Archive for the 'abstraksi pikiran' Category

Arti Kebenaran Lewat Manusia Gua Plato

Ada sekawanan orang yang dibelenggu sedemikian rupa, mereka tidak bisa bergerak menghadap kearah tembok gua. Nah, didalam gua itu ada api unggun yang terletak didepan pintu masuk gua, sehingga api unggun itu menampilkan bayangan yang terdapat di dunia luar gua. Jadi apa yang kawanan orang lihat itu selama hidupnya adalah bayangan dari api unggun tersebut.

Tapi entah bagaimana caranya, ada seorang yang berhasil melarikan diri dari belenggu tersebut, kemudian keluar dari gua, disana dia mendapat pencerahan (enlightenment) tentang dunia yang ada diluar, sebuah realita factual, yang berbeda sama sekali dari bayangan yang terpantul dari api unggun di dinding gua.

Sekembalinya di gua, dia menceritakan pengalamanya tersebut, tapi tidak disangka, justru dia dimaki, dan bila dia melepaskan belenggu orang-orang dalam gua tersebut dia bisa saja malah dibunuh.

Cerita diatas adalah cerita klasik dari seorang Filosof Athena dari Yunani, Plato, murid dari Socrates dan guru dari Aristoteles. Plato terkenal dengan pemikiran dualisme nya yang memisahkan antara dunia ide, dan dunia gejala, yaitu dunia yang diperoleh manusia lewat persepsi indera-indera.

“Kebenaran” Milik siapa?

Ada hal yang unik dari cerita manusia-gua-nya Plato, manusia yang berhasil melarikan diri dari belenggu dan melihat kenyataan yang melampaui bayangan api unggun di didinding gua ternyata ndak diterima oleh orang-orang yang selama ini dibelenggu dan hanya melihat realitas hanya dari bayangan api unggun, dia di-sesatkan, di-bid’ahkan, disingkirkan, mereka telah terlalu nyaman melihat realitas semu dari bayangan.

Kebenaran, bagi Plato, terletak pada dunia idea, dan dunia gejala hanyalah representasi yang tidak sempurna dari dunia idea. Satu-satunya masalah yang muncul dari manusia gua Plato diatas barangkali adalah : dapatkah kita mengetahui siapa diantara kita yang merupakan manusia yang melihat bayang-bayang, dan siapa yang melihat realitas diluar gua?

Maka apa yang Benar itu dapat dicapai oleh manusia? Sering kita jumpai aksi sepihak macam pembakaran tempat ibadah, penomorduaan jenis kelamin, ras, suku, korupsi massal, dan berbagai bentuk kekerasan, mereka menganggap kebenaran versi merekalah yang pasti benar, hakiki, sedangkan yang lain salah.

Kalau seudah begitu mungkn kita boleh berpendapat, kalau yang namanya “Kebenaran” lebih baik dibunuh saja 😀 #upsss

Memikirkan Kembali arti “Menjadi Rasional”

Sebagai masyarakat modern, kita sering membanggakan kemampuan Rasio (akal budi, kesadaran, cogito) kita dalam memecahkan masalah. Namun, rasanya kita justru menjadi terlena dalam menyikapi rasio tersebut,kita menjadi terlalu bergantung menjadi rasio. Rasio tadinya adalah upaya proyek manusia pencerahan untuk menerangi perbuatan keluar dari mitos-mitos dogmatisme justru mengkhianati tujuanya dengan menjadi mitos bagi dirinya..

Bila kita melihat keseharian kita hari ini, seharusnya kita dapat menggugat, benarkah rasio tersebut menuntun kita menuju masyarakat yang tercerahkan? System kerja outsourcing yang merugikan buruh upah, eksploitasi yang berlebihan pada alam, standarisasi disana-sini, benarkah kita menciptakan kemajuan sementara disisi lain justru mengkhianati nilai-nilai emansipsi pada hidup?

“Rasio” pada awal pencerahan dimengerti sebagai akal budi, sebuah sinar yang menerangi manusia menuju otonomi dirinya, rasio di masa ini berusaha untuk memisahkan diri dari dogmatism gereja. Usaha tersebut ditempuh melalui klasifikasi Ilmu pengetahuan dan diramaikan oleh para ilmuan macam Galileo, Copernicus, Darwin, Newton dll.

Seiring dengan perjalananya, rasio lama-kelamaan semakin mengekerucut pada ilmu pengetahuan rigourus (ketat) yang diusung oleh Comte, yang kemudian disusul oleh euphoria revolusi industry dan gegap gempita kapitalisme. Rasionalitas seolah semakin mendapatkan legitimasinya dan iniliah yang kemudian menjadi perhatian, keresahan bagi para pemikir kritis, karena rupanya rasionalitas macam ini justru menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang sebenarnya ingin dihindarinya.

Rasio, Rasionalitas, dan proses Rasionalisasi kemudian dimengerti sebagai upaya menuju pemikiran teknis yang ketat tersebut, “Tindakan Instrumental” bagi Adorno dan Horkhaimer, “Rasio Teknokrat” bagi Mercuse. Menurut Jurgen Habermas, seorang filsuf tersohor Jerman abad ini berpendapat bahwa sebenarnya kita telah salah mengartikan arti dari Rasio, baginya Rasio telah direduksi hanya semata-mata kegiatan yang bersifat teknis-instrumental, mengeringkan nilai-nilai dunia.

“Paradigma filsafat kesadaran sudah kehabisan tenaganya. Karena itu simtom-simtom kehabisan tenaga ini mesti disingkirkan dengan peralihan ke paradigm pemahaman timbal balik”- Jurgen Habermas

Baginya Rasio sendiri tidak bisa dilihat semata-mata pada dimensi teknis-instrumental tersebut, pada pemikir kritis rasionalisasi barat macam Marx, Max Webber dan Generasi Pertama Madzhab Frankurt mereka mengalami kegagalan dalam mengkritik rasionalitas karena hanya memandangnya secara sempit. Habermas sendiri berpendapat bahwa seharusnya rasio selain dimengerti dalam artian teknis-instrumental (rasio instrumental) tersebut juga dimengerti secara komunikatif, Habermas menyebutnya sebagai “Rasio Komunikasi”, dan keduanya selain memiliki sifat bahasa-nya masing-masing juga rupanya saling mempengaruhi satu sama lain.

Maka dapat kita cermati sekarang bahwa rupanya “kekeringan” yang dialami oleh manusia modern dewasa ini rupanya karena tidak imbangnya pertumbuhan rasio tersebut. Rasio yang digunakan didominasi oleh salah satu bentuk rasio saja, yaitu rasio instrumental, sehingga bahasa yang digunakan oleh rasio instrumental tersebut mengintervensi bahasa komunikasi praktis sehari-hari (baca: masuknya pemahaman ekonomi-kapitalis pada pola hidup sehari-hari), kemampuan emansipasi dalam rasio dikebiri oleh pemutlakan bahasa teknis yang kurang tepat bagi bahasa komunikasi yang bersifat intersubyektif.

Saya pribadi setuju dengan Habermas, yang mengharapkan kedewasaan rasio secara seimbang, Rasio instrumental dalam hal mempelajari obyek dengan harapan menghilangkan hambatan manusia secara teknis dengan alam, berkembangnya kemampuan produksi, dan juga Rasio Komunikasi melalui terbukanya ruang berbicara yang bebas dari segala kooptasi kekuasaan, bebas tujuan melalui jalan menyingkirkan hambatan berbahasa. Dengan demikian kemajuan teknologi tidak berdiri sendiri dari emansipasi nilai-nilai dunia social-moral karena keduanya bergerak secara bersama dan terbuka pada kemungkinan reflektif, koreksi diri, rasio instrumental pun dapat menemukan, menyesuaikan, dirinya dalam praksis.

Maka disini kita dapat merefleksi arti rasio pada diri kita sendiri, dimana menjadi rasional tidaklah berarti meninggalkan bahasa dunia sehari-hari demi kepentingan teknis. Sekarangpun kita ini masih (sangat) membutuhkan orang-orang macam Bunda Theresa, Gandhi, Romo Magnis, Pak Marhaen, Munir, dan lainya untuk menyirami dunia dari “kekeringan nilai”.

Konsumerisme, Mitos Dari Etika yang Membeku

Di negeri ini, kini telah hadir berbagai pusat perbelanjaan sekarang orang tidak perlu lagi pusing untuk mengeluarkan dompetnya. Namun sayangnya, baik kita sadari maupun tidak, rupanya pola hidup konsumtif telah merasuk kedalam berbagai sendi kehidupan.

Tunggu dulu, lalu apa masalahnya? Berbelanja demi gaya hidup, secara tidak langsung telah menggiring pemikiran kita untuk berpusat pada tubuh (penampilan) . Tubuh menjadi sasaran obyektifikasi dari konsumerisme, karena melalui konsumsi, kita dapat mengaktualisasi diri lewat baju, perhiasan, gadget, bentuk tubuh, yang kita beli. Pola hidup yang demikian seolah-olah dilegitimasi melalui deretan iklan dan sinetron  yang memuja tubuh dengan bahasa dan symbol tertentu, aktualisasi tubuh via konsumsi dijadikan sebagai semacam ideology.

Lalu bagaimana dengan peran etika? Etika secara garis besar berbicara tentang “jalan menuju kebaikan”. Menurut Jurgen Habermas, Etika berkaitan dengan Konsensus, tentunya karena etika dihasilkan melalui diskursus untuk memperoleh kesepakatan bersama mengenai apa yang baik itu.

Problemnya adalah ketika diskursus tersebut disandarkan pada tubuh dan konsumsi, maka obsesi atas penampakan tubuh, dan bagaimana tubuh dilihat seolah semakin menemukan alasanya. Super-ego yang didasarkan konsumsi, tentu akan menimbulkan represi yang berbasis konsumsi pula. Simbol dan nilai tubuh dikelompokkan, kita membaginya ke tingkatan-tingkatan social, barang atau bentuk tubuh tertentu mencerminkan kelas social pemiliknya.  Karena wacana tubuh itu demikian dominan, kita mulai melupakan nilai-nilai yang lain, kita terbelenggu bahwa tubuh adalah satu-satunya media aktualisasi diri, penampilan adalah segalanya.

Pada Tahap ini saat etika tubuh mulai terjebak membeku menjadi dogma dalam system tertutup, kita dapat mempertanyakan kembali, merefleksi kebelakang mengenai apa tujuan etika itu sebenarnya. Etika sebagai tujuan kebaikan bersama, atau rasionalisasi terselubung kekuasaan (pemodal-konsumerisme) yang berujung opresi maupun represi?

Ketika dogma itu kita terima secara taken for granted, maka yang terjadi adalah penindasan (marx menyebutnya sebagai kesadaran palsu), yang dalam konteks ini yang dirugikan adalah pihak yang tidak mampu mengikuti bahasa etika konsumsi atas tubuh, seolah mereka adalah makhluk yang tidak beretika, dipinggirkan.

Mari kita mulai mencoba meredifinisi etika, dengan mulai memikirkan dan mengenali diri kembali sikap kita pada kehidupan sehari-hari, konsensus melalui diskursus yang bebas dan adil dan dibarengi kesadaran akal sehat. Barangkali ketika ambisi pada penampilan tubuh berakhir, tubuh tidak lagi menjadi sasaran obyektifikasi membabi buta, para koruptor berdasi mulai menyadari arti dari rasa malu, dan teman-teman bercelana sobek alakadarnya tak perlu merasa begitu rendah diri,   …dan etika-pun menjadi lebih manusiawi.

Referensi :

Suseno, Franz Magnis. Etika Abad kedua puluh. Kanisius. 2006. Yogyakarta.

Hardiman, Fransisko Budi. Kritik Ideologi. Kanisius. 2009. Yogyakarta.

Sumber gambar :

http://wartakotalive.com

keCantik-an, Tubuh, dan Mitos

Salah satu iklan di Tv : “Awalnya perempuan tidak percaya diri pada penampilanya, kemudian dia diberi solusi prodak pemutih kulit (dalam iklan lain bisa berupa pembentuk tubuh, penghalus rambut, dll), setelah pemakaian si perempuan tadi berubah menjadi percaya diri banyak laki-laki yang salah tingkah waktu melihatnya”.

Dari kotak ajaib yang tersebar di hampir setiap rumah, televisi, kita sering menyaksikan iklan ataupun berbagai tayangan lainya yang menampilkan perempuan dengan tubuh ramping, berdada besar, pantat mantap, kulit putih (bahkan ada prodak dengan alat pengukur tingkat keputihan), dan rambut gemulai menawarkan produk “kecantikan”, hal tersebut seolah diaffirmasi oleh tayangan baik sinetron maupun layar lebar dalam menampilkan tokoh yang cantik dalam bentuk sebagaimana yang ditampilkan oleh iklan. 365 hari setahun, 7 hari seminggu, dan 24 jam sehari kita dicekoki “standarisasi kecantikan” tersebut.

Semua orang tentu ingin menjadi cantik –dan sehat tentunya- , namun demikian, kita jarang memikirkan lebih lanjut mengenai apa itu cantik? Apakah cantik itu melulu identik dengan bentuk tubuh ala Barbie ?

Mungkin itu berasal dari kegemaran kita untuk menstandarisasi sesuatu secara membabi buta. Standarisasi tersebut rupanya juga terbentuk mengenai bagaimana manusia seharusnya berperilaku, dan berpakaian dan itu tertuang dalam apa yang kita sebut sebagai etika. Dari situ kita memisahkan mana yang baik dan mana yang tidak baik, sehingga dalam berkegiaatan kita mengacu pada nilai-nilai yang (tentunya) kita anggap baik, ada tingkatan-tingkatan(stratifikasi) berdasar nilai-nilai tersebut.

Dan nilai yang sering kita gunakan adalah nilai kemakmuran -yang disimbolisasi melalui konsumsi-, lalu apa hubunganya? Dalam masyarakat konsumerisme dimana pemasaran melulu menyajikan wacana yang kemudian membentuk mindset masyarakat bahwa anda adalah apa yang anda beli. Dari situ kemudian terbentuklah premis bahwa perempuan yang diterima masyarakat adalah perempuan dengan bentuk tubuh tertentu, melalui “perawatan tubuh”, konsumsi alat, proses, dan produk kecantikan untuk memperoleh standard yang diinginkan masyarakat (langsing, putih, berdada besar). Perempuan yang tidak sesuai dengan kriteria akan teropresi, ter-nomordua-kan, dipinggirkan. Festisisme Tubuh dan Komoditas, kepercayaan yang berlebihan dan sesat atas standar bentuk tubuh dan barang-barang konsumsi. Contoh simpelnya kerap kita temui banyak perempuan yang sebegitu takutnya dengan timbangan, takut kalau bobotnya tidak sesuai dengan standar “kecantikan”.

Kasus-kasus tersebut agaknya justru mengingkari upaya-upaya pembebasan opresi perempuan, bahwa perempuan bisa dan berhak menentukan nasibnya sendiri. Perempuan ditengah konsumerisme justru menyerahkan dirinya jatuh kedalam Alienasi tubuh, keadaan terasing dari tubuhnya sendiri, dandan, diet, memperbesar payudara, menghias tubuhnya untuk kenikmatan laki-laki, Lebih lanjut bahkan perempuan terasing dari perempuan lain karena bersaing untuk mendapatkan tubuh yang paling “ideal” (feminis thought-183). Perasaan kalau tubuhnya selalu diawasi oleh orang lain, membuat perempuan menjadi semacam polisi bagi dirinya sendiri mengenai bentuk tubuhnya, menurut Foucoult hal ini disebut panoptisisme sehingga seolah-olah tubuh perempuan adalah tubuh milik publik, aktualisasi diri supaya tubuhnya dilihat orang lain .

Disini kita bisa mempertanyakan peran televisi (atau alat media lainya) sebagai pemancang standarisasi kecantikan sekaligus sebagai penyebar wacana dalam ruang publik,sejauh mana peran kekuasaan (televisi, konsumerism) pada tubuh (kecantikan) perempuan ?

Barangkali sudah saatnya bagi perempuan untuk memberi nilai dan kembali memiliki tubuhnya sendiri, silahkan matikan televisi dan banting timbangan anda 😀

“ah, cantik itu cuma mitos”

Referensi :

  • Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought.  Jalan Sutra. 2010.  Yogyakarta.
  • Jones, Pip. Pengantar Teori-teori Sosial. Yayasan Obor Indonesia. 2009. Jakarta.

Sekilas Kritik Positivisme Ilmu Pengetahuan

Positivisme yang dipelopori oleh August Comte, upaya untuk merobohkan metafisika abad pertengahan melalui pencapaian pengetahuan demi pengetahuan, atau lebih gampangnya membersihkan pengetahuan dari subyektifitas manusia. Pada zaman pencerahan, manusia digiring untuk keluar dari dogmatis-mistisisme abad pertengahan, melalui jalan mem-positif-kan ilmu pengetahuan agar sahih, dan pasti.

Semangat Positivisme tidak hanya berkutat di ilmu pengetahuan alam semata, namun juga pada ilmu tentang masyarakat, atau ilmu sosial. Jadi bisa dikatakan bahwa melalui perkembangan teknologi dan positivisme pengetahuan, manusia bertekad agar masyarakat dapat dikontrol sebagaimana dalil-dalil ilmu alam.

Disinilah titik baliknya, ilmu pengetahuan yang positivistik sesuai dengan ilmu alam tadi, yang bersifar netral dan universal, ternyata bila ditempatkan pada ilmu pengetahuan sosial menjadi sangat berbeda. Karena dengan sifat netral dan universal tadi justru membuat pengetahuan tentang masyarakat menjadi mandeg dan tidak kritis.

Rasio, atau kesadaran yang diharapkan di abad pencerahan sebagai jalan dari kemandegan dogmatisme-mistis abad pertengahan justru menciptakan mistisisme baru dari dirinya. Sehingga melalui pengetahuan yang bersifat “pasti” itu tadi, justru kita kembali terjebak pada ritual dogmatis dari mistisisme. Atau dapat dikatakan secara singkat, mitos baru menggantikan mitos lama.

Pemikiran Positivisme di bidang sosial sangat berpengaruh pada eranya (hingga kini?).Marx pun menyesuaikan teorinya agar dapat diterima secara positivistis sebagai pengetahuan, yaitu melalui pernyataan bahwa kegiatan sejarah manusia adalah mengenai perkembangan alat produksi melalui kerja, dimana manusia dipandang dan direduksi hanya sebagai manusia yang melakukan produksi dalam masyarakatnya, atau sngkatnya rasionalitas  penguasaan alam.

Dunia hukum abad 19 juga  turut mengadopsinya melalui John Austin dimana hukum dianggap legitim dan diterapkan semata karena dia telah disahkan oleh lembaga yuridis yang berwenang. Jadi disini hukum direduksi sebagai semata sekumpulan peraturan yang dilegalkan oleh institusi yang berwenang, titik. Hal tersebut juga tampak pada teori Hans Kelsen mengenai Grundnorm yang berupa sekumpulan peraturan atau tata-nilai tertinggi (contohnyam dinegara kita adalah Pancasila), hal ini terasa janggal karena hal tersebut berarti grundnorm seolah tidak bisa dipertanyakan kembali, taken for granted.

Kini, positivisme banyak diserang oleh para kritikusnya. Nietzsche dalam berfilsafatnya menggunakan aforisme karena dia merasa bahwa manusia positifisme telah terjebak pada dekadensi (kemandekan) sistem, sebagaimana yang sudah diuraikan diatas, mitos yang menggantikan mitos lama. Nietzsche menolak segala bentuk kekuasaan tunggal melalui kalimatnya yang terkenal : “Got is Tot”  dengan mengesampingkan hegemoni dari pengetahuan, agama, maupun negara, yang mengangkangi atau mereduksi “manusia”.

Satjipto Rahardjo, juga kembali menggaungkan hukum progresif, yaitu dengan mengembalikan hukum sebagai alat kebahagiaan manusia, hukum ada untuk manusia, bukan sebaliknya.

Jurgen Habermas, menambahkan rasio komunikasi untuk melengkapi rasio-atas-tujuan (kerja) dari Marx. sehingga melalui komunikasi, selalu tersedia ruang untuk mengkoreksi kembali (proseduralis), melalui diskursus dan ruang publik.

Dan masih banyak lagi, yang intinya adalah manusia bukanlah obyek yang semata-mata sama dengan ilmu alam. Pemakaian logika yang tertutup, akan membawa kita pada jurang dekadensi. Sebagai contoh sederhana, pendefinisian mengenai “perempuan” akan membawa perempuan sebagai kaum yang dikenai represifitas terus menerus (seperti yang kita lihat pada permasalahan bias gender). Manusia seharusnya dibebaskan dari segala hal yang mereduksinya, termasuk positivisme pengetahuan.

Sekilas Perempuan

Sekilas Perempuan

Dalam perkembangan abad 21 ini, hamper semua hal mengalami perubahan. Mulai dari pergeseran teoritis, filosofis, sampai pada kehidupan sehari-hari. Perang dunia I dan perang dunia II, yang kemudian disusul dengan perang dingin antara blok barat dan timur, runtuhnya tembok berlin pada 1990, dan tidak kalah seru jatuhnya rezim orba oleh kawan-kawan kita pada 1998 lalu. Penemuan-penemuan teknologi  yang memicu semakin derasnya alur perubahan komunikasi yang kini semakin luas menghubungkan tiap titik penjuru bumi, membuat kita bertanya dan terus bertanya, apa lagi? What next?

Tidak luput dari perubahan dan pergeseran yang terjadi tersebut, adalah kisah mengenai perempuan. Apa yang membuat perempuan begitu menarik? Dalam legenda yunani dari epos Hommerus yang tersohor itu perempuan dikisahkan sebagai hukuman atas manusia (man) sehingga Zeus, sang mahadewa memutuskan untuk membuat perempuan ( woman ) untuk mempersulit kehidupan manusia (man) sebagai hukuman karena mencuri api milik Hephasteus. Dikisahkan perempuan pertama yang diciptakan dari tanah liat dan diberi tiupan napas oleh Athena, kemudian diberi nama Pandora. Zeus melalui Hermes dengan dalihnya memberikan Pandora sebuah kotak yang didalamnya berisi seluruh penderitaan ( pain )manusia. Pandora yang memang diciptakan untuk mempersulit laki-laki pun akhirnya mendesak suaminya, Episthemus untuk membukanya meski sebelumnya Episthemus telah diingatkan oleh saudaranya, Prometheus untuk tidak membuka kotak pemberian para dewa. Tapi Episthemus tidak kuasa menahan bujukan Pandora untuk membuka kotak tersebut hingga akhirnya dibukalah kotak yang berisi segala macam kejahatan, penyakit, penderitaan, dan lain-lain buru-buru Ephistemus menutup kotak tersebut. Kini manusia telah dijangkiti oleh berbagai hal kutukan para dewa, namun demikian Ephistemus mendengar suara ketukan dari kotak tersebut dan dibukanya kembali, ternyata ada satu hal yang tertinggal dari kotak tersebut, yaitu : harapan ( hope ) untuk mengatasi segala hal buruk yang keluar sebelumnya.

Cerita diatas cukup menarik untuk diulas. Bagaimana ternyata perempuan, telah dikondisikan sedemikian rupa sejak dahulu (bahkan sampai tertuang dalam bentuk mitologi) sebagai gender kedua setelah laki-laki.  Perempuan (semenjak dahulu) ternyata telah mengalami suatu reduksi mengenai nilai kapasitasnya sebagai “manusia”.

Adalah seorang filosof Athena dan murid Socrates, Plato yang agaknya adalah yang pertama kali berpendapat bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama dalam memimpin suatu (meski ada juga teorinya yang bias gender) Negara. Hal ini terkait dengan model Negara Aristokrasi yang dianggapnya adalah bentuk pemerintahan yang ideal dimana Negara tersebut dipimpin oleh para filsuf yang bijaksana sehingga tidak perlu memandang jenis kelamin.

Akan tetapi pandangan positif mengenai perempuan tersebut ternyata tidak dilanjutkan oleh muridnya yang juga filosof Athena; Aristoteles. Menurut Aristoteles, perempuan adalah manusia yang tidak sempurna secara seksual dibandingkan laki-laki. Aristoteles memandang Negara berbentuk seperti manusia dan makhluk hidup, maka dari itu, dia berpendapat bahwa perempuan dengan organ dan sifat pasifnya dalam hubungan seksual sebagai kelas yang lebih rendah tingkatanya daripada laki-laki.

Celakanya,  justru pendapat Aristoteles (termasuk mengenai ketimpangan gender)-lah yang banyak dijadikan acuan pada masa abad pertengahan. Masa abad pertengahan adalah masa dimana pengaruh kuat doktrin agama dalam segala aspek. Kelahiran Yesus Kristus (1 M) dan Muhammad (7 M ) yang kemudian menjadi dua agama terbesar didunia (Islam dan Nasrani), pada abad pertengahan banyak menjadikan pemikiran-pemikiran Aristoteles sebagai rujukan. Nicolaus Copernicus adalah contoh yang popular, pemikiranya mengenai Heleosentris yang bertentangan dengan pendapat Aristoteles dan Gereja dikala itu membuatnya dihukum mati, begitu juga pencongkelan mata Galileo oleh inkuisisi Gereja,

Rennesaince , Illumination, dan Aufklarung atau abad pencerahan yang diawali dengan dualism Cartesian oleh Rene Descartes tidak kunjung memberikan angin segar bagi perempuan. Schopenhauer, bahkan seperti mengulang Aristoteles dengan mengatakan bahwa “perempuan adalah makhluk tengah antara anak-anak dan pria dewasa”. Tekanan represi terhadap perempuan kemudian menimbulkan penyakit mental berupa Hysteria yang kala itu didaulat sebagai penyakit eksklusif milik perempuan (dari kata latin hysteros yang berarti rahim).

Feminisme sebagai Antitesis

            Rupanya represif gender dari laki-laki kepada perempuan mulai melahirkan antithesis. Gerakan-gerakan feminism dengan berbagai sudut pandang mulai menggugat dan mengajukan redefinisi mengenai “siapa itu manusia?”

Terdapat beberapa pandangan mengenai Feminisme, jadi feminism bukanlah sebuah gerakan tunggal, dia lebih tepat bila dilihat sebagai sebuah pohon besar dengan banyak cabang-cabang. Berikut adalah beberapa jenis gerakan feminism secara garis besar:

  1. Feminism liberal :

Gerakan feminism liberal beranggapan bahwa kesetaraan gender dapat diperoleh melalui tekanan politik dan struktur hokum sehingga memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan.

  1. Feminisme Radikal :

Menurut Feminisme Radikal, tekanan politik dan struktur hokum saja tidaklah cukup, standar patriarkhial seharusnya dicabut hingga ke-akar-akarnya. Gerakan ini kemudian terbagi dalam 2 kubu besar yaitu Radikal Libertarian yang beranggapan bahwa setiap orang sebaiknya berhak menjadi androgin untuk mengeksploitasi baik sisi maskulin maupun feminine, yang kedua adalah Radikal-kultural beranggapan bahwa susunan patriarkhial dimulai dari penomor-duaan sisi feminine. Hal ini tercipta melalui eksploitasi tubuh perempuan, pornografi, prostitusi, dan lain-lain. Jadi mereka menolak hal-hal tersebut dan mengutarakan bahwa perempuan seharusnya bebas melakukan eksperimen seksual (bukan hanya dikendalikan oleh laki-laki).

  1. Feminisme Marxis-sosialis :

Sesuai dengan namanya, feminis marxis-sosialis didasarkan pada teori konflik antar kelas; borjuis dan proletar, dimana oposisi binair keduanya juga terbawa pada ketidakadilan ranah kerja bagi perempuan. Upah dan status yang lebih rendah dan hanya dianggap sebagai pekerja sekunder.  Mereka berpendapat bahwa kesetaraan tidaklah mungkin diperoleh dari system masyarakat berkelas.

  1. Feminisme Psikoanalisa

Psikoanalisa adalah sebuah teori psikologi yang dikembang oleh Sigmund Freud. Psikoanalisa membagi manusia menjadi 2 bagian; alam sadar super-ego dan ego dan alam bawah sadar: Id dimana pada kenyataanya manusia lebih banyak dikontrol oleh alam bawah sadarnya. Maka Feminis Psikoanalisa berpendapat bahwa ketidaksetaraan gender berakar dari pengkondisian masa kanak-kanak dimana laki-laki identik dengan maskulinitas dan perempuan dengan fiminitas juga bahwa oposisi binair yang mengatakan maskulin lebih baik daripada feminin.

  1. Feminisme Kulit Hitam

Hal yang dilupakan oleh gerakan feminism adalah bahwa gerakan mereka terbatas pada kelas atau etnis tertentu saja. Feminisme kulit hitam didasarkan pada fakta bahwa selain mendapatkan represi dari segi rasial, mereka juga mendapatkan tekanan secara gender.

  1. Feminisme Eksistensialisme

Feminisme dengan pendekatan eksistensialisme dari Jean Paul Sartre, melalui karya The Second Sex dari Simmone de Buvoir. Pada pendekatan ini perempuan dikatakan sebagai “yang lain” (the others) dari laki-laki karena posisinya yang selalu tersubordinasi dari laki-laki. Eksistensialisme mendorong setiap perempuan untuk menemukan sendiri caranya dalam bereksistensi.

  1. Feminisme Postmodern

Postmodern, gerakan menolak permarginalan dalam hegemoni tunggal, juga diterapkan pada gerakan feminism, banyak dipengaruhi oleh Irrigay,Derrida, Kristeva, Lacan, juga pengembangan dari feminism eksistensialisme Simmone de Buvoir, dengan mengakui ke-berbedaan-(keliyanan) perempuan sebagai bentuk keterbukaan dan keberagaman.

H.  Ekofeminisme

Beranggapan bahwa subordinasi laki-laki pada perempuan terkait dengan eksploitasi manusi terhadap alam. Maka, pembebasan perempuan juga harus dibarengi dengan penghentian eksplorasi yang merusak lingkungan hidup.

 

 

 

Menuju Keberagaman

Kita telah melihat beberapa aliran dari feminism, dengan tidak menutup munculnya perspektif baru dalam gerakan feminism yang mungkin akan lahir. Bila kita cermati dalam kehidupan sehari-hari, gerakan-gerakan tersebut sebenarnya sudah mulai muncul dan tumbuh, meski tak kalah sering juga kita menemukan bias maupun diskriminasi gender di lingkungan kita.

Pergeseran hubungan seks misalnya, dahulu pandangan perempuan mengenai hal ini adalah bahwa perempuan merupakan ladang dan laki-laki adalah penanam benih, dimana berarti laki-laki mengendalikan seksualitas perempuan melalui institusi-institusi tertentu (rumah sakit, psikolog, pemuka agama) kini telah bergeser. Perempuan kini tidak lagi tergantung pada laki-laki dalam hal seks, dildo,atau variasi seksual lainya (atau bahkan lesbian) membuat perempuan dapat memenuhi kebutuhan seksnya sendiri tanpa laki-laki (sekarang banyak gerakan HAM mengenai lesbian dan homoseksual).

Saya sependapat dengan kutipan dari Simmone de Buvoir yang mahsyur itu, “one, isn’t born as a woman, yet become a woman” ya, seorang perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan, tapi menjadi perempuan, yang berarti perempuan bebas dari definisi yang mengungkungnya, untuk kemudian berada diproses “menjadi”, menjadi seorang perempuan, boleh menjadi akuntan, binaragawan, pembalap, astrounout, atau apapun!

Terlebih dikala zaman semakin menuju ke arah keberagaman semenjak dibukakanya gerbang postmodern melalui teriakan “Tuhan sudah mati” dari Nietszche di penghujung modernitas abad 19. Ya, kini manusia berhak memilih hidupnya, perempuan berhak menjadi apapun, mereka telah memperoleh hak pilih di tahun 1920, semenjak diperjuangkan di Saneca Falls pada 1848, sekarang mereka berhak mendapat pendidikan yang sama, berhak menempati posisi di pemerintahan, perempuan, bersama dengan laki-laki kini bisa menentukan arah bersama mengenai siapa dan apa itu manusia.

Kembali ke awal, kita tidak boleh lupa bahwa subordinasi seksual dan gender telah mengakar semenjak era sebelum masehi, sehingga membebaskan diri dari dogmatism yang terbentuk dan diwariskan secara turun-menurun bukanlah hal yang mudah. Hal itulah yang –karena sedemikian mendarah daging – seringkali dijadikan alasan karena kita begitu nyaman terlena.

Alangkah indahnya bila kini, laki-laki, perempuan, maupun transgender, beragama maupun tidak, apapun latar pendidikan, ekonomi, ras, orientasi seksual, ideology, atau apapun, bergerak bersama sebagai manusia untuk kembali pada prinsip dasar golden rule etika : “Berbuatlah sebagaimana ingin diperbuat”,Bila demikian, bukan hal yang aneh bila besok, barangkali kita menjumpai adik-adik kecil di sekolah dasar menjawab atas pertanyaan klasik anak Indonesia:

“Bapak pergi ke …(salon, pasar, atau manapun)….”

“Ibu pergi ke …(kantor, melaut, atau kemana saja dia suka)….”

 

Daftar pustaka :

Jones, pip. Pengantar Teori-teori sosial. Yayasan Obor Indonesia. 2009.Jakarta.

St.Sunardi. Nietszche. LKiS.2009. Yogyakarta

Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought. Jalan Sutra. 2010.Yogyakarta.

O’Donell, Kevin. Postmodernisme. Kanisius.2009.Yogjakarta.

Deliberasi Hukum

Abad 20 telah kita lewati dan tanpa terasa dan sadari sinar pagi abad 21 sudah menyongsong didepan. Bila kita melongok lebih kebelakang lagi, sebenarnya selama sejarah manusia telah terjadi beberapa perubahan dan pergeseran dari berbagai aspek kehidupan. Mulai dari pemikiran dengan dominasi mistisisme, yang kemudian dilanjutkan secara filosofis, hingga dari segi ilmu pengetahuan yang senantiasa dinamis bergerak mengikuti alur jaman dan menciptakan era yang berbeda-beda demi menjawab tantangan di tiap-tiap generasi.

            Saya akan mencoba sedikit mengupas mengenai hal-hal pokok yang terjadi selama masa modern bawaan dari abad pencerahan dari Rennesaince, Illumination, hingga Aufklaung, yang mempengaruhi pula perkembangan paradigm terhadap hokum. Meski demikian, pembahasan yang saya bawa tidak akan melulu monoton mengenai hokum tetapi juga akan menyangkut beberapa segi keilmuan lainya karena menurut hemat saya, suatu ilmu pengetahuan tidaklah dapat berdiri sendiri benar-benar terpisah dari dunia keilmuan lainya.

            Suatu perubahan, akan membawa kita pada perubahan lainya, seperti keterbukaan teknologi informasi yang turut membawa perubahan dalam segi social dan menciptakan kebutuhan baru, sehingga terjadi dekonstruksi social dalam masyarakat.

           Tujuan untuk mengingatkan kita pada sebuah pertanyaan klasik mengenai “Siapa kita sebenarnya?” dan “Pada jaman apa kita berdiri sekarang?” “Apa itu benar dan salah?” “Apa yang seharusnya kita perbuat?” Semuanya memang sekilas tidak lebih dari pertanyaan yang sederhana, remeh-temeh, tapi kalau kita mau menggali sedikit lebih dalam dari pertanyaan semacam itu, barangkali kita kemudian akan tercenung karena jawabanya tidaklah semudah yang dibayangkan.

            Pertanyaan dari kegelisahan itu akan selalu timbul dan melewati redefinisi-redefinisi yang usianya bahkan sama dengan usia sejarah umat manusia. Ketundukan Socrates dengan meminum racun dari cara berpikir orang yunani yang dikritisinya, Penyaliban Kristus, lahirnya Muhammad, pembakaran Copernicus, pencongkelan mata Galileo, berkembangnya rasionalitas dari Descartes hingga pewartaan matinya tuhan oleh Nietszche, Perang Dunia I dan II, munculnya Madzhab Frankurt, pendaratan di bulan, semuanya saling sambung menyambung, hal yang satu muncul sebagai kritisi dan jawaban dari sebuah usaha untuk melampaui jamanya.

            Satu hal yang pasti dan tidak dapat kita elakkan adalah sebuah kenyataan bahwa sekarang, saat ini, adalah zaman kita. Seringkali kita terlampau asyik berkutat dengan kehidupan sehari-hari hingga tidak memperdulikan kemana sebenarnya zaman ini bergerak, terhanyut kedalam arus besar, cerita-cerita besar, mainstream, metanarasi, yang seringkali mereduksi arti “manusia” hanya sebagai “manusia yang memenuhi kriteria mainstream” dan memarginalkan “yang lain”.

            Menjembatani berbagai kepentingan dan menuju kepentingan bersama, mungkin terdengar sulit tercapai dan tidak realistis mengingat banyaknya tatanan nilai yang menjadi acuan penghakiman tentang “apa itu manusia”.

            Namun demikian saya justru melihat kemungkinan besar tercapainya tujuan yang terjembatani bersama dengan meminimalisir pemarginalan dengan satu kata sederhana yang sebenarnya telah akrab di telinga kita (meski sekarang mungkin sudah banyak dilupakan) yaitu : musyawarah, diskursus. Tentu saja diskursus yang saya maksudkan disini adalah sebuah arena yang adil dan fair untuk semua peserta atau bahkan yang bukan peserta sekalipun. Lalu, bagaimana penerapanya diskursus didalam hokum?

Tahapan-tahapan

Tan Malaka, salah satu anak bangsa dalam bukunya MADILOG (materialism, dialektik, logika) sempat mengungkapkan bila bangsa kita mau benar-benar merasakan kemerdekaan maka harus melewati beberapa tahapan dimana antara lain ; Logika mistis yaitu pemikiran yang masih kental dengan mistisisme yang kemudian akan memacu manusia untuk senantiasa bertanya dalam fase Filosofis dan Ilmu pengetahuan beserta cabang-cabangnya pada fase ketiga.

Era Pencerahan

Berusaha keluar dari kungkungan dogmatism, adalah ciri yang sangat mencolok di era pencerahan. Namun demikian, era pencerahan juga masih enggan meninggalkan dogmatism agama, sehingga membuat satu kaki berpijak pada akal manusia, dan satu kaki lainya masih berada di awing-awang keagamaan.

Dimulai dari itali oleh Rene Descartes dengan dualism Cartesian-nya, semangat ini kemudian menyebar hingga pemikir macam Bacon, Voltaire, Diderot, Locke, Hobbes, Kant, Rousseau, Montesque, Husserl, dan lain-lain. Makalah ini akan membahas mengenai pemikiran dari beberapa tokoh diatas.

berbuatlah sebagaimana maxim perbuatanmu diterima secara universal´- Immanuel Kant

            Immanuel Kant adalah seorang yang dikenal dengan teori Imperatif Kategoris yang kemudian banyak menjadi rujukan dan kritisi dari para filosof etika sampai abad keduapuluh mulai dari Alen Ayer hingga Habermas. Dari teori tersebut maka dapat dipetik bahwa perbuatan baik adalah kewajiban dari manusia tanpa mengharapkan timbale balik apapun (termasuk didalamnya pahala agama). Jadi manusia berbuat baik karena dia memang sudah seharusnya berbuat baik, titik.

            Maka teori hokum dari Immanuel Kant pun juga diangkat dari Imperatif Kategoris tersebut. Kant memasukkan hokum kedalam rasio praktis yang berarti mengenai apa yang seharusnya diperbuat oleh manusia. Karena Imperatif Kategoris bersifat otonom, maka hokum pun juga harus mempunyai sifat keharusan yang otonom dengan peraturan yang sifatnya heteronom dan harus dipatuhi terlepas dari apapun motifnya.

            Beralih pada tokoh Perancis, J.J.Rousseau menolak apa yang disebut sebagai kekuasaan absolute. Rousseau memiliki pandangan yang mirip dengan Locke dan Hobbes yang beranjak dari sebuah kontrak social.

            Namun berbeda dari kedua tokoh dari daratan Inggris tersebut, Locke dengan keadaan asali dan Hobbes dengan Homo homini lupus dan Negara sebagai Leviathan-nya, Rousseau berpendapat bahwa manusia yang tadinya bebas dari kungkungan aturan, untuk kemudian menyerahkan haknya untuk hidup secara teratur. Maka Rousseau berpendapat bahwa hokum adalah milik public, dan bukan hanya kekuasaan penguasa tunggal saja, karena dia adalah wujud dari kemauan dan kepentingan bersama.

            Rousseau yang pada dasarnya bersifat pesimis pada kemajuan manusia, ( seperti missal ekonomi dari keserakahan dan etika dari kesombongan antar kelas ) menaruh harapanya pada hokum untuk menuju hidup yang berdasar keadilan dan kesusilaan. Ada kebebasan individu sebagai warga Negara yang kemudian di batasi oleh keinginan umum.

            Hukum yang berasal dari kehendak umum tersebut berarti setiap orang, setiap individu harus tunduk pada kepentingan umum. Hal ini adalah cikal bakal dari paham demokratis. (hal tersebut kemudian banyak dikritik karena Rousseau terlalu terpaku pada suara mayoritas dan menenggelamkan minoritas).

            Masih di Perancis, Montesquieu Dalam L’Esprit das Lois (Roh Hukum) dia berpendapat bahwa system hokum merupakan hasil dari kompleksitas berbagai factor empiris kehidupan manusia. Menurut Montesquieu, ada dua factor pembentuk struktur social dan hokum, yaitu factor fisik yang meliputi kondisi alam masyarakat itu tinggal, dan factor moral yang meliputi agama, adat istiadat, kebiasaan, dan lain-lain.

            Karena pada tiap masyarakat mempunyai kondisi yang berbeda, maka relativisme juga berlaku di teori Montesquieu. Perbedaan kondisi alam dan budaya pada suatu masyarakat tentu menyebabkan perbedaan nilai yang dianut yang membedakan dari masyarakat lain.

 Sumbangan dari Montesquieu yang berharga antara lain adalah sumbanganya dalam bentuk pemerintahan. Montesquieu berpendapat bahwa bentuk pemerintahan Republik dengan pemisahan kekuasahan (power separation) adalah bentuk yang paling memungkinkan disbanding model lain. Dengan adanya pemisahan kekuasaan antara eksekutif, yudikatif, dan legislatif, maka akan menghindarkan dari penyalahgunaan wewenang karena diantara ketiganya terdapat asas check and balances yang membatasai ruang gerak dari masing- masing lembaga.

Power Separation sebenarnya telah ada dalam teori John Locke dan J.J. Rousseau, namun bentuk Trias Politica dari Montesquieu menyempurnakan teori dari keduanya. Dengan pembatasan dari Trias Politica tersebut, para warga Negara juga bisa turut serta dalam aktifitas politik.

 Pintu Gerbang Perbatasan

Sekali lagi manusia mengalami pergeseran, revolusi perancis, revolusi industri, turut menyumbang poin perubahan. Paham liberal yang dimulai oleh John Locke mendapat tantangan keras dari Marx dengan Komunisme dan revolusi protelarnya yang menjungkir balikkan ajaran para Hegelian.

Beberapa tokoh yang juga ikut meramaikan era ini adalah positifisme dari Augusto Comte, kehendak manusia dari Arthur Schopenhauer, lompatan eksistensialisme dari Krierkegaard, pendekatan fenomenologi dari Edmund Husserl .

“Tuhan sudah mati” – F. Nietzsche

            Dari banyaknya tokoh yang muncul, muncul tamparan keras dari jerman. Dia adalah Friedrich Nietszche yang melakukan kritisi atas modernitas, sekaligus membuka gerbang postmodernisme yang kini ramai diperbincangkan. Nietzsche muncul dengan gaya filsafat yang bisa dibilang nyentrik dengan menggunakan aforisme-aforisme pada karya-karyanya. Dengan penuh semangat dia menahbiskan dirinya sebagai nabi yang terlahir bukan untuk zamanya, namun untuk masa sesudahnya.

            Nietzsche berusaha meruntuhkan segala bentuk dogmatisme, termasuk didalamnya agama, Negara, ilmu pengetahuan, metafisika, dengan mengatakan melalui mulut Zarathrusta bahwa tuhan sudah mati, dan manusia kembali pada nihilisme. Mengadopsi teori kehendak buta dari Schopenhauer, Nietzsche mengatakan kalau kita ber-ada tidak lain adalah karena kehendak untuk berkuasa ( will to power). Dan manusia adalah sebuah rentangan dari hewaniah di satu sisi dan adimanusia (ubermensch) di ujung yang lain.

            Singkatnya, Nietzsche berniat menghancurkan era modernism yang terlalu kental pada pencarian kebenaran logos yang justru mengarah pada logosentrisme dan oposisi binair, Bahkan Nietzsche mengatakan kalau kebenaran adalah ilusi yang keilusianya tidak tampak.

            Serangan terhadap modernism ternyata terus berlanjut bahkan setelah kematian Nietzsche di tahun 1900. Munculnya psikoanalisa dari Freud, yang disusul eksistensialisme Sartre dan Simmone de Buvoir. Munculnya Perang Dunia I dan II membuar prihatin sejumlah cendikia termasuk Adorno, Gadamer, dll. Mereka kemudian sepakat berkumpul di Frankurt yang kemudian dikenal sebagai Madzhab Frankurt. Namun rupanya Madzhab Frankurt pun justru mengarah pada pesimisme pada masa depan pengetahuan.

            Tapi waktu terus bergulir, dan modernism lambat laun terus terkikis. Michael Fouccault, Muhammad Iqbal, Francis Lyotard, Betrand Russel, Julie Kristeva, hingga filsuf kondang Jacques Derrida dan Jurgen Habermas turut meramaikan kejatuhan era modernism.

            Catatan : Gerakan yang mencolok dari era modernism antara lain gerakan feminism, dan munculnya gerak balik melawan kapitalisme, gerak balik menuju budaya local, dll.

 Menuju Hukum yang Deliberatif

            Lalu bagaimana dengan hokum? Apakah juga mengalami pergeseran? Jawabanya adalah “iya”. Pada ranah hokum juga turut muncul paham yang seakan mengikuti tantangan yang terdapat pada tiap era. Muncul aliran-aliran Neo-Kantian, dari Kelsen sampai Radbruch, Neo-positivisme Max Webber, bahkan juga muncul Neo Marxis dan Feminist Legal Theory.

            Bila modernism kental berkutat dengan pencarian “Benar” dengan berusaha menggiring pada satu aliran besar logos, maka Post-modern justru berusaha memecah aliran besar tersebut dan mengajak untuk mengatakan “ya-pada-hidup” (ja sagen). Permasalahanya adalah, bagaimana mengakomodir kepentingan sedemikian banyak elemen?

            Permasalahan tersebut juga muncul pada ranah hokum. Menurut Jurgen Habermas yang dikutip oleh Fransisko Budi Hardiman di bukunya “Demokrasi Deliberatif”, Habermas berpendapat kalau hokum muncul bersamaan sekaligus terpisah dengan dunia moral dari Sittlickheit ( dunia tradisional ). Kenapa? Karena pada era sekarang, Sittlickheit dianggap tidak bisa memenuhi semua pertanyaan sehingga membutuhkan penjelasan rasional, maka disini Habermas dan Hardiman berpendapat kalau hokum beserta proses pembuatanya adalah jawaban rasional.


            Habermas juga mengambil Lebenswelth (dunia subyektif) dari fenomenolog Husserl, namun disini Habermas menggunakanya justru sebagai modal, yaitu suatu pandangan untuk mencapai consensus dalam proses diskursus.

            Teori Diskursus Habermas berangkat dari kritik atas rasio praktis imperative kategoris Imannuel Kant.Filsafat Kant terlalu kental nuansa logosentrisme-nya. Hal ini bisa dilihat dari maximnya yang tersohor tersebut. Menurut Habermas, seseorang tidaklah bisa bertindak atas dasar penilaian moralnya seorang diri, dan hal tersebut haruslah diperbincang dalam sebuah diskursus untuk mencapai tujuan bersama.

            Menurut Habermas dan Hardiman, hokum yang legitim adalah hokum yang diterima secara intersubyektif. Agar hokum dapat diterima secara intersubyektif maka dia harus mampu berfungsi secara dualism. Dualisme disini adalah hokum harus mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikatif, tapi juga sekaligus mampu bersifat strategis, mampu mengakomodir lebenswelth sekaligus system (system ekonomi, pemerintahan, dll) sebagai penjaga kebebasan sekaligus memaksa keharusan dalam kewajiban.

                                                                                            

            Sifat akomodir dua kepentingant tersebut baru bisa dipenuhi setelah sebelumnya melalui proses diskursus. Namun demikian bagaimana seseorang dapat memperoleh keanggotaanya sehingga diskursus dapat berlangsung adalah permasalahan yang lain, maka Habermas berpendapat bahwa untuk dapat melegitimasi hokum melalau diskursus maka tiap orang pastilah memiliki Hak-hak dasar, namun hak-hak dasar tersebut juga sebelumnya harus dilegitimasi juga, melalaui sebuah otonomi politis. Jadi disini Hak-hak dasar dan Otonomi Politis keduanya bersifat saling mengandaikan, komplementer.

            Tidak hanya berhenti sampai disitu, Habermas juga melengkapi Check and Balance dari Trias Politica Montesqiueu dengan mengatakan kalau pembagian ketiga kekuasaan berdasarkan eksekutif, legislative, dan yudikatif saja tidaklah cukup.

            Habermas berpendapat bahwa kekuasaan politis baru dapat terlaksana dalam bentuk hokum dan sebaliknya, hokum hanya dapat diberlakukan dan dijamin oleh kekuasaan politis. Dengan demikian dia telah bertindak lebih jauh lagi dengan mengembalikan rakyat pada sumber kekuasaan. Jadi diluar ketiga unsure check and balance. Jadi ada satu unsure lagi yang ditambahkan oleh Habermas, yaitu teorinya yang terkenal mengenai Ruang Publik.

            Pada ruang public, Rakyat ditempatkan pada sebuah proseduralisme. Bila pada Diskursus bertujuan untuk melakukan koreksi nilai untuk mendapat kesepakatan, maka proseduralisme bertujuan untuk melakukan koreksi kembali pada realisasi hasil diskursus. Jadi rakyat tidak ditempatkan pada suatu kekuasaan terpusat semacam MPR, hal ini juga merupakan solusi dari metode demokrasi Rousseau yang mengatakan bahwa seluruh rakyat harus hadir pada sebuah musyawarah.

            Pada era Rousseau permasalahan yang belumlah serumit yang ada sekarang, dimana jumlah penduduk dan kondisi geografis yang berbeda-beda membuat teori Rousseau tersebut terasa sangat tidak realistis. Melalui Ruang Publik, hal tersebut dapat terjembatani, karena keberadaan Ruang Publik itu sendiri tidak terbatas. Dia ada sepanjang terdapat aspirasi dan bertemunya masyarakat yang saling mengeluarkan pendapatnya.

            Sering kita jumpai belakangan ini kerap terjadi demonstrasi menentang peraturan yang diterapkan oleh lembaga legislative maupun pemerintah, hal itu menunjukkan keberadaanya sebagai fungsi proseduralis. Namun demikian bukan berarti keberadaan Ruang Publik ini tanpa kritik, kita juga mendapati bahwa pihak penguasa, yang memanfaatkan kekuasaanya dengan melakukan penggiringan opini. Maka sebaiknya untuk mengimbangi hal tersebut masyarakat sebagai ruang public, sebagai sumber dari kekuasaan, sebagai tempat berlangsungnya, muara dari peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga penguasa juga kritis terhadap apa yang terjadi, contoh yang menarik adalah keberadaan Wikileaks yang membuat gempar inteligen Amerika.

            Sebagai tempat berlangsungnya Proseduralis dan sekaligus Sumber Kekuasaan, rakyat pada akhirnya dapat melakukan revisi pada hokum yang telah dikeluarkan. Disinilah Proses diskursus kembali berputar sehingga menimbulkan hokum yang bersifat dinamis.

 Kesimpulan dan Saran

Kita telah mengamati bahwa hokum ternyata juga mengalami perubahan seiring dengan perkembangan yang terjadi disekitarnya. Pada perjalananya, dia senantiasa mengalami evolusi dan melengkapi kekurangan masa sebelumnya.

Pada hokum yang diperoleh dari hasil Diskursus, dia senantiasa berada pada ranah yang siap untuk dikoreksi. Perkembangan teknologi dan pendidikan juga mempengaruhi efektifitas dari teori ini. Kemunculan alat komunikasi yang semakin canggih terasa semakin mendekatkan kita dari bentangan kondisi geografis. Bila demikian maka Ruang  Publik akan semakin terbuka, arus informasi juga semakin meluas dan dapat dimiliki oleh setiap masyarakat.

Namun demikian, penggiringan wacana adalah suatu momok yang ditakuti yang mengganggu keadilan dari keberlangsungan proses diskursus dan proseduralisme. Bagaimanapun juga Ruang Publik yang benar-benar terbuka –lah yang menjanjikan terus berlangsungnya check and balances.

Ruang public juga mengingatkan kita bahwa hokum (formil) bukanlah jalan satu-satunya, meski kita harus akui potensinya sebagai pengatur yang mempunyai fungsi yang tegas. Prosuderalisme mengingatkan kita bahwa rakyatlah sumber sekaligus muara dalam tiap peraturan hokum, maka hokum yang dapat dikoreksi melalui proseduralisme juga tidak dapat berdiri sendiri seolah-olah sebagai satu elemen penentu, Hukum juga dalam sejarah perkembanganya tidak dapat berdiri sendiri, selalu terdapat kaitan interdependensi dengan bidang lainya karena toh hokum pada akhirnya tidaklah lebih dari pengejawantahan dari golden rule :

Berbuatlah sebagaimana ingin diperbuat

Berikut adalah kutipan dari buku Franz Magnis Suseno, Etika Abad Kedua puluh yang saya kira sangat relevan bila ditempatkan pada bagian akhir makalah ini. Franz Magnis Suseno mengajak kita untuk mewujudkan bersama-sama :

  • Sebuah budaya nir-kekerasan dan hormat terhadap kehidupan
  • Sebuah budaya solidaritas dan tatanan ekonomis yang adil
  • Sebuah budaya toleransi serta kehidupan dalam kejujuran
  • Sebuah budaya untuk kesamaan hak dan kerjasama antara laki-laki dan perempuan

 Daftar Pustaka

Hardiman, Fransisko Budi. Demokrasi Deliberatif. Kanisius, 2009

Hardiman, Fransisko Budi . Filsafat Modern, Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Gramedia, 2004

St. Sunardi. Nietszche. LKiS, 2009

Tanya, Bernard L, dkk. Teori Hukum. Genta Publishing, 2010

O’Donnel, Kevin. Postmodernisme. Kanisius, 2009

Suseno, Franz Magnis. Etika Abad Kedua puluh. Kanisius 2006


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya

Desember 2019
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

my tweets @rianadhivira

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

wordpress visitors