Marx, Marxisme vs Kapitalisme & Konsumerisme

Bila sampeyan berbicara mengenai Marx, apa yang akan terlintas di benak anda untuk pertama kali? Soal Atheisme? Kapitalisme? Revolusi Buruh? Atau bahkan mungkin peristiwa G30S PKI? Apapun itu saya menyarankan untuk tidak terburu-buru dalam men-judge Karl Marx. Karena secara personal, sejujurnya apa yang dicita-citakanya adalah sebuah kemerdekaan, kebebasan, kebahagiaan, untuk terlepas dari belenggu –dalam hal ini masyarakat berkelas-yang membutakan manusia. Meskipun ramalanya mengenai kejatuhan Kapitalisme tidak kunjung tiba, dan bahkan semakin sedikit negara yang menggunakan pahamnya, pemikiran mendalam dan kritis dari seorang Marx tetaplah layak untuk dikaji. Setidaknya Marx memberi kita sebuah warisan, yaitu harapan untuk menuju masyarakat yang bebas. Namun bebas dari Marx berbeda dengan bebas menurut para liberalis, Marx justru berpendapat bahwa keberadaan hak milik –atas alat produksi yang dikuasai golongan tertentu-lah penyebab dari munculnya masyarakat berkelas, ayo kita cicipi sekilas pemikiran Karl Marx ini:

 “Para filsuf tidak lebih dari sekadar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubahnya” – Marx

Karl Marx lahir di Trier 1818, Marx lahir dikala sedang hebohnya revolusi industri yang kelak akan dia kritisi dampaknya. Dikala muda Marx menaruh minat pada jurusan hukum sebelum kemudian mengurungkan niatnya dan beralih ke fakultas filsafat di universitas Berlin, dia menaruh minat mendalam pada pemikiran GWF Hegel, yang kemudian memberikan pengaruh besar pada filsafatnya nanti. Pada usia 23 tahun Marx memperoleh gelar Doktor dari Universitas Jena (wow!). Karena pemikiranya, dia hidup berpindah-pindah, dari Paris, Brussel, hingga akhirnya menetap di Inggris bersama sahabatnya, Engels.

Marx dan Hegel

George Willem Fredrich Hegel adalah filosof yang terkenal dengan metode dialektikanya. Pada masa Pencerahan, instrumen utama yang digunakan dalam menalar dunia adalah Rasio (conciusness, kesadaran) nah, bagi Hegel, kesadaran adalah suatu proses yang dicapai terus menerus dari satu tegangan (tesis) yang berbenturan dengan tegangan lain (antitesis) sehingga pada akhirnya melahirkan kesadaran absolut (sintesis), hal ini dilkenal sebagai “Fenomenologi roh” yang berbentuk roh absolut dimana kesadaran untuk memperolehnya didapat dari sejarah manusia (proses dialektik) . Jadi rasio yang berlaku disini adalah rasio yang menyadari asal-usul pembentukanya.

  

Marx pada dasarnya setuju pada pemikiran Hegel, namun dengan pandanganya yang materialistik, dia menjungkir balikkan pemikiran Hegel bahwa kesadaran itu tidak terbentuk melalui manusia menuju Yang Absolut, melainkan secara materialistis dalam artian; bahwa kesadaran itu pada dasarnya terbentuk dari sistem kerja produksi manusia dalam mengolah alam, proses dialektik tersebut disebut sebagai materialisme dialektik dan sejarah alat produksinya sebagai materialisme historis. Jadi secara singkatnya, Marx memodifikasi dialektika Hegel dalam bentuk sejarah produksi manusia dan berpendapat bahwa sejarah manusia adalah sejarah perkembangan alat produksi (ekonomi), disini dimaksudkan bahwa pemikiran manusia terstruktur dengan ekonomi sebagai dasarnya dimana pada akhirnya akan menentukan pola superstrukturnya (hukum, iptek, seni, dll).

Perjalanan Materialisme Historis

Materialisme Historis yang didasarkan dari dialektik mengandaikan tercapainya zaman melalui era-era berikut: komunis primitif, kuno, feodal, kapitals, dan berujung pada komunis. Masyarakat pada setiap era memiliki ciri-cirinya tersendiri dengan hubungan produksi dan kelas sosial yang berbeda. Dari setiap hubungan kelas dan produksi tersebut, Marx menilai bahwa akan ada pihak yang mengambil keuntungan dan yang dirugikan, dalam bentuk eksploitasi dimana satu kelas menindas kelas yang lain (kecuali era komunis primitif dan komunis).

Pada era komunis primitif tidak ada eksploitasi, hal ini karena masih sangat sederhananya kebutuhan dan terbatasnya pengetahuan manusia, kemudian berkembang menjadi Masa Produksi Kuno, dimana dimasa ini lah pemisahan kelas lahir, penyebabnya sudah dapat kita duga, yaitu pemilikan produksi dengan menggunakan budak dari kelas lain.

Pada masa Feodalisme, yang berkuasa adalah para pemilik tuan tanah dengan kekuataan paksaan berupa senjata. maysaralkat diluar kelompo2k mereka untuk bekerja sebagai petani yang menggarap tanah yang disewakan oleh para pemilik tanah. Setelah revolusi pertanian,  yang memungkinkan perolehan hasil pertanian secara efektif, para pemilik tanah kemudian membuat akta pembatasan dimana para pekerja kemudian tidak diperbolehkan untuk menggunakan lahan kosong milik tuan tanah feodal sehingga kehilangan tanah tempat memperoleh SDA dan pencaharian mereka, kenapa? Karena tanah tersebut dialih fungsikan sebagai tempat beternak domba yang dianggap lebih menguntungkan pemilik tanah. Kejadian tersebut kemudian dikenang sebagai Domba mengunyah manusia dengan mulut mereka sendiri karena begitu berlimpahnya lahan kosong untuk diolah, dan disaat bersamaan banyak orang tidak memiliki pekerjaan dan alat produksi untuk memenuhi kebutuhan dan ditempat lain domba-domba tersebut terkonsentrasi di tangan sedikit orang (feodal).

Bila pada masa feodal kekuasaan produksi ada pada pemilik tanah, melalui pengolahanya maka pada masa Kapitalisme para pemilik modal menginvestasikan uangnya pada peralatan industri, pabrik-pabrik,karena tidak tersedianya lapangan kerja, maka masyarakat pun menjual tenaganya pada masyarakat kapitalis,  menjadi buruh yang kemudian dibayar dengan upah yang sangat rendah dan waktu kerja yang tidak manusiawi. Dasar pengupahan dari masa kapitalis adalah “nilai lebih” yang tertanam pada barang.

Nilai Lebih

Pertanyaan yang kiranya mendasar pada masa kapitalisme adalah “darimana Kapitalis memperoleh keuntungan?” Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya bila lebih dahulu membahas tentang bagaimana berjalanya sistem pertukaran dengan uang.

Pada era kapitalisme, para kapitalis dengan pabrik-pabrik dan alat produksi mereka membanjiri pasar dengan komoditas-komoditas , barang-barang yang dijual dan ditawarkan kepada konsumen. Hal yang menarik adalah, bagaimana mungkin benda-benda hasil produksi yang berbeda tersebut dapat dipertukarkan satu sama lain,semisal, bagaimana bisa sebuah emas dianggap setara dengan taruhlah misalnya, 5 kg beras? Atau sepasang sepatu dengan 2 ekor kambing? Bagaimana hal tersebut dapat dikatakan sebagai pertukaran yang fair? Karena sebuah kambing tetaplah sebuah kambing dan sepatu tetaplah sepatu.

Ternyata Jawabanya adalah pada “Festisisme komoditas” semacam kepercayaan, pada nilai yang menubuh dalam bentuk “harga”.  Hal tersebut merubah nilai guna sederhana (beras untuk makan, sepatu untuk berjalan) menjadi nilai ajaib. Intinya adalah bahwa segala sesuatu tersebut, baru dapat dikatakan berguna, bila dia mempunyai kekuatan untuk dijual. Diproduksi untuk dijual.

Lalu dari mana kapitalis mendapatkan keuntungan? Jawabnya ada di 3 huruf sederhana ini: M-C-M’. Uang dalam artian modal (M-Money) , merubah, mengelola, komoditi (Comodity), untuk dijual, sehingga menghasilkan uang baru atau keuntungan(Money’). Darimana? Dari waktu kerja yang tidak dibayarkan.

Bayangkan misalnya untuk membuat 1 buah handphone, seorang pekerja membutuhkan waktu 1 jam, maka pemilik modal akan memaksa pekerja sebisa mungkin menyelesaikan Handphone tersebut kurang dari waktu yang ditentukan, semisal 45 menit, maka handphone yang dihasilkan adalah 1,25 handphone. Nah, 0,25 ini adalah waktu keuntungan dari pemilik modal atau kapitalis yang kelak akan diberi label berupa “harga”. M’ (harga) = harga bahan baku + upah tenaga kerja.

M-C-M ini adalah pola produksi kapitalis, yang berbeda dari pola sebelumnya C-M-C dimana seseorang mengolah komoditas hanya untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan hidupnya saja, Pola M-C-M membuat para Kapitalis pemilik modal untuk terus memperoleh Laba, terus menerus, dengan membuat sistem kerja yang se-efisien mungkin.

Penindasan Manipulatif

Ingat, Marx berpendapat bahwa struktur basis-ekonomi- mempengaruhi bangunan suprastruktur diatasnya. Peranan Suprastruktur (agama, hukum, seni, institusi,dll) rupanya turut melanggengkan subordinasi dan eksploitasi yang dilakukan oleh para pemilik modal. Subordinasi seperti yang dipaparkan bisa saja dilakukan dibawah senjata seperti era feodal, tapi sebenarnya cara yang paling efektif dalam hubungan subordinasi tersebut sebenarnya adalah melalui ideologi, keyakinan, dengan menanamkan bahwa sistem kelas yang demikan itu adalah adil, sehingga pihak yang didominasi tidak menyadari kondisi tersebut.

Sistem pendidikan, media massa, berperan –dalam bentuk ideologi- untuk mengaburkan, menyembunyikan realitas sebenarnya. Institusi-institusi yang seperti itu , menurut Marx berperan dalam memberikan semacam ”petunjuk hidup palsu”.

“Agama adalah candu masyarakat!” – Marx

Marx’s Prophecy : Kejatuhan Kapitalisme & Bangkitnya Buruh

“Buruh diseluruh dunia, bersatulah, kita tidak akan kehilangan apapun kecuali rantai yang membelenggu”

Dari sifat-sifat kapitalisme yang demikian, marx meramalkan bahwa Kapitalisme akan jatuh dengan sendirinya, bagaimana? Melalui persaingan antar-pemilik-modal, sehingga mereka bersaing se-efisien mungkin untuk menjual produknya dengan harga termurah, hal ini berarti semakin berkurangnya “nilai lebih” untuk mendapatkan keuntungan, hal ini berarti mereka harus menambahjam kerja demi menaikkan produksi dan nilai lebih tersebut. Dampak dari eksploitasi yang kian menjadi dari kompetisi para pemilik modal tersebut adalah alienisasi pekerjaan (manusia menjadi terasing karena produksi karya-nya ditentukan oleh pemilik modal) dan de-humanisasi (jam kerja yang tidak manusiawi).

Karena kondisi yang sedemikian tidak menguntungkan, kaum proletar pada akhirnya akan menyadari  keadaanya, kesadaran kelas muncul, dan mendorong mereka untuk melakukan sebuah revolusi guna merebut keberadaan alat-alat produksi. Hal ini berarti kaum pekerja-lah yang memimpin pemerintahan dan menguasai alat produksi tersebut dan setiap orang bebas dari subordinasi, setiap orang bisa melakukan pekerjaan yang dikehendaki, terbebas dari alienisasi pekerjaan.

….berburu di pagi hari,memelihara ternak dimalam hari, berdebat setelah makan malam, itulah yang ada di pikiranku tanpa pernah aku menjadi pemburu, nelayan, atau tukang debat” – Marx

Kritik atas Marx

Pemikiran Marx kelak akan terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu Marxisme Ortodoks dan Neo-Marxisme. Marxisme Ortodoks adalah penerapan Paham Marx secara kaku dan deterministik, antara lain adalah Lenin dan Stalin yang justru mempraktekkan kekuasaan represif dan jauh dari kebebasan yang dicita-citakan Marx.

Neo-Marxisme atau revisionis, berbeda dari Marxisme Ortodoks, mereka menyadari bahwa tuntutan dan ramalan Marx telah meleset dan tidak sesuai lagi dengan keadaan zaman, tokohnya antara lain Bertell Ollman dan Edward Vernoff. Yang patut juga dicermati adalah munculnya Madzhab Frankurt generasi pertama dengan para tokohnya antara lain : Horkheimer, Adorno, dan Mercuse. Madzhab Frankurt kemudian melanjutkan Marx dalam mengkritik Kapitalisme dalam bentuk Teori Kritis. Mereka sudah tidak lagi menaruh harapan pada kaum buruh, melainkan dari kaum intelektual, mahasiswa untuk melakukan perubahan, namun sayang, Madzhab Frankurt justru jatuh ke sikap pesimistis dalam menghadapi Kapitalisme. Sekali lagi Kapitalisme menang.

Pewaris Madzhab Frankurt, Jurgen Habermas mengatakan bahwa setidaknya ada beberapa alasan ketidak-relevanan Marxisme untuk masyarakat hari ini, antara lain :

  • Pemisahan negara dan masyarakat pada kapitalisme liberal sudah tidak lagi relevan, mengenai ekonomi sebagai basis dan politik sebagai suprastruktur diatasnya. (menurut Habermas keduanya saling mempengaruhi)
  • Perkembangan standar hidup yang sangat pesat.
  • Kelas sosial yang semakin terintegrasi dalam masyarakat dan manipulasi kelas yang semakin canggih
  • Kaum proletar yang sudah tidak lagi dapat dijadikan tumpuan harapan (Habermas menumpukan harapanya pada “rasio”)
  • Jalan yang ditempuh Uni Sovyet yang justru jauh dari cita-cita kebebasan Marx

Secara garis besar sesungguhnya Habermas ingin mengatakan bahwa Marx terlalu jatuh pada semangat positivisme yang dirintis oleh Comte, mengenai sah-atau-tidaknya suatu pengetahuan, dan terlalu terpaku pada “rasio kerja/instrumental” yang disandarkan pada pandangan ekonominya. Demikian Habermas menambahkan “Rasio Komunikasi” yang kemudian akan terwujud pada teorinya mengenai Diskursus dan Ruang Publik.

Kapitalisme Hari ini:

Pada masyarakat Kapitalisme Lanjut belakangan ini, masih dengan festisme tubuh yang berlebihan, melalui anjuran untuk melakukan konsumsi, dengan provokasi dari media massa –iklan, sinetron, dll- yang bahkan menawarkan kepada kita hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Hypperrealitas, kalau Braudillard bilang, dimana yang mana yang kenyataan dan mana yang bukan menjadi begitu kabur. Menurut Mercuse : Perbudakan manusia modern yang dilakukan dalam semangat sukarela, melalui manipulasi sistem kebutuhan “saya adalah apa yang saya beli”  mungkin begitulah cara berfikir masyarakat kita sekarang, bahkan orang yang ridak dapat melakukan konsumsi pun menjadi korban, dengan peminggiran, labelling karena “baik” dalam artian ini adalah “beli”, tidak mampu beli, maka silahkan out.

Penutup

Marx dengan penuh semangat –setidaknya- telah menunjukkan upaya untuk membongkar selubung penindasan demi kemerdekaan manusia, sudahkah kita melakukanya? Beranikah kita melawan arus besar konsumerisme? Beranikah kita untuk mengatakan tidak dari zaman yang meninabobokan ini? Barangkali jawabanya kembali pada rasio setiap individu. Selamat menjalani penindasan terselubung sebagai keseharian😛 eh, emang kita ditindas?

Daftar Pustaka :

  • Jones, Pip. Pengantar Teori-Teori Sosial.Yayasan Obor Indonesia.2009.Jakarta.
  • Smith, David & Phill Evans. Das Kapital Untuk Pemula.Insist Press.Jogjakarta.
  • Budiarjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik.Gramedia Pustaka Utama.2008.Jakarta.
  • Hardiman, F. Budi. Kritik Ideologi.Kanisius.2009.Jogjakarta.
  • Hardiman, F.Budi. Filsafat Modern.Gramedia Pustaka Utama.2007.Jakarta.
  • Tanya, Bernard L. Teori Hukum.Genta Publishing. 2010.Jogjakarta

3 Responses to “Marx, Marxisme vs Kapitalisme & Konsumerisme”


  1. 1 latree Juni 14, 2011 pukul 8:48 am

    Aduh. Puanjang dan berat. Ini skripsi?😀

  2. 2 Satrio Juni 14, 2011 pukul 7:54 pm

    bookmark dulu deh… hihihi

  3. 3 SD Agustus 17, 2011 pukul 8:18 am

    William G. Carr (mantan intel Inggris) mengatakan kalau Mbah Marx ini adalah satu dari sekian banyak pemimpin Freemasonry yang terkemuka dan telah banyak membantu Zionisme dalam usahanya membentuk dua kubu yang seolah-olah berperang satu sama lainnya, yaitu Komunis VS Kapitalis.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Juni 2011
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: