Ngehek dimana-mana

Orang bilang kalau ancaman terbesar di abad 20 ini adalah teroris, beberapa yang lain bilang fundamentalis, separatis, liberalis, dan yang agak lumayan kenceng hari-hari ini, kominis. Padahal, kalau dihitung-hitung, kekuatan is-is itu sebenernya nggak begitu jago. Untuk bikin suatu ancaman keamanan secara nyata, mereka harus bersusah-payah untuk  mengkoordinir orang-orang, lalu mengumpulkan sumber daya baik manusia maupun uang, menyebar jaringan, belum lagi kerja ideologi seperti khotbah dan ceramah, dan kerja-kerja merepotkan lainya. Terbayang, betapa kelompok-kelompok yang kecil itu bergeliat-geliat menggelinjang, apalagi kalau sudah dikejar-kejar dan di kepo-in para indoomi telur , wah ya semakin repot.

Tapi sebenarnya, diluar ancaman-ancaman kroco semacam itu, ada satu pihak yang kalau dihitung-hitung, memiliki potensi ancaman yang jauh lebih besar. Lewat apa? lewat hak monopoli untuk mencetak uang, lalu penguasaan militer, jejaring komunikasi yang luas, dan aturan-aturan yang digunakan untuk membenarkan dirinya sendiri. Siapakah pihak itu? eng-ing-eng, yak anda betul, tidak lain dan tidak bukan adalah negara itu sendiri. Lewat penguasaan sumber daya yang berlimpah dan hak-hak prerogatifnya, negara adalah pihak dengan potensialitas melakukan kekejaman lebih besar daripada is-is yang cupu itu, apapun ideologinya yang dipakai untuk pajangan.

Negara nggak butuh legalitas untuk perbuatanya, hal itu bisa dipikir belakangan, biasanya untuk membenarkan dirinya sendiri (adakah yang menantangi saya meminta contoh?). Setelah ada peraturan yang membenarkan, siapa memangnya yang mau mengadili negara itu kalau instrumenya sudah bodoh? ya ndak ada. Kan sekarang eranya HAM, sekarang HAM itu dijunjung tinggi, dan lain sebagainya.Itu semua gombal mukiyo tai kebo alias bull shit. Jaminan HAM itu bagaikan orang yang lagi butuh jurus maut supaya pacarnya ndak jadi meninggalkanya, seperti kasus Rasyid Ridha, sang jomblowan yang rayuanya konsisten gagal.

Kita-kita ini, rakyat jelata, memangnya bisa apa kalau negara pengen membubarkan diskusi? bilang kebebasan berekspresi? lha wong mereka aparat kok, mereka yang menafsirkan hukum, mereka yang pakai seragam. Kita bisa apa kalau karena pengen trendi dan pakai kaos bermotif tertentu terus lantas ditangkap, diinterogasi dan lain sebagainya? Apa kewenangan kita untuk mengadili? wong lembaga yudisialnya juga diatur sama pengaturan yang ngehek. Lalu mau protes apa kalau mau nobar film dokumenter biar gaul, terus dibubarkan sama ormas. Aparat lalu datang, biasanya telat. Hampir nggak mungkin panitianya lega karena berpikir penyelamat telah tiba, dan mereka akan mengamankan dan membela untuk lanjut nonton. Boro-boro bro! bubar bubar, biasanya karena ndak punya ijin, atau kalau lebih apes lagi, dituduh terindikasi disusupi is-is. Mau sok-sokan mbikin melek masyarakat dan bikin pelatihan? peuh, sama aja, siap-siap disatroni dan dibubarkan. Bersolidaritas? siap-siap aja ditangkap dan dituduh provokator. Pembunuhan massal tanpa pengadilan, pembuangan dan sebagainya?jangan harap ada penyelesaian.Lama-lama, kita butuh ijin buat nobar keluarga final KDI dirumah, butuh ijin buat arisan, butuh ijin buat nongkrong dan makan di kantin, butuh ijin buat pup, buat nyiram pup, buat bernafas. Masih percaya sama jaminan HAM?. Negara punya dalih yang lebih sakti daripada HAM, yaitu : atas nama PEMULIHAN/MENJAGA KETERTIBAN/KESATUAN. Kok kedengaran familiar ya?

dkj_dlm10382168_1016851591678229_594646456049492685_n

Lalu biasanya akan ada orang terpelajar, memakai baju rapi dan rambut klimis pakai pomade, dengan suara bijak bilang, itulah konsekuensi demokrasi, kita harus legowo. Betulkah? NAZI, yang membunuh para Yahudi itu demokratis loh, mereka partai yang memenangi Pemilu. Sambil membetulkan rambutnya, biasanya dia bilang lagi; saya tahu banyak kok soal masalah itu, kan semua ada hukumnya. Kamp konsentrasi, kebiri, juga kamar gas itu juga diatur kok. Apartheid di Afsel juga omong-omong itu sah kok, dibuat berdasarkan hukum yang berlaku. Hukum yang mana?

Apesnya, potensialitas terbesar dari perenggut kebebasan kita itu justru hidup lewat uang kita-kita yang cekak ini. Para birokrat dan borjuis ningrat sering bilang negara itu buat rakyat, tapi yang jarang ditanyakan, rakyat macam apa. Jadi, siapakah pihak yang paling berbahaya? yang punya banyak indoomi telur untuk disebarkan, yang bisa memilih untuk menjaga atau membubarkan diskusi, membatalkan nobar mesra anda, menangkapi dan menyita kaos trendimu, yang punya sistem pengawasan yang luas. Ya, negara ada dimana-mana, jadi dimanapun, siap-siaplah berurusan dan hidup bersama si Ngehek itu.

***

gambar 1 dari sini
gambar 2 dari sini

0 Responses to “Ngehek dimana-mana”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Mei 2016
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: