuse : Perbudakan manusia modern yang dilakukan dalam semangat sukarela, melalui manipulasi sistem kebutuhan “saya adalah apa yang saya beli”  mungkin begitulah cara berfikir masyarakat kita sekarang, bahkan orang yang ridak dapat melakukan konsumsi pun menjadi korban, dengan peminggiran, labelling karena “baik” dalam artian ini adalah “beli”, tidak mampu beli, maka silahkan out.

Penutup

Marx dengan penuh semangat –setidaknya- telah menunjukkan upaya untuk membongkar selubung penindasan demi kemerdekaan manusia, sudahkah kita melakukanya? Beranikah kita melawan arus besar konsumerisme? Beranikah kita untuk mengatakan tidak dari zaman yang meninabobokan ini? Barangkali jawabanya kembali pada rasio setiap individu. Selamat menjalani penindasan terselubung sebagai keseharian 😛 eh, emang kita ditindas?

Daftar Pustaka :

  • Jones, Pip. Pengantar Teori-Teori Sosial.Yayasan Obor Indonesia.2009.Jakarta.
  • Smith, David & Phill Evans. Das Kapital Untuk Pemula.Insist Press.Jogjakarta.
  • Budiarjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik.Gramedia Pustaka Utama.2008.Jakarta.
  • Hardiman, F. Budi. Kritik Ideologi.Kanisius.2009.Jogjakarta.
  • Hardiman, F.Budi. Filsafat Modern.Gramedia Pustaka Utama.2007.Jakarta.
  • Tanya, Bernard L. Teori Hukum.Genta Publishing. 2010.Jogjakarta

Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Juni 2011
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors