Memikirkan Kembali arti “Menjadi Rasional”

Sebagai masyarakat modern, kita sering membanggakan kemampuan Rasio (akal budi, kesadaran, cogito) kita dalam memecahkan masalah. Namun, rasanya kita justru menjadi terlena dalam menyikapi rasio tersebut,kita menjadi terlalu bergantung menjadi rasio. Rasio tadinya adalah upaya proyek manusia pencerahan untuk menerangi perbuatan keluar dari mitos-mitos dogmatisme justru mengkhianati tujuanya dengan menjadi mitos bagi dirinya..

Bila kita melihat keseharian kita hari ini, seharusnya kita dapat menggugat, benarkah rasio tersebut menuntun kita menuju masyarakat yang tercerahkan? System kerja outsourcing yang merugikan buruh upah, eksploitasi yang berlebihan pada alam, standarisasi disana-sini, benarkah kita menciptakan kemajuan sementara disisi lain justru mengkhianati nilai-nilai emansipsi pada hidup?

“Rasio” pada awal pencerahan dimengerti sebagai akal budi, sebuah sinar yang menerangi manusia menuju otonomi dirinya, rasio di masa ini berusaha untuk memisahkan diri dari dogmatism gereja. Usaha tersebut ditempuh melalui klasifikasi Ilmu pengetahuan dan diramaikan oleh para ilmuan macam Galileo, Copernicus, Darwin, Newton dll.

Seiring dengan perjalananya, rasio lama-kelamaan semakin mengekerucut pada ilmu pengetahuan rigourus (ketat) yang diusung oleh Comte, yang kemudian disusul oleh euphoria revolusi industry dan gegap gempita kapitalisme. Rasionalitas seolah semakin mendapatkan legitimasinya dan iniliah yang kemudian menjadi perhatian, keresahan bagi para pemikir kritis, karena rupanya rasionalitas macam ini justru menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang sebenarnya ingin dihindarinya.

Rasio, Rasionalitas, dan proses Rasionalisasi kemudian dimengerti sebagai upaya menuju pemikiran teknis yang ketat tersebut, “Tindakan Instrumental” bagi Adorno dan Horkhaimer, “Rasio Teknokrat” bagi Mercuse. Menurut Jurgen Habermas, seorang filsuf tersohor Jerman abad ini berpendapat bahwa sebenarnya kita telah salah mengartikan arti dari Rasio, baginya Rasio telah direduksi hanya semata-mata kegiatan yang bersifat teknis-instrumental, mengeringkan nilai-nilai dunia.

“Paradigma filsafat kesadaran sudah kehabisan tenaganya. Karena itu simtom-simtom kehabisan tenaga ini mesti disingkirkan dengan peralihan ke paradigm pemahaman timbal balik”- Jurgen Habermas

Baginya Rasio sendiri tidak bisa dilihat semata-mata pada dimensi teknis-instrumental tersebut, pada pemikir kritis rasionalisasi barat macam Marx, Max Webber dan Generasi Pertama Madzhab Frankurt mereka mengalami kegagalan dalam mengkritik rasionalitas karena hanya memandangnya secara sempit. Habermas sendiri berpendapat bahwa seharusnya rasio selain dimengerti dalam artian teknis-instrumental (rasio instrumental) tersebut juga dimengerti secara komunikatif, Habermas menyebutnya sebagai “Rasio Komunikasi”, dan keduanya selain memiliki sifat bahasa-nya masing-masing juga rupanya saling mempengaruhi satu sama lain.

Maka dapat kita cermati sekarang bahwa rupanya “kekeringan” yang dialami oleh manusia modern dewasa ini rupanya karena tidak imbangnya pertumbuhan rasio tersebut. Rasio yang digunakan didominasi oleh salah satu bentuk rasio saja, yaitu rasio instrumental, sehingga bahasa yang digunakan oleh rasio instrumental tersebut mengintervensi bahasa komunikasi praktis sehari-hari (baca: masuknya pemahaman ekonomi-kapitalis pada pola hidup sehari-hari), kemampuan emansipasi dalam rasio dikebiri oleh pemutlakan bahasa teknis yang kurang tepat bagi bahasa komunikasi yang bersifat intersubyektif.

Saya pribadi setuju dengan Habermas, yang mengharapkan kedewasaan rasio secara seimbang, Rasio instrumental dalam hal mempelajari obyek dengan harapan menghilangkan hambatan manusia secara teknis dengan alam, berkembangnya kemampuan produksi, dan juga Rasio Komunikasi melalui terbukanya ruang berbicara yang bebas dari segala kooptasi kekuasaan, bebas tujuan melalui jalan menyingkirkan hambatan berbahasa. Dengan demikian kemajuan teknologi tidak berdiri sendiri dari emansipasi nilai-nilai dunia social-moral karena keduanya bergerak secara bersama dan terbuka pada kemungkinan reflektif, koreksi diri, rasio instrumental pun dapat menemukan, menyesuaikan, dirinya dalam praksis.

Maka disini kita dapat merefleksi arti rasio pada diri kita sendiri, dimana menjadi rasional tidaklah berarti meninggalkan bahasa dunia sehari-hari demi kepentingan teknis. Sekarangpun kita ini masih (sangat) membutuhkan orang-orang macam Bunda Theresa, Gandhi, Romo Magnis, Pak Marhaen, Munir, dan lainya untuk menyirami dunia dari “kekeringan nilai”.

7 Responses to “Memikirkan Kembali arti “Menjadi Rasional””


  1. 1 Gungun Septian Oktober 30, 2011 pukul 11:30 pm

    hiduup ini gak rasional mas.. salah sekali anda.. banyak hal di dunia ini yang tidak masuk rasio…

    • 2 rianadhivira Oktober 31, 2011 pukul 6:37 pm

      wah mas gungun enggak membaca tulisan saya secara cermat, justru rasio dalam arti yang anda maksudkan-lah yang dikritisi oleh Habermas, melalui memikirkan kembali arti rasio yang sebelumnya direduksi hanya sebagai pemahaman teknis.

      • 3 Gungun Septian November 26, 2011 pukul 9:33 am

        mas salah nanggepin comment saya bearti.. maksudny saya.. . entah itu habermas atau siapa saja.. saya bilang hidup ini memang gak rasional… terlepas dari pembahasan mas tentang istilah menurut habermas lah, cepot, semar atau siapa pun itu… saya tidak peduli… yang saya tekan kan disini bahwa hidup itu memang2 benar gak rasional… banyak sekali hal di dunia ini yang tidak pernah masuk “rasio ” kita… dan saya banyak mengalami hal itu.. ini terlepas dari apa yang bahas di atas…

        kalo saya boleh kasi kritik sedikit… tulisan-tulisan mas terlihat sekali baru “puber intelektual”.. tulisan tulisan yang mencerminkan “pintar”.. orang yang baru puber intelektualitas biasanya Br terekspos sama ide2 filosofis dan prosa. Tulisan2 yg “puber intelektual” biasanya penuh jargon rumit dan pemilihan diksi yg gak perlu..

        Untuk menyampaikan suatu maksud pemahaman gak perlu dengan jargon2 atau kata2/kalimat yang penuh “penggalian”

        tulisan yang bagus adalah tulisan yang bisa mengena di setiap kalangan pembacanya… tulisan tentang apapun itu.. skalipun isi yang di bahasnya adalah sesutatu yang berat..

        karena “kesederhanaan” itu mengalahkan segalanya.. itu lah tulisan yang hebat.. 🙂 piiiissss…

      • 4 rianadhivira Desember 12, 2011 pukul 6:41 pm

        yaaah mungkin saya memang lagi puber, mungkin einstein ada benarnya waktu mengatakan “anda tidak benar-benar mengerti sesuatu sebelum dapat menjelaskannya pada nenek anda” .

        yah saya memang masih harus banyak belajar “onani ngeblog”😀. bagaimanapun juga ini gaya menulis saya buat saat ini.btw thanks banget kritiknya😀

      • 5 Gungun Septian Desember 15, 2011 pukul 6:50 am

        Ya.. saya yakin anda bisa jadi penulis yang bagus.. ada bakat dan kecintaan menulis yang baik di situ.. tinggal gocek2 dikit.. insya allah bisa jadi penulis yang top…

  2. 6 Farand November 16, 2011 pukul 1:51 pm

    Pas lagi baca-2 Mahabharata, nyantol di blog ini..

    Untuk tulisan diatas:
    Kita sama-2 sadar kalo tiap ilmu itu “membonceng” ideologi. Bahkan cerita Mahabharata yang sedang saya baca pun membawa ideologi..

    Ketika si Jurgen datang dengan membawa madu di tangan kanan, bagi ane dia juga membawa racun (baca: ideologi kapitalis) di tangan kirinya. Racun dengan daya kerja yang sudah disesuaikan dengan jaman.. Bagi ane dia seperti karna(putra pertama kunti dari dewa indra)

    Saya sependapat “kekeringan” sedang melanda kita. terutama di kota-2 besar. Mungkin tuhan benar-2 mati di situ(nietz).. Klo di kampung sih belum (mungkin next).
    Terkadang ane salut dengan masyarakat Samin(Blora) yang berani “menutup” diri mereka dari “moderen”. Hingga roso (perasaan) yang dimatikan oleh masyarakat moderen masih tumbuh subur di situ.

    Hemat ane, akal dan batin kita mesti dijaga dan digunakan secara seimbang. Macam Yudistira gitu, kang…

    • 7 rianadhivira November 16, 2011 pukul 6:00 pm

      Cuma bermaksud mengklarifikasi, Jurgen Habermas justru mengajak kita untuk memikirkan kembali rasio dari pembicaraan Lebenswelth, Duniakehidupan, karena selama ini terpinggirkan oleh pembicaraan dari sistem ekonomi-pasar.

      Atas kapitalisme Habermas justru mengkritik dengan keras melanjutkan Marx dan generasi pertama Madzhab Frankfurt


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Oktober 2011
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: