Arsip untuk Januari, 2018

Lelah

Lelahnya, semua orang tanpa henti bicara tentang hadiah surga, dan iming-iming neraka. Kini, semua diukur berdasar agama, hubungan kasih dihalangi oleh tuhan-tuhan yang berbeda, perdebatan ilmu pengetahuan dijawab dengan dalil ayat, kritik dianggap menista, menafsir berbeda diangap menoda. Semua sibuk, dengan waktu yang tersita dari usaha-suaha untuk gapai “murni” nya sendiri. Semua lupa, memangnya yang murni itu ada?

Lucunya, beberapa dekade yang lalu, saat tiran haus darah berkuasa dan memaksa semuanya menjadi mengambang, agama jarang-jarang jadi pertimbangan. Mereka yang kini rajin berteriak soal agama, tak sadarkah bahwa ketika mereka mendaftarkan diri dalam pekerjaan pegawai negeri kala sang tiran kuat perkasa, hampir tak mungkin mereka bisa lolos bila keukeuh mengenakan penutup kepala atau atribut keagamaan lain. Sebenarnya semua sama saja. Dulu mereka membebek rezim tiran yang selalu mendaku sebagai sumber kebenaran, kini mereka membebek kebenaran baru dalam jubah-jubah baru. Cara yang sama, topeng yang beda. Apesnya, orang-orang tak banyak sadar. Atau singkatnya: Bagaimana mereka yang dulu lebih memilih karir daripada agamanya sekarang berpindah arus dan mengutuki orang yang melakukan sebagaimana dia dahulu? Bagaimana bisa mereka yang  menolak sesuatu justru menggunakan sesuatu itu sendiri dengan cara yang lebih ahli?

Tapi taruhlah demikian, bukankah ditindas itu selalu tidak enak? Bukankah ini topengnya saja yang beda, caranya sama? berapa banyak orang yang berteriak paling lantang soal saudaranya seiman di tanah seberang yang ditindas oleh penguasa justru menginjak mereka punya saudara di tanah sendiri hanya karena punya tuhan atau cara menyembahnya yang berbeda? mengapa orang yang menolak paling keras soal rebutan tanah antara dua negara di timur tengah, dimana satu negara merampas kemerdekaan negara lain dengan alasan bahwa itu adalah “tanahnya yang dijanjikan”, justru sibuk merampasi kemerdekaan orang lain di bumi sendiri dengan dalih bahwa yang dilakukanya adalah sesuai dengan janji-janji kitab sucinya? dan bahwa yang kemerdekaanya dirampas adalah mereka yang nista dan sesat? Bagaimana bisa mereka yang  menolak sesuatu justru menggunakan sesuatu itu sendiri dengan cara yang lebih ahli?

Ada juga, kelompok orang-orang yang suka sekali mencari pembenaran yang seolah masuk akal, sembari mengutip dan menjual kutipan dari sarjana-sarjana besar ilmu alam, sembari memperkosanya dari konteks-konteksnya, kutipan itu dicocok, disesuaikan, degan keperluan-keperluan cara bacanya, menjadi pembenaran-pembenaran pendakuan sucinya, barangkali tanpa pernah tahu, bahwa ada masa ketika ilmu pengetahuan harus tunduk dari penafsiran kitab suci, dan bahwa mereka yang menyuarakan kebenaran harus dibunuhi, harus dibakar, harus hilang? mereka lupa, bukankah iman itu selalu tak masuk akal, bukankah keajaiban itu selalu misteri dan tak perlu sesungguhnya pembenaran dari luar dirinya? Lucunya, beberapa masih menggunakan alasan yang sama buat membenarkan tafsirnya atas kitabnya. Mereka lupa, hanya beberapa waktu lalu, di tanah-tanah seberang, dahulu orang kulit hitam direndahkan, salah satu alasanya adalah lewat bacaan kitab suci yang digunakan untuk membenarkanya, kini semua berubah, perbudakan dihapuskan dan perbuatan demikian dicela. Semua orang memujinya, termasuk disini. Tapi disini, orang-orang wandu, banci, dan homoseks dikejar lewat cara yang sama dengan rezim yang dulu menindas orang kulit hitam yang pembebasanya mereka puja, yang pengetahuan sendiri berkata para wandu dan kawanya sesungguhnya bukan suatu apa, tapi lewat alasan yang melulu suci-suci, mereka hendak dikebiri. Bagaimana bisa mereka yang  menolak sesuatu justru menggunakan sesuatu itu sendiri dengan cara yang lebih ahli?

Lelahnya, semua berputar dan berkunang, semua berteriak dan semua memaksa. Apa semua harus sama? apa beda itu dosa? tak bisakah kita tak melulu mendongak keatas, tak bisakah kita bertuhan dengan tenang, bersuci dalam remang, dan berdoa dalam sayang? tak bisakah kita letakkan urusan tuhan-tuhan, suci-suci, surga-surga, neraka-neraka, dosa-dosa, pahala-pahala, sesat-sesat, dalam hati dan benak, dalam masing-masing punya kepala sahaja. Lupakah, bahwa dahulu pernah ada orang bijak setengah buta berkata, bahwa “Ia, tak perlu dibela”?. Sepertinya, Ia yang buta, melihat lebih terang dibanding mereka dengan dua mata yang selalu sibuk haus menabuhi genderang perang. Entahlah, dalam peluh dosa ini, ditengah nyaring bising ini, saya lelah.

 

 


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya

Januari 2018
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

my tweets @rianadhivira

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

wordpress visitors