Hari Kartini Sebagai Ruang Komoditas Patriarki

Oleh : Rian Adhivira Prabowo[1]

Barangkali sudah menjadi musim, bila tiap tanggal 21 april tiba, orang kemudian berbondong-bondong menulis soal Kartini, beberapa yang lain menulis juga soal perjuangan perempuan Indonesia. Kartini, layaknya mode, fashion, dan lain sebagainya rupanya tidak bisa lepas juga dari perputaran trend, menjadi komoditas, yang menjelang hadir harinya, tiba-tiba bersemerbak dimana-mana : kontes, seminar, dan lain sebagainya.

Kartini, dalam perspektif saya, dengan meminjam istilah sosiolog, etnolog dan antropolog Perancis, Pierre Bourdieu, adalah seorang Agen. Dalam perspektif Bourdieu, seorang agen adalah orang yang mempertanyakan  tegangan antara harapan subyektif dan realitas obyektif. Apabila kebanyakan orang menerima begitu saja habitus dan doxa, maka seorang agen adalah subyek yang berusaha keluar, berusaha mempertanyakan melalui pandanganya yang kemudian behadapan denganr realitas obyektif itu sendiri[2].

Perlawanan yang dilakukan Kartini lebih bercorak subversif daripada frontal[3], melalui surat-suratnya, juga melalui syaratnya ketika dia hendak dipersunting menjadi seorang istri. Sementara para perempuan jawa lainya menerima takdirnya begitu saja, Kartini melakukan perlawanan sebagaimana pula Gadis Pantai dalam roman Pramoedya. Baik Kartini maupun Gadis Pantai sama-sama melawan patriarki aristokrat Jawa, dimana posisi perempuan tidak lebih baik dari kursi, tongkat, maupun keris, perempuan sama dengan barang-barang yang kepemilikan atasnya menunjukkan status sosial (simbolik sosial kapital) pemiliknya – suami. Bedanya, apabila Gadis Pantai baru mempertanyakan posisinya ketika dia terasing dari tempat tinggal, kampung asal, dan terasing dari dirinya sendiri, Kartini sudah berani melawan bahkan ketika dia hendak diperistri. Perlawanan tersebut terus berlangsung bahkan ketika Kartini telah menjadi istri yang tampak pada surat-suratnya yang disatu sisi mengecam patriarki aristokrasi jawa yang meski disisi lain  tampak menyerah karena kecintaan pada bapaknya, Gadis Pantai juga menerima pinangan Priyayi, seorang Bendoro, karena rasa hormat pada orang tuanya, yang kemudian ketika dipisahkan dari anaknya yang baru saja dilahirkan, baru sang Gadis Pantai melawan dengan segala yang dia bisa.

Sebagai seorang Agen perubahan, upaya Kartini dan Pram melalui roman Gadis Pantai-nya untuk merobek patriarki jawa, bukanlah perjuangan sekali jalan. Perempuan modern Indonesia, yang kini sekilas menikmati kebebasan yang dulu dirindukan Kartini : pendidikan, kerja, maupu politik, tetap menyembunyikan bahayanya sendiri. Ketika nilai seolah tersebar dan seseorang bisa mengambil nilai mana yang ia suka, baik feminin maupun maskulin, bahaya kembali muncul karena ditengah kebebasan tersebut nilai yang mapan akan kembali me-maintain dirinya, yaitu maskulin dengan patriarkinya. Kebebasan memperoleh pendidikan, bekerja, maupun dibukanya akses ke politik yang telah tercantum dalam Undang-Undang berjalan berdampingan dengan makin tingginya Kekerasan Terhadap Perempuan baik di ranah publik maupun privat serta minimnya keterwakilan perempuan di lembaga representasi[4].

Namun, penting pula untuk digarisbawahi, ketika semangat Kartini hanya bergema di tiap tanggal 21 april, sehingga dalam intepretasi saya, adalah ruang yang disediakan oleh Patriarki untuk menggemakan kata “emansipasi” yang kemudian sayup-sayup hilang tidak berapa lama ketika “ruang” yang disediakan habis. Jadi, perlawanan terhadap patriarki adalah perlawanan sepanjang waktu, 25 jam sehari, 8 hari seminggu, 5 minggu sebulan dan 370 hari setahun. Menjadikan Hari Kartini sebagai satu-satunya “ruang” untuk mengenang Kartini sama saja membunuh Kartini, menjadikan Kartini sekedar “pajangan” museum, menjadikan Kartini sama seperti perempuan lain di waktu dia hidup : sebagai komoditas, seonggok hiasan kamar patriarki.


[1]  keluarga Komunitas Payung yang diselenggarakan tiap jumat sore di Kantin FH UNDIP.

[2] Penjelasan lebih jauh mengenai konsep-konsep Boudieu dapat dilihat di Richard Jenkins. Key Sociologist : Pierre Bourdieu. Routledge. 1992. New York & London. Hlm 40-65.

[3] Pemaparan perlawanan subversif Kartini dipresentasikan dengan sangat baik oleh Donny Danardono. Ambiguitas dan Kesubversifan Kartini: Relevansinya bagi Politisi Perempuan Indonesia. dalam seminar “Relevansi Gagasan, Pemikiran dan Perjuangan Kartini Tentang Kesetaraan Gender Terhadap Keterlibatan Perempuan dalam Ranah Politik Pada Masa Kini” di Universitas Katolik Soegijapranata, 18 April 2013.

[4] Lihat Catatan Tahunan 2013 Komnas Anti Kekerasa Terhadap Perempuan. Di tahun 2012, Kekerasan yang tercatat mencapai lebih dari 200.000 kasus, hal tersebut juga masih dalam selubung gunung es yang berarti kekerasan yang terjadi jauh melebihi angka yang tercatat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

April 2013
S S R K J S M
« Jan   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: