Arsip untuk Februari, 2012

Susan Boyle, Tatapan dan Keajaiban

In 2009 the biggest selling album in the world was not by Beyonce  or Lady Gaga, it wasnt by Kings of Leon or U2, it was by unknown, unemployed, lonely woman from Scotland – Opening Susan Boyle : An Unlikely Superstar.

Susan Boyle adalah peserta reality show “Britain’s got talent”. Penampilan Susan yang seadanya membuat Simmon Cowel dan para juri tampak meremehkanya.  Tapi anggapan tersebut hanya bertahan sebentar saja, beberapa detik kemudian seluruh gunjingan sinis, pandangan setengah hati, dan tawa seolah luruh dalam decak kagum saat Susan mulai bernyanyi. Suara Susan membelalakkan mata seluruh orang yang ada disitu, yang kemudian disusul dengan standing ovation dan riuh tepuk tangan yang tidak kunjung henti disusul dengan bantuan Internet yang melejitkan Susan.

Susan Boyle mungkin adalah sebuah guncangan bagi pop culture, dia berusia setengah baya, tidak pernah pacaran, tidak cantik, punya sedikit masalah komunikasi, korban bully semasa sekolah, hidup di kota kecil di Scotland, dan seorang pengangguran jauh dari gambaran “perempuan yang diinginkan” tapi hal itu kemudian sirna melalui kesuksesan album-albumnya yang luar biasa

Dalam tatapan budaya pop, karena alasan diatas, Susan adalah liyan. Tatapan orang lain membekukan Susan dan mencoba merobek dan memperkosa transendensinya. Ketika ditanya “whats your dream?”, “i try to be a professional singer” Susan dihadapkan pada tatapan yang menjadikanya seonggok obyek yang dicibir dan ditertawakan.

Hal itu seperti kebalikan dari tatapan mata pada masa kecil Sartre. Sartre kecil, dalam Les Mots (kata-kata) juga mengalami momen keterjatuhan, pada awalnya tatapan orang lain memuji-muji dirinya sebagai anak yang tampan, tapi setelah rambutnya dipotong, ditambah dengan mata julingnya, Sartre menyadari kejelekan dirinya, tatapan orang lain menjadi tatapan yang menjatuhkanya.

Susan Boyle, sebaliknya, bagaimanapun juga berhasil melampaui Tatapan yang menjatuhkan tersebut. Dia melampaui definisi-definisi dari tatapan mata yang menjadikanya seonggok obyek. Dia menunjukkan tidak perlu menjadi cantik untuk dicintai, kecantikan adalah sebuah mitos. Sekarang -barangkali- yang dihadapinya adalah Tatapan yang menjadikan tubuhnya sebagai komoditi pengeruk dolar.

I Dreamed a Dream yang dinyanyikanya merubah Tatapan padanya sebagai Liyan menjadi seorang Susan yang meggairahkan untuk disentuh dan digeluti.  Si Liyan yang anonim tersebut kini mempunyai nama, dia adalah Susan Boyle, teruslah bermimpi Susan! we’re no longer laughing at you, we’re smiling… with you 🙂

…everyone was laughing at you, no one is laughing now, that was stunning, an incridible performance. (iers Morgan) ….Im thrilled because i knew that everybody was against you, i honesty think that we were being so sinical and that was the biggest wake up call ever. (Amanda Holdern)…

I had a dream my life would be
So different from the hell I’m living
So different now from what it seemed
Now life has killed the dream I dreamed – I Dreamed a Dream

Iklan

“Yang Lain” Dalam ke-“Kita”-an

Perbedaan, apa yang menari darinya? Terkadang perbedaan merupakan suatu kekayaan, tapi dibalik itu perbedaan juga menjadi sebuah alasan untuk mengeliminir yang lain.  Kenapa perbedaan seolah menjadi kata suci bagi yang dominan, yang memiliki power, memiliki akses, untuk menendang yang-bukan-dirinya itu?

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita menemukan bentuk persinggungan dengan “yang lain” (the others, l’autre) tersebut; heteroseksual yang jijik melihat homoseksual, atheis yang di-sesat-kan oleh yang beriman, perempuan yang di-sisih-kan oleh budaya laki-laki, dan lain sebagainya. Perbedaan dari yang lain itu, selain menimbulkan gairah dan rasa ingin tahu juga terdapat rasa takut untuk bersentuhan. Yang Lain dianggap bukan bagian dari “Kita” melainkan “Mereka” sehingga boleh diperlakukan bukan sebagai “manusia”; pemerkosaan dalam tragedi 98, pembantaian 65, mereka cuma -mungkin- dianggap “daging tumbuh”, “perempuan”, “ahmadiyah”, dll.

Permasalahan hubungan dengan yang lain ini rupanya juga menjadi kajian yang menarik. Sartre misalnya, mengatakan kalau hubungan antar individu adalah konflik karena upaya dari tatapan yang saling meng-obyek-kan (ensoi), namun dia juga berkata kalau kebebasan dari orang lain juga harus menjadi tujuan. Sementara itu, Levinas juga mengatakan kalau “wajah” manusia merupakan penampakan yang illahiah, penampakan yang epifani, sehingga melalui sapaanya seseorang yang melihatnya otomatis bertanggung jawab atas “wajah” tersebut. Sejalan dengan Levinas, Rancierre juga berbicara mengenai kesetaraan radikal dimana adanya upaya untuk melawan segala bentuk pembedaan yang seolah dialamiahkan.

Tapi barangkali untuk memahami yang lain tersebut kita tidaklah perlu untuk berpusing-pusing larut dalam pemikiran para tokoh termahsyur diatas, karena perbedaan, bagaimanapun juga akan tetap dan terus hadir dalam kehidupan, entah anda terpelajar atau tidak, kaya atau miskin. Dominasi dalam bentuk total harus selalu ditunda kehadiranya, untuk memberi tempat pada yang lain untuk berbicara.

Yang lain, harus diangkat menjadi subyek, diakui tatapan “wajah”-nya, dan memberi kesempatan pada berbagai tindakan yang bergerak menerobos melampaui perbedaan. Seandainya kita diberi kesempatan melihat santri Suni, Syiah, dan Ahmadiyah bermain petak umpet bersama, tentu akan sangat mengasyikkan bukan?

Perbedaan tidak perlu dilebih-lebihkan, toh dia memang tidak hadir untuk mengejutkan.


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Februari 2012
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors