Arsip untuk Mei, 2016

Ngehek dimana-mana

Orang bilang kalau ancaman terbesar di abad 20 ini adalah teroris, beberapa yang lain bilang fundamentalis, separatis, liberalis, dan yang agak lumayan kenceng hari-hari ini, kominis. Padahal, kalau dihitung-hitung, kekuatan is-is itu sebenernya nggak begitu jago. Untuk bikin suatu ancaman keamanan secara nyata, mereka harus bersusah-payah untuk  mengkoordinir orang-orang, lalu mengumpulkan sumber daya baik manusia maupun uang, menyebar jaringan, belum lagi kerja ideologi seperti khotbah dan ceramah, dan kerja-kerja merepotkan lainya. Terbayang, betapa kelompok-kelompok yang kecil itu bergeliat-geliat menggelinjang, apalagi kalau sudah dikejar-kejar dan di kepo-in para indoomi telur , wah ya semakin repot.

Tapi sebenarnya, diluar ancaman-ancaman kroco semacam itu, ada satu pihak yang kalau dihitung-hitung, memiliki potensi ancaman yang jauh lebih besar. Lewat apa? lewat hak monopoli untuk mencetak uang, lalu penguasaan militer, jejaring komunikasi yang luas, dan aturan-aturan yang digunakan untuk membenarkan dirinya sendiri. Siapakah pihak itu? eng-ing-eng, yak anda betul, tidak lain dan tidak bukan adalah negara itu sendiri. Lewat penguasaan sumber daya yang berlimpah dan hak-hak prerogatifnya, negara adalah pihak dengan potensialitas melakukan kekejaman lebih besar daripada is-is yang cupu itu, apapun ideologinya yang dipakai untuk pajangan.

Negara nggak butuh legalitas untuk perbuatanya, hal itu bisa dipikir belakangan, biasanya untuk membenarkan dirinya sendiri (adakah yang menantangi saya meminta contoh?). Setelah ada peraturan yang membenarkan, siapa memangnya yang mau mengadili negara itu kalau instrumenya sudah bodoh? ya ndak ada. Kan sekarang eranya HAM, sekarang HAM itu dijunjung tinggi, dan lain sebagainya.Itu semua gombal mukiyo tai kebo alias bull shit. Jaminan HAM itu bagaikan orang yang lagi butuh jurus maut supaya pacarnya ndak jadi meninggalkanya, seperti kasus Rasyid Ridha, sang jomblowan yang rayuanya konsisten gagal.

Kita-kita ini, rakyat jelata, memangnya bisa apa kalau negara pengen membubarkan diskusi? bilang kebebasan berekspresi? lha wong mereka aparat kok, mereka yang menafsirkan hukum, mereka yang pakai seragam. Kita bisa apa kalau karena pengen trendi dan pakai kaos bermotif tertentu terus lantas ditangkap, diinterogasi dan lain sebagainya? Apa kewenangan kita untuk mengadili? wong lembaga yudisialnya juga diatur sama pengaturan yang ngehek. Lalu mau protes apa kalau mau nobar film dokumenter biar gaul, terus dibubarkan sama ormas. Aparat lalu datang, biasanya telat. Hampir nggak mungkin panitianya lega karena berpikir penyelamat telah tiba, dan mereka akan mengamankan dan membela untuk lanjut nonton. Boro-boro bro! bubar bubar, biasanya karena ndak punya ijin, atau kalau lebih apes lagi, dituduh terindikasi disusupi is-is. Mau sok-sokan mbikin melek masyarakat dan bikin pelatihan? peuh, sama aja, siap-siap disatroni dan dibubarkan. Bersolidaritas? siap-siap aja ditangkap dan dituduh provokator. Pembunuhan massal tanpa pengadilan, pembuangan dan sebagainya?jangan harap ada penyelesaian.Lama-lama, kita butuh ijin buat nobar keluarga final KDI dirumah, butuh ijin buat arisan, butuh ijin buat nongkrong dan makan di kantin, butuh ijin buat pup, buat nyiram pup, buat bernafas. Masih percaya sama jaminan HAM?. Negara punya dalih yang lebih sakti daripada HAM, yaitu : atas nama PEMULIHAN/MENJAGA KETERTIBAN/KESATUAN. Kok kedengaran familiar ya?

dkj_dlm10382168_1016851591678229_594646456049492685_n

Lalu biasanya akan ada orang terpelajar, memakai baju rapi dan rambut klimis pakai pomade, dengan suara bijak bilang, itulah konsekuensi demokrasi, kita harus legowo. Betulkah? NAZI, yang membunuh para Yahudi itu demokratis loh, mereka partai yang memenangi Pemilu. Sambil membetulkan rambutnya, biasanya dia bilang lagi; saya tahu banyak kok soal masalah itu, kan semua ada hukumnya. Kamp konsentrasi, kebiri, juga kamar gas itu juga diatur kok. Apartheid di Afsel juga omong-omong itu sah kok, dibuat berdasarkan hukum yang berlaku. Hukum yang mana?

Apesnya, potensialitas terbesar dari perenggut kebebasan kita itu justru hidup lewat uang kita-kita yang cekak ini. Para birokrat dan borjuis ningrat sering bilang negara itu buat rakyat, tapi yang jarang ditanyakan, rakyat macam apa. Jadi, siapakah pihak yang paling berbahaya? yang punya banyak indoomi telur untuk disebarkan, yang bisa memilih untuk menjaga atau membubarkan diskusi, membatalkan nobar mesra anda, menangkapi dan menyita kaos trendimu, yang punya sistem pengawasan yang luas. Ya, negara ada dimana-mana, jadi dimanapun, siap-siaplah berurusan dan hidup bersama si Ngehek itu.

***

gambar 1 dari sini
gambar 2 dari sini

Dibawah Payung Yang Berisik itu

Dulu sekali, saya pernah coba bikin komunitas membaca kecil-kecilan, yang sifatnya santai dan terbuka. Sayangnya, karena tanggepan yang pada dingin, rencana itu jadi cuma sekedar rencana. Beberapa tahun berselang, tahun 2012, saya ketemu dengan Mas Luluk di Komunitas Tjipian yang waktu itu diadakan di gedung Kompas. Disitupula saya ketemu mas Sy yang ternyata playboy, dan Mas Said yang Asuembarangan. Setengah menantangi, Mas Luluk bilang ke saya, bikin agenda diskusi rutin yuk! 

Sebagai orang panturanan, tentu gengsi untuk mengelak dari tantangan. Dan dari situlah, komunitas aneh terbentuk. Kerjaanya membedah buku dari minggu ke minggu. Orang-orangnya juga bentuknya ndak jelas. Kadang yang katanya ngisi materi malah kabur. Kadang yang pemantik diskusinya datang, tapi pesertanya nggak datang. Tapi karena tantangan panturanan itu, acara tetep jalan. Kekurangan pemateri bisa diakali dengan bikin paper cadangan, kekurangan peserta juga tidak masalah karena peserta bisa dicari dengan model rengasdengklok, atau bahkan walau yang datang hanya 2-3 orang sekalipun, diskusi tetap berjalan. Jadilah tiap minggu secara rutin ada sekumpulan orang di pojokan kantin FH Undip membicarakan apa saja, nyaris tanpa modal uang apapun, mungkin cuma sekedar fotokopi paper, dan nebeng ngudud modal korek saja.Tentu banyak juga ledekan, tapi sebagai komunitas yang aneh, komunitas ini malah ikut meledek dan menertawakan dirinya sendiri. Absurd memang.

Awalnya kami ndak tahu harus menamai apa komunitas ini. Karena memang biasanya diskusi dibawah payung di kantin, asal saja menamainya jadi Komunitas Payung. Dan viola, jadilah nama ini dipakai sampai sekarang.

komunitas-payung

Satu hal yang sangat saya sukai, selain tidak ada uang, disini juga nggak ada senioritas. Yang paling muda sekalipun boleh mengatai yang tua. Kalau pas ada gawe acara, yang kedapetan jadi koordinator ndak cuma dateng nyuruh-nyuruh, tapi juga ikut angkut-angkut. Pada beberapa kesempatan, ketika ada uang rejeki, semuanya malah pada lempar-lemparan pada gak mau nerima atau ngurus. Hasan misalnya, bilang juoh, mbok kiro aku kere? sambil menolak uang itu, meski saya tahu kalau malamnya dia cuma makan nasi dan mendoan dikasih kecap.

Lama-lama, dari komunitas yang terbatas dari soal diskusi saja, agenda kegiatan mulai bertambah banyak. Masih dengan tanpa modal uang, Komunitas ini menjadi bagian dari acara -acara di Semarang, dan terutama dengan ciri khasnya yang selengekan ala-ala pantura dan orang-orang yang aneh di dalamnya.

Rasyid Ridha misalnya, banyak gagasan penting darinya untuk komunitas aneh ini. Dari membuat blog komunitas aneh (sebentar lagi mau ganti domain ke .com katanya), kemudian meluncurkan buletin, belakangan juga lagu-lagu wagu, itu ide dari kang ocid. Cuma memang entahlah, apakah dia sedemikian sayang dengan komunitas ini atau sekedar pelampiasan dari cintanya yang putus ndak jelas. Ada juga Gerry Pindonta, yang belakangan aktif di apa yang dia bilang sebagai seni rupa pertunjukan. Gerry ini gondrong dan konon banyak yang naksir, makanya, Rasyid sering dekat-dekat, berharap ketularan jodoh katanya. Kritik sinisnya kelewat tajem, kadang kayak tanpa perasaan. Ada juga Samuel Bona. Untuk satu ini nyaris ndak perlu diragukan lagi kehebatanya dalam agitasi, dia juga ndak punya udel kalau nantangin orang. Doni Hidayat, mahasiswa kenes yang genit tapi militan. Kelvin Yanto juga harus disebut disini, diantara orang-orang aneh, dia sering diledekin karena aneh. haha. Kelvin ini bersumpah kalau dia tidak akan pacaran sebelum Komunitas Payung bisa jadi komunitas yang mapan dan mandiri secara ekonomi. Kelvin ini juga sering membikin kata-kata mutiara, satu yang saya tidak bisa lupa:

Walaupun aku jomblo, belum tentu aku menikah

418067_3219045594290_1467266437_n

Diluar itu, tentu banyak juga nama-nama lain. Ada Galang Taufan, Gema Ramadhan, Ibnu Hayyan, Dimas Shidiq, Unu Herlambang, Dimas Fahri, Wildan Sukhoyya, Bakhrul Amal, Kurniawan Febry, Rizki Mubarok, Adi Seno, dan lain sebagainya. Tapi dari segi keanehan, memang mereka yang disebut khusus diataslah yang paling menonjol sehingga harus disebut secara khusus. Sekarang, tugas besar ada di bahu mereka-mereka itu. Mereka tengah ada di smester akhir, dan barangkali sebentar lagi akan pulang kampung. Pertanyaanya, apakah komunitas ini akan dilanjutkan? entahlah, biar waktu yang menjawab.

Kalau generasi kedua sukses dengan memanfaatkan media viral, maka tantangan berikutnya adalah studi interdisipliner. Dari komunitas diskusi ke komunitas riset, lalu dari riset jadi aksi. Masih jauh memang, dan mungkin sejauh itulah jodoh Kelvin Yanto yang terikat dengan sumpahnya.

Batas Tipis Pengangguran

Lama sekali rasanya semenjak terakhir ngeblog, ada lebih dari 2 tahun mungkin? Berawal dari iseng-iseng melihat blog ini, yang sudah dikerubungi sarang laba-laba dan kutu dimana-mana, rasanya kangen juga untuk mencoret-coretnya.

Masih dalam rangaka iseng, saya lihat tiap-tiap postingan lama saya dulu, rasanya malu sekali, itu tulisan atau sampah, sok serius tapi gagal, sok sarkas tapi garing, dan sok intelektual ala mahasiswa ngehek lagi orasi di depan gedung DPRD. Tapi sudahlah.

Sekarang saya tengah mencoba menjauhi profesi baru: pengangguran. Setelah selesai menulis tesis yang menghabiskan banyak tenaga itu, saya kni hanya bisa berlindung dibalik tidak kunjung lulusnya studi psikologi. Jadi, jarak saya dengan status pengangguran hanya dipisahkan oleh skripsi yang nyaris selesai setelah 16 smester lamanya.

Sebagai orang nyaris pengangguran, terasa betul rezim normalitas berusaha menaklukan tubuh dan pikiran ini. Hampir setiap hari orang tua menyarankan untuk memotong rambut -yang akhirnya saya lakukan juga-, kemudian mengganti dandanan supaya lebih rapi, lalu setengah mati menyuruh untuk pakai sepatu. Semua itu, konon, sebagai bentuk penghargaan atas diri sendiri. Cuma saya masih sangsi, kenapa seseorang harus diharga dengan cara-cara macam begitu? dan yang lebih penting, seja kapan berambut cepak-rapi, memakai kemeja lengkap dengan sepatu merupakan bentuk penghargaan? pertanyaan yang sama dengan sejak kapan perempuan di nusantara diajarkan untuk malu atas payudara mereka? alamak pusing sekali.

140331bridgegatetfd

Semua kekuasaan katanya dibikin supaya tubuh menjadi sehat dan patuh, supaya produktif. Saya, yang nyaris pengangguran ini, sulit rasanya membayangkan kepatuhan yang monoton itu, seperti Sissyphus yang dikutuki menggelindingkan batu keatas, yang kemudian jatuh, begitu terus berulang-ulang. Tapi entahlah, mungkin usaha monoton itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia? mungkin dtengah kesia-siaan itu, saya harus bayangkan kalau orang yang jadi Sissyphus itu, bahagia.*

 

 

*dua kalimat terakhir diadopsi dari tulisan Alber Camus dalam The Myth of Sissyphus.


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Mei 2016
S S R K J S M
« Jan   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors