Arsip untuk Maret, 2012

Emansipasi Aksi Massa dan Politik

Ada perbedaan mencolok mengenai perihal menyampaikan pendapat di muka umum semenjak runtuhnya orba dari 1998 lalu, para aktivis yang dulu dibatasi kini bisa dengan leluasa menyalurkan aspirasinya. Kerap kita melihat di televisi maupun media massa lainya berita-berita yang bersangkutan dengan demonstrasi dan berbagai hiruk pikuknya. Pertanyaan yang kemudian timbul adalah apakah demonstrasi mempunyai sikap yang emansipatif? Karena sering juga kita mendengar demonstrasi yang disertai dengan kekerasan dan perbuatan anarki. Untuk mencoba menjawab pertanyaan diatas mungkin pada awalnya kita berangkat terlebih dahulu dari pertanyaan lain : apa yang membuat sekumpulan individu secara kolektif melakukan demonstrasi?

Menurut pendapat saya, mengapa sekumpulan individu melakukan demonstrasi tidak dapat dipisahkan sebagai suatu upaya politik untuk mencapai tujuan tertentu. Politik dalam artian ini, tentu saja bukan berarti semata-mata usaha untuk merebut, meraih, mempertahankan kekuasaan dan sebisa mungkin membuat lawan bungkam. Politik yang saya maksud adalah suatu tempat dimana semua orang, siapapun secara sukarela boleh menyampaikan pendapatnya tanpa halangan apapun.

Menurut Budi Hardiman dalam teori Ruang Publik Habermas, ketidakpatuhan warga atau civil disobedience muncul apabila terdapat proses diskursus yang tidak fair dalam hubungan politik …tidak jarang hubungan-hubungan kekuasaan memblokade akses untuk masukan tertentu sehingga sistem politik tidak lagi mampu menyambungkan diri dengan ruang publik[1]. Maka pihak yang dirugikan atau yang hak diskursusnya dihalangi tersebut dapat memprotes, mempertanyakan aturan-aturan yang diskriminatif untuk dibicarakan kembali.

Namun, patut digaris bawahi pula bahwa ketidakpatuhan warganegara tersebut hanya dapat dilakukan dalam kondisi mendesak dan tidak dilakukan diluar konstitusi negara hukum yang berlaku. Hal ini karena ketidakpatuhan warga adalah gerakan moral, yaitu perihal keadilan sekaligus sebagai peringatan agar tidak terputusnya aspirasi dari ruang publik sebagai sumber legitimasi kekuasaan.

Sedangkan menurut Ludwig von Mises, perlawanan terhadap mayoritas atau penguasa –bahkan dengan jalan kekerasan- adalah jalan terakhir bagi “yang lain” atau minoritas disamping sebaiknya mendahulukan jalan intelektual. Penggunaan kekerasan dalam kekuatan negara merupakan upaya terakhir kelompok minoritas dalam usahanya membebaskan diri dari penindasan kelompok mayoritas. Kelompol minoritas yang ingin melihat gagasanya berhasil harus menempuh perjuangan intelektual untuk menjadi kelompok mayoritas….Negara harus dibangun sedemikian rupa sehingga lingkup hukumya menyisakan ruang gerak bagi setiap orang sehingga bergerak leluasa[2].

Menarik untuk dicermati bahwa kedua tokoh yang memiliki perbedaan latar belakang pemikiran sama-sama berusaha untuk memasukkan ketidakpatuhan warganegara, dengan batasan-batasan tertentu kedalam teori mereka. Dari kedua tokoh diatas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa gerakan perlawanan tersebut adalah suatu upaya politis untuk mempertanyakan kebijakan penguasa yang tidak adil, dan upaya tersebut merupakan bagian dari pembelajaran politik dari negara demokrasi.

Kemudian, dimana unsur emansipatif dari aksi tersebut? Sebetulnya jawaban dari pertanyaan ini juga terdapat dari tulisan diatas, yaitu untuk memperjuangkan hak yang diabaikan. Namun demikian mengapa kerapkali aksi demonstrasi justru diwarnai dengan kekerasan? Kerusuhan 1998 lalu misalnya memunculkan perkosaan terhadap Etnis Cina.

Massa dalam artian pelaku kekerasan ini tentu bukanlah massa sebagaimana dibicarakan sebelumya. Sekumpulan manusia menjadi “massa” dalam arti ini, jika mereka bertindak dengan mengabaikan norma-norma sosial yang berlaku dalam situasi sehari-hari[3]. Massa itu berubah menjadi teror yang kemudian merepresentasi musuhnya atau lawanya dengan melakukan kekerasan terhadap “yang lain”.

Bila sudah demikian, maka hilanglah sudah sikap emansipasi sebagaimana yang kita bicarakan sebelumnya. Mengapa? Jawabanya sederhana, karena kekerasan yang dilakukan oleh kelompok manusia tersebut telah mengkhianati tujuan awal mereka sendiri. Mereka tidak lagi memperjuangkan aspirasi melawan penguasa yang dianggapnya otoriter melainkan justru menerapkan sikap otoriter itu sendiri.

Di Indonesia, kebebasan berpendapat tertuang dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 dan perihal menyampaikan pendapat diatur dalam UU nomor 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Hal ini tentu berkaitan dengan pemenuhan hak-hak Sipil dan Politik yang dicantumkan dalam UU nomor 12 tahun 2005 tentang Hak Sipil yang berbeda dengan Hak Ekosob. Dalam pemenuhan Hak Ekosob negara wajib berperan aktif, sedangkan dalam Hak Sipol, campur tangan negara adalah hal yang tidak diinginkan.

Long March dengan tertib

Tidak ada kekerasan dan damai

perwakilan DPRD Semarang membacakan tuntutan

Lewat uraian yang sangat singkat ini tentu kita dapat meraba kapan kita harus mengangguk setuju maupun menolak. Kita tentu setuju bila suatu gerakan massa bertindak dengan tujuan emansipatif, menyalurkan aspirasi yang seringkali tak terdengar otoritas dengan mengingatkan sumber legitimasi kekuasaan negara yaitu rakyat, namun disisi lain kita juga harus waspada dan menolak tiap bentuk kekerasan yang mungkin menyertainya.


[1] F. Budi Hardiman. Demokrasi Deliberatif menimbang negara hukum dan ruang publik dalam teori diskursus Jurgen Habermas. Kanisius. 2009.  Hlm 163

[2] Ludwig von Mises. Menemukan Kembali Liberalisme. Kerjasama Freedom Institute dan Friedrich Naumann Stiftung. 2011. Hlm 70

[3] F. Budi Hardiman. Massa, Teror, dan Trauma Menggeledah Negativitas Masyarakat Kita. Lamalera dan Ledalero. 2011. Hlm 75

Foto dari dokumentasi pribadi

Wajah !

Dia terbangun, dia merasa sedikit gelisah pagi itu, ada sesuatu yang membuat resah hingga membuatnya bangun dari tidur. Dia memercikkan air di muka, setidaknya untuk menghadirkan sedikit rasa tenang, namun sia-sia saja, ketika dia menghadap ke arah cermin, betapa terkejutnya dia, dia sadar kalau dia tidak mempunyai wajah ! Tak ayal hal tersebut membuatnya malu, sebuah kenyataan yang menyesakkan ! “keadaan tidak mungkin jadi lebih buruk” katanya menghibur diri, tapi tak lama kemudian semua memang menjadi lebih buruk, dia sadar kalau juga tidak mempunyai nama!

Dengan mengumpulkan segenap keberanian, pelan-pelan dia mengambil jaket kulit tebal dan pergi keluar. Saat itu sedang musim hujan, dan langit agaknya juga terkejut dengan sosok makhluk yang tidak berwajah dan tidak bernama ini dijalanan kota, hingga turun hujan yang malu-malu membasahi Kota Lubak, sebuah kota yang tenang dengan sedikit taman.

Sambil berjalan menyusuri lorong-lorong kota, Dia mendapati dirinya diamati dan digunjingkan, samar terdengar “hei orang sepertimu harusnya tidak pantas berjalan dikota”, “kau melanggar peraturan Dewa Agung, dasar sesat, terkutuk!” beberapa bahkan lebih buruk, karena anak-anak yang tadinya sedang ceria bermain air hujan begitu melihatnya langsung memasang wajah jijik dari mata polosnya, yang lebih tua mengingatkan untuk berhati-hati dan menjaga jarak, sebuah peringatan secara terang-terangan. Tidak ada yang bisa dia lakukan, selain mengacuhkan dan terus berjalan.

Ditengah pejalanan, dia melihat dengan orang setengah telanjang berambut acak-acakan sedang menari-nari di dekat kuil tempat para dewa, sebuah bentuk penghinaan yang paling besar menurut peraturan kota Lubak yang serba teratur. Orang itu menginjak-injak persembahan dan berusaha meludahi patung dewa sebelum para penjaga menangkap dan menyeretnya. Dari kejauhan sambil berceceran air liur dia berteriak “kamu ! ya kamu, demi mata coklat dan bibir tipismu ! buat apa malu-malu, ayo bergabung denganku, untuk membunuh si pembunuh!” seolah menyadari kehadiranya disitu. Dengan sisa-sisa tenaganya orang itu melemparkan sesuatu ke udara sebelum sebatang tombak menembus dadanya.

Ketika suasana mereda, si tanpa wajah mengambilnya, ternyata sebuah buku kecil bercahaya keemasan, ini adalah buku suci, dia teringat cerita tentang buku itu waktu dirinya masih kecil, pasti orang gila tadi yang mencurinya. Dengan segenap rasa ingin tahu dia membukanya dan dunia tiba-tiba berputar tak tentu arah dan segala disekitarnya menjadi kabur.

—-

hey, berani benar kau membuka buku suci dan sampai ketempatku?” si tanpa wajah terkejut, itu adalah sosok Sang Aku, dewa tertinggi dari semua dewa dengan suara yang megah menggelegar. Dia berusaha menemukan kata-kata yang tepat, “Tuan, kenapa aku tak berwajah dan tak bernama ?”, “ya memang begitulah adanya, kamu tidak pantas berada di keramaian, tubuhmu menimbulkan hasrat yang bisa merusak moral, dan lagi kau tidak punya kekuatan dan kualitas yang cukup untuk bekerja, kau tidak layak mempunyai nama untuk diteruskan pada keturunanmu, percayalah ini demi kebaikanmu”, Kini dia tidak lagi merasa sungkan dan bertanya lantang, “dengan segala hormat, apakah alasan itu juga yang membuat Tuan membolehkan –sebagaimana yang aku saksikan- para bayi kecil tak berdosa yang kau sebut tak pantas tadi dikubur hidup-hidup karena terlahir sepertiku? Atau menjalani hidup dengan segenap rutinitas yang membosankan? Atau menerima tamparan dan pukulan atas kesalahan yang teramat sepele? Atau paksaan untuk memuaskan hasrat para pengikutmu yang bodoh? Atau menerima gunjingan ketika berada ditengah keramaian?”

Ketika berkata-kata dia melirik kearah cermin dibelakang Sang Aku, disudut matanya dia bisa melihat mata coklat dan bibir tipisnya ! wajahnya semakin jelas dalam tiap keraguan dan bantahan pada sang dewa, dia menemukan petunjuk dari kata-kata orang gila tadi, tapi dia tak bisa berlama-lama terpukau melihatnya karena Sang Aku terlanjur gusar. “Kejahatanmu adalah keraguanmu! Kau bersalah karena meragukanKu! Tidak ada hukuman yang lebih pantas selain ketiadaan!”, “apalah artinya ketiadaan, karena aku sudah merasakanya seumur hidupku!” seru si mata coklat lewat bibir tipisnya. Dengan penuh kemarahan, Sang Aku membuatnya sekarat dan mengirimnya kembali ketengah kota.

Tertatih-tatih si mata coklat berjalan. ada tawa dari tubuhnya yang babak belur, dan tawa itu bertambah lebar, tiba-tiba dia ingin menari dan dia pun menari dengan penuh tawa riang, di dekat kuil dewa.

Penjaga kuil sudah memasang wajah waspada dan bersiap menangkapnya, ketika mereka mendekat si mata biru mengumpulkan kekuatanya dan berujar “rantai belenggu tak akan mampu memenjarakanku, juga tatapan matamu! Suatu hari hujan dan matahari di kota ini akan diselingi dengan pelangi” tersengal-sengal kemudian tertawa untuk terakhir kali dan mati sebelum pedang penjaga sempat menyentuhnya.

Tiba-tiba para manusia tak berwajah dan tak bernama bermunculan, mereka bergumam, “lihat, dia Laila, yang membuat malu Sang Aku” mereka mengenali mata coklat itu dan tiba-tiba pula wajah mereka yang tadinya hilang mulai menampilkan hasrat untuk menampakkan diri, sambil lirih mereka berbisik karena mengingat kembali nama mereka; “aku Mariam” “aku Nana” “aku Hannah” “aku Martia” “aku Julia” “aku Astuti” disusul dengan lainya. Mereka, seperti halnya Laila, juga mulai melawan Sang Aku, demi memperoleh sebuah nama dan keluar dari anonimitas.

——

Sang Aku tak pernah lagi bisa tidur dengan tenang. Pelan-pelan di kota Lubak mulai terlihat pelangi.

Rokok Terakhir Ali

Apa arti dari sebuah stasiun? untuk beberapa orang, stasiun adalah tempat yang menyebalkan, yang membuat hidung berdengus kesal, karena tempat itu adalah tempat dimana orang-orang berpisah yang kadang karena diperkosa waku perpisahan itu tidak sempat diselingi dengan peluk hangat atau kecup mesra dijidat. Tapi tidak, tidak buat Ali, setidaknya tidak untuk hari ini.

Seperti ribuan orang tiap harinya, Ali akan mengunjungi stasiun pagi ini. Kali ini stasiun tak lagi tampak seangkuh dan sekejam tiga tahun lalu waktu dia -sebagaimanapulaoranglain- tidak sempat memberi kecup hangat, bukan karena dihalangi rambut poni Martina, melainkan waktu yang memburunya. Toh tiga tahun juga tampak tidak terlalu menyiksanya, rindunya larut dalam rutinitas sehari-hari yang monoton dan membosankan. Dari alasan itu, sulit menerka apa yang membuatnya pergi ke stasiun hari ini.

Sebelum pukul sembilan, Ali sudah bersiap, dia membawa kaos hitam berkerah dengan gambar tim bola kesukaanya dengan sedikit sisa bercak dipunggung meski telah dia cuci bersih-bersih. Ali bersiap menuju stasiun. Televisi dibiarkanya menyala, kebiasaan agar ada suara kehidupan dirumahnya yang sepi tahun-tahun belakangan ini. Kebiasaan yang cukup membantu pada bulan-bulan pertama, namun tak lama kemudian kupingnya menjadi kebal dan tak lagi menghiraukan kocehan si kotak ajaib.

Memasuki peron, Ali juga tak menghiraukan sapaan dengan keramahan yang dibuat-buat para penjual rokok. Dari sudut matanya sekilas dia cuma melihat ada beberapa keluarga yang berkumpul dan menangis haru meraung-raung sambil berpelukan.

Dalam hembusan panjang rokoknya, Ali teringat, waktu dia mengajak Martina pergi sembunyi-sembunyi, bagaimana muka berdua memerah waktu Ali memegang tanganya untuk pertama kali, dan terlebih saat Ali babak belur beradu pukul dengan empat kawan SMA yang membuatnya kehilangan satu gigi seri depan-nya untuk membela Martina. Khusus yang terakhir, Ali sedikit terkekeh, tawa pertamanya hari itu, sebenarnya bukan kejadian besar, tapi karena peristiwa itulah dia mempunyai kebiasaan menyelipkan batang rokok di sela-sela giginya.

Biasanya Ali sudah lupa dengan rasa sentimentil kilasan masa lalu, atau mungkin lebih tepatnya lupa dengan perasaan haru-biru itu, tapi hari ini, sekarang, meski samar, dia ingat.

Sambil duduk Ali membaca koran lusuh yang tergeletak didepanya. Sudah lama sekali sejak Ali membaca koran untuk terakhir kali, alasanya bukan cuma berita-berita koran yang kering, tapi juga rutinitas monotonya. Itu adalah koran terbaru dengan halaman utama tercetak tebal : Seluruh tenaga kerja Indonesia (TKI) yang tenggelam dalam kecelakaan kapal kayu di Perairan Tanjung Ayam, Johor, Malaysia, sudah ditemukan, semuanya dalam keadaan tidak bernyawa.

Ali diam sebentar, dihisapnya rokok mentol dalam-dalam, dia tahu betul kalau itu adalah kapal yang dinaiki Martina. Ali tahu, kalau hidup memang selalu dikepung oleh absurditas yang tak bernama, perlahan dia sadar, alasan itulah yang membuarnya ke stasiun hari ini,sebuah harapan untuk kabur dari absurditas tersebut sekali lagi, dengan menjemput Martina.

Sambil melihat kearah kumpulan keluarga yang menangis berjamaah tadi, Ali membiarkan beberapa kereta lewat dan mengehembuskan angin panas ke wajahnya. Dia mengambil batang rokok terakhir, dan dihisapnya dalam-dalam di sela-sela gigi depanya, meratapi rindunya yang bernasib sama dengan rokok terakhirnya itu. Hisapan terakhir, dan habis, hilang, lalu dibuang… bersamaan dengan stasiun yang mencuranginya sekali lagi.


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors