Tentang Rumah Kami, Rumah Mugas

Rumah, beberapa saat lalu, kabar yang berat datang dari Semarang. Bahwa rumah yang kami sewa selama tiga tahun belakangan habis sudah masanya. Memang, sudah tiada lagi yang tinggal disana karena hampir seluruh penghuninya sudah hijrah tiga bulan belakangan. Lokasi rumahnya strategis, kami menyebutnya rumah mugas, meski lebih sering dipanggil pula sebagai rumah hantu, karena banyaknya cerita mistis yang berseliweran; pintu yang terbuka sendiri, suara-suara gaib, helm yang dibanting meski rumah kosong, dan lain sebagainya. Jadi sebenarnya ada persaingan di rumah itu; kompetisi mana yang lebih mengganggu, penghuni manusianya atau yang kasat mata. Tapi tentu, kisah-kisah seram dari rumah ini tidaklah seberapa dibanding ngerinya Orba.

Sebelumnya, rumah itu kami sewa karena ngidam punya markas untuk diskusi dan kumpul-kumpul, karena sudah susah untuk kumpul-kumpul di kampus. Jadilah, akhirnya, rumah itu kami sewa. Satu tahun pertama, rumah itu dibiarkan kosong. Entahlah. Belum ada yang berminat untuk pindah kesitu, yang kemudian hanya jadi tempat untuk sesekali singgah, diskusi, dan mengerjakan tesis atau skripsi. Tahun kedua, Indra dan Yakub masuk sebagai penghuni tetap, masing-masing dengan kebiasaan anehnya. Indra dengan pantat ambeyen yang sering kambuh, dan Yakub dengan cara berpikir yang tiada dua. Yang satu pantatnya rusak dan yang lain kepalanya. Cocok.

Pada masa ini, rumah mulai ramai. Orang dan setan saling berseliweran lalu-lalang. Banyak yang datang dan menginap, kebanyakan untuk menyelesaikan tesis yang waktu itu memang sedang masa-masa genting untuk menyelesaikan studi yang terus tertunda. Ada David, Hasan, Aan, Randy, Jaka, dan lain sebagainya. Rumah itu jadi menyenangkan karena kami sudah pasang internet, dan akses untuk makan juga mudah, hanya perlu tujuh ribu rupiah untuk dapat satu porsi nasi rames atau pecel dari Mbok Sum, warung legendaris dekat situ. Atau kalau kepepet, ada mie instan dan kopi hitam yang selalu tersedia di rumah. Sayangnya, bukan cuma kawan atau setan yang singgah disitu, dua kali pula maling datang dan merangsek motor, laptop, handphone, dan lain sebagainya. Bajingan memang. Tapi rupanya maling di Semarang masih punya welas asih, dia masih menyisakan uang receh di dompet. Mungkin dia kasihan, dan membiarkan kami punya sedikit uang sisa untuk bisa makan selama satu hari, setelah barang-barang kami mereka gasak.

Akhir tahun kedua dan menjelang awal tahun ketiga, kebanyakan dari kamis sudah lulus studi magister. Kebanyakan. Kecuali untuk Unu yang nampaknya masih istiqomah untuk betah di kampus sampai penghujung batas akhir masa studinya. Setelah ancaman drop out datang berulang, baru dia lulus. Jadi diantara kami semua, dialah yang masuk paling awal, dan selesai paling akhir. Setelah itu, Unu, Hasan, Gerry, Edho, Seno, dan saya jadi penghuni tetap di rumah itu. Yakub keluar dengan alasan ingin fokus menjalani laku mencari harta Bung Karno yang konon masih tersembunyi, dan tidak ada alasan bagi kami untuk mencegahnya.

Pada waktu itu, saya dengan berat hati dan berkat kelakuan dari Unu harus angkat kaki selama enam bulan untuk studi lanjut master di Thailand. Berpisah selama enam bulan itu sesungguhnya antara berat dan tidak berat. Beratnya karena harus puasa untuk tidak bercanda secara vulgar dan sembarangan, tapi tidak beratnya karena berarti bisa jadi waras untuk enam bulan. Jadilah saya bertapa selama enam bulan di Thailand, hingga akhirnya pulang ke rumah mugas, ke rumah hantu lagi.

Pulang dari Thailand, saya sama sekali tidak terkejut karena rumah masih sama; masih berantakan dibanding enam bulan sebelumnya. Masih berceceran remah makanan dan cita-cita yang tak kunjung sampai dimana-mana. Tak berapa lama, remah itu kami satukan, dan diskusi rutin mulai digelar, setiap hari rabu kalau tidak salah. Ada Marsten dan Ilham, lalu ada Rasyid, Kelvin, Kacang, Fajar, dan lain sebagainya. Tidak lama kemudian, rumah itu kami rapikan dan benahi. Untuk pertama kali, rumah jadi bersih dan nyaman. Tapi tentu itu tidak lama, karena beberapa hari kemudian rumah kembali berantakan.

Kemudian, datanglah Air, kawan dari Thailand yang tinggal selama sebulan setelah sebelumnya Maya dan Nisa juga jadi penghuni tetap dari rumah itu. Pada waktu itu, kami punya jadwal rutin yang cukup menyenangkan. Diskusi tematik hari rabu, Kursus bahasa Inggris tiap senin dan kamis, dan kelas sastra tiap jumat. Rumah jadi semakin ramai, satu kali diskusi rumah kecil ini bisa menampung sampai lebih dari dua puluh orang. Berjejalan dari pintu masuk sampai ke dalam. Di rumah itu pula, saya menyelesaikan studi psikologi yang sudah tertunda selama delapan tahun lamanya hingga baru lulus tahun 2016 lalu, juga master kedua saya di Thailand yang saya tulis juga di rumah itu.

Selang beberapa bulan, rumah itu mulai ditinggal pergi satu persatu dari kami; indra sudah di jakarta, disusul oleh Unu, kemudian Edho, kemudian Seno dan saya yang berarti hanya tersisa Gerry di Semarang. Akhirnya april tahun ini selesai sudah. Selesai dan sudah. Agak susah menggambarkan keduanya. Karena berarti rumah itu sudah bukan lagi milik kami, rumah dengan tembok yang dulu Indra pukul-pukul waktu dia patah hati sembari pantatnya berdarah. Rumah yang dulu jadi tempat kisah cinta penguninya, yang beberapa bersemi dan beberapa yang lain layu sebelum berkembang. Rumah dimana Gerry potong rambut dan membiarkanya berceceran berbulan lamanya. Rumah dimana Seno dan Kacang berlomba menegaskan dirinya sebagai heteroseksual. Rumah waktu Edho sakit tulang punggung dan terancam lumpuh hingga akhirnya bisa sembuh. Rumah dimana Fajar datang dan menceritakan cerita jorok setiap jam sebelas malam. Rumah dimana Hasan marah-marah atas semua keadaan. Rumah dimana Unu menghabiskan berbungkus Djarum di pojokan ruangan. Rumah dimana Maya datang dan bebas menjemur pakain dalamnya. Rumah dimana Rasyid secara konsisten dan konsekuen mempertahankan kesendirianya. Rumah yang kini telah selesai, tapi berat untuk disudahi.

1 Response to “Tentang Rumah Kami, Rumah Mugas”


  1. 1 nana Juli 23, 2018 pukul 4:13 pm

    … hantunya kayak apa. pasti hantunya sedih juga ga ada yg berantakin rumah lagi hahaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya

Mei 2018
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors

%d blogger menyukai ini: