Mencarikan Perempuan Keadilan

Sampai hari ini persoalan relasi gender dan seks selalu merupakan persoalan yang menarik untuk dikaji, begitu banyak polemik yang dapat disorot dan dicermati dalam berbagai sudut pandang termasuk dianataranya adalah hukum. Mempertemukan antara hukum dan perempuan bukanlah hal yang mudah, dan selalu tidak cukup untuk semata-mata hanya mencermati dari produk yuridis saja. Namun banyaknya bahan kajian antara hukum dan wanita rupanya –dengan sangat disayangkan- berbanding terbalik dengan jumlah peminat, padahal Kampus Hukum Undip sebagai kampus yang progresif menawarkan kelas Hukum dan Wanita dalam bidang minat penjurusan Hukum dan Masyarakat.

            Sebagaimana telah disinggung diatas, membicarakan tentang hukum dan perempuan tidaklah cukup bila hanya melihat secara tekstual saja (law as written in the text) melainkan juga harus melihat dari segi lain misalnya latar belakang sejarah perundangan, karena keadilan untuk perempuan merupakan suatu ironi. Perihal tersebut dapat kita cermati pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Sebelum KUHP berlaku, hukum pidana yang digunakan di masa penjajahan belanda adalah dualisme antara golongan eropa dan pribumi (bumiputera). Sebagai warisan Belanda, ternyata KUHP sangat bersifat patriarki dimana yang dilindungi bukanlah perempuan sendiri sebagai pemilik tubuh melainkan laki-laki sebagai pemilik tubuh perempuan. Hal tersebut tampak apabila kita mencermati pasal-pasal yang khusus melindungi perempuan antara lain pasal 285, 286, 287, 288 dan 297 KUHP. Pasal-pasal tersebut tercantum pada Bab XIV tentang kesusilaan meskipun perumusan pasal-pasal tersebut berkaitan sangat erat dengan adanya perbuatan kekerasan.[1] Dalam sejarahnya, perumusan pasal-pasal tersebut sebenarnya bermaksud untuk melindungi kehormatan keluarga, kehormatan suami atau bapak, maka dari itu rumusan tersebut masuk kedalam kesusilaan karena yang dilanggar adalah nilai kesopanan yang hendak dijaga pada masa itu[2]. Disisi lain lahirnya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 yang hendak menarik partisipasi politis perempuan juga masih jauh api dari panggang, melihat jumlah legislator yang duduk di DPR untuk periode 2009-2014 yang hanya mencapai 17,6% maka sebenarnya kita tidak perlu terlalu terheran melihat banyak undang-undang yang tidak sensitif gender karena pada badan legislatif yang bertugas untuk membuat peraturan sendiri masih didominasi laki-laki padahal laki-laki tidak memiliki pengalaman untuk merasakan atau berada dalam sudut pandang perempuan (menstruasi, melahirkan). Ironi lain dapat kita temukan pula pada pasal 10 UDHR 1948. Apabila pasal 2 mengatakan bahwa hak dan kebebasan tidak membedakan latar belakang manusia termasuk seks maka pasal 10 tentang keadilan dimuka hukum justru menggunakan kata ganti laki-laki (his, him) dalam merujuk kata setiap orang (everyone) Everyone is entitled in full equality to a fair and public hearing by an independent and impartial tribunal, in the determination of his rights and obligations and of any criminal charge against him.”

Kenapa perempuan berada dalam posisi yang lebih tidak menguntungkan daripada laki-laki? Barangkali untuk menjawab tersebut kita dapat melihat bagaiamana konstruksi pola pikir, moral dan budaya oleh laki-laki karena hukum sendiri lahir suatu hasil dari kristalisasi nilai-nilai[3]. Dalam penelitian Pierre Bourdieu atas masyarakat Quibail, mengatakan bahwa laki-laki mendominasi perempuan melalui tatanan simbolik dan melakukan kekerasan simbolik. Dominasi dan kekerasan simbolik tersebut hadir melalui cara-cara yang paling halus[4], amtara lain perihal tata cara hubungan seksual seperti posisi seks dan orgasme palsu, pembagian kerja antara publik dan privat, sampai pada makna-makna terselubung dalam ritual-ritual.

            Lebih lanjut Bourdieu mengatakan bahwa hingga masa kini ada tiga lembaga prinsipil yang terus menerus mereproduksi differensiasi antara maskulin dan feminin serta bagaimana laki-laki diifentifikas dari kemaskulinanya dan perempuan dengan feminin. Tiga lembaga tersebut adalah keluarga, gereja, dan sekolah[5]. Keluarga menghadirkan pengalaman dini tentang separasi, sementara gereja dipandang Bourdieu dihuni oleh para anti-feminisme radikal yang memandang feminitas secara pesimis sehingga dalam penanaman moral oleh gereja, perempuan berada dalam posisi yang inferior, dan sekolah melahirkan para pembut hukum, dokter dan ahli moral yang memperkecil otonomi istri[6]. Dari tiga lembaga tersebut sampailah pada Negara dalam melanggengkan Patriarki Publik yang meresap pada semua institusi.

            Tulisan ini tidak akan memberikan solusi kongkrit perihal bagaimana proyek emasipasi terhadap posisi superior laki-laki atas inferioritas perempuan melainkan suatu bentuk provokasi. Sebagaimana dikatakan Buordieu tentang tiga lembaga yang mereproduksi pengetahuan patriarki; keluarga, gereja (mari kita anggap sebagai tafsir patriarki atas keagamaan karena menurut saya patriarki tidak hanya terdapat dalam gereja saja) dan sekolah. Maka untuk  membuat jadi suatu “peristiwa” kedalam “Ada”, bisa kita mulai pula dari tiga lembaga tersebut, dimana salah satunya adalah kampus, untuk mau mulai membuka diri pada pembicaraan atau membaca literatur perihal gender. Sehingga kita tidak lagi harus berandai-andai diskusi gender maupun kelas Hukum dan Wanita penuh sesak oleh mahasiswa. Maka tunggu apalagi, mari kita mulai!

 


[1] Niken Savitri. HAM Perempuan, Kritik Teori Hukum Feminis Terhadap KUHP. Rafika Aditama. Bandung. 2008. Hlm 104

[2] Ibid hlm 105

[3] Masaji Chiba dikutip oleh Mensky: “…that national legal systems are always underpinned by certain values” Werner Mensky. Comparative Law in a Global Context: The Legal System of Asia and Africa. Cambridge University Press. 2006.Hlm 153

[4] Kekerasan semacam ini sangat lembut, tidak terasa,tidak terlihat bagi korban-korbanya” Pierre Bourdieu. Dominasi Maskulin. JalaSutra. Yogyakarta.2010. Hlm 5

[5] Ibid hlm 120

[6] Ibid  hlm 122

2 Responses to “Mencarikan Perempuan Keadilan”


  1. 1 Grosirfitnes Februari 19, 2016 pukul 4:30 pm

    salam kenal ya.. ayoo di update lg artikelnya..

  2. 2 fendiharis.wagomu.id Maret 29, 2016 pukul 4:04 pm

    wanita itu lembut dan untuk memberikan rasa jangan sampai membengkoknya terlalu keras..🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

September 2012
S S R K J S M
« Agu   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: