Arsip untuk Mei, 2012

Perempuan, Fesyen, dan Konsumsi

Dibandingkan dengan laki-laki, aktifitas berbelanja dan fesyen lebih dilekatkan pada perempuan. Terlebih ketika televisi dapat dimiliki oleh semua orang dan gemerlap berbagai kontes kecantikan yang diikuti dengan berbagai ragam kolom kecantikan di majalah-majalah wanita. Simmone de Buvoir feminis eksistensialis sebagaimana dikutip oleh Thornham mengatakan “maksud fesyen-fesyen atas mana (perempuan) diperbudak bukanlah mengungkapkan diri sang perempuan sebagai individu independen, tetapi sebaliknya untuk menjadikanya mangsa bagi hasrat laki-laki..”

Pendapat de Buvoir tersebut mewakili para feminis yang banyak mengkritisi determinasi perempuan dari fesyen yang merujuk pada suatu bentuk kecantikan. Determinasi yang tidak ada habisnya tersebut dapat menimbulkan kekerasan yang barangkali sama berbahayanya dengan kekerasan fisik. Kekerasan dari determinasi atas nama kecantikan berbahaya karena berlangsung secara terselubung dan seringkali tidak disadari sehingga perempuan sendiri justru meng-affirmasinya.

Disamping Budaya Fesyen dan Kecantikan yang tampak pada para model dan artis di televisi, Kontes Kecantikan juga mencerminkan betapa perempuan dipandang melalui kriteria tubuh tertentu. Affirmasi dari nilai determinasi tersebut dapat kita lihat dari tekanan pada perempuan untuk meraih kecantikan ala barbie yang mustahil, yang dalam beberapa kasus tertentu bahkan sampai pada obsesi yang menimbulkan anorexia dan Bulimia.

Di era ini, perempuan memang sudah mendapat tempat di ruang publik untuk bekerja dan turut berpartisipasi dalam hal produksi, sebuah dunia yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki. Namun para perempuan yang bekerja tersebut juga tidak luput dari determinasi tersebut, dimana nilai-nilai kecantikan turut dimasukkan kedalam kriteria pekerjaan untuk perempuan dalam bentuk jargon “berpenampilan menarik”.

Perempuan yang walaupun bekerja dan menempati sektor produksi sebagaimana diperjuangkan oleh feminis, terutama feminis liberal dan marxis, dalam konteks ini justru menemui rintangan dimana perempuan lebih dipandang semata-mata sebagai tubuh (komoditas) dan bukan manusia. “Kecantikan” yang dikejar dan dijadikan acuan tidaklah membebaskan melainkan memenjarakan perempuan itu sendiri.

Para perempuan haruslah lebih kritis dalam menyikapi fesyen dan kecantikan yang lebih merupakan kepanjangan dari dominasi patriarki. Munculnya gerakan fesyen alternatif semacam “big is beautiful” maupun fesyen yang androgini dapat diapresiasi sebagai bentuk perlawanan atas kecantikan yang dominan.

Selama perempuan belum menjadi tuan atas tubuhnya, kita akan terus menemukan fenomena gunung es atas pelaporan kekerasan perempuan baik di ruang privat maupun publik, terlebih untuk memasuki dunia politik untuk kemudian menghasilkan peraturan yang lebih sensitif gender. Kita dapat memulainya dengan menjadi konsumen yang rasional, yang tidak silau dengan gemerlap pernak-pernik fasyen maupun jargon-jargon kecantikan.

Yang Politis dan Meta Politik

Bila kita melihat media massa sehari-hari, kita akan menemukan banyak persoalan mulai dari korupsi, intrik pemilu, para calon-calon yang gagal dan pura-pura gila setelah mengeluarkan banyak uang saat pemilihan, pejabat yang tengah disidang di pengadilan karena tercatut korupsi, hingga polah tingkah wakil rakyat dalam hiruk-pikuk studi bandingnya dan itulah kurang-lebih wajah perpolitikan di Indonesia. Sebuah dunia yang rumit dan mahal, yang identik usaha merebut, mempertahankan kekuasaan, dan membungkam yang lain. Apabila kita runtut muaranya bukan tidak mungkin merujuk pada hasil legislasi yang mahal pula, pendidikan misalnya.

Jacques Rancierre seorang filsuf Perancis, membedakan antara Politik dan Yang Politis. Politik mengacu pada praktek kekuasaan dan penubuhan kehendak dan kepentingan yang mensyaratkan adanya subyek yang saling terbelah dan terbagi ke dalam hirarki dalam sebuah ruang bersama yang nyata[1].  Politik ini identik dengan perebutan kekuasaan, sehingga karena gesekan kepentingan tersebut memisahkan antara mana yang menjadi bagian dan mana yang tidak, atau dibungkam.

Sementara itu, Yang Politis adalah kebalikan dari Politik. Sementara Politik melekat dengan kekuasaan yang memilah-milah tersebut, Yang Politis justru adalah usaha-usaha untuk menghadirkan kembali bagian yang dianggap bukan bagian, yang oleh Politik dibungkam keberadaanya. Dengan demikian Yang Politis adalah segenap upaya untuk mengembalikan demokrasi sebagaimana makna katanya : memasukkan bagian-yang-bukan-bagian tersebut ke dalam demos.

Pemisahan antara Politik dan Yang Politis tersebut bukanya tanpa kritik. Menurut Alan Badiou,  karena yang politis ditemukan melalui pemilahanya dari yang durjana (politik), maka kedurjanaan tetap mengkonstitusikan definisi yang politis itu[2]. Dengan kata lain, distingsi antara Politik dan Yang Politis tersebut justru membuat Yang Politis tidak lepas dari Politik, atau terlahir karenanya. Hal ini dapat dimengerti dalam posisi Badiou yang pesimistis terhadap demokrasi, terutama demokrasi liberal yang banyak mengatasnamakan HAM kemudian melancarkan aksi totaliternya[3].

Bagi Badiou, politik bukanlah persoalan separasi antara yang baik dan yang buruk, melainkan politik adalah pikiran itu sendiri. Politik bukanlah sebagaimana yang terdapat pada buku-buku maupun yang diperbincangkan tapi …sekelompok massa yang paham akan kebenaran dari suatu tesis politik egalitarian melalui demonsrasi dan perjuangan riil.[4] Politik imanen (karena bertumpu pada praktek)  ini disebut Badiou sebagai metapolitik.

Bagian bukan Bagian

Kita telah meraba sedikit dari pemikiran Rancierre dan Badiou. Baik Rancierre maupun Badiou sepakat bahwa bagian yang bukan bagian tersebut adalah masalah dari demokrasi. Perbedaan paling mendasar dari keduanya menurut saya adalah bagaimana harapan keduanya terhadap demokrasi. Rancierre berusaha untuk mengembalikan bagian-bukan-bagian pada demos melalui yang politis. Di lain pihak Badiou menganggap demokrasi, terutama demokrasi liberal akan selalu menghadapi masalah “yang tak terhitung” (sebagaimana bagian-bukan-bagian Rancierre), yaitu antara presentasi dan representasi yang ditunjukkanya dalam bilangan himpunan antara keanggotaan dan ketercantuman. Kembali pada demokrasi di Indonesia. Dengan biaya politik yang mahal dan penuh intrik keuntungan, lalu dapatkah yang bagian-bukan-bagian atau yang tak terhitung dapat memperoleh akses aspirasinya? Misalkan dapatkah kaum buruh, memperjuangkan hak politiknya?

Apabila upaya-upaya yang politis, melalui individu-individu lewat jalan demokratis tenggelam oleh kepentingan tertentu –pemodal misalnya-.Sebagaimana yang terjadi dalam reformasi 1998 dimana jatuhnya rezim yang lama, kemudian rezim baru berdiri lewat demokrasi lewat diskursusnya yang selalu timpang, bukankah itu hanya pergantian penguasa tanpa pergantian keadaan? Bila demikian yang terjadi dimana kebenaran dibentuk melalui opini, melalui demokrasi iklan, maka barangkali Badiou dan Plato benar, bahwa demokrasi adalah mimpi buruk.


[1] Robertus Robert. Yang-Politis, Yang-estetis, dan Kesetaraan Radikal Etika Politik Jacques Rancierre. Dalam F. Budi Hardiman dkk. Empat Essai Etika Politikwww.srimulyani.net dan Komunitas Salihara. 2011. Hlm 43.

[2] Martin Suryajaya. Alan Badiou dan Masa Depan Marxisme. Resist Book. Yogyakarta. 2011. Hlm 84.

[3] “Dewasa ini, totalitarianisme demokratis kita semakin kuat menancap”. Ibid hlm 86

[4] Ibid 87


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors