Janji Sofa Amir

Amir setengah terbangun ketika lenganya ditepuk oleh perempuan berbaju serba putih. Setengah tersadar dia berpikir dimana gerangan ini, “tidak mungkin kalau ini dirumah” pikirnya. Meski setengah tersadar amir tau betul kasur dirumahnya, tidak mungkin kasur yang ditidurinya sekarang adalah kasur dirumahnya. Kasur rumahnya dingin kasar dan bau pesing, pesing karena tiap kali Amir pulang ngasong, seringkali dia tidak mandi atau lebih tepatnya tidak bisa mandi, air yang mengalir kerumahnya sama seretnya dengan rejekinya, jarang sekali lancar,  nah bau yang dibawanya selama bekerja itu dibawanya pula pulang toh tidak ada yang memperdulikan tapi kadang ada pula anak-anak tetangga yang kencing dipojokan kamar di rumah yang beralaskan tanah tersebut bukan main gusar istrinya kalo hal itu terjadi. Ani, istrinya pada mulanya memprotes kebiasaan tidak mandi Amir, namun tidak berlangsung lama “mau bagaimana lagi” kilah Amir suatu kali.

Rumah Amir amat sederhana, cuma ada dua ruangan. Yang satu untuk tidur bertiga dan satu lagi ruang depan yang masih kosong.

Seumur hidup, Cuma sekali Amir merasakan tempat seempuk ini, itupun waktu tetangga perumahan sebelah, Ali menyuruhnya untuk mengambil sofa pesanan idaman istrinya. Setelah menaikkan sofa tersebut keatas pick-up Amir lebih memilih untuk duduk dibak belakang, tiduran di atas sofa mahal  sambil menghisap rokok dalam-dalam, tidak dihiraukan asap knalpot perkotaan karena pikiranya melayang-layang suatu hari dia anak dan istrinya duduk di sofa macam itu sambil menonton televisi, sambil mengobrol hal yang tidak penting. Lima belas menit lamanya Amir merasakan jadi orang kaya sebelum mobil pick up yang dikemudikan Imron sampai kerumah Ali.

Sekarang, Kasur yang ditempatinya ini nyaman sekali barang wangi pula, dan Amir kembali tidur dengan lelapnya.

“lihat tuh bapakmu, lelap sekali tidurnya”

“dia memang harus banyak istirahat, umm.. besok kita harus bagaimana bu?”

“ssst jangan ngomong gitu disini” buru-buru dicubitnya lengan kiri anaknya yang gemuk supaya tidak meneruskan omonganya.

“asal Tuhan menghendaki, pasti ada jalan keluarnya kok nak” ujarnya berbisik

Amir setengah sadar mendengarkan percakapan anak dan istrinya tersebut Cuma setengah sadar dan habis itu dia lelap lagi, kini ada kecemasan yang menjalar di dadanya entahlah mungkin insting seorang bapaknya yang berpikir demikian.

Dalam kesadaranya yang terbatas terbayang-bayang ninik, anaknya yang berpipi sintal sebentar lagi akan lulus smp, bangga benar rasanya kalo melihat dia dan istrinya yang jangankan sekolah, bisa membaca pun tidak. Sudah terbayang sebentar lagi dia dan Ani mengambil rapor sambil memakai baju batik kesayanganya, satu-satunya kepunyaanya, yang sebenarnya sudah usang dan berlubang di bagian bawah ketiak.

Entah berapa lama Amir tidak tersadar, dan waktu tersadar tahu-tahu didapati ada selang disana-sini dan disekelilingnya ada banyak orang, imron, ani, ninik, dan beberapa tetangga. Ada suara berisik yang berbunyi tiap beberapa waktu.

“suara apa to?” amir terbata-bata

“suara radio mir, si ani kesini sambil mbawa radio kesayanganmu” ujar imron berusaha mencairkan suasana.

“sudah bapak tidur, istirahat saja”

Amir terbata, berusaha berbicara tapi sia-sia tenaganya tak ada. Baru membuka mulut saja dia sudah tersengal-sengal

“bu aku keluar dulu, pipis” ninik keluar sambil mata berkaca-kaca

 “..ninik..sekolah..ninik..” kata amir sekuat tenaga

“sudah beres kok pak, sudah beres, bapak istirahat saja”

Tidak lama berselang suster mendekat dan memberi tanda jam berkunjung sudah selesai

“disuntik dulu ya pak”

——————————————————————————————–

“gimana bang, si Ali bisa kasih pinjeman?”

“aduh ga enak saya neng, kemaren waktu saya mau kesana tetangga bilang kalau Mas Ali lagi kacau, istrinya  mati kena kecelakaan kapal”

“sekolah ninik gimana? Tadi bang amir sempet ngigau juga”

Ditanya itu tumpahlah air mata Ani yang sedari tadi ditahan-tahanya.

“enggak bang, ninik masih nunggak tiga bulan, tapi uang yang dikumpulin bang amir sudah abis buat biaya disini”

“kemaren saya diundang kesekolah, besok paling lambat katanya,kalo enggak si ninik ga boleh ikut ujian akhir” Ani menambahkan

“yasudahlah Ni, pasrah aja, tawakal, saya keluar dulu mau ngerokok, di ruang tunggu ini ga boleh ngerokok, bisa diomeli suster ntar”

————————————————————————————–

Sorenya, Amir bangun lagi dari tidur ayamnya. Masih didengar suara mengganggu yang Imron bilang tadi radio. Ah Imron sialan batin Amir dalam hati. Sebenarnya Amir pernah melihat alat itu di televisi tetangga, di sinetron yang dia tonton bareng dengan anak-anak imron. Ceritanya tentu saja klise, tak berapa lama si jagoan berhasil bangun dan sehat lagi dan menikah dengan wanita idaman yang cantik.

“gimana?”

Ani paham betul arti dari pertanyaan singkat Amir ini. Kata itu sebenarnya mewakili banyak hal; gimana sekolah Ninik, gimana Ani dan Ninik makan sehari-hari, gimana melunasi utang-utang tetangga, gimana membayar biaya rumah sakit.

“beres kok mas, semua lancar, kalo bapak belum sembuh saya sudah minta tolong Imron buat nganterin Ninik ujian dan mengurus tetek bengek lainya, saya nunggu mas aja disini”

Dengan melihat mata Ani sekilas, Amir paham. Ada yang aneh dari sepasang manusia ini, sepatah-dua patah kata dan tatapan mata saja seolah cukup untuk mewakili semua yang ada di kepala masing-masing.

Amir bangun lagi malamnya, dia mendesah napas panjang dan mengumpulkan tenaga sekuat yang dua bisa. Digerak-gerakkan tanganya, diangkatnya tinggi-tinggi lalu diturunkanya lagi. Baru segitu saja dia sudah kepayahan, tapi Amir tersenyum.

Dia mengingat sewaktu malam pertama dengan Ani, betapa kikuk mereka berdua melakukanya. Betapa bahagianya waktu Ani mengandung Ninik, setelah tiga tahun menikah tidak juga dikaruniai anak, sewaktu melihat Ninik tumbuh dan masuk sekolah, walau untuk itu Amir dan Ani harus lebih sering berpuasa.

Ingatanya melayang kebeberapa waktu lalu, sehabis dia mengatarkan sofa kerumah Ali. Amir pulang kerumah  Bu Hatir, mertuanya, menceritakan mimpinya diatas sofa sambil makan sayur lodeh dengan begitu semangat. Saking semangatnya Amir berjanji kalo akan membelikan sofa seperti punya Ali, meletak-kanya di ruang depan yans masih kosong dan mengajak pula Bu Hatir menikmati sofanya. Ajakan itu sambil mensyaratkan Bu Hatir membawakan pula sayur lodeh buatanya yang sering Amir bilang sayur lodeh paling enak sedunia.

Amir mendesah lagi, mengumpulkan tenaga. Diingat-ingat nya lagi Ani dan Ninik, sesekali Imron juga muncul. Sekuat tenaga Amir bangkit dan dengan kepayahan diincarnya selang-selang yang berdesakan ditubuhnya, sambil tersenyum.

————————————————————-

“sudahlah neng, sudah”

“Tapi kenapa bang, kenapa Mas Amir tega”

“saya tau betul dia neng, barangkali memang sudah bulat keputusanya”

“saya ndak abis pikir bang”

“Amir ada benarnya juga ni, dia pasti paham betul kalo kalian tidak mungkin sanggup membiayai dia lama-lama disitu, belum tentu juga dia bisa selamat, kau tau sendiri kata dokter kemarin jantungnya bermasalah. Bahkan kalau dia sembuh pun belum tentu dia bisa kerja kayak dulu….”

“asal kamu tau ni, dia kerja terlalu keras sampai akhirnya ambruk, dulu tiap kutanya ngapain kerja sampe ngotot gitu Amir cuma senyum-senyum gak jelas”

Ani diam saja, menangis terus.

“lebih baik kamu pikir dulu soal pengajian tujuh hari kedepan dan biayanya Ni, kamu tau dimana akan mengubur Amir?”

Tercenung Ani memandang Ninik, membayangkan anak semata wayang-nya itu mengambil surat kelulusan SMP.

“Nik kamu harus jadi orang besar” bisik ibunya

“Bang Imron, saya tau dimana memakam-kan Mas Amir, satu-satunya tanah kosong yang kami punya…keputusan saya sudah bulat”

Begitulah, Ani membayar uang sekolah Ninik dengan semua uangnya yang tersisa. Dan tidak pernah terlihat ada sofa di ruang depan rumah mereka, yang ada adalah……

nb. cerita ini maaf saya yang mendalam untuk janji saya membeli sofa bersama Eyang Ratih yang belum sempat kesampaian. Beliau berpulang terlebih dahulu pada 4-6-2012

 

3 Responses to “Janji Sofa Amir”


  1. 1 latree Juni 13, 2012 pukul 1:07 pm

    bagus kok dek. tinggal edit ketikan aja. juga sepertinya kalimat ini:
    Ali terbata, berusaha berbicara tapi sia-sia tenaganya tak ada. Baru membuka mulut saja dia sudah tersengal-sengal
    mestinya Amir ya, bukan Ali.

  2. 2 ajeng Juni 17, 2012 pukul 7:35 pm

    ceritamu jangan mati mati seua tokohnya ya besok bikin cerita yang ceria yaa sedih terus ceritanya

  3. 3 ajeng spc Juli 30, 2012 pukul 12:26 am

    blm sampe bikin aku nangis sih tapi bagus kok mas😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Juni 2012
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: