Kereta Jurusan….”Y”

Matahari belum mau tenggelam, tapi begitu shift kerja rampung, Dimas sudah tergesa pulang dari kantor. Ia hendak segera membersihkan diri dan beranjak ke stasiun. Sore tadi handphone-nya berdering, sms dari Eli, sahabat istrinya, yang tinggal di luar kota, begini kiranya bunyi sms itu; “mas Dimas, Lisa sakit keras, sudah tiga hari dia tak sanggup bangkit dari tempat tidur, sudah tiga hari pula ia demam panas tinggi…” belum sempat Dimas balas, masuk lagi sms kedua; “mas, apa ndak bisa pulang nengok Lisa, kedatanganmu akan jadi obat yang murah untuknya, dan barangkali mujarab”

Tak ia balas sms itu, yang ada dipikiranya cuma satu, secepatnya sampai ke stasiun, baginya saat itu, waktu memburu dengan demikian kejamnya. Sampai di stasiun, ditukarnya tiket, dan masuk ke Peron, masih ada waktu ternyata dan seperti biasa, keretanya terlambat datang. Duduklah ia di kursi peron, kakinya tak bisa berhenti bergerak-gerak, kadang ia mainkan kedua tanganya, serba tak jelas Cuma demi membunuh waktu. Tapi cara itu rupanya tak ampuh, perlahan ia teringat bagaimana dia menikah dengan Lisa, empat atau lima tahun yang lalu, dinikahinya perempuan semampai sawo matang dengan mata bulat itu, mertuanya menyambutnya dengan girang, anaknya akan dipersunting orang kota, pegawai negeri kantoran, meski hanya sebagai tukang cap stempel kantor, sebuah pekerjaan priyayi bagi orang desa. Sang mertua yang sudah kepalang bungah itu menjanjikan, bahwa seluruh sawah sekian hektar akan diwariskan pada menantu kebangganya, pada si Dimas. Dimas setuju, tapi ia mengajukan syarat, istrinya tak usah ikut kekota, terlalu bising katanya, tak baik bagi perempuan desa yang polos. Tinggallah sang istri di desa dan Dimas bekerja di kota “x”, tak mesti sebulan sekali menengok istrinya ke desa, mereka beranak dua.

Kereta datang, ia kebagian tempat duduk disebelah jendela, nyaris dibawah pendingin ruangan, asal tau saja, pendingin ruangan di kereta kelas ekonomi bukan sembarang pendingin, ia adalah pendingin ruangan di gedung-gedung yang disulap untuk dipasang di kereta, dan konsekuensinya jelas: tetesan air, beruntung ia tak kebagian basah. Sebelahnya ibu-ibu bau pasar yang gampang tertidur dan dihadapanya, pemuda setengah baya tengah membaca buku.

Dimas duduk memangku ransel, ia pasang kuda-kuda berusaha tidur dengan memeluknya, tapi sia-sia. Ia tak bisa terlelap, bukan karena kereta itu terlalu bising, terlalu penuh dan agak kumuh –ia naik kereta termurah-, lagi ia jadi teringat, Lisa begitu baik, tipikal orang Desa dan orang Jawa yang patuh, tunduk sepenuhnya pada suami. Tak pernah satupun perintah Dimas yang ditolaknya, bahkan, meski empat bulan terakhir kiriman nafkah tak kunjung datang Lisa tak mengungkitnya, begitupula mertuanya, kebanggan pada menantu yang Pegawai Negeri dan orang kota menumpuk dalam kepercayaan pada Dimas. Tak pernah juga Lisa cemberut karena kala pulang, tak pernah ada buah tangan buat dia dan anaknya, seolah semua sudah terlanjur tenggelam dalam prestis.

Kereta tak kunjung sampai, pemandangan diluar sudah tak ada, ditelan matahari yang sudah terlanjur lelah, yang ada hanya fascade gelap diluar sana. Kalaupun ada, yang ada gambaran pilu, pengungsi banjir yang mendirikan tenda nyaris terlalu dekat dengan rel. Hampir tak ada yang menyenangkan buat dilihat dari dalam kereta.

Pernah suatu kali si sulung bertanya padanya, kenapa bapak jarang pulang? Yang keluar adalah jawaban setengah hati, sibuk, kerja, dan jawaban lain sejenis, saat itu dilihatnya si sulung, khas turunan ibunya, koreng di kaki, liur di pipi, dan berbagai pernik lain, sedangkan ibunya, ya…ibunya, sebenarnya Dimas sudah menduga ada yang tak beres dengan ibunya, dari pertama bertemu ia tampak pucat dan kurang bertenaga.

Enam jam yang berasa enam tahun itu usai juga, Dimas keluar kereta, keluar stasiun dan memesan Taxi, mahal sedikit tak apa, sudah tak ada waktu buat angkot. Makan waktu setengah jam sebelum Taxi sampai di sebuah rumah, paling ujung dari deretan rumah-rumah yang lain, tepat berseberangan dengan taman kecil tempat anak-anak main bola tiap sore. Sebelum mengetuk pintu handphonya berdering lagi, Dimas cuma lihat sekilas dan tak menggubrisnya.

ah ayah pulang juga, udah kangen aku, udah seminggu ga pulang”

“ya Tina-ku sayang, kubawakan kau kado tuk anniversary 8 tahun perkawinan kita”

Handphone kembali berbunyi, nada panjang, kali ini telepon

telepon dari siapa sayang?”

“bukan Tina, hape ini sudah mulai rusak, berisik sedari tadi, lebih baik kumatikan saja”

Semarang, 22 Januari 2014

 

5 Responses to “Kereta Jurusan….”Y””


  1. 1 Istanamurah Juni 25, 2014 pukul 4:47 pm

    jurusan yogyakarta ya..😀

  2. 2 nana Februari 2, 2015 pukul 5:17 pm

    mengapa seperti iniiiiiii ceritanyaaa hahh hahhh😦

  3. 3 kutukamus Desember 30, 2015 pukul 12:34 pm

    Dimas suka yang serba luar kota kayaknya ‘Ya’?🙂

  4. 5 Seovenia Maret 22, 2016 pukul 11:31 am

    salam kenal.. baru memulai blogwalking..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Januari 2014
S S R K J S M
« Des   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: