Arsip untuk Juni, 2017

Bunga Ridho

Di suatu negeri yang jauh disana, ada seorang pemuda, Ridho namanya. Di negeri itu, layaknya semua orang, Ridho dibesarkan untuk patuh pada larangan-larangan, dan anjuran untuk melakukan hidup yang baik. Hidup yang baik, dengan berdasarkan pada ukuran-ukuran negeri itu. Tentu, larangan itu ada benarnya, meski sedikit atau banyak, tak banyak orang tahu. Yang jelas, larangan-larangan dan anjuran-anjuran itu memang lebih mirip suatu misteri, dimana tak seorangpun paham, namun terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Tidak seorangpun, ah, barangkali yang lebih tepat adalah “nyaris” seorangpun. Adalah pria berjubah dengan mahkota, hitam-hitam warnanya, yang menjadi rujukan bagi seluruh warga di kota itu untuk menerjemahkan larangan-larangan dan anjuran-anjuran yang maha suci itu. Dia tak sendirian, bersama dirinya terdapat pula serombongan orang, dengan derajat kesucian lebih rendah, membantunya untuk menyampaikan larangan dan anjuran sampai ke pelosok negeri. Tentu, pria bermahkota jauh lebih suci dibanding yang lain, tapi entahlah, semuanya memang serba misterius, karena siapa yang boleh punya mahkota, bagaimana awalnya, dan bagaimana mahkota itu bisa sampai sebagai perlambang kesucian tak seorangpun tahu, atau peduli. Yang jelas semua harus patuh.

Pernah suatu ketika, dalam masa kecilnya Ridho melihat bagaimana seorang dihukum karena tanpa sengaja meludahi kertas bertuliskan larangan-larangan dan anjuran-anjuran yang maha suci itu. Konon, kertas itu memang sudah ada di pinggiran jalan, ketika orang malang itu meludahinya tanpa mengetahuinya. Kebetulan, ada orang yang melihatnya, dan dia pun diurus untuk dihukum. Pria itu digiring beriringan ke pusat kota, tempat orang-orang menerima hadiah karena jasanya, atau seperti si malang, hukuman karena nasib sialnya. Di hadapan kerumuman orang itu, diumumkanlah kejahatanya, dan tanpa pembelaan, setelah orang dengan jubah dan mahkota hitam-hitam memberikan anggukan, dicabutlah dua kuku dari jari kelingking sebelah kiri dan kanan dari si malang itu, yang meronta-ronta sambil menahan tangis. Itu semua dilakukan di hari rabu, hari yang suci ketika si mahkota dan jubah hitam-hitam akan tampil di aula kota dan memberikan tafsiran barunya mengenai anjuran-anjuran dan larangan-larangan suci. Setiap rabu, semua orang diharuskan untuk bersuka cita, pekerjaan harus ditinggalkan sejenak, segalanaya diperbuat untuk menyambut sang mahkota dan jubah hitam-hitam, dengan segala kesucian yang menyertainya.

Meski samar, Ridho masih ingat betul peristiwa itu. Meski memalingkan muka karena tak tahan melihat hukuman yang diberikan, namun pekikan erangan itu menebus telinga siapapun di negeri itu, bahkan yang tak hadir di pusat kota pun tahu, dan ikut merasakan ngerinya dari hukuman itu. Sakit memang sepertinya. Tapi bukankah itu yang seharusnya kriminil dapatkan? Meski nyeri, Ridho turut pula meludahi orang yang kehilangan dua dari sepuluh kehormatanya.

Kuku, bagi orang-orang di negeri itu adalah perlambang kehormatan. Hal itu tertera menjadi salah satu bagian anjuran-anjuran dan larangan-larangan suci. Makanya, setiap orang di negeri itu selalu rajin merawat kukunya. Sebagian bahkan menghiasnya dengan menambahkan warna-warni, juga dengan tanda atau pola tertentu, untuk menjunjukan kedudukanya. Sama misteriusnya seperti anjuran-anjuran dan larangan-larangan suci, tak seorangpun pernah tahu ataupun bertanya, bagaimana kuku harus diperlakukan begitu teristimewa. Yang jelas, tiap hukuman dari kejahatan yang dianggap melecehkan kesucian dari larangan dan anjuran suci akan ditimpakan berupa pencabutan kuku dengan keji. Jumlah kuku yang dicabut bergantung daripada tingkat kejahatan yang dilakukan. Bila seluruh kuku telah habis, maka orang itu lantas dilepaskan lagi ke kerumuman, dimana orang tanpa kuku tersebut boleh diapakan saja, dia boleh dijadikan budak, di siksa, atau di bunuh, semuanya secara cuma-cuma dan tanpa konsekuensi bagi pembunuhnya. Layaknya anjing jalanan yang dipenuhi kudis di kulitnya, yang boleh dibunuh atau diapakan juga.

Sebagai seorang periang, suatu ketika sehabis pulang dari mencari kayu bakar, Ridho berjalan sembari bersenandung. Senandungnya tiba-tiba terhenti, karena di penghujung jalan, dilihatnya sesuatu yang maha cantik di penghujung matanya. Ridho tak kuasa menoleh, dilihatnya sekuntum bunga, tak tahulah apa namanya, namun cantiknya menyihir Ridho hingga ia terus terpana selama beberapa saat, sembari tanpa tersadar berjalan kearahnya. Matanya tertuju pada tiap kelopak yang lentik, dan batang yang gemulai dari bunga itu. Tiap langkahnya mendekatkan dirinya pada suatu yang tak bisa dijelaskan, hatinya berdebar-debar, dan kulitnya berkeringat dengan deras, lidahnya kelu, tegukan tenggorokanya terasa berat, dicobanya untuk menolehkan kepalanya, namun ia tak sanggup. Dilihatnya tangkai bunga yang mungil itu dari kejauhan sembari dengan langkah yang makin mendekat, tubuhnya semakin tak karua-karuan, lekukan kecil di tangkainya, hingga mahkota bunga yang elok, membuat nafasnya memburu. Semuanya serba tak terkendali, hingga langkahnya dihentikan paksa oleh penjaga.

“Kenapa?” ujarnya, si penjaga hanya menunjuk. “Kenapa?” katanya sekali lagi. Sembari mendengus kesal, di tunjuk lah lagi. Ternyata itu adalah tembok suci. Bunga mungil jelita itu tubuh di sela-sela tembok suci itu. Tembok yang berisikan anjuran-anjuran dan larangan-larangan suci, lewat guratan-guratan yang cuma bisa dibaca oleh pria suci dengan mahkota dan jubah hitam-hitam. Tak seorangpun boleh mendekat, supaya tak menodai kesucian daripada tembok itu, katanya. Oleh penjaga, Ridho dipaksa untuk pergi. Ridho pun pergi, sembari menoleh sesekali, pada bunga yang nampaknya selalu mengundangnya untuk datang lagi dan lagi.

Sampai di rumah, Ridho sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi. Ingatanya terus terngiang akan setiap jengkal daripada bunga mungil itu tadi. Dalam kilasan-kilasan yang tak seberapa lama itu, makin lama, makin malam, makin larut, makin tersiksalah si Ridho dari sisa-sisa gambaran dari ingatanya yang sia-sia itu. Dicobanya untuk makan, tapi lidahnya tak lagi mengecap apapun. Dicobanya untuk menutupkan mata, tapi justru ketika itulah bayangan akan bunga itu semakin hadir dan hadir, dalam sahutan merdu yang seolah membawanya kembali ke pojokan tembok suci itu.

Esoknya, dengan mata yang belum sempat terkatup malamnya, pergilah lagi Ridho ke jalan di seberang tembok suci itu. Dilihatnya lagi bunga itu dari kejauhan. Hanya sebentar, kembali Ridho ke rumahnya. Jarak antara dirinya dan si Bunga justru membuatnya semakin merana. Tak habis-habis rasanya Ridho diterpa badai rindu untuk selalu memandang bunga dari dekat. Sialnya, kenapa bunga itu tumbuh di dekat tembok suci. Tapi, kenapa memangnya orang tak boleh mendekat pada tembok suci itu? kenapa aku tak boleh untuk menyapa bunga itu? Pikir Ridho. Pikiran penuh kesia-siaan. Karena satu-satunya penghalang dirinya dengan bunga itu adalah tembok suci yang berisi larangan dan anjuran yang suci, dan dilindungi oleh penjaga yang suci pula. Semua yang suci itu melebur menjadi satu, sebagai perihal yang membuat godaan kerinduan untuk melihat bunga mungil itu semakin hebat. Senandungnya kini hilang. Berganti kemurungan dan diam yang tak tergantikan. Kawan-kawanya menanyakan dirinya, mengapa kini senandungnya hilang sudah, Ridho hanya tersenyum simpul. Sembari pergi berlalu.

Hingga akhirnya, kini Ridho sudah tak lagi dapat menahan gejolak debar di dadanya. Pergilah lagi ia ke jalan di seberang pojokan tembok suci, tempat dimana bunga itu dengan damai memanggil namanya. Ridho berjalan kecil, menjawab panggilan itu dengan senyum yang tertahan, dengan gemetar tangan, dan kaki yang lunglai. Dalam situasi demikian, penjaga sudah menoleh kearahnya, dan sebelum Ridho sampai ke pekarangan dari tembok suci tersebut ditahanlah dia, dan diseretnya, diperintahkan untuk segera pergi. Terseret dan tertohok, Ridho mengangguk, dan hendak pulang. Pulang. Sebelum bunga itu memanggilnya lagi, dan dengan satu langkah yang mantap, berlarilah ia untuk melihat bunga itu dari dekat. Masuklah ia dalam pekarangan tembok suci itu, penjaga yang lengah itu lalu berlari pula mengejarnya. Tidak lebih dari tiga atau empat kejap, Ridho bisa melihat bunga itu dari jarak yang pantas. Menjawab panggilan dari bunga itu. Tiga empat kejap yang membawa senandungnya kembali. Tak lama memang, karena kemudian dia mendapati dirinya telah disergap oleh lima orang penjaga suci. Yang melemparkanya kedalam penjara bawah tanah.

Hari itu hari senin, dan Ridho sudah mendapatkan vonis untuknya, dia telah menodai pekarangan tempat tembok suci yang berisikan ujaran dan larangan suci berdiri selamanya. Selamanya, karena tak seorangpun tahu berapa lama tepatnya. Toh, tak jelas pula bagaimana membuktikanya tentang berapa lamanya. Yang jelas, Ridho kini menunggui dirinya untuk mendapatkan hukuman dari penodaan tempat sucinya itu. Ridho tahu betul, tak ada apapun di dunia ini yang bisa menyelamatkanya. Bahwa kehormatanya tak akan lagi utuh pada esok hari rabu. Bahwa segalanya akan berbeda tepat ketika kukunya dicerabut darinya.

Datanglah rabu, hari ketika seseorang mendapatkan penghakiman atas perbuatanya. Hari itu orang tersebut adalah Ridho. Dalam kegugupan yang gagap itu, takjublah Ridho, melihat dirinya berada tepat di pusat kota. Ia telah melihat beberapa kali hal ini, tapi menjadi pesakitan yang dihukum sebagai pusatnya, ini adalah yang pertama baginya. Sayup-sayup terdengar orang berbicara, dan tatapan-tatapan mata yang tajam menatapnya. Sebagian mengasihaninya, mengatakan bahwa dirinya hanya bodoh. Sebagian yang lain mengecamnya karena menodai tembok suci itu. Tak lama, keluarlah orang dengan mahkota dan baju hitam-hitam. Orang-orang terhenyak atas kehadiranya. Tenggelam dalam aura suci, melalui orang yang suci, yang mengeluarkan titah-titah yang tak kalah sucinya. Dengan satu gerakan yang anggun, dilihatnya Ridho, keduanya bertatapan dalam hening tanpa kata-kata.

Ridho menjalani betul tiap kejap dari hari rabu siang itu. Dalam penantian yang akan membuat dirinya tak sama lagi. Ridho hanya mengingat bagaimana bunga mungil itu, yang dengan cantiknya memanggilnya, dan bagaimana dirinya memenuhi panggilan itu. Lamunan itu sempat pecah. Karena ternyata Ridho dijatuhi hukuman berupa pencabutan lima kukunya. Setengah dari kehormatanya hilang sebagai ganti atas kerinduanya, ganti atas jawabanya atas panggilan dari bunga itu. Ridho kemudian mengalami lagi kejap-kejap yang menyakitkan dari pencabutan daripada setiap kukunya. Di bawah hujaman tatapan orang banyak. Di bawah orang-orang suci yang menjatuhinya  hukuman, atas kenistaan yang melekat padanya. Dirinya kini bukan lagi orang dengan kehormatan yang penuh. Dia hanya punya setengah daripada yang lain. Dalam setiap jabat tangan ataupun salam, orang akan melihatnya sebagai orang dengan kehormatan yang lebih rendah dari yang lain. Bayang-bayang itu menghampirinya. Seusai kuku dari jari kelima dicerabut dan dipisahkan darinya. Dalam sakit yang mengiris, Ridho diam-diam bersenandung.

Dalam hatinya, berarti ia masih bisa satu kali lagi mengunjungi bunga mungil nan jelita di pojokan tembok suci itu. Satu kali lagi. Sambil barangkali sekalian saja meludahi tembok itu.

***

Iklan

Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Juni 2017
S S R K J S M
« Mei   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors