Kerja Abad 21

 Abstrak

“Setiap orang perlu bekerja untuk makan” begitulah kiranya kurang lebih kredo abad 21 ini. Semua dituntut untuk menjadi semakin cepat, semakin besar, semakin kecil, semakin praktis, dan semakin efisien tentunya.

Berada didunia kerja tentu adalah sebuah persaingan yang ketat. Bahkan pada kenyataanya selaku pelamar kerja, kita harus menyesuaikan diri dengan tuntutan yang diinginkan oleh pemilik tempat kerja.Setelah kita bekerja dalam sekian rentang waktu tertentu, kebanyakan dari kita akan kehilangan idealisme dan semangat yang ketika muda begitu kita junjung.

Sejujurnya saya juga tidak tau, dalam rentang berapa lama rasa idelis saya memudar digantikan dengan tuntutan-tuntutan ekonomistik. Bisa jadi 15 tahun? 5 tahun? 6 bulan? Atau bahkan seminggu? I just simply dont know..

Seperti yang akan saya paparkan pada bagian ke-2 tulisan ini, rasanya sulit sekali bagi kita untuk menghindar dari tuntutan ekonomi (kecuali bila kita benar-benar beruntung, atau mempunyai kemampuan yang memadai untuk mendapatkan tempat tertentu yang tidak semua orang bisa mendapatkanya) jadi pilihan kita adalah apakah kita menyerahkan diri saja dalam arus kapitalisme beserta modernitas tersebut seperti yang dikatakan Weber, atau terus mengkritisinya seperti Marx dulu.

 Kerja dan Konstruksi Sosial

Seperti kebiasaan masyarakat belakangan ini, kita semua terkonstruksi untuk melakukan suatu kegiatan-bertujuan; yaitu kerja ( Rasio Instrumental – Habermas)  . Ada banyak cara untuk mencapainya, beberapa orang yang lebih beruntung, akan terlebih dahulu menempuh pendidikan sebelum melakukan “kerja”, dan yang kurang beruntung mungkin telah melakukan “kerja” selama sepanjang hidupnya.

Kata “Kerja” disini mengandung banyak kontradiksi, mengambil pendekatan Marxisme dan pesimisme ala Mazhab Frankurt, bahwa di era ini (Kapitalisme lanjut) kerja bukanlah sebuah hasil karya seseorang atas alam atau idenya, tapi kerja merupakan suatu bentuk alienisasi untuk bertahan hidup, dimana seseorang melakukan hasil karya sesuai dengan perintah keinginan pemilik modal, pekerja menjadi terasing dari karya-nya sendiri, bahkan karena himpitan ekonomi dan manipulasi penindasan oleh pemilik modal, pekerja menjadi terasing kepada sesamanya, sesama pekerja, untuk saling bersaing, serta di tingkat ekstrim, pekerja bahkan terasing dari dirinya sendiri. Para  pelaku kerja (pekerja, buruh), ternyata juga berlaku sebagai konsumen, membeli barang dari hasil kerja pekerja dari pemilik modal yang lain.

Post-modernitas, melalui warisan dari modernisme (dan kapitalisme tentunya), rupanya telah memodifikasi bentuk penindasan ini menjadi sedemikian halus, sedemikian manipulatif, sehingga seolah subordinasi kelas menjadi hal yang wajar, lumrah. Herbert Mercuse dalam One Dimentional Man yang dikutip oleh Kritik Ideologi dari F. Budi Hardiman, mengatakan “Manusia modern adalah rasional secara bagian-bagian namun irasional secara keseluruhan”, kita berbondong-bondong secara sukarela telah menyerahkan diri kedalam lingkaran subordinasi pemodal dan terjun bebas ke alienisasi diri.

Bagaimana subordinasi yang tampak demikian seram diatas diselundupkan?  Ada banyak jalan, misalnya sedari kecil, masyarakat kita telah terbiasa dengan kotak ajaib: televisi. Disana terjadi peperangan antar pemilik modal untuk memperebutkan setiap slot iklan atau apapun untuk membujuk penonton-nya untuk melakukan “konsumsi”.  Hyperrealitas mana yang maya dan mana yang nyata tampak begitu kabur, karena hampir semua adalah permainan kepentingan untuk meredifinisi kata “Benar” dan “Baik” secara semena-mena.

Stratifikasi sosial agaknya juga telah banyak berubah, Pengelompokan kelas masyarakat tidak lagi hanya terdistribusi berdasarkan jenis kerja, namun mengarah pada hal-hal yang lebih kreatif : aktualisasi diri melalui konsumsi. Contoh yang cukup membuat heboh adalah Gadis kecil di cina yang menjual ginjalnya demi membeli perangkat elektronik terkini, demi gengsi.

Karena tuntutan-tuntutan tersebut kita menjadi lupa untuk  mempertanyakan arti kebenaran dan hanya mengandaikanya begitu saja. Festisisme berupa penyembahan berhala dari komoditi pemodal terus kita terima sebagai satu-satunya kebenaran utama (single ultimate truth). Di ranah pendidikan, basis ekonomi mempengaruhi suprastruktur pendidikan. Semenjak kecil, kerja telah menjadi tujuan praktis.

Kerja dan Reduksionisme :

Kerja di era kapitalisme mereduksi berbagai pemikiran-pemikiran kritis sejarah manusia, sebut saja Materialisme dan Hedonisme dari Marx dan Epicurus berubah menjadi Materialisme dan Hedonisme praktis, menjadi hanya pemenuhan kebutuhan praktis singkat semata, Idealisme menjadi idealisme buta yang tidak menerima kebenaran-kebenaran lain diluar kebenaran dirinya.

“dan tidak ada ikatan hubungan tersisa antara pelindung dan manusia selain dari ikatan antar kepentingan, selain dari ikatan antar pembayaran dengan uang”– Karl Marx, The Communist Manifesto

Kerja (sekali lagi) tidak menjadi karya manusia atas alam, tapi lebih kepada upaya produksi yang saling berlomba satu dan yang lain, para buruh pun turut ditekan untuk bersaing demi upah, sebagian yang beruntung mampu melakukan konsumsi untuk memperoleh kelas sosial, yang kurang beruntung, upah menjadi hanya instrumen untuk bertahan esok hari, ditambah model kerja outsourcing yang lebih menguntungan kaum pemodal. Kerja dituntut untuk menjadi semakin praktis, semakin efisien demi keuntungan tertinggi.

Karena itu, teknologi merupakan permainan yang tidak berhubungan dengan benar, adil, indah dll, tapi dengan efisiensi” – F. Lyotard, The Postmodern Condition.

Kerja, menjadi alasan manusia untuk melakukan eksploitasi atas alam. Pembukaan lahan atas nama perolehan komoditas untuk mengembangkan kapital. Karena bila kapital tidak bergulir dan berkembang, berarti bencana untuk semua orang. Depresi, Inflasi, resesi, atau apalah namanya akan menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaanya, kehilangan sumber upah.

Alam dan Kerja Manusia menjadi oposisi binair dimana alam-sama halnya dengan hubungan pekerja dan pemodal- berada dibawah subordinasi penuh pengendalian pasar. Mungkin benar kata Rousseau dari Filsafat Modern F. Budi Hardiman, yang mengatakan kalau kemajuan manusia adalah niscaya, karena bersumber dari sifat-sifat manusia yang destruktif.

  Profil “Kerja” di Indonesia tahun-tahun kedepan.

Profil “keerja” di Indonesia sebenarnya bisa diliat dari dua sisi; sisi optimistik dan sisi pesimistik.

Dari segi pesimistik, kita akan diajak untuk berputar lagi dari kegagalan Marx –meski dengan semangat yang menggebu- untuk mewujudkan kesadaran kelas dan keeruntuhan kapitalisme dengan sendirinya yang digambarkanya dengan “seperti matahari yang terbit di barat” dengan kendaraan berupa revolusi proletar atas alat produksi. Rupanya toh Marx terlalu jatuh pada positivisme warisan Comte. Kapitalisme kerja ditambah dengan buruknya birokrasi dan lemahnya pemikiran kritis membuat Indonesia menjadi ladang empuk para investor baik lokal maupun asing.

Maka jangan heran, bila kita seperti ayam kelaparan di lumbung jerami, kita menjadi pengemis di negeri sendiri yang katanya adalah negeri dengan kekayaan SDA yang melimpah. Kredo “Kerja untuk makan” adalah mitos baru yang menggantikan mitos-mitos lama yang telah ada sebelumnya (metafisika, rasio, positivisme,dll) dimana proses legitimasinya didasarkan dari hubungan manipulatif subordinasi yang samar, mapan, dan berbelit.

Sistem hukum yang carut-marut (sering tidak selaras dengan asas Obligation edga omnes – jaminan negara untuk menegakkan hak asasi manusia melalui penerapan dan penegakan hukum yang berlaku), politik yang tidak stabil, dan heterogintas masyarakat yang tidak dibarengi semangat kebersamaan dan persatuan membuat kita kembali ke keadaan homo homini lupus, hanya saja dengan cara yang lebih berbeda, lebih halus.

Dari sisi opimistik, tentu kita bisa banyak berharap pada generasi muda. Melalui berlimpahnya media informasi, seharusnya disertai penggunaan akses secara positif, bisa menciptakan generasi kritis untuk kemudian menggerakkan kesadaran kolektif melalui proses diskursus. Sekiranya realisasi APBN 20% untuk pendidikan juga dapat turut membantu mewujudkan kesadaran kolektif tersebut.

Sekarang mari kembali pada satu pertanyaan terakhir.. “untuk apa kita bekerja?” dari pemaparan panjang lebar diatas, jawaban untuk pertanyaan tersebut bisa dikembalikan pada setiap individu namun kiranya kita sepakat dalam hal menolak kerja dalam artian sebagai penindasan.

 Daftar Pustaka :

  • Hardiman, F. Budi. Kritik Ideologi. Kanisius. 2009. Jogjakarta.
  • Hardiman, F.Budi. Filsafat Modern. Gramedia Pustaka Utama. 2007. Jakarta.
  • Hardiman, Fransisko Budi. Demokrasi Deliberatif. Kanisius, 2009.
  • Marx, Karl. Membongkar akar krisis global (kumpulan tulisan). Resist book. 2009. Jogjakarta.
  • Sugiharto, I Bambang. Postmodernisme. Kanisius. 1996. Jogjakarta.

                                                  

1 Response to “Kerja Abad 21”


  1. 1 16 September September 15, 2011 pukul 9:54 pm

    Saya bekerja untuk mewarnai hidup.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Juni 2011
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: