keCantik-an, Tubuh, dan Mitos

Salah satu iklan di Tv : “Awalnya perempuan tidak percaya diri pada penampilanya, kemudian dia diberi solusi prodak pemutih kulit (dalam iklan lain bisa berupa pembentuk tubuh, penghalus rambut, dll), setelah pemakaian si perempuan tadi berubah menjadi percaya diri banyak laki-laki yang salah tingkah waktu melihatnya”.

Dari kotak ajaib yang tersebar di hampir setiap rumah, televisi, kita sering menyaksikan iklan ataupun berbagai tayangan lainya yang menampilkan perempuan dengan tubuh ramping, berdada besar, pantat mantap, kulit putih (bahkan ada prodak dengan alat pengukur tingkat keputihan), dan rambut gemulai menawarkan produk “kecantikan”, hal tersebut seolah diaffirmasi oleh tayangan baik sinetron maupun layar lebar dalam menampilkan tokoh yang cantik dalam bentuk sebagaimana yang ditampilkan oleh iklan. 365 hari setahun, 7 hari seminggu, dan 24 jam sehari kita dicekoki “standarisasi kecantikan” tersebut.

Semua orang tentu ingin menjadi cantik –dan sehat tentunya- , namun demikian, kita jarang memikirkan lebih lanjut mengenai apa itu cantik? Apakah cantik itu melulu identik dengan bentuk tubuh ala Barbie ?

Mungkin itu berasal dari kegemaran kita untuk menstandarisasi sesuatu secara membabi buta. Standarisasi tersebut rupanya juga terbentuk mengenai bagaimana manusia seharusnya berperilaku, dan berpakaian dan itu tertuang dalam apa yang kita sebut sebagai etika. Dari situ kita memisahkan mana yang baik dan mana yang tidak baik, sehingga dalam berkegiaatan kita mengacu pada nilai-nilai yang (tentunya) kita anggap baik, ada tingkatan-tingkatan(stratifikasi) berdasar nilai-nilai tersebut.

Dan nilai yang sering kita gunakan adalah nilai kemakmuran -yang disimbolisasi melalui konsumsi-, lalu apa hubunganya? Dalam masyarakat konsumerisme dimana pemasaran melulu menyajikan wacana yang kemudian membentuk mindset masyarakat bahwa anda adalah apa yang anda beli. Dari situ kemudian terbentuklah premis bahwa perempuan yang diterima masyarakat adalah perempuan dengan bentuk tubuh tertentu, melalui “perawatan tubuh”, konsumsi alat, proses, dan produk kecantikan untuk memperoleh standard yang diinginkan masyarakat (langsing, putih, berdada besar). Perempuan yang tidak sesuai dengan kriteria akan teropresi, ter-nomordua-kan, dipinggirkan. Festisisme Tubuh dan Komoditas, kepercayaan yang berlebihan dan sesat atas standar bentuk tubuh dan barang-barang konsumsi. Contoh simpelnya kerap kita temui banyak perempuan yang sebegitu takutnya dengan timbangan, takut kalau bobotnya tidak sesuai dengan standar “kecantikan”.

Kasus-kasus tersebut agaknya justru mengingkari upaya-upaya pembebasan opresi perempuan, bahwa perempuan bisa dan berhak menentukan nasibnya sendiri. Perempuan ditengah konsumerisme justru menyerahkan dirinya jatuh kedalam Alienasi tubuh, keadaan terasing dari tubuhnya sendiri, dandan, diet, memperbesar payudara, menghias tubuhnya untuk kenikmatan laki-laki, Lebih lanjut bahkan perempuan terasing dari perempuan lain karena bersaing untuk mendapatkan tubuh yang paling “ideal” (feminis thought-183). Perasaan kalau tubuhnya selalu diawasi oleh orang lain, membuat perempuan menjadi semacam polisi bagi dirinya sendiri mengenai bentuk tubuhnya, menurut Foucoult hal ini disebut panoptisisme sehingga seolah-olah tubuh perempuan adalah tubuh milik publik, aktualisasi diri supaya tubuhnya dilihat orang lain .

Disini kita bisa mempertanyakan peran televisi (atau alat media lainya) sebagai pemancang standarisasi kecantikan sekaligus sebagai penyebar wacana dalam ruang publik,sejauh mana peran kekuasaan (televisi, konsumerism) pada tubuh (kecantikan) perempuan ?

Barangkali sudah saatnya bagi perempuan untuk memberi nilai dan kembali memiliki tubuhnya sendiri, silahkan matikan televisi dan banting timbangan anda😀

“ah, cantik itu cuma mitos”

Referensi :

  • Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought.  Jalan Sutra. 2010.  Yogyakarta.
  • Jones, Pip. Pengantar Teori-teori Sosial. Yayasan Obor Indonesia. 2009. Jakarta.

10 Responses to “keCantik-an, Tubuh, dan Mitos”


  1. 1 SD Agustus 13, 2011 pukul 3:03 am

    Kata Dr. Robin Baker dalam bukunya “Fragile Science” bahwa penderita kanker kulit semakin banyak semenjak produk lotion anti sinar matahari ada. Kok bisa ya?

    Salam kenal.🙂

  2. 4 xrismantos Agustus 13, 2011 pukul 2:27 pm

    tapi bagaimanapun tak bisa dipungkiri, kalau cewek bertubuh ramping, berdada mantab dan berkulit putih itu cantik mas😀

    • 5 rianadhivira Agustus 14, 2011 pukul 5:37 pm

      iya juga sih mas, saya juga sering ngiler kalo ada yang model begitu lewat.. tapi masalahnya kok bisa kita lebih suka ngeliat yang “seperti itu” dibanding yang “lainya”? apa konstruksi televisi ya? atau warisan masyarakat bertingkat jaman belanda -orang belanda, pedagang arab cina, baru pribumi- sehingga kita juga mengacu ke nilai borjuis kecantikan belanda?😀

      tapi memang kalo liat yang sekseh gitu bikin lupa semuanya ding haha

  3. 6 abalaboy Agustus 16, 2011 pukul 9:24 am

    artikel yang menarik . .
    menurut saya cantik itu selera.dan wanita yang memiliki pemikiran yang jelas ,tentunya akan mengikutinya stylenya diri sendiri bkn orang lain😀

  4. 7 intan ardita H Agustus 17, 2011 pukul 11:06 am

    oh gitu ya..

  5. 8 Rynno Agustus 17, 2011 pukul 10:21 pm

    alay og, judule gedi cilik tulisane. ckckckkck

  6. 9 nm iqbal Agustus 19, 2011 pukul 12:56 am

    Itulah kita, sebuah pendapat subyektif bisa menjadi kebenaran mutlak ketika ada sosok yg mangangkat ide tersebut seolah-olah kebenaran.

    Misal dalam standar cantik, itu relatif dan subyektif. Namun ketika ada ilustrasi bahwa “gini loh cantik itu”. Langsung deh bikin standar serupa tentang kecantikan itu.

    Menarik jg postingnya…🙂

  7. 10 ninaz September 4, 2011 pukul 2:16 pm

    cantik itu dampak kapitalisme lalu konstruksi sosial…halah opo jal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Agustus 2011
S S R K J S M
« Jun   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: