Rokok Terakhir Ali

Apa arti dari sebuah stasiun? untuk beberapa orang, stasiun adalah tempat yang menyebalkan, yang membuat hidung berdengus kesal, karena tempat itu adalah tempat dimana orang-orang berpisah yang kadang karena diperkosa waku perpisahan itu tidak sempat diselingi dengan peluk hangat atau kecup mesra dijidat. Tapi tidak, tidak buat Ali, setidaknya tidak untuk hari ini.

Seperti ribuan orang tiap harinya, Ali akan mengunjungi stasiun pagi ini. Kali ini stasiun tak lagi tampak seangkuh dan sekejam tiga tahun lalu waktu dia -sebagaimanapulaoranglain- tidak sempat memberi kecup hangat, bukan karena dihalangi rambut poni Martina, melainkan waktu yang memburunya. Toh tiga tahun juga tampak tidak terlalu menyiksanya, rindunya larut dalam rutinitas sehari-hari yang monoton dan membosankan. Dari alasan itu, sulit menerka apa yang membuatnya pergi ke stasiun hari ini.

Sebelum pukul sembilan, Ali sudah bersiap, dia membawa kaos hitam berkerah dengan gambar tim bola kesukaanya dengan sedikit sisa bercak dipunggung meski telah dia cuci bersih-bersih. Ali bersiap menuju stasiun. Televisi dibiarkanya menyala, kebiasaan agar ada suara kehidupan dirumahnya yang sepi tahun-tahun belakangan ini. Kebiasaan yang cukup membantu pada bulan-bulan pertama, namun tak lama kemudian kupingnya menjadi kebal dan tak lagi menghiraukan kocehan si kotak ajaib.

Memasuki peron, Ali juga tak menghiraukan sapaan dengan keramahan yang dibuat-buat para penjual rokok. Dari sudut matanya sekilas dia cuma melihat ada beberapa keluarga yang berkumpul dan menangis haru meraung-raung sambil berpelukan.

Dalam hembusan panjang rokoknya, Ali teringat, waktu dia mengajak Martina pergi sembunyi-sembunyi, bagaimana muka berdua memerah waktu Ali memegang tanganya untuk pertama kali, dan terlebih saat Ali babak belur beradu pukul dengan empat kawan SMA yang membuatnya kehilangan satu gigi seri depan-nya untuk membela Martina. Khusus yang terakhir, Ali sedikit terkekeh, tawa pertamanya hari itu, sebenarnya bukan kejadian besar, tapi karena peristiwa itulah dia mempunyai kebiasaan menyelipkan batang rokok di sela-sela giginya.

Biasanya Ali sudah lupa dengan rasa sentimentil kilasan masa lalu, atau mungkin lebih tepatnya lupa dengan perasaan haru-biru itu, tapi hari ini, sekarang, meski samar, dia ingat.

Sambil duduk Ali membaca koran lusuh yang tergeletak didepanya. Sudah lama sekali sejak Ali membaca koran untuk terakhir kali, alasanya bukan cuma berita-berita koran yang kering, tapi juga rutinitas monotonya. Itu adalah koran terbaru dengan halaman utama tercetak tebal : Seluruh tenaga kerja Indonesia (TKI) yang tenggelam dalam kecelakaan kapal kayu di Perairan Tanjung Ayam, Johor, Malaysia, sudah ditemukan, semuanya dalam keadaan tidak bernyawa.

Ali diam sebentar, dihisapnya rokok mentol dalam-dalam, dia tahu betul kalau itu adalah kapal yang dinaiki Martina. Ali tahu, kalau hidup memang selalu dikepung oleh absurditas yang tak bernama, perlahan dia sadar, alasan itulah yang membuarnya ke stasiun hari ini,sebuah harapan untuk kabur dari absurditas tersebut sekali lagi, dengan menjemput Martina.

Sambil melihat kearah kumpulan keluarga yang menangis berjamaah tadi, Ali membiarkan beberapa kereta lewat dan mengehembuskan angin panas ke wajahnya. Dia mengambil batang rokok terakhir, dan dihisapnya dalam-dalam di sela-sela gigi depanya, meratapi rindunya yang bernasib sama dengan rokok terakhirnya itu. Hisapan terakhir, dan habis, hilang, lalu dibuang… bersamaan dengan stasiun yang mencuranginya sekali lagi.

5 Responses to “Rokok Terakhir Ali”


  1. 2 latree Maret 3, 2012 pukul 2:57 pm

    Bagus dek. Aku suka pilihan kalimatnya.
    Nulis terus biar ga terlalu kaku🙂

  2. 3 Citra Taslim Maret 3, 2012 pukul 5:15 pm

    Jadi Ali sekarang sudah menjemput Martina meninggalkan absurditas?.

  3. 4 gandyss Maret 4, 2012 pukul 12:40 am

    bagus mas.. udah lama nggak blogwalking ke blogmu hehe

  4. 5 syaiful Maret 14, 2012 pukul 10:42 pm

    bikin sedih aja ni cerpen😦
    Tapi bagus juga sih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: