Pasca Hinggar-Bingar Hari Kartini : Menakar Radikalitas Tindakan Kartini

Oleh : Rian Adhivira Prabowo[1]

Perempuan selalu hilang dan luput dalam narasi sejarah besar gagasan kemanusiaan. Meski berjumlah lebih dari separo jumlah manusia, perempuan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Simmone de Buvoir dalam pengantar The Second Sex mengatakan :

the terms masculine and feminine are used symmetrically only as a matter of form on legal papers. In actuality the relation of the two sexes is not quite like that of two electrical poles, for man represent both the positive and the neutral as indicated by the common use of man to designate human being in general; whereas woman represents only the negative, defined by limiting criteria without reciprocity”[2]

Bagi Simmone, dunia selalu tidak adil bagi perempuan karena ia selalu dinilai berdasarkan dari suatu hal diluar dirinya. Perempuan ditimbang berdasarkan pada ukuran dan sudut pandang laki-laki, pada titik ini perempuan bukanlah seorang subyek yang eksis namun tak lain dari pada obyek. Simmone mengatakan bahwa baik pandangan historis-materialistik marxist sebagaimana yang dilakukan oleh Engels dalam the Origin of The Family, Psikoanalisa –dia merujuk pada terutama Freud- maupun data biologis tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai eksistensi perempuan. Meski mengkritisi ketiganya, Simmone tidak menolak karena ketiganya tetap diperlukan namun eksistensi yang transenden tidak semata melekat didalamnya meski ketiganya juga mempengaruhi bagaimana seseorang dapat eksis[3]. Lebih jauh lagi, Simmone de Beauvoir mengatakan bahwa perempuan tidak hanya tidak eksis, sebagai obyek dan sebagai liyan perempuan juga mengiyakan posisinya sebagai obyek[4] termasuk ketika ia menikah, pembagian pekerjaan dan internalisasi dari posisinya sebagai obyek membuatnya tidak eksis yang ditandai oleh gejala narsistik.

Kartini yang lahir dari aristokrasi feodal patriarki jawa 21 April 1879 Kakeknya, Tjondronegoro adalah seorang yang melek dengan pendidikan dan memberikan putra-putranya pendidikan barat, Ario Sosroningrat, ayahnya adalah satu dari sedikit orang yang menguasai bahasa belanda dengan lancar ayahnya. Sebagai seorang dengan darah bangsawan mengalir di tubuhnya Kartini tidak menerima begitu saja dirinya sebagai obyek. Meski menyerah, ia tetap mengajukan syarat ketika ia dipingit, bahkan setelah menjadi seorang istri tetap melakukan hobi yang paling disenanginya yaitu membaca. Kini 21 April dikenang menjadi Hari Kartini, sebuah hari dimana kata emansipasi didengungkan, bahkan meski ironis, Hari Kartini juga tetap dilaksanakan dimasa Orde Baru Soeharto. Kemudian menjadi pertanyaan disini apakah dengan demikian Kartini telah melakukan perlawanan yang progresif ?  saya kira ada banyak pendapat dan argumentasi soal ini, namun dalam tulisan ini setidaknya saya akan mencoba memaparkan bagaimana tindakan emansipasi Kartini tersebut ditakar.

Menakar Emansipasi Kartini

Barangkali sudah menjadi musim, bila tiap tanggal 21 april tiba, orang kemudian berbondong-bondong menulis soal Kartini, beberapa yang lain menulis juga soal perjuangan perempuan Indonesia. Kartini, layaknya mode, fashion, dan lain sebagainya rupanya tidak bisa lepas juga dari perputaran trend, menjadi komoditas, yang menjelang hadir harinya, tiba-tiba bersemerbak dimana-mana : kontes, seminar, dan lain sebagainya.

Kartini, dalam perspektif saya, dengan meminjam istilah sosiolog, etnolog dan antropolog Perancis, Pierre Bourdieu, adalah seorang Agen. Dalam perspektif Bourdieu, seorang agen adalah orang yang mempertanyakan  tegangan antara harapan subyektif dan realitas obyektif. Apabila kebanyakan orang menerima begitu saja habitus dan doxa, maka seorang agen adalah subyek yang berusaha keluar, berusaha mempertanyakan melalui pandanganya yang kemudian behadapan denganr realitas obyektif itu sendiri[5].

Perlawanan yang dilakukan Kartini lebih bercorak subversif daripada frontal[6], melalui surat-suratnya, juga melalui syaratnya ketika dia hendak dipersunting menjadi seorang istri. Sementara para perempuan jawa lainya menerima takdirnya begitu saja, Kartini melakukan perlawanan sebagaimana pula Gadis Pantai dalam roman Pramoedya. Baik Kartini maupun Gadis Pantai sama-sama melawan patriarki aristokrat Jawa, dimana posisi perempuan tidak lebih baik dari kursi, tongkat, maupun keris, perempuan sama dengan barang-barang yang kepemilikan atasnya menunjukkan status sosial (simbolik sosial kapital) pemiliknya – suami. Bedanya, apabila Gadis Pantai baru mempertanyakan posisinya ketika dia terasing dari tempat tinggal, kampung asal, dan terasin dari dirinya sendiri, Kartini sudah berani melawan bahkan ketika dia hendak diperistri. Perlawanan tersebut terus berlangsung bahkan ketika Kartini telah menjadi istri yang tampak pada surat-suratnya yang disatu sisi mengecam patriarki aristokrasi jawa yang meski disisi lain  tampak menyerah karena kecintaan pada bapaknya, Gadis Pantai juga menerima pinangan Priyayi, seorang Bendoro, karena rasa hormat pada orang tuanya, yang kemudian ketika dipisahkan dari anaknya yang baru saja dilahirkan, baru sang Gadis Pantai melawan dengan segala yang dia bisa.

Kartini sebagai “Agen”

Sebagai seorang Agen, upaya Kartini dan Pram melalui roman Gadis Pantai-nya untuk merobek patriarki jawa, bukanlah perjuangan sekali jalan. Perempuan modern Indonesia, yang kini sekilas menikmati kebebasan yang dulu dirindukan Kartini : pendidikan, kerja, maupu politik, tetap menyembunyikan bahayanya sendiri. Ketika nilai seolah tersebar dan seseorang bisa mengambil nilai mana yang ia suka, baik feminin maupun maskulin, bahaya kembali muncul karena ditengah kebebasan tersebut nilai yang mapan akan kembali me-maintain dirinya, yaitu maskulin dengan patriarkinya. Kebebasan memperoleh pendidikan, bekerja, maupun dibukanya akses ke politik dengan Undang-Undang berjalan berdampingan dengan makin tingginya Kekerasan Terhadap Perempuan baik di ranah publik maupun privat serta minimnya keterwakilan perempuan di lembaga representasi[7].

Karena itu saya lebih memandang Kartini sebagai seorang Agen dalam pengertian sosiologi Bourdieu. Seorang Agen karena alih-alih melakukan perlawanan yang radikal, Kartini justru takluk, perlawanan subversif melalui surat-suratnya tentu jauh dari upaya radikal yang dengan membunuh kedirian diri untuk membentuk suatu tatanan baru, Agen dalam pengetian Bourdieu adalah seorang yang berada dalam tarik menarik antara harapa subyektifnya dengan keadaan obyektif yang terpola dalam habitus di social field tempat ia hidup. Saya mengakui, bahwa dengan tajam Kartini –tidak seperti gadis jawa kebanyakan- menyadari adanya hierarki feodal dalam aristokrasi jawa bagaimana laku-nya harus diatur terpisah oleh rakyatnya, bahkan terasing oleh saudara-saudarinya, dalam suratnya dia mengatakan :

Mengejutkan adat kami orang Jawa. Seorang adikku lelaki maupun wanita tak boleh melewati aku atau kalau to harus melewati dia mesti emrangkak diatas tanah…Duh, Stella kau harus lihat bagaimana di kabupaten-kabupaten lain saudari dan saudara itu bergaul! Mereka itu saudara hanya karena mereka anak dari orang tua yang sama; tak ada ikatan lain yang menghubungkan mereka kecualo darah. Saudara-saudara itu hidup berdampingan seperti orang asing satu terhadap yag lain…”[8]

Namun disisi lain Kartini justru putus asa, alih-alih terus berjuang demi memperoleh pendidikan yang diimpikanya, ia kalah dengan kecintaanya pada bapaknya yang teramat besar :

Namun lebih baik dari pada semua itu seluruhnya adalah Ayahku. Stella, katakanlah aku pengecut, goyah, tapi aku tak dapat berbuat lain kalau Ayah melarang aku berusaha buat itu, betapapun meraung dan merintih hatiku aku akan terima larangan itu dengan tawakal! Keberanianku tidaklah cukup untuk semakin melukai dan makin mendaarahkan hatina…Aku mengarang, melukis, dan melakukan semuanya karena Ayah suka hal ituAku akan sangat berdukacita sekiranya Ayah menentang cita-cita kebebasanku namun aku akan bersedih lagi pabila hasrat paling menyala itu terpenuhi tapi dalam pada itu aku kehilangan cinta ayahku”[9]

Kartini tidak dapat melepaskan dirinya dari tatanan simbolik yang mengitarinya, daripada melawan, Kartini justru takluk, masuk kembali dalam lingkaran pola habitus masyarakat aristokrat feodal Jawa yang dibencinya. Disini Kartini jelas tidak bisa dipersamakan dengan Medea dalam drama Psikoanalisa Jacques Lacan. Lacan mengatakan, bahwa “the true woman” adalah sebuah momen yang mewaktu[10] yang dicontohkan secara ekstrim oleh tindakan Medea.

Medea dan NN : Radikalitas tindakan

Medea merasa cintanya dikhianati oleh Jason, suaminya yang ingin mempersunting istri baru. Meski Jason menjanjikan akan tetap menyayanginya dan anak-anaknya, bagi Medea, kata “memiliki” tak lagi memiliki arti lagi bila Jason menduakanya. Padahal Medea telah mengorbankan segalanya agar dapat hdup bersama Jason, ia mengkhianati ayah dan negaranya, kemudian dengan bantuan dari Pelia, secara tak langsung ia membunuh ayahnya. Dalam posisi demikian pelik -layaknya Kartini- Medea juga menangis, ia kehilangan cintanya, disini keluar ratapanya yang termahsyur : “of all living hings which are living and can form a judgement / We women are the most unfortunate creatures”[11].

Lalu apa yang dilakukan Medea? Tidak, dia tidak membunuh Jason baginya hal tersebut terlampau sederhana dan tak dapat menebus cinta-nya yang hilang. Medea memutuskan untuk membunuh hal yang paling berharga bagi Jason : calon mempelai barunya dan buah hatinya sendiri yang sangat ia dan Jason sayang, hasil perkawinanya dengan Jason. Medea menemani anaknya dengan penuh kasih sayang, sebelum akhirnya mengantarkan mereka dalam liang kuburnya, Medea membunuh buah hati, anaknya sendiri. Dengan melakukanya, menurut Lacan sebagaimana dikutip Miller, Medea justru keluar menembus segala tataran penandaann, merekah, mekar sebagai subyek.

“Thhrough this act, she emerges from her depression. Her whole self is in the act. After this moment, all words are useless and she exits once and fo all from all the register, or the reign of the signifier…a true woman xplores an unfamiliar zone, overseps all boundaries and if Medea offer us an example of what is bewildering about a true woman, it is because she is exploring uncharted territory, beyond all limit”[12]

Dengan kata lain perbuatan tak terduga Medea adalah suatu bentuk tindakan ekstrim bagaimana perempuan sebagai subyek. Tindakan Medea melampaui segala bentuk penandaan, tindakan ini tidak ditemukan dalam Kartini, perlawanan subversif Kartini justru menyerah dalam balutan cintanya pada sang bapak. Unsur radikalitas itu saya temukan dalam tindakan NN, yang –sejauh saya baca- karena dipaksa melakukan hubungan seksual dengan kenalanya di facebook dan dicampakkan setelah diberi uang, NN yang merasa tersinggung kemudian memotong penis M, teman kencan yang telah mempermainkanya hingga penisnya diamputasi tak bisa disambung lagi. Dengan memotong penis M, NN telah membunuh dirinya, meski dalam tingkat radikalitas yang berrbeda dengan Medea yang membunuh anaknya, tindakan NN membuatnya masuk dalam delik pidana yang akan memenjarakanya. Disisi lain, tindakan NN yang mengejutkan tersebut seolah menjadi peringatan bagi laki-laki manapun. Ketakterdugaan M atas perbuatan NN sebagaimana dikatakan Lacan dalam Miller : “poor man who do not know how to recognize Medea in their wives!” sehingga dapat dikatakan betapa malang nasib M yang tak menyadari adanya “ruh” Medea dalam diri NN. Secara tragis dan ironis, tindakan NN telah mengkastrasi secara permanen seseorang yang telah terlebih dahulu mengkastrasi NN.

Kini, kekalahan Kartini sontak dirayakan pada tiap-tiap 21 April, melalui bungkamnya segala sikap kritis perempuan Indonesia dengan mereduksinya sebagai hari berkebaya, kekalahan tersebut juga tampaknya terus dirayakan oleh para priyayi yang menelurkan berbagai peraturan yang mengatur tubuh perempuan diluar dirinya, persis seperti perkawinan kartini yang dipaksakan padanya, terutama melalui seruan kencang moralitas palsu.


[1] Mahasiswa Fakir cinta dan penuh kasih sayang, disajikan dalam diskusi Payung 21 Juni 2012. Pengembagan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Hari Kartini Sebagai Ruang Komoditas Patriarki.

[2] Simmone de Beauvoir adalah seorang eksistensialis perancis dan kekasih dari Jean Paul Sartre. Lihat Simmone de Beauvoir. The Second Sex. Jonathan Cape. London.1967 Hlm 15

[3] Ibid hlm 86

[4] Eksistensialisme Sartre menganggap kondisi ini sebagai Malafide atau Bad Faith yaitu ketika seseorang menyerahkan dirinya untuk dinilai oleh orang lain, ia tidak mengatakan “tidak” pada semestanya yang ketika ia dipandang, didefinisikan oleh suatu hal diluar dirinya.

[5] Penjelasan lebih jauh mengenai konsep-konsep Boudieu dapat dilihat di Richard Jenkins. Key Sociologist : Pierre Bourdieu. Routledge. 1992. New York & London. Hlm 40-65.

[6] Pemaparan perlawanan subversif Kartini dipresentasikan dengan sangat baik oleh Donny Danardono. Kartini, Relevansi dan aktualisasi bagi politik masa kini. dalam seminar “Relevansi Gagasan, Pemikiran dan Perjuangan Kartini Tentang Kesetaraan Gender Terhadap Keterlibatan Perempuan dalam Ranah Politik Pada Masa Kini” di Universitas Katolik Soegijapranata, 18 April 2013.

[7] Lihat Catatan Tahunan 2013 Komnas Anti Kekerasa Terhadap Perempuan. Di tahun 2012, Kekerasan yang tercatat mencapai lebih dari 200.000 kasus, hal tersebut juga masih dalam selubung gunung es yang berarti kekerasan yang sesungguhnya terjadi jauh melebihi angka yang tercatat.

[8] Surat 18 Agustus 1899 ke Estelle Zeehendelaar dari Pramoedya Ananta Toer. Panggil Aku Kartini Saja. Lentera Dirgantara. Hlm 90

[9] Surat 23 agustus 1900 ke Estella Zeehendelaar dalam ibid hlm 57

[10]The true woman can only be invoked case by case, and only at a particular moment” Jacques Alain-Miller. On Semblance Relation Betweenthe Sexes. Hlm 17

[11] Ibid hlm 18

[12] Ibid hlm 19

0 Responses to “Pasca Hinggar-Bingar Hari Kartini : Menakar Radikalitas Tindakan Kartini”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Juli 2013
S S R K J S M
« Apr   Agu »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: