Arsip untuk April, 2018

dua puluh

ini dua puluh.
punya kita.
yang kadang terucap namun lebih sering tertahan.

ini dua puluh.
masih punya kita.
dulu dalam marun.
yang membuat waktu jadi tak terhingga.
yang tetap membara meski di tengah gelap yang rabun.

kataku, “tunggulah di barat sana”.
tapi agaknya tak semua pesan dapat sampai tanpa hambatan.
dan Barat yang buas lagi beringas.
mengoyak tanpa ampun tiap pesan yang setengah jalan.

tapi, semoga ia masih akan selalu ada;
dua puluh. yang selalu kita punya.
untuk kesekian kalinya.

tunggulah,
di Barat,
Karena ku kan kesana,
bersama, menyambut dua puluh kita,
yang terkandung kidung rindu dan sendu, yang berat.

Pejam

Kala itu senja. dan penuh harap, ku pejamkan kedua bola mata,

sembari menghitung; satu, dua, dan tiga, lalu kubuka,

dan kau pun muncul dengan gelak tawa, menyambut dengan senyum dan mata penuh bunga.

“ayo pulang”, katamu. sembari kau pegang tanganku, sembari berjalan dalam berdendang. kita berdua, terbang, dengan kepak sayapmu, kita pulang, ke peraduan.

sesampainya, kita pun bersatu dalam khilaf yang berpeluh, dalam birahi yang nyaris tanpa keluh, dalam cinta yang penuh. di waktu yang luruh.

lalu, dalam lelah, aku kan terpejam, lagi. bersamamu. dengan namamu di desahku, di dekatku, di dekapku,

pagi tiba, matahari tiba, kau pun menggeliat, dan dalam pejam, kembali aku menghitung; satu, dua, dan tiga,

dan kau masih di sana, dengan mata, tawa, dan senyum yang sama.

kini, masih di sudut ibukota dan dengan hati yang sama, kembali, ku pejamkan mata, dan mulai berhitung,

hanya saja, kini, entah sampai berapa.

kini, detak degupmu masih jelas terasa, begitu pula rambut dan aroma, dan tanganmu, di tanganku, bergelayut dalam rindu yang terbata,

kini, masih terasa, corak keningmu di bibirku waktu ku kecup dalam sayang, masih pula terasa, bibirmu kala mengukir leherku dalam cupang, dalam cinta dan birahi yang menjulang.

kini, aku masih terpejam dan mengitung, tapi kini, entah sampai berapa.

karena apa artinya bila ku buka mata dan ternyata kau tak ada? apa makna dari rembulan yang cuma punya kita berdua, bila kau tak bersamaku di sana?

kini, aku masih menghitung, hanya kini, entah sampai berapa.

yang kutahu, aku tak perlu lagi bertanya penuh terka, karena bila kubuka ini kedua mata, tanpa kira-kira, kupastikan bahwa surga itu memang tak ada.

Bulan

sayang, ayo, pegang pinggulku, dan naiklah sapu ajaibku.

kencangkan pelukmu, karena kita akan naik, naik, naik, sampai ke bulan.

di sana, kita kan tertawa,

melihat bumi berputar,

sambil diam-diam, kucuri pandang dari matamu yang berbinar.

di sana, kita kan tertawa,

melihat mereka di bumi yang fana berebut agama. merasa mana yang paling benar.

melihat konyolnya hukum-hukum negara, sembari kebencian terus ditebar.

lupa, bahwa kita hanya kebetulan saja hidup diatas batu yang mengambang di berantah angkasa, berputar,

di sana, kita kan tertawa,

menyambut matahari bersinar, sembari tanganku di pundakmu, melingkar.

diam-diam pula, kan ku patahkan sapuku, dengan sengaja.

supaya kita bisa terus tertawa,

bersama,

di pagi dan malam yang berbeda dengan mereka, di bulan yang cuma punya kita berdua,

kita kan rayakan setiap detik dari gerhana, dengan cium basah yang memburu dan membara,

berdua,

dan,

tanpa perlu lagi kita harus menengadah ke atas penuh terka, bertanya, surga itu ada dimana.

Bella – Pablo Neruda

Bella,

como en la piedra fresca
del manantial, el agua
abre un ancho relámpago de espuma,
así es la sonrisa en tu rostro,
bella.

Bella,
de finas manos y delgados pies
como un caballito de plata,
andando, flor del mundo,
así te veo,
bella.

Bella,
con un nido de cobre enmarañado
en tu cabeza, un nido
color de miel sombría
donde mi corazón arde y reposa,
bella.

Bella,
no te caben los ojos en la cara,
no te caben los ojos en la tierra.
Hay países, hay ríos
en tus ojos,
mi patria está en tus ojos,
yo camino por ellos,
ellos dan luz al mundo
por donde yo camino,
bella.

Bella,
tus senos son como dos panes hechos
de tierra cereal y luna de oro,
bella.

Bella,
tu cintura
la hizo mi brazo como un río cuando
pasó mil años por tu dulce cuerpo,
bella.

Bella,
no hay nada como tus caderas,
tal vez la tierra tiene
en algún sitio oculto
la curva y el aroma de tu cuerpo,
tal vez en algún sitio,
bella.

Bella, mi bella,
tu voz, tu piel, tus uñas
bella, mi bella,
tu ser, tu luz, tu sombra,
bella,
todo eso es mío, bella,
todo eso es mío, mía,
cuando andas o reposas,
cuando cantas o duermes,
cuando sufres o sueñas,
siempre,
cuando estás cerca o lejos,
siempre,
eres mía, mi bella,
siempre.

-Pablo Neruda


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya

April 2018
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors