Batas Tipis Pengangguran

Lama sekali rasanya semenjak terakhir ngeblog, ada lebih dari 2 tahun mungkin? Berawal dari iseng-iseng melihat blog ini, yang sudah dikerubungi sarang laba-laba dan kutu dimana-mana, rasanya kangen juga untuk mencoret-coretnya.

Masih dalam rangaka iseng, saya lihat tiap-tiap postingan lama saya dulu, rasanya malu sekali, itu tulisan atau sampah, sok serius tapi gagal, sok sarkas tapi garing, dan sok intelektual ala mahasiswa ngehek lagi orasi di depan gedung DPRD. Tapi sudahlah.

Sekarang saya tengah mencoba menjauhi profesi baru: pengangguran. Setelah selesai menulis tesis yang menghabiskan banyak tenaga itu, saya kni hanya bisa berlindung dibalik tidak kunjung lulusnya studi psikologi. Jadi, jarak saya dengan status pengangguran hanya dipisahkan oleh skripsi yang nyaris selesai setelah 16 smester lamanya.

Sebagai orang nyaris pengangguran, terasa betul rezim normalitas berusaha menaklukan tubuh dan pikiran ini. Hampir setiap hari orang tua menyarankan untuk memotong rambut -yang akhirnya saya lakukan juga-, kemudian mengganti dandanan supaya lebih rapi, lalu setengah mati menyuruh untuk pakai sepatu. Semua itu, konon, sebagai bentuk penghargaan atas diri sendiri. Cuma saya masih sangsi, kenapa seseorang harus diharga dengan cara-cara macam begitu? dan yang lebih penting, seja kapan berambut cepak-rapi, memakai kemeja lengkap dengan sepatu merupakan bentuk penghargaan? pertanyaan yang sama dengan sejak kapan perempuan di nusantara diajarkan untuk malu atas payudara mereka? alamak pusing sekali.

140331bridgegatetfd

Semua kekuasaan katanya dibikin supaya tubuh menjadi sehat dan patuh, supaya produktif. Saya, yang nyaris pengangguran ini, sulit rasanya membayangkan kepatuhan yang monoton itu, seperti Sissyphus yang dikutuki menggelindingkan batu keatas, yang kemudian jatuh, begitu terus berulang-ulang. Tapi entahlah, mungkin usaha monoton itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia? mungkin dtengah kesia-siaan itu, saya harus bayangkan kalau orang yang jadi Sissyphus itu, bahagia.*

 

 

*dua kalimat terakhir diadopsi dari tulisan Alber Camus dalam The Myth of Sissyphus.

2 Responses to “Batas Tipis Pengangguran”


  1. 1 elafiq Mei 4, 2016 pukul 10:21 am

    kirain udah lupa password login :)))))😛

  2. 2 alinaun Juni 1, 2016 pukul 9:22 pm

    pfft.. aku juga udah jarang ngeblog. ini aja baru buka lagi setelah berbulan-bulan ^^ dan… yah, reaksinya waktu liat tulisan2 lama juga sama


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Mei 2016
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: