Ke-Manusiaan tanpa manusia

Orang Eropa dapat membeli perempuan Pribumi seperti diriku ini. Apa pembelian ini lebih benar daripada percintaan tulus? Kalau orang Eropa boleh berbuat karena, keunggulan uang dan kekuasaannya, mengapa kalau Pribumi jadi ejekan justru karena cinta tulus?”[1]Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia

“Kowe kira, kalo sudah pake pakaean Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap monyet!”- Tuan Mellema, Bumi Manusia

Apa itu Humanisme? Kata humanisme sering diucapkan dan dan dikutip dimana-mana  tapi apa sebenarnya Humanisme itu? Hal menarik yang diungkapkan disni adalah bahwa humanisme atau kemanusiaan sendiri ternyata sering disalah artikan dengan meniadakan unsur manusia didalamnya, dalam bahasa F. Budi Hardiman yaitu Kemanusiaan tanpa manusia[2].

Manusia sebagai aktor kehidupan dalam Humanisme ternyata dalam titik tertentu melahirkan fasisme, etnosentrisme dan fasisme.  Humanisme sempit ini mengartikan bahwa apa yang dikatakan sebagai manusia adalah manusia dalam takaran-takaran yang ditentukan secara semena-mena oleh pihak tertentu. Hal tersebut dapat kita lihat pada Inkuisisi Gereja pada abad pertengahan, Fasisme Nazi dengan keunggulan Ras Aria-nya maupun kolonialisme Eropa.

manusia dari gambaran Leonardo Davinci

Melalui ukuran tentang “manusia” tersbut, mengeluarkan manusia-manusia lain dari takaran kemanusiaan sehingga melahirkan dikotomi antara “yang beradab” dan “tidak beradab”. Pembagian hukum antara Kulit putih, pedagang asia dan bumi putera di masa penjajahan belanda juga menyiratkan hal tersebut. Masyarakat Eropa disatu pihak, dengan semangat pencerahan beranggapan bahwa dirinya lebih beradab sehingga merasa bahwa manusia selain dirinya bukanlah manusia sepenuhnya atau bahkan bukan manusia sama sekali. Demikian maka imperialisme dan kolonialisme memperoleh kebenaranya atau lebih tepatnya pembenaran sehingga yang lain tersebut boleh dibunuh, diperkosa, ataupun diperbudak. Manusia-manusia dengan huruf “m” kecil, meminjam bahasa Heidegger, yakni manusia bukan sebagai Mitdasein melainkan sebagai Zuhanendes, suatu alat atau benda.

Kemanusiaan tanpa manusia berarti ada “M”anusia dan manusia-manusia dengan huruf “m” kecil dimana manusia-manusia itu dikeluarkan dari konsep abstrak mengenai Manusia. Padahal Universalisasi manusia tersebut bukanlah sesuatu yang alamiah atau kodrati melainkan dibentuk atas kuasa tertentu. Peminggiran terhadap yang lain sebagaimana tampak pada impialisme Eropa menunjukkan bahwa sejatinya tidak ada yang disebut sebagai humanisme, yang ada hanyalah eurosentrisme dimana kemanusiaan dinilai berdasarkan seberapa bergaya eropa-kah seseorang.

Tanpa adanya pengakuan mengenai keberagaman, maka pengakuan akan HAM oleh negara-negara modern sekarang ini sebagaimana tertuang dalam Universal Declaration of Human Right 1948 yang mengikat secara moral (moraly binding) tidaklah dapat dikatakan sebagai suatu kemajuan moral. Agaknya kita harus mengakui bahwa disatu sisi hak-hak liberal dalam UDHR yang melampaui batasan ras, warna kulit, seks, bahasa, agama, politik maupun kewarganegaraan[3] telah banyak berperan dalam kehidupan hari ini, namun disisi lain sifat “Universal” tersebut juga menyimpan bahayanya sendiri dengan menjadi totaliter dan tanpa kritik melalui intervensi-intervensi asing atas nama penegakan HAM maupun ekspansi pasar kapital global yang menggerus solidaritas sosial. Sebagaimana yang dikecam oleh Alain Badiou bahwa Mahkamah Internasional dengan jelas dipersiapkan untuk menangkap dan mengadili, dalam nama HAM siapa saja, dimana saja, yang mencoba melawan Tatanan Dunia Baru yang mana NATO merupakan penjaganya[4], yaitu HAM sebagai instrumen untuk melakukan kastrasi atas the other.

Maka cita-cita besar perihal kemanusiaan tidak dapat berjalan dengan sendirinya, melainkan harus selalu ditimbang melalui dialog dan perjumpaan dengan yang lain. Karena penegakan HAM sendiri tidak dapat dilepaskan dari pengalaman-pengalaman buruk mengenai manusia itu sendiri. Tanpanya, tidak sulit untuk menemukan seseorang dengan nasib seperti Nyai Ontosoroh maupun seorang dengan pola pikir Tuan Mellema, baik di Irak, Afghanistan, Rwanda, maupun tetangga sebelah rumah.


[1] Luapan kemarahan Nyai Ontosoroh di pengadilan Surabaya, karena perlakuan yang berbeda antara Eropa dan Pribumi.Sementara kutipan kedua dari bentakan Tuan Mellema pada Mingke, seorang pribumi dengan pendidikan Eropa setelah mendapati sedang makan malam dengan Annalies, Robert  dan Nyai Ontosoroh. Pramoedya Ananta Toer. Bumi Manusia

[2] Dijelaskan dalam bab 3 F. Budi Hardiman. Humanisme dan Sesudahnya, Meninjau Ulang Gagasan Besar Tentang Manusia. KPG. Jakarta. 2012 yang kemudian saya ambil menjadi judul di tulisan ini.

[3] Everyone is entitled to all the rights and freedoms set forth in this Declaration, with­out distinction of any kind, such as race, colour, sex, language, religion, political or other opinion, national or social origin, prop­erty, birth or other status. Furthermore, no distinction shall be made on the basis of the political, jurisdictional or international status of the country or territory to which a person belongs, whether it be independent, trust, non-self-governing or under any other limita­tion of sovereignty. Article 2 UDHR 1948

[4] Martin Suryajaya. Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme. Resist Book. Yogyakarta. 2011. Hlm 86

0 Responses to “Ke-Manusiaan tanpa manusia”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Agustus 2012
S S R K J S M
« Jun   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: