Anggaran Renovasi DPR dan Ruang Publik Habermas

Belakangan ini, kita dihebohkan oleh berita-berita seputar biaya renovasi dan berbagai fasilitas lain untuk DPR. Berdasarkan Viva news[1], anggaran tersebut antara lain adalah untuk perawatan gedung,  perawatan rumah dinas, renovasi ruang rapat badan anggaran, pembuatan kalender, sampai biaya perawatan rusa di gedung DPR.

Opini-opini publik pun bermunculan, banyak yang mengatakan kalau biaya yang diajukan diluar akal sehat, suatu pemborosan, kala kondisi selang sengkarut negara yang masih babak belur diterpa berbagai kasus korupsi, penegakan keadilan yang dinilai timpang, berbagai konflik antar golongan, dan lain sebagainya yang terus muncul seperti penyakit endemik.

Ditengah cibiran, kritikan pedas, dan cemooh dari berbagai kalangan, jawaban dari para anggota dewan sendiri justru jauh dari memuaskan. Pertanda tidak sehat apakah ini? Menurut Jurgen Habermas, pertanda tersebut setidaknya dapat dianalisa sebagai sebuah keadaan dimana adanya jarak antara tindakan komunikatif (Communicative Act) dengan otoritas para pengambil keputusan, dengan kata lain, tidak diserapnya aspirasi.

Sebenarnya, apa yang bisa dilakukan oleh warganegara untuk menyampaikan sikap politisnya pada sela waktu antara pemilihan umum? Menurut Habermas jawabanya adalah pada suatu ruang diskursus dimana warganegara dapat menyatakan opini, kepentingan, dan kebutuhan mereka secara diskursif[2] yang disebut Ruang Publik (Public Sphere). Sejauh suatu wacana masih relevan pada kondisi masyarakat untuk diajukan maka, tidak ada batasan pembicaraan dalam Ruang Publik, karena dia ada dalam tiap bentuk pertemuan antar warganegara untuk membicarakan sesuatu yang pada dasarnya berasal dari Lebenswelth (dunia-kehidupan) karena menurut Habermas, Ruang Publik yang berakar dari dunia solidaritas sehari-hari adalah Ruang Publik yang tidak dikooptasi kekuasaan[3] sehingga disinilah dia menaruh harapanya dalam bentuk diskursus didalamnya.

Ruang Publik yang sehat akan mendorong sebuah Demokrasi yang deliberatif, yaitu suatu demokrasi yang senantiasa menimbang-nimbang, dimana negara bukanlah kerangka pasif untuk seluruh masyarakat dan juga bukan sebuah pusat yang merangkum segalanya, melainkan sebuah instrumen sosial sensitif untuk kehidupan bersama secara politis dan suatu tempat untuk memprogram kebutuhan-kebutuhan perubahan.[4]

Masyarakat Indonesia pasca reformasi 1998 memiliki kembali apa yang hilang pada orde sebelumnya, kesempatan untuk membuka kembali ruang publik yang dikendalikan oleh rezim pada zaman sebelumnya, demokrasi dibangunkan dari tidur panjangnya dan tiba-tiba bergema dimana-mana. Dari topik  yang telah kita bahas diatas, maka kiranya terdapat keganjilan yang menimbulkan pertanyaan : apakah benar keran-keran ruang publik yang konon telah dibuka semenjak reformasi 1998 turut membuka juga telinga dari para pemegang otoritas ?

Saya kira jawaban dari pertanyaan tersebut baru dapat terjawab bergantung dari seberapa memuaskanya DPR memberikan penjelasanya mengenai biaya-biaya yang oleh masyarakat dinilai berlebihan, juga pada tindak lanjut berbagai permasalahan lainya. Dari situ kita dapat menilai, seberapa tajamkah ruang publik kita berfungsi atau malah impoten dan demokrasi dikuasai oleh oligarki?

Mungkin sekarang kita bisa tersenyum kecil, melihat inilah polah perilaku anggota dewan dari hasil lawatan studi banding etika ke Yunani beberapa waktu lalu. ah dasar DPR! :))


[2] F. Budi Hardiman, dkk. Empat Essai Etika Politik.  www.srimulyani.net bekerja sama dengan Komunitas Salihara. Jakarta.  2011. Hlm 17

[3] Ibid hlm 22

[4] F. Budi Hardiman. Demokrasi Deliberatif:  Menimbang Negara Hukum dan Ruang Publik  dalam Teori Diskursus Jurgen Habermas. Kanisius. Yogyakarta. 2009. Hlm 172

6 Responses to “Anggaran Renovasi DPR dan Ruang Publik Habermas”


  1. 1 sastrakelabu Januari 21, 2012 pukul 9:55 pm

    Seperti apakah “Ruang Publik yang tidak dikooptasi kekuasaan” itu?

  2. 2 Gusti 'ajo' Ramli Januari 22, 2012 pukul 12:54 am

    demokrasi yang tengah dijalani dipasung oleh kekuatan elite yang kurang peka dengan jeritan rakyat…

  3. 3 Susu Segar Januari 22, 2012 pukul 10:10 pm

    yang jadi pertanyaa, apakah emang sudah tidak layak bangunan tersebut, atau para anggota DPR pake aji mumpung ya, mumpung jadi anggota dewan . . . mending tu buat bangun sekolah yang pada bolong2. ato buat pembinaan wirausaha UKM biar perekonomian bisa berkembang. . .

  4. 4 elfarizi Januari 22, 2012 pukul 10:56 pm

    Biarlah mereka berbuat apa yang mereka inginkan. Kita gak perlu ribut, apalagi usil memencak-mencak. Kasihan wakil rakyat itu kerjanya capek, mikirin rakyat, berbuat untuk rakyat. Jadi, wajar kotoran mereka saja harus ditutupi toilet seharga 2 miliar😀

    (Ngomong sambil dihipnotis Uya Kuya)😀

  5. 5 Alex© Februari 11, 2012 pukul 7:46 pm

    Jadi… gimana ini kelanjutan sinetron soal anggaran dan ruang publik yang mahal itu? Masyarakat Indonesia ini mudah pikun. Besok dilempar isu Mpok Atik ber-3GP dengan vokalis Ungu, juga bakal lupa pada isu begini:mrgreen:

  6. 6 Istighfarin dot com Februari 14, 2012 pukul 6:11 pm

    makin ngelunjak aja anggota dewan sekarang ini. Gak di pusat, gak di daerah. Sama aja,
    Adakah solusi dari ke pura2an mereka ini? Masihkah cocok sistem demokrasi di negara ini?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Januari 2012
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: