Medea & KDRT

From all living things which are lives and can form judgement, we woman is the most unfortunate creatures” –Medea[1]

Meski telah berselang lebih dari dua ribu tahun, sayup-sayup ratapan Medea atas perbuatan suaminya, Jason masih dapat kita dengar hingga hari ini. Dikatakan sayup-sayup karena kekerasan dalam rumah tangga masih terselubung dalam tabu sosial dan ketidaktahuan. Medea nanti akan diceritakan dibawah untuk memberikan gambaran tentang perempuan sebagai subyek.

Kekerasan dalam rumah tangga, atau singkatnya KDRT telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penanggulangan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang bilamana terjadi tindak pidana kekerasan dalam lingkup rumah tangga, maka secara otomatis berlaku asa lex spcecialis derrogat lex generalis. Dibandingkan dengan KUHP, UU nomor 23 tahun 2004 memiliki ancaman hukuman yang lebih berat. Munculnya Undang-undang ini dimaksudkan untuk melindungi insan dalam keluarga atas bentuk-bentuk kekerasan, khususnya pada perempuan.[2]

Selain memiliki ancaman hukuman yang lebih berat, UU 23 tahun 2004 juga memiliki artian “kekerasan” yang lebih luas dibandingkan dengan KUHP. Selain kekerasan fisik sebagaimana terdapat dalam artian kekerasan menurut KUHP (Pasal 89) UU Nomor 23 Tahun 2004 mencakup pula kekerasan dari segi psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga (Pasal 5 huruf a, b, c, d). Tindak pidana perkosaan dalam rumah tangga tidak tertuang dalam KUHP. Pasal 285 dan 286 KUHP tidak mencakup pada kekerasan seksual yang terjadi dalam rumah tangga karena bila seseorang telah terikat perkawinan dianggap tidak memerlukan persetujuan melakukan hubungan seksual. Sempitnya artian kekerasan dalam KUHP tidak bisa dilepaskan dari konteks historis lahirnya KUHP yang patriarki dimana yang dilindungi bukanlah perempuan dan tubuhnya melainkan “kepemilikan” atas perempuan (bapak, suami).

Kekerasan dalam rumah tangga tentu tidak dapat dilepaskan dari upaya restitutif, yaitu pemulihan korban kekerasan. Upaya tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2006 Tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang melibatkan instansi-instansi terkait dalam upaya untuk pemulihan korban baik berupa bantuan medis, psikis maupun advokasi. Para korban juga berrhak untuk mendapatkan pemberdayaan sebagaimana tertuang dalam bagian menimbang huruf a Peraturan  Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2011 tentang Pedoman Pemberdayaan Perempuan Korban Kekerasan.

Namun segala bentuk perlindungan maupun upaya restitutif tersebut tidaklah dapat berdiri sendiri tanpa adanya keberanian untuk melaporkan. Hal ini terkait dengan Pasal 51 jo Pasal 44, Pasal 52 jo Pasal 45 dan Pasal 53 jo Pasal 46 dimana tindak pidana kekerasan fisik, psikis dan seksual dalam Pasal 5 merupakan delik aduan, yaitu delik yang penuntutanya hanya dilakukan apabila ada pengaduan dari pihak yang terkena (gelaedeerde partij)[3]. 3Walaupun pada UU PKDRT kebanyakan merupakan delik biasa sebenarnya yang jadi permasalahan adalah sejauh mana perempuan ditengah dominasi patriarki berani mengutarakan permasalahanya sebagai pihak yang paling berhak.

gambar dari wikipidea

Sekarang, marilah kita menengok sebentar kepada ratapan Medea di awal tulisan ini. Medea  telah menyerahkan segalanya termasuk membunuh ayahnya sendiri demi hidup bersama Jason. Dia adalah istri dan ibu yang sempurnya dimana akhirnya dikhianati oleh Jason yang hendak mempersunting perempuan lain, anak dari Creon. Ditengah depresi tersebut, Medea tidak menghiraukan bujuk rayu Jason yang menjanjikan akan tetap menafkahi Medea beserta anak-anaknya karena begitu Jason mencintai orang lain maka hilanglah sudah arti “memiliki” bagi Medea. Untuk membalas perlakuan ini Medea tidaklah membunuh Jason, yang dinilainya terlalu sederhana. Untuk membalaskan dendamnya Medea membunuh anak-anaknya sendiri yang sangat disayanginya dan istri baru Jason.

Jacques Lacan adalah seorang psikoanalis asal Perancis, dimana menurunya subyek manusia tidaklah mungkin tanpa adanya bahasa. Psikoanalisa Lacan,  yang menolak determinisme biologis Freud, mengatakan bahwa diri akan selalu dalam lingkup bahasa setelah menyadari keterpisahanya dengan tubuh si ibu (masuknya anak pada tahap the symbolic dengan mengenal bahasa, hukum, adat istiadat, norma sosial dll karena kerinduanya akan momen kesatuan primordial dengan tubuh ibu).

Menurut Lacan dalam Miller, disinilah saat Medea menjadi Subyek. Dengan membunuh anaknya[4] Medea keluar dari segala sistem simbolik; hukum, norma sosial, termasuk peranya sendiri sebagai ibu. Kisah Medea adalah contoh ekstrim Lacan tentang bagaimana seseorang perempuan dapat menjadi subyek.

Dalam kaitanya dengan kasus KDRT, maka perlu bagi perempuan korban KDRT untuk menemukan keberanianya dan keluar dari tatanan the symbolic (tabu sosial, malu mencoreng nama keluarga besar, rasa tidak ilok, sungkan, dll) untuk melaporkan perkaranya Bila sudah demikian, maka celakalah para suami-maupun pelaku kekerasan lain- yang tidak menyadari Medea dalam diri istrinya![5]

——————————–


[1] Diambil dari Jacques-Alain Miller. On Semblances in the Relation Between the Sexes. hlm 18

[2] bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga, yang kebanyakan adalah perempuan, harus mendapat perlindungan dari negara dan/atau masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman kekerasan, penyiksaan, atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan. Menimbang Huruf (c) UU nomor 23 Tahun 2004

[3] Sudarto. Hukum Pidana I. Yayasan Sudarto d/a Fakultas Hukum Undip. Semarang 2009.hlm 97

[4] For Lacan, the act of a true woman is not necessarily as extreme as Medea’s, but it has the same structure, in that she sacrifices what is most precious to her in order to pierce man with a hole that can never be filled. This is certainly something that surpasses all laws and all human affections, but not because it is played out superficially, as Goethe be­lieved. A true woman explores an unfamiliar zone, oversteps all bound­aries, and if Medea offers us an example of what is bewildering about a true woman, it is because she is exploring uncharted territory, beyond all limits. Op cit Miller. Hlm 19 (garis bawah dari penulis  untuk memperjelas)

[5] Poor men, who do not know how to recognize the Medea in their wives!. Ibid hlm 20

1 Response to “Medea & KDRT”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Agustus 2012
S S R K J S M
« Jun   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: