Archive for the 'basabasi' Category

Kereta Jurusan….”Y”

Matahari belum mau tenggelam, tapi begitu shift kerja rampung, Dimas sudah tergesa pulang dari kantor. Ia hendak segera membersihkan diri dan beranjak ke stasiun. Sore tadi handphone-nya berdering, sms dari Eli, sahabat istrinya, yang tinggal di luar kota, begini kiranya bunyi sms itu; “mas Dimas, Lisa sakit keras, sudah tiga hari dia tak sanggup bangkit dari tempat tidur, sudah tiga hari pula ia demam panas tinggi…” belum sempat Dimas balas, masuk lagi sms kedua; “mas, apa ndak bisa pulang nengok Lisa, kedatanganmu akan jadi obat yang murah untuknya, dan barangkali mujarab”

Tak ia balas sms itu, yang ada dipikiranya cuma satu, secepatnya sampai ke stasiun, baginya saat itu, waktu memburu dengan demikian kejamnya. Sampai di stasiun, ditukarnya tiket, dan masuk ke Peron, masih ada waktu ternyata dan seperti biasa, keretanya terlambat datang. Duduklah ia di kursi peron, kakinya tak bisa berhenti bergerak-gerak, kadang ia mainkan kedua tanganya, serba tak jelas Cuma demi membunuh waktu. Tapi cara itu rupanya tak ampuh, perlahan ia teringat bagaimana dia menikah dengan Lisa, empat atau lima tahun yang lalu, dinikahinya perempuan semampai sawo matang dengan mata bulat itu, mertuanya menyambutnya dengan girang, anaknya akan dipersunting orang kota, pegawai negeri kantoran, meski hanya sebagai tukang cap stempel kantor, sebuah pekerjaan priyayi bagi orang desa. Sang mertua yang sudah kepalang bungah itu menjanjikan, bahwa seluruh sawah sekian hektar akan diwariskan pada menantu kebangganya, pada si Dimas. Dimas setuju, tapi ia mengajukan syarat, istrinya tak usah ikut kekota, terlalu bising katanya, tak baik bagi perempuan desa yang polos. Tinggallah sang istri di desa dan Dimas bekerja di kota “x”, tak mesti sebulan sekali menengok istrinya ke desa, mereka beranak dua.

Kereta datang, ia kebagian tempat duduk disebelah jendela, nyaris dibawah pendingin ruangan, asal tau saja, pendingin ruangan di kereta kelas ekonomi bukan sembarang pendingin, ia adalah pendingin ruangan di gedung-gedung yang disulap untuk dipasang di kereta, dan konsekuensinya jelas: tetesan air, beruntung ia tak kebagian basah. Sebelahnya ibu-ibu bau pasar yang gampang tertidur dan dihadapanya, pemuda setengah baya tengah membaca buku.

Dimas duduk memangku ransel, ia pasang kuda-kuda berusaha tidur dengan memeluknya, tapi sia-sia. Ia tak bisa terlelap, bukan karena kereta itu terlalu bising, terlalu penuh dan agak kumuh –ia naik kereta termurah-, lagi ia jadi teringat, Lisa begitu baik, tipikal orang Desa dan orang Jawa yang patuh, tunduk sepenuhnya pada suami. Tak pernah satupun perintah Dimas yang ditolaknya, bahkan, meski empat bulan terakhir kiriman nafkah tak kunjung datang Lisa tak mengungkitnya, begitupula mertuanya, kebanggan pada menantu yang Pegawai Negeri dan orang kota menumpuk dalam kepercayaan pada Dimas. Tak pernah juga Lisa cemberut karena kala pulang, tak pernah ada buah tangan buat dia dan anaknya, seolah semua sudah terlanjur tenggelam dalam prestis.

Kereta tak kunjung sampai, pemandangan diluar sudah tak ada, ditelan matahari yang sudah terlanjur lelah, yang ada hanya fascade gelap diluar sana. Kalaupun ada, yang ada gambaran pilu, pengungsi banjir yang mendirikan tenda nyaris terlalu dekat dengan rel. Hampir tak ada yang menyenangkan buat dilihat dari dalam kereta.

Pernah suatu kali si sulung bertanya padanya, kenapa bapak jarang pulang? Yang keluar adalah jawaban setengah hati, sibuk, kerja, dan jawaban lain sejenis, saat itu dilihatnya si sulung, khas turunan ibunya, koreng di kaki, liur di pipi, dan berbagai pernik lain, sedangkan ibunya, ya…ibunya, sebenarnya Dimas sudah menduga ada yang tak beres dengan ibunya, dari pertama bertemu ia tampak pucat dan kurang bertenaga.

Enam jam yang berasa enam tahun itu usai juga, Dimas keluar kereta, keluar stasiun dan memesan Taxi, mahal sedikit tak apa, sudah tak ada waktu buat angkot. Makan waktu setengah jam sebelum Taxi sampai di sebuah rumah, paling ujung dari deretan rumah-rumah yang lain, tepat berseberangan dengan taman kecil tempat anak-anak main bola tiap sore. Sebelum mengetuk pintu handphonya berdering lagi, Dimas cuma lihat sekilas dan tak menggubrisnya.

ah ayah pulang juga, udah kangen aku, udah seminggu ga pulang”

“ya Tina-ku sayang, kubawakan kau kado tuk anniversary 8 tahun perkawinan kita”

Handphone kembali berbunyi, nada panjang, kali ini telepon

telepon dari siapa sayang?”

“bukan Tina, hape ini sudah mulai rusak, berisik sedari tadi, lebih baik kumatikan saja”

Semarang, 22 Januari 2014

 

Kita Masyarakat Munafik : Prostitusi

Dalam Epos Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dikisahkan seorang ronggeng cantik bernama Srintil beserta liku-likunya dalam melayani dunia hasrat laki-laki. Disitu Srintil menjual ke-Liyan-anya sebagai perempuan dengan tarian yang mempermainkan hasrat nafsu para laki-laki, dan hanya laki-laki yang memiliki harta terbanyaklah yang dapat memiliki malam bersama Srintil sementara yang lain harus berpuas diri dengan cukup memasukkan barang sebentar tangan mereka ke dada Srintil atau bahkan yang lebih tidak beruntung lagi hanya dapat menjadi penonton.

Seksualitas yang dirayakan, setidaknya hal itulah yang terjadi dalam masyarakat Dukuh Paruk yang menurut Ahmad Tohari bodoh dan kumuh. Belum masuknya agama maupun pengetahuan membuat kebenaran mengenai seks tidak semata demi prokreasi, melainkan tercapainya orgasme. Dalam pengaturan yang sedemikian longgar toh Dukuh Paruk memiliki satu senjata untuk menjalankan ekonomi mereka: Ronggeng yang mereka “jual” dengan harga mahal pada pendatang turut memberi rezeki bagi kehidupan Dukuh Paruk.

Disinilah barangkali letak dilema yang paling umum dalam perkara “transaksi orgasme”, meminjam sudut pandang Parsonian misalnya, bagaimana antara budaya maupun ekonomi bersatu: sebuah produktifitas, sebelum pada akhirnya transaksi orgasme harus kembali dalam dunia bayangan yang malu-malu karena kemudian dihantam oleh kebudayaan itu sendiri atas nama moral melalui segenap aturan yuridis maupun alasan medis dan oleh ekonomi atas nama penyelewengan terhadap produktifitas meski kerapkali produktifitas itu lebih sering hadir dalam transaksi orgasme itu sendiri baik secara terbuka maupun malu-malu.

Secara normatif prostitusi tidaklah diatur secara khusus dalam KUHP yang mana hanya tercantum dalam Buku II tentang kejahatan pasal 296 “Barangsiapa dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikanya sebagai pencarian atau kebiasaan diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak seribu rupiah” dan Buku III tentang pelanggaran dalam pasal 506 “Barangsiapa menarik keuntungan dari perbuatan cabul seorang wanita dan menjadikan sebagai pencarian, diancam dengan kurungan paling lama satu tahun”.  Minimnya peraturan yang menaungi tersebut tentu membuat sulit kriminalisasi pelaku pelacuran karena berdasarkan pasal 296 dan 506 yang dapat dikenai pidana adalah pihak ketiga yang mengambil keuntungan yaitu germo. Pasal perzinahan KUHP dalam pasal 284 juga kurang memungkinkan untuk melakukan kriminalisasi karena selain hanya berlaku apabila pihak yang bersangkutan salah satunya telah menikah, patut diingat pula bahwa pasal 284 bersifat delik aduan. Dalam tindak pidana khusus, kriminalisasi dapat menggunakan Undang-Undang Traficking dan Undang-Undang perlindungan anak. Namun yang hendak saya tekankan disini bahwa kriminalisasi perbuatan prostitusi karena tidak ada peraturan yang melingkupinya secara khusus akan mengalami kesulitan mengingat asas legalitas dimana telah disebutkan diatas, minimnya instrumen hukum yang dapat digunakan untuk melakukan kriminalisasi.

Mari sebentar menengok kriminalisasi prostitusi KUHP dalam konsep. Dalam perumusan Konsep KUHP, Kriminalisasi perbuatan asusila yang dapat dikaitkan dengan tindak pidana pelacuran atau prostitusi dapat kita jumpai pada pasal 485 ayat (1) Konsep KUHP tahun 2008[1] yang memperluas kriminalisasi perbuatan zina di Pasal 284 KUHP. Melalui ketentuan tersebut maka pihak yang melakukan perzinahan menurut Konsep dapat dikenai pidana. Disini Konsep KUHP hendak memberikan warna kolektifitas dengan mempertimbangkan moralitas masyarakat dibandingkan dengan moralitas KUHP yang berciri liberalistik yang individualis. Namun permasalahan tersebut sekali lagi terbentur pada ayat (2) yang menyatakan bahwa pasal 485 merupakan delik aduan. Perdebatan mengenai penggunaan delik aduan atau delik biasa dalam perzinahan dalam konsep sendiri menarik untuk diikuti, sebagaimana disampaikan oleh Barda Nawawi, bahwa penggunaan delik aduan absolut dalam perzinahan memiliki kelemahan dimana pencegahan terhadap pelacuran juga menjadi salah satu alasanya[2].

Dengan melihat lemahnya peraturan positif dan masih jauhnya KUHP baru mencapai final dan adanya Peraturan Daerah mengenai lokalisasi -disamping mandulnya aturan yuridis dalam mengatur prostitusi homoseksual maupun lesbian- secara kasar dapat dikatakan bahwa perbuatan prostitusi sejauh tidak sejalan dengan rumusan dalam perundangan tidaklah inkonstitusional, setidaknya demikian secara normatif atau mudahnya, memperoleh kenikmatan melalui prostitusi adalah perbuatan yang legal.

 “Sejak lama dan sampai kini pun kita dibayangi oleh norma-norma zaman Victoria, Ratu yang angkuh dan puritan itu selama ini melambangkan seksualitas kita yang berciri menahan diri, diam, dan munafik”[3]

Demikian adalah kalimat pembuka dari Sejarah Seksualitas karya Michel Foucault yang melalui studi genealoginya mengisahkan bagaimana hubungan antara seks dan kekuasaan saling berkaitan dan berkelindan. Setidaknya, hal ini menjadi dilema tersendiri bagi kekuasaan yang hadir dimana ranah yuridis untuk turut berbicara dan mengatur ketentuan seks, seks terus dikejar melalui bisikan penuh rahasia pada bilik pengakuan dosa, pembaringan yang nyaman dalam psikoterapi, dalam istilah-istilah medis, maupun mitos-mitos yang tersebar dalam kalangan anak-anak –onani menyebabkan kebutaan misalnya- yang ironisnya pengejaran tersebut bukanya membungkam, melainkan melipatgandakan wacana seks itu sendiri, dengan topeng legitimasinya yang beragam.

Bagi Foucault, ada dua kebenaran akan seks : Scientia Sexualita dan Ars Erotica[4]. Yang pertama mengacu pada kebenaran akan seks yang dilegitimasi melalui ilmu pengetahuan, mempelajari seks dari kacamata medis maupun psikoanalisa misalnya, sementara Ars Erotica mendudukkan kebenaran akan seks terdapat pada sentuhan, rangsangan, dan orgasme, pada tingkat kenikmatan yang dihasilkan, contohnya dapat kita lihat pada kamasutra India.

Dalam perkembangan masyarakat di era sekarang, dimana ilmu pengetahuan berbicara banyak tentang seks, kebijakan bio-power menunjukkan kecenderungan seks dalam masyarakat untuk menuju kebenaran seks melalui scientia sexualita –lihat kebijakan KB pada masa Orde Baru dimana seks diatur atas nama penekanan jumlah penduduk untuk mencapai kesejahteraan. Namun seks yang terus dikejar atas nama kekuasaan melalui ilmu pengetahuan tersebut rupanya tidak membuat seks menjadi bungkam, melainkan sebaliknya, wacana seks direproduksi terus menerus.

Kekuasaan bagi Foucault, bukanlah terdapat dalam bentuk institusi ataupun kelas-kelas sosial sebagiamana Marx, melainkan dalam berbagai hubungan kekutan dibidang dia berlaku, dari diskursus yang ada, dan strategi bagaimana dia dijalankan yang masuk sampai ke wilayah yang paling pinggiran[5]. Dengan kata lain Kekuasaan ada dimana-mana; bukan karena mencakupi segalanya, namun dari mana-mana..Kekuasaan bukan sebuah lembaga, dan bukan pula sebuah struktur, bukan semacam daya yang terdapat pada beberapa orang. Kekuasaan adalah nama yang diberikan pada situasi strategis yang rumit dalam masyarakat tertentu[6]. Kekuasaan sebagai suatu hasil dari wacana dominan yang saling bersaing, dan dapat dikatakan kekuasaan bekerja apabila pihak yang menguasai atau dikuasai menginternalisasi kekuasaan itu sendiri.

Disini kita dapat mulai melihat paradoksnya: di satu sisi kekuasaan selalu berkata tidak pada seks, namun disisi lain seks justru berlipat ganda. Dalam dunia prostitusi, kita bisa melihat bahwa upaya-upaya untuk melakukan kriminalisasi atas prostitusi (upaya tersebut dapat dijumpai pada pembentukan Konsep KUHP) harus berhadapan dengan bagaimana seks, atau saya lebih suka menyebutnya sebagai transaksi orgasme yang tersedia baik yang terang-terangan maupun yang paling tersembunyi, dari pelacuran tingkat atas di hotel, karaoke, spa, pijat sampai pelacuran dengan harga yang paling murah dijalan-jalan kala malam. Upaya kriminalisasi tersebut harus berhadapan pula dengan sirkuit kapital yang beredar disekitar tempat prostitusi dimana lingkungan disekitar tempat seks dijajakan menikmati sirkuit kapital tersebut, dan terlebih, turut menyumbang pula APBD jadi ada hipokrisi, ada standar ganda yang rancu dalam penanganan seks disini.

Pada akhirnya, saya hendak mengatakan bahwa apabila negara melalui instrumen Yuridis hendak mengejar dan mengatur-atur seks, maka lawan yang dihadapi bukanlah para germo maupun pelacur, malainkan bagaimana, strategi apa yang dapat digunakan oleh wacana untuk menghadapi musuh terbesarnya: kemunafikan itu sendiri, atau, bisa dikatakan pula, bahwa berjuangan kriminalisasi tersebut yang begitu hendak mengejar dan mengatur-atur kebenaran seks adalah sebuah upaya melawan hasrat, melawan kebebasan seksual, insting pendorong manusia yang paling dominan dalam struktur kesadaran Psikoanalisa Freud[7]. Atau barangkali, memang lebih baik bagi perempuan untuk menjual ke-liyanan-nya seperti Srintil, daripada harus hidup dalam dominasi patriarki laki-laki untuk hidup terkurung dalam rumah tangga. Maka sebuah pertanyaan kembali terbuka disini, dapatkah kebebasan hubungan seksual, melalui prostitusi sekalipun, menjadi sesuatu yang membebaskan dan membahagiakan? Dimana pembungkaman melalui instrumen yuridis mandul berhadapan denganya.[8]


[1] Barda Nawawi Arif. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru. Hlm 259. Pasal 485 ayat (1) berbunyi : “(1) Dipidana karena zina, dengan pidana penjara paling lama lima tahun : a. Laki-laki yang berada dalam ikatan perkawinan melakukan persetubuhan dengan perempuan yang bukan istrinya; b. Perempuan yang berada dalam ikatan perkawinan melakukan persetubuhan dengan laki-laki yang bukan suaminya; c. Laki-laki yang tidak dalam ikatan perkawinan melakukan persetubuhan dengan perempuan,  padahal diketahubahwa perempuan tersebut berada dalam ikatan perkawinan’ d. Perempuan yang tidak dalam ikatan perkawinan melakukan persetubuhan dengan laki-laki padahal diketahui bahwa laki-laki tersebut berada dalam ikatan perkawinan; atau e. Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan.

[2]Dengan dijadikanya perzinahan sebagai delik aduan absolut, tidak mustahil keran pengaman/pengendali menjadi lemah atau longgar, dan bisa berakibat membuka pintu/peluang terjadinya delik-delik lain itu” sedangkan mengenai tujuan dari dilarangnya perzinahan Barda Nawawi mengatakan “Tujuan lain yang patut dipertimbangkan dari dilarangnya perzinaan adalah kesucian lembaga perkawinan dan pengaruh negatif lainya dari perzinaan itu sendiri, antara lain mencegah hidup suburnya pelacuran yang dapat menjadi sumber penyakit kotor dan penyakit yang membahayakan masyarakat…” dalam Ibid hlm 286

[3] Michel Foucault . La Volonte de Savoir Histoire de la Sexualite, Ingin tahu Sejarah Seksualitas. YOI. Jakarta. 2009. Hlm 1

[4] Ibid hlm 81-82

[5]Ibid hlm 121

[6] Ibid hlm 122

[7]Dalam Psikoanalisa Freud, Freud membagi tiga struktur kesadaran : id, ego dan super ego. Id adalah hasrat hewani manusia yang paling dasar sekaligus paling dominan yang terutama didominasi oleh insting seksual sebagai pendorong yang paling kuat. Lihat lebih jauh di pendahuluan oleh K. Bertens dalam Sigmund Freud. Memperkenalkan Psikoanalisa; Lima Ceramah. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1991 hlm xxxix Dapat dilihat pula dalam Alwisol. Psikologi Kepribadian. UMM Press. Malang. 2011. Hlm 13-37

[8] Sebagaimana yang dikatakan oleh Foucault : “..karena hanya merupakan kekuasaan yang bermodel yuridis, ia hanya dipusatkan pada ujaran hukum dan pada cara kerja larangan. Segala cara dominasi, penaklukan, penundukan akhirnya akan kembali pada dampak kepatuhan…” Dalam Op Cit Michel Foucault. Hlm 114

Susan Boyle, Tatapan dan Keajaiban

In 2009 the biggest selling album in the world was not by Beyonce  or Lady Gaga, it wasnt by Kings of Leon or U2, it was by unknown, unemployed, lonely woman from Scotland – Opening Susan Boyle : An Unlikely Superstar.

Susan Boyle adalah peserta reality show “Britain’s got talent”. Penampilan Susan yang seadanya membuat Simmon Cowel dan para juri tampak meremehkanya.  Tapi anggapan tersebut hanya bertahan sebentar saja, beberapa detik kemudian seluruh gunjingan sinis, pandangan setengah hati, dan tawa seolah luruh dalam decak kagum saat Susan mulai bernyanyi. Suara Susan membelalakkan mata seluruh orang yang ada disitu, yang kemudian disusul dengan standing ovation dan riuh tepuk tangan yang tidak kunjung henti disusul dengan bantuan Internet yang melejitkan Susan.

Susan Boyle mungkin adalah sebuah guncangan bagi pop culture, dia berusia setengah baya, tidak pernah pacaran, tidak cantik, punya sedikit masalah komunikasi, korban bully semasa sekolah, hidup di kota kecil di Scotland, dan seorang pengangguran jauh dari gambaran “perempuan yang diinginkan” tapi hal itu kemudian sirna melalui kesuksesan album-albumnya yang luar biasa

Dalam tatapan budaya pop, karena alasan diatas, Susan adalah liyan. Tatapan orang lain membekukan Susan dan mencoba merobek dan memperkosa transendensinya. Ketika ditanya “whats your dream?”, “i try to be a professional singer” Susan dihadapkan pada tatapan yang menjadikanya seonggok obyek yang dicibir dan ditertawakan.

Hal itu seperti kebalikan dari tatapan mata pada masa kecil Sartre. Sartre kecil, dalam Les Mots (kata-kata) juga mengalami momen keterjatuhan, pada awalnya tatapan orang lain memuji-muji dirinya sebagai anak yang tampan, tapi setelah rambutnya dipotong, ditambah dengan mata julingnya, Sartre menyadari kejelekan dirinya, tatapan orang lain menjadi tatapan yang menjatuhkanya.

Susan Boyle, sebaliknya, bagaimanapun juga berhasil melampaui Tatapan yang menjatuhkan tersebut. Dia melampaui definisi-definisi dari tatapan mata yang menjadikanya seonggok obyek. Dia menunjukkan tidak perlu menjadi cantik untuk dicintai, kecantikan adalah sebuah mitos. Sekarang -barangkali- yang dihadapinya adalah Tatapan yang menjadikan tubuhnya sebagai komoditi pengeruk dolar.

I Dreamed a Dream yang dinyanyikanya merubah Tatapan padanya sebagai Liyan menjadi seorang Susan yang meggairahkan untuk disentuh dan digeluti.  Si Liyan yang anonim tersebut kini mempunyai nama, dia adalah Susan Boyle, teruslah bermimpi Susan! we’re no longer laughing at you, we’re smiling… with you 🙂

…everyone was laughing at you, no one is laughing now, that was stunning, an incridible performance. (iers Morgan) ….Im thrilled because i knew that everybody was against you, i honesty think that we were being so sinical and that was the biggest wake up call ever. (Amanda Holdern)…

I had a dream my life would be
So different from the hell I’m living
So different now from what it seemed
Now life has killed the dream I dreamed – I Dreamed a Dream

Postingan Tahun Baru :D


Menjelang taun baru ini, pasti banyak deh yang ngepost soal tempat mereka ngabisin waktu buat taun baru. Buat taun ini, saya coba suatu yang agak “beda” dikit.. saya nggak ngepost kemana saya ngabisin waktu dan dimana ngerayain taun baru, tapi dimana tempat saya paling banyak waktu sepanjang taun 2011 ini.

Ini dia tempat saya nongkrong (hampir) setiap hari, Tempat Parkir Pascasarjana Undip di Pleburan. Tempat ini Rindang, adem, harga jajananya juga ramah, seramah orang-orang disana.

Di tempat ini dulu selalu penuh sesak sama canda dan tawa, warung-warung selalu kerepotan karena dagangan mereka habis terus.

Di tempat ini dulu selalu ada pengunjung tiap waktu, Bu Made, warung andalan saya, nggak pernah sepi sampai adzan Isya’ menggema.

Di tempat ini dulu banyak yang pas ulang taun dikerjain, dilempar tepung, diiket, dikasih telur, sampai gak berbentuk.

Sekarang canda tawa masih ada, tapi diselingi tawa getir waktu nulis pembukuan warung.

Sekarang masih ada yang dateng, semilir angin, yang sedikit menyejukkan waktu harus menutup warung sebelum Maghrib tiba.

Sekarang keadaan disini mirip seperti Charles Darwin bilang, survival for the fittest, satu-demi-satu rontok gulung tikar.

Sekarang tempt ini memang masih serindang dan sesejuk dulu, cuma lebih sunyi, lebih tenang. Terkadang  Tenang tidak melulu berarti baik, karena dalam ketenangan ini, ada rasa yang meronta buat meelihat lagi gelak tawa disini, ditempat yang masih serindang dan sesejuk dulu.

Selamat Natal dan Tahun Baru Selamat Datang Hari “Besok”

Nb. Postingan ini rasanya agak sentimentil ya, tapi yoweslah menurut saya kadang orang juga perlu sentimentil, sama perlunya dengan kadang kita perlu norak, perlu marah, perlu dengki hehe 😛

Arti Kebenaran Lewat Manusia Gua Plato

Ada sekawanan orang yang dibelenggu sedemikian rupa, mereka tidak bisa bergerak menghadap kearah tembok gua. Nah, didalam gua itu ada api unggun yang terletak didepan pintu masuk gua, sehingga api unggun itu menampilkan bayangan yang terdapat di dunia luar gua. Jadi apa yang kawanan orang lihat itu selama hidupnya adalah bayangan dari api unggun tersebut.

Tapi entah bagaimana caranya, ada seorang yang berhasil melarikan diri dari belenggu tersebut, kemudian keluar dari gua, disana dia mendapat pencerahan (enlightenment) tentang dunia yang ada diluar, sebuah realita factual, yang berbeda sama sekali dari bayangan yang terpantul dari api unggun di dinding gua.

Sekembalinya di gua, dia menceritakan pengalamanya tersebut, tapi tidak disangka, justru dia dimaki, dan bila dia melepaskan belenggu orang-orang dalam gua tersebut dia bisa saja malah dibunuh.

Cerita diatas adalah cerita klasik dari seorang Filosof Athena dari Yunani, Plato, murid dari Socrates dan guru dari Aristoteles. Plato terkenal dengan pemikiran dualisme nya yang memisahkan antara dunia ide, dan dunia gejala, yaitu dunia yang diperoleh manusia lewat persepsi indera-indera.

“Kebenaran” Milik siapa?

Ada hal yang unik dari cerita manusia-gua-nya Plato, manusia yang berhasil melarikan diri dari belenggu dan melihat kenyataan yang melampaui bayangan api unggun di didinding gua ternyata ndak diterima oleh orang-orang yang selama ini dibelenggu dan hanya melihat realitas hanya dari bayangan api unggun, dia di-sesatkan, di-bid’ahkan, disingkirkan, mereka telah terlalu nyaman melihat realitas semu dari bayangan.

Kebenaran, bagi Plato, terletak pada dunia idea, dan dunia gejala hanyalah representasi yang tidak sempurna dari dunia idea. Satu-satunya masalah yang muncul dari manusia gua Plato diatas barangkali adalah : dapatkah kita mengetahui siapa diantara kita yang merupakan manusia yang melihat bayang-bayang, dan siapa yang melihat realitas diluar gua?

Maka apa yang Benar itu dapat dicapai oleh manusia? Sering kita jumpai aksi sepihak macam pembakaran tempat ibadah, penomorduaan jenis kelamin, ras, suku, korupsi massal, dan berbagai bentuk kekerasan, mereka menganggap kebenaran versi merekalah yang pasti benar, hakiki, sedangkan yang lain salah.

Kalau seudah begitu mungkn kita boleh berpendapat, kalau yang namanya “Kebenaran” lebih baik dibunuh saja 😀 #upsss

Memikirkan Kembali arti “Menjadi Rasional”

Sebagai masyarakat modern, kita sering membanggakan kemampuan Rasio (akal budi, kesadaran, cogito) kita dalam memecahkan masalah. Namun, rasanya kita justru menjadi terlena dalam menyikapi rasio tersebut,kita menjadi terlalu bergantung menjadi rasio. Rasio tadinya adalah upaya proyek manusia pencerahan untuk menerangi perbuatan keluar dari mitos-mitos dogmatisme justru mengkhianati tujuanya dengan menjadi mitos bagi dirinya..

Bila kita melihat keseharian kita hari ini, seharusnya kita dapat menggugat, benarkah rasio tersebut menuntun kita menuju masyarakat yang tercerahkan? System kerja outsourcing yang merugikan buruh upah, eksploitasi yang berlebihan pada alam, standarisasi disana-sini, benarkah kita menciptakan kemajuan sementara disisi lain justru mengkhianati nilai-nilai emansipsi pada hidup?

“Rasio” pada awal pencerahan dimengerti sebagai akal budi, sebuah sinar yang menerangi manusia menuju otonomi dirinya, rasio di masa ini berusaha untuk memisahkan diri dari dogmatism gereja. Usaha tersebut ditempuh melalui klasifikasi Ilmu pengetahuan dan diramaikan oleh para ilmuan macam Galileo, Copernicus, Darwin, Newton dll.

Seiring dengan perjalananya, rasio lama-kelamaan semakin mengekerucut pada ilmu pengetahuan rigourus (ketat) yang diusung oleh Comte, yang kemudian disusul oleh euphoria revolusi industry dan gegap gempita kapitalisme. Rasionalitas seolah semakin mendapatkan legitimasinya dan iniliah yang kemudian menjadi perhatian, keresahan bagi para pemikir kritis, karena rupanya rasionalitas macam ini justru menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang sebenarnya ingin dihindarinya.

Rasio, Rasionalitas, dan proses Rasionalisasi kemudian dimengerti sebagai upaya menuju pemikiran teknis yang ketat tersebut, “Tindakan Instrumental” bagi Adorno dan Horkhaimer, “Rasio Teknokrat” bagi Mercuse. Menurut Jurgen Habermas, seorang filsuf tersohor Jerman abad ini berpendapat bahwa sebenarnya kita telah salah mengartikan arti dari Rasio, baginya Rasio telah direduksi hanya semata-mata kegiatan yang bersifat teknis-instrumental, mengeringkan nilai-nilai dunia.

“Paradigma filsafat kesadaran sudah kehabisan tenaganya. Karena itu simtom-simtom kehabisan tenaga ini mesti disingkirkan dengan peralihan ke paradigm pemahaman timbal balik”- Jurgen Habermas

Baginya Rasio sendiri tidak bisa dilihat semata-mata pada dimensi teknis-instrumental tersebut, pada pemikir kritis rasionalisasi barat macam Marx, Max Webber dan Generasi Pertama Madzhab Frankurt mereka mengalami kegagalan dalam mengkritik rasionalitas karena hanya memandangnya secara sempit. Habermas sendiri berpendapat bahwa seharusnya rasio selain dimengerti dalam artian teknis-instrumental (rasio instrumental) tersebut juga dimengerti secara komunikatif, Habermas menyebutnya sebagai “Rasio Komunikasi”, dan keduanya selain memiliki sifat bahasa-nya masing-masing juga rupanya saling mempengaruhi satu sama lain.

Maka dapat kita cermati sekarang bahwa rupanya “kekeringan” yang dialami oleh manusia modern dewasa ini rupanya karena tidak imbangnya pertumbuhan rasio tersebut. Rasio yang digunakan didominasi oleh salah satu bentuk rasio saja, yaitu rasio instrumental, sehingga bahasa yang digunakan oleh rasio instrumental tersebut mengintervensi bahasa komunikasi praktis sehari-hari (baca: masuknya pemahaman ekonomi-kapitalis pada pola hidup sehari-hari), kemampuan emansipasi dalam rasio dikebiri oleh pemutlakan bahasa teknis yang kurang tepat bagi bahasa komunikasi yang bersifat intersubyektif.

Saya pribadi setuju dengan Habermas, yang mengharapkan kedewasaan rasio secara seimbang, Rasio instrumental dalam hal mempelajari obyek dengan harapan menghilangkan hambatan manusia secara teknis dengan alam, berkembangnya kemampuan produksi, dan juga Rasio Komunikasi melalui terbukanya ruang berbicara yang bebas dari segala kooptasi kekuasaan, bebas tujuan melalui jalan menyingkirkan hambatan berbahasa. Dengan demikian kemajuan teknologi tidak berdiri sendiri dari emansipasi nilai-nilai dunia social-moral karena keduanya bergerak secara bersama dan terbuka pada kemungkinan reflektif, koreksi diri, rasio instrumental pun dapat menemukan, menyesuaikan, dirinya dalam praksis.

Maka disini kita dapat merefleksi arti rasio pada diri kita sendiri, dimana menjadi rasional tidaklah berarti meninggalkan bahasa dunia sehari-hari demi kepentingan teknis. Sekarangpun kita ini masih (sangat) membutuhkan orang-orang macam Bunda Theresa, Gandhi, Romo Magnis, Pak Marhaen, Munir, dan lainya untuk menyirami dunia dari “kekeringan nilai”.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa :)

Nggak kerasa sudah lebih dari sebulan saya absen nggak ngisi blog ini. Bukan perkara males apa gimana sih tapi memang lagi banyak kegiatan aja :D, dan beberapa waktu lalu ini leptop busuk saya sempet eror juga, hoaahm .

By the way, memasuki bulan Agustus, bebarengan dengan bulan Puasa. Orang sering mengingatkan saya kalau bulan puasa adalah saat untuk kembali kejalan yang benar.

Tapi tunggu dulu, apa itu benar? yang mana yang bisa disebut benar dan mana yang tidak benar? apakah benar itu karena kuasa, atau kuasa ada karena benar? lalu sebenarnya benar itu apa?

Yah sudahlah, pokoknya, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan 🙂 #gabasabasi

 


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Agustus 2017
S S R K J S M
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors