Dibawah Payung Yang Berisik itu

Dulu sekali, saya pernah coba bikin komunitas membaca kecil-kecilan, yang sifatnya santai dan terbuka. Sayangnya, karena tanggepan yang pada dingin, rencana itu jadi cuma sekedar rencana. Beberapa tahun berselang, tahun 2012, saya ketemu dengan Mas Luluk di Komunitas Tjipian yang waktu itu diadakan di gedung Kompas. Disitupula saya ketemu mas Sy yang ternyata playboy, dan Mas Said yang Asuembarangan. Setengah menantangi, Mas Luluk bilang ke saya, bikin agenda diskusi rutin yuk! 

Sebagai orang panturanan, tentu gengsi untuk mengelak dari tantangan. Dan dari situlah, komunitas aneh terbentuk. Kerjaanya membedah buku dari minggu ke minggu. Orang-orangnya juga bentuknya ndak jelas. Kadang yang katanya ngisi materi malah kabur. Kadang yang pemantik diskusinya datang, tapi pesertanya nggak datang. Tapi karena tantangan panturanan itu, acara tetep jalan. Kekurangan pemateri bisa diakali dengan bikin paper cadangan, kekurangan peserta juga tidak masalah karena peserta bisa dicari dengan model rengasdengklok, atau bahkan walau yang datang hanya 2-3 orang sekalipun, diskusi tetap berjalan. Jadilah tiap minggu secara rutin ada sekumpulan orang di pojokan kantin FH Undip membicarakan apa saja, nyaris tanpa modal uang apapun, mungkin cuma sekedar fotokopi paper, dan nebeng ngudud modal korek saja.Tentu banyak juga ledekan, tapi sebagai komunitas yang aneh, komunitas ini malah ikut meledek dan menertawakan dirinya sendiri. Absurd memang.

Awalnya kami ndak tahu harus menamai apa komunitas ini. Karena memang biasanya diskusi dibawah payung di kantin, asal saja menamainya jadi Komunitas Payung. Dan viola, jadilah nama ini dipakai sampai sekarang.

komunitas-payung

Satu hal yang sangat saya sukai, selain tidak ada uang, disini juga nggak ada senioritas. Yang paling muda sekalipun boleh mengatai yang tua. Kalau pas ada gawe acara, yang kedapetan jadi koordinator ndak cuma dateng nyuruh-nyuruh, tapi juga ikut angkut-angkut. Pada beberapa kesempatan, ketika ada uang rejeki, semuanya malah pada lempar-lemparan pada gak mau nerima atau ngurus. Hasan misalnya, bilang juoh, mbok kiro aku kere? sambil menolak uang itu, meski saya tahu kalau malamnya dia cuma makan nasi dan mendoan dikasih kecap.

Lama-lama, dari komunitas yang terbatas dari soal diskusi saja, agenda kegiatan mulai bertambah banyak. Masih dengan tanpa modal uang, Komunitas ini menjadi bagian dari acara -acara di Semarang, dan terutama dengan ciri khasnya yang selengekan ala-ala pantura dan orang-orang yang aneh di dalamnya.

Rasyid Ridha misalnya, banyak gagasan penting darinya untuk komunitas aneh ini. Dari membuat blog komunitas aneh (sebentar lagi mau ganti domain ke .com katanya), kemudian meluncurkan buletin, belakangan juga lagu-lagu wagu, itu ide dari kang ocid. Cuma memang entahlah, apakah dia sedemikian sayang dengan komunitas ini atau sekedar pelampiasan dari cintanya yang putus ndak jelas. Ada juga Gerry Pindonta, yang belakangan aktif di apa yang dia bilang sebagai seni rupa pertunjukan. Gerry ini gondrong dan konon banyak yang naksir, makanya, Rasyid sering dekat-dekat, berharap ketularan jodoh katanya. Kritik sinisnya kelewat tajem, kadang kayak tanpa perasaan. Ada juga Samuel Bona. Untuk satu ini nyaris ndak perlu diragukan lagi kehebatanya dalam agitasi, dia juga ndak punya udel kalau nantangin orang. Doni Hidayat, mahasiswa kenes yang genit tapi militan. Kelvin Yanto juga harus disebut disini, diantara orang-orang aneh, dia sering diledekin karena aneh. haha. Kelvin ini bersumpah kalau dia tidak akan pacaran sebelum Komunitas Payung bisa jadi komunitas yang mapan dan mandiri secara ekonomi. Kelvin ini juga sering membikin kata-kata mutiara, satu yang saya tidak bisa lupa:

Walaupun aku jomblo, belum tentu aku menikah

418067_3219045594290_1467266437_n

Diluar itu, tentu banyak juga nama-nama lain. Ada Galang Taufan, Gema Ramadhan, Ibnu Hayyan, Dimas Shidiq, Unu Herlambang, Dimas Fahri, Wildan Sukhoyya, Bakhrul Amal, Kurniawan Febry, Rizki Mubarok, Adi Seno, dan lain sebagainya. Tapi dari segi keanehan, memang mereka yang disebut khusus diataslah yang paling menonjol sehingga harus disebut secara khusus. Sekarang, tugas besar ada di bahu mereka-mereka itu. Mereka tengah ada di smester akhir, dan barangkali sebentar lagi akan pulang kampung. Pertanyaanya, apakah komunitas ini akan dilanjutkan? entahlah, biar waktu yang menjawab.

Kalau generasi kedua sukses dengan memanfaatkan media viral, maka tantangan berikutnya adalah studi interdisipliner. Dari komunitas diskusi ke komunitas riset, lalu dari riset jadi aksi. Masih jauh memang, dan mungkin sejauh itulah jodoh Kelvin Yanto yang terikat dengan sumpahnya.

1 Response to “Dibawah Payung Yang Berisik itu”


  1. 1 Ketykeket Mei 12, 2016 pukul 5:38 pm

    Ngekek mas baca kata mutiara nya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Mei 2016
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: