Perempatan Jalan Kala Senja

Dibalik banyak dan menjulang berbagai gedung, ditengah gegap gempita lampu kehidupan, rupanya ada kehidupan disela-sela bayangan para kemegahan, ada yang hidup dibalik temaram lampu. Diantaranya adalah waria. Waria yang selalu dikonotasikan sebagai hal yang buruk, menjadi bahan candaan yang disusul gelak tawa yang tak kunjung henti. Namun terbesit ada rasa kagum, karena terdapat kejujuran pada para waria tersebut, waria setidaknya berani mengatakan “ya” pada hidupnya. Ternyata ada “ya” yang tulus ditengah masyarakat “normal” yang serba munafik dan berbelit.

Waria sering dicemooh, barangkali karena kerancuan seksnya yang dianggap keliru. Diluar wacana keagamaan dan medis-biologis, mungkin kita bisa memandangnya dalam sudut wacana yang agak berbeda, bahwa kenapa waria itu –dianggap- salah?

Banyak wanita yang kini menempati pos-pos yang dulunya hanya dikhususkan, di-eksklusifkan bagi laki-laki. Perempuan dirangkul untuk merayakan sikap yang dulunya hanya diperuntukkan bagi laki-laki, maskulinitas, demi kesetaraan dan kebebasan mereka bilang. Mereka dielukan sebagai pionir kemerdekaan gender, namun benarkah? Bukankah kesetaraan gender berarti dibebaskanya feminine dan maskulin secara terpecah belah keruang bebas, dimana setiap orang dapat menggapai apa saja yang mereka mau?

Bohong besar kala kita mengatakan kesetaraan dan kebebasan tapi kita masih saja memandang yang maskulin, yang dulunya dimiliki laki-laki sebagai dewa untuk disembah. Bukanya feminine yang dulu dimiliki oleh perempuan juga –seharusnya- mendapat tempat yang sama? Kalau kita menganggukmaka kita harus mengamini juga bahwa baik pria maupun wanita berhak mengambil maskulin maupun feminine dalam dirinya, atau bahkan mengambil keduanya sekaligus pada satu tubuh.

Mungkin karena kita menganggap maskulin beberapa tingkat lebih tinggi, lebih mulia daripada feminine, maka tanpa sadar kita berpikir bahwa para pahlawan wanita itu dengan mengambil sifat-sifat maskulin akan naik tingkat, naik ke sebuah ketinggian baru, sedangkan para pria yang mengadopsi feminine, akan dianggap turun kasta, dalam hal ini tentu saja waria adalah para mereka itu, sehingga mereka dibuang, tidak diakui. , bisa saja kita berkata kalau kemerdekaan dan kesamaan baru mungkin terjadi bila baik maskulin maupun feminine keduanya dibubarkan saja.

Berikutnya adalah ekonomi , di zaman yang serba berhitung, tiap orang harus melakukan kerja, haru mampu menjadi bagian dari suatu proses produksi yang berbelit, untuk menghasilkan sesuatu untuk dijual, untuk dibeli. Persaingan antara pabrik satu dan lainya membuat persaingan yang berhujung pada dirangkulnya sebuah kata untuk menemani “produksi” tadi, yaitu efisiensi. Dari sinilah ada standarisasi. Agar produk dapat dijual, maka dia mengambil standarisasi dari pandangan calon konsumenya, dan disini, “waria” tidak ada pada kolom pilihan jenis kelamin pendaftaran kerja. Mereka dianggap meresahkan, seolah-olah ada rasa risih ketika berdampingan. Karena kesempatan itu sudah dirampas, maka mereka hanya memiliki tubuh untuk dijual dalam cara yang lain. Waria dianggap tidak produktif, dan tidak berharga, dan suatu rantai belenggu-pun kembali berputar.

Kalau memang demikian cara kita berpikir dan memandang pada “yang lain” dan memandang yang lain itu lebih rendah, nista, mungkin masih melekat pada diri kita kesombongan ala fasis,  mengendap, saat kita berpikir bahwa Cuma kitalah yang memeluk kebenaran yang mahabenar itu.

Bagai mengetuk patung berhala raksasa berusia ribuan tahun dan mendapati hanya kekosongan didalamnya. Saya percaya, banyak wacana yang dapat kita gunakan untuk melihat waria dan “yang lain” (agama, etnis, ras, minoritas) disamping wacana dominan yang membutakan karena menutup kekayaan wacana yang sesungguhnya ada dan berbagai wacana lain yang dapat berbicara, mendekonstruksi wacana dominan.. Dari para waria, barangkali kita dapat belajar bahwa ada masa dimana  jumlah tidaklah selalu identik dengan kebenaran.

Yah, suatu saat kita mungkin akan merayakan, bahwa memang ada kehidupan yang menggeliat, di remang lampu perempatan jalan kala tiba sang senja.

6 Responses to “Perempatan Jalan Kala Senja”


  1. 1 ahsanfile September 20, 2011 pukul 8:20 am

    Kasihan sebenarnya orang-orang ini… hidupnya liar karena jarang banget orang yang mau dekat dan memberikan nasehat …

    Sebenarnya mereka bisa kembali hidup normal sebagai laki/perempuan

    salam kenal balik mba …

    • 2 rianadhivira September 20, 2011 pukul 10:49 pm

      mungkin justru sebaliknya, kita yang perlu banyak belajar dari mereka, kejujuran dalam menentukan pilihan, dan siap menerima segala resikonya. dalam beberapa sisi, saya sangat kagum sama mereka kok😀

      nb.saya lakilaki lhooo

  2. 3 Irfan Handi September 21, 2011 pukul 4:50 pm

    Sempet senyum2 sendiri lihat foto paling atas.
    Salam kenal.

  3. 4 dmilano Oktober 2, 2011 pukul 9:12 am

    Saleum,🙂
    padahal semua manusia itu sama dimata tuhan, yahc… mereka memang jujur dalam menentukan pilihan, tapi apakah itu semua akibat status mereka sehingga mau tidak mau ya harus menerima pilihan itu…???
    saleum dmilano

  4. 5 Bima Wilulangit (@bimawilulangit) Oktober 20, 2011 pukul 10:52 am

    iya begitulah Mbak vira kehidupan waria … kasian ..

  5. 6 Ketymeong Februari 10, 2012 pukul 5:20 pm

    baca ini bagus banget..salam kenal..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

September 2011
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: