Nietzsche, dan Matinya Cerita Besar Manusia

Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan, percayalah. Jika engkau ingin (menjadi) murid kebenaran, Carilah”. – F. Nietzsche

Keseharian dan rutinitas manusia modern agaknya telah membuat kita melupakan satu pertanyaan penting mengenai apa manusia itu sebenarnya. Tuntutan ekonomistik melalui kegiatan-bertujuan (yang disebut Habermas sebagai “rasio-instrumental”) atau sering kita sebut sebagai –secara sempit- “kerja”, mungkin bisa dikatakan mereduksi arti dari pertanyaan diatas. Tujuan manusia adalah kerja, titik. Padahal tanpa kita sadari kebenaran yang kita andaikan begitu saja tanpa disertai pemikiran dan perenungan mendalam justru akan melahirkan apa yang kita sebut sebagai penindasan.

Bentuk-bentuk penindasan ini ada bermacam-macam, bahkan kadang kita tidak sadar tentang adanya penindasan tersebut, karena sudah terlanjur mendarah daging dalam cerita-cerita besar, cara berpikir mainstream, yang kebenaranya seolah tidak perlu dipertanyakan lagi. Determinasi manusia berdasarkan gender misalnya (yang sedang banyak diulas belakangan) akan menciptakan bias gender sedangkan determinasi berdasar ekonomi, akan menimbulkan stratifikasi sosial yang didasarkan pada pandangan materialistik-dan-hedonistik praktis.

Kalau manusia sudah diartikan secara sedemikian sempit, hidup akan terasa kering, karena kekayaan dari simbol-simbol manusia sepanjang sejarahnya seolah-olah langsung direduksi begitu saja menjadi sedemikian sempit dan manipulatif.

Salah seorang yang sangat bersemangat membongkar segala bentuk kebenaran total adalah Friedrich Nietzsche. Nietzsche membongkar jargon-jargon yang ada di zamanya. Pengetahuan, agama, bahasa, dan lain-lain, Nietzsche membuka borok manusia modern yang bersembunyi dibalik rasio-nya.

Nietszche, adalah pemikir yang berpengaruh kuat kelak dalam membukakan pintu gerbang menuju postmodernisme. Berbeda dengan para pemikir sebelumnya yang dalam pemaparan ide-idenya memiliki metode tertentu sehingga dapat dimengerti, Nietzsche justru menggunakan aforisme, semacam metafor yang kadang berlawanan antara satu dengan lainya. Hal tersebut membuat Nietzsche menjadi salah satu filsuf yang paling sulit dimengerti.

 “Pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri- adalah perangkap terakhir yang dipasang oleh mora;itas, menjerat kita sepenuhnya sekali lagi” -Beyond Good And Evil, Aforisme 64

Nietzsche melahirkan beberapa karya, namun barangkali yang paling termahsyur adalah Sabda Zarathrustra, yang mengisahkan seorang nabi yang mewartakan kematian tuhan, requiem de aeterno deo! Beristirahatlah dengan tenang tuhan!. Kisah Zarathrustra yang pergi ke kerumuman masyarakat dan mewartakan kematian tuhan dan di-gila-kan oleh masyarakat tersebut menjadi semacam ironi karena Nietzsche sendiri pada masa tuanya justru terperosok kedalam kegilaan, mungkin dia lelah karena terus bergulat melawan dirinya sendiri dan dunia.

Untuk memahami pemikiranya tentang manusia menurut Nietzsche, maka kita perlu membahas sebagian besar pemikiranya. Pada dasarnya Nietzsche menolak sama sekali apa yang disebutnya sebagai sistem, karena pada sistem-sistem tersebut selalu terdapat sebuah premi dasar yang tidak dapat dipertanyakan lagi, baginya kebenaran hanyalah sebuah kekeliruan-kekeliruan yang dimana kita terus hidup diatasnya, kebenaran adalah ilusi yang bahkan keilusianya tidak tampak.

Sesungguhnya, manusialah yang telah menetapkan baik dan buruk bagi dirinya sendiri. Sesungguhnya mereka tidak mengambilnya dari manapun atau menemukanya secara kebetulan; baik dan buruk itu bukanlah suara langit yang datang pada mereka”-Sabda Zarathrustra Bagian Pertama Aforisme 15 tentang Seribu Satu Tujuan

Maka tidak mengherankan bila kemudian Nietzsche mengatakan tentang kedatangan Nihilisme, bahwa Benar-dan-Salah adalah niscaya, semua bangunan kokoh mengenai nilai-nilai manusia dirubuhkan, baik dalam hal agama, Negara, bahasa, maupun pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Darimana datangnya nihilisme ini? Dari kematian Tuhan, bagi Nietzsche manusia sudah tidak lagi membutuhkan tuhan, tuhan-tuhan sudah mati, karena manusialah yang membunuhnya, dan jangan terpuruk karena justru karena kematian tuhanlah manusia harus merayakanya dalam bentuk affirmasi penuh terhadap kehidupan, YA yang suci untuk hidup.

Hal ini tampak jelas dari Aforisme Bagian Pertama Sabda Zarathrustra mengenai Tiga Perubahan, dimana Unta penanggung beban kemudian berubah menjadi Harimau “aku akan” yang merubuhkan Naga bersisik emas “kamu harus”, dan finalnya berubah menjadi bayi yang menandakan sebuah permulaan baru.

Bila Nihilisme menyelimuti manusia, maka apa yang hendaknya kita lakukan? Kita bisa saja turut terhanyut kedalam nihilisme seperti manusia kebanyakan, namun bagi Adi manusia (Ubermensch, manusia unggul) yang merayakan kematian tuhan, maka Nihilisme adalah sebuah jalan untuk menuju sebuah tatanan baru, dimana manusia tidak perlu lagi menengok keatas untuk mencari jawaban.

Nietzsche juga mendapat pengaruh dari Schopenhauer, mengenai dunia sebagai kehendak, disini Nietzsche menambahkanya sebagai Dunia sebagai kehendak untuk berkuasa (Will to power), dan Hidup adalah sebuah kehendak untuk berkuasa, kebahagiaan hidup adalah bertambahnya kekuasaan. -Perlu dicatat bahwa kehendak untuk berkuasa bersama dengan Adi-manusia, sering disalahpahami sebagai doktrin politik dalam bentuk tiranisme, pemerintahan otoriter, padahal otoriterisasi justru akan melahirkan tuhan baru, dengan demikian justru ditentang oleh Nietzsche. Bahkan Russel dalam History of western philosophy mengatakan bahwa sebaiknya filsafat Nietszche supaya cepat berakhir saja.

Manusia adalah seutas tambang yang terentang antara hewan dan Adimanusia – sebuah tambang diatas jurang tak berdasar…”- Sabda Zarathrustra, Prolog bagian IV

Bagi Nietzsche, dalam nihilisme manusia tidak mempunyai pilihan selain maju kedepan. Di posisi yang serba salah itu,bila dia memilih untuk mundur kebelakang, maka tidak ada untungnya sama sekali dan tetaplah berbahaya, dan justru menjerumuskan pada dekadensi manusia, maka pilihan satu-satunya adalah maju kedepan dan menghadapi resiko untuk menggapai Adi-manusia.

Namun Adi-manusia sendiri bisa dibilang abstrak, dan tidak tergapai. Mungkin Nietzsche menghendaki eksistensi manusia sebagai sebuah proses yang terus-menerus menjadi, dan tidak terjebak dalam dekadensi. Maka barangkali manusia yang diinginkan oleh Nietszche adalah manusia yang berdiri sendiri, manusia yang mampu mempertanyakan segala nilai, termasuk dirinya sendiri.

Pemikiran Nietzsche ini akan memberi pengaruh yang sangat kuat bagi para pemikir sesudahnya, sebut saja Derrida, Iqbal, Foucault, Heiddeger, dan lain sebagainya. Nietzsche –kalau boleh dibilang- adalah seorang yang lahir melampaui jamanya, pemikiranya tidak banyak dibicarakan ketika dia hidup dan baru menjadi perbincangan ketika dia sudah terlanjur babak-belur dan dihinggapi kegilaan dan setelah kematianya, upaya Nietzsche untuk membunuh Tuhan, mungkin bisa kita tanggapi sebagai sebuah upaya untuk keluar dari suatu pola pikir yang serba absolut dan munafik, membongkar cerita besar (grand narration) sekali lagi Nietzsche berhasil dengan sukses menggelisahkan manusia untuk mempertanyakan eksistensi dirinya, karena manusia bagi harapan Nietzsche, adalah manusia yang selalu terus menerus menanyakan segala nilai, termasuk dirinya sendiri.

Kini kita bisa mencermati, betapa peliknya pergulatan untuk mengetahui tabir siapa manusia itu. Meminjam Nietzsche, masihkah kita terbuai dalam dekadensi? Atau kini giliran kita untuk balik menggugat dan mempertanyakan lagi dan lagi apa itu manusia? Atau justru memilih untuk tidak ambil pusing dan kembali pada kehidupan sehari dengan begitu saja?

Mari kita bongkar cerita-cerita besar, memungkinkan yang tercekik untuk berbicara, mempertanyakan kekuasaan yang dominan, membuka kemungkinan bagi yang lain.

2 Responses to “Nietzsche, dan Matinya Cerita Besar Manusia”


  1. 1 Judith Chen Oktober 9, 2011 pukul 10:53 am

    so how would you like to map and see the paradox of his thoughts, including to yours? btw udah aku add linknya ya. maaf agak lama tidak buka wp.

  2. 2 Nova Oktober 20, 2011 pukul 2:00 pm

    Gilak ya itu paham si Om.
    Tapi, gatau kenapa habis baca ini kepala gw nyut-nyutan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Oktober 2011
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: