“Yang Lain” Dalam ke-“Kita”-an

Perbedaan, apa yang menari darinya? Terkadang perbedaan merupakan suatu kekayaan, tapi dibalik itu perbedaan juga menjadi sebuah alasan untuk mengeliminir yang lain.  Kenapa perbedaan seolah menjadi kata suci bagi yang dominan, yang memiliki power, memiliki akses, untuk menendang yang-bukan-dirinya itu?

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita menemukan bentuk persinggungan dengan “yang lain” (the others, l’autre) tersebut; heteroseksual yang jijik melihat homoseksual, atheis yang di-sesat-kan oleh yang beriman, perempuan yang di-sisih-kan oleh budaya laki-laki, dan lain sebagainya. Perbedaan dari yang lain itu, selain menimbulkan gairah dan rasa ingin tahu juga terdapat rasa takut untuk bersentuhan. Yang Lain dianggap bukan bagian dari “Kita” melainkan “Mereka” sehingga boleh diperlakukan bukan sebagai “manusia”; pemerkosaan dalam tragedi 98, pembantaian 65, mereka cuma -mungkin- dianggap “daging tumbuh”, “perempuan”, “ahmadiyah”, dll.

Permasalahan hubungan dengan yang lain ini rupanya juga menjadi kajian yang menarik. Sartre misalnya, mengatakan kalau hubungan antar individu adalah konflik karena upaya dari tatapan yang saling meng-obyek-kan (ensoi), namun dia juga berkata kalau kebebasan dari orang lain juga harus menjadi tujuan. Sementara itu, Levinas juga mengatakan kalau “wajah” manusia merupakan penampakan yang illahiah, penampakan yang epifani, sehingga melalui sapaanya seseorang yang melihatnya otomatis bertanggung jawab atas “wajah” tersebut. Sejalan dengan Levinas, Rancierre juga berbicara mengenai kesetaraan radikal dimana adanya upaya untuk melawan segala bentuk pembedaan yang seolah dialamiahkan.

Tapi barangkali untuk memahami yang lain tersebut kita tidaklah perlu untuk berpusing-pusing larut dalam pemikiran para tokoh termahsyur diatas, karena perbedaan, bagaimanapun juga akan tetap dan terus hadir dalam kehidupan, entah anda terpelajar atau tidak, kaya atau miskin. Dominasi dalam bentuk total harus selalu ditunda kehadiranya, untuk memberi tempat pada yang lain untuk berbicara.

Yang lain, harus diangkat menjadi subyek, diakui tatapan “wajah”-nya, dan memberi kesempatan pada berbagai tindakan yang bergerak menerobos melampaui perbedaan. Seandainya kita diberi kesempatan melihat santri Suni, Syiah, dan Ahmadiyah bermain petak umpet bersama, tentu akan sangat mengasyikkan bukan?

Perbedaan tidak perlu dilebih-lebihkan, toh dia memang tidak hadir untuk mengejutkan.

1 Response to ““Yang Lain” Dalam ke-“Kita”-an”


  1. 1 elfarizi Februari 18, 2012 pukul 8:18 am

    Dalam keyakinan saya, perbedaan itu rahmat. Perbedaan melahirkan warna berbeda yang indah jika saling berdampingan seperti pelangi. Sayang, ego manusia sendiri yang terlalu ingin melihat warnanya menjadi dominasi tanpa dihiasi warna lain. Semoga damai selalu Indonesia🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Februari 2012
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: