Archive for the 'buat selingan' Category

Postingan Tahun Baru :D


Menjelang taun baru ini, pasti banyak deh yang ngepost soal tempat mereka ngabisin waktu buat taun baru. Buat taun ini, saya coba suatu yang agak “beda” dikit.. saya nggak ngepost kemana saya ngabisin waktu dan dimana ngerayain taun baru, tapi dimana tempat saya paling banyak waktu sepanjang taun 2011 ini.

Ini dia tempat saya nongkrong (hampir) setiap hari, Tempat Parkir Pascasarjana Undip di Pleburan. Tempat ini Rindang, adem, harga jajananya juga ramah, seramah orang-orang disana.

Di tempat ini dulu selalu penuh sesak sama canda dan tawa, warung-warung selalu kerepotan karena dagangan mereka habis terus.

Di tempat ini dulu selalu ada pengunjung tiap waktu, Bu Made, warung andalan saya, nggak pernah sepi sampai adzan Isya’ menggema.

Di tempat ini dulu banyak yang pas ulang taun dikerjain, dilempar tepung, diiket, dikasih telur, sampai gak berbentuk.

Sekarang canda tawa masih ada, tapi diselingi tawa getir waktu nulis pembukuan warung.

Sekarang masih ada yang dateng, semilir angin, yang sedikit menyejukkan waktu harus menutup warung sebelum Maghrib tiba.

Sekarang keadaan disini mirip seperti Charles Darwin bilang, survival for the fittest, satu-demi-satu rontok gulung tikar.

Sekarang tempt ini memang masih serindang dan sesejuk dulu, cuma lebih sunyi, lebih tenang. Terkadang  Tenang tidak melulu berarti baik, karena dalam ketenangan ini, ada rasa yang meronta buat meelihat lagi gelak tawa disini, ditempat yang masih serindang dan sesejuk dulu.

Selamat Natal dan Tahun Baru Selamat Datang Hari “Besok”

Nb. Postingan ini rasanya agak sentimentil ya, tapi yoweslah menurut saya kadang orang juga perlu sentimentil, sama perlunya dengan kadang kita perlu norak, perlu marah, perlu dengki hehe 😛

Arti Kebenaran Lewat Manusia Gua Plato

Ada sekawanan orang yang dibelenggu sedemikian rupa, mereka tidak bisa bergerak menghadap kearah tembok gua. Nah, didalam gua itu ada api unggun yang terletak didepan pintu masuk gua, sehingga api unggun itu menampilkan bayangan yang terdapat di dunia luar gua. Jadi apa yang kawanan orang lihat itu selama hidupnya adalah bayangan dari api unggun tersebut.

Tapi entah bagaimana caranya, ada seorang yang berhasil melarikan diri dari belenggu tersebut, kemudian keluar dari gua, disana dia mendapat pencerahan (enlightenment) tentang dunia yang ada diluar, sebuah realita factual, yang berbeda sama sekali dari bayangan yang terpantul dari api unggun di dinding gua.

Sekembalinya di gua, dia menceritakan pengalamanya tersebut, tapi tidak disangka, justru dia dimaki, dan bila dia melepaskan belenggu orang-orang dalam gua tersebut dia bisa saja malah dibunuh.

Cerita diatas adalah cerita klasik dari seorang Filosof Athena dari Yunani, Plato, murid dari Socrates dan guru dari Aristoteles. Plato terkenal dengan pemikiran dualisme nya yang memisahkan antara dunia ide, dan dunia gejala, yaitu dunia yang diperoleh manusia lewat persepsi indera-indera.

“Kebenaran” Milik siapa?

Ada hal yang unik dari cerita manusia-gua-nya Plato, manusia yang berhasil melarikan diri dari belenggu dan melihat kenyataan yang melampaui bayangan api unggun di didinding gua ternyata ndak diterima oleh orang-orang yang selama ini dibelenggu dan hanya melihat realitas hanya dari bayangan api unggun, dia di-sesatkan, di-bid’ahkan, disingkirkan, mereka telah terlalu nyaman melihat realitas semu dari bayangan.

Kebenaran, bagi Plato, terletak pada dunia idea, dan dunia gejala hanyalah representasi yang tidak sempurna dari dunia idea. Satu-satunya masalah yang muncul dari manusia gua Plato diatas barangkali adalah : dapatkah kita mengetahui siapa diantara kita yang merupakan manusia yang melihat bayang-bayang, dan siapa yang melihat realitas diluar gua?

Maka apa yang Benar itu dapat dicapai oleh manusia? Sering kita jumpai aksi sepihak macam pembakaran tempat ibadah, penomorduaan jenis kelamin, ras, suku, korupsi massal, dan berbagai bentuk kekerasan, mereka menganggap kebenaran versi merekalah yang pasti benar, hakiki, sedangkan yang lain salah.

Kalau seudah begitu mungkn kita boleh berpendapat, kalau yang namanya “Kebenaran” lebih baik dibunuh saja 😀 #upsss

JuPe & Etika Lingkungan

Perbuatlah bagi orang lain apa yang Anda ingin mereka perbuat terhadap anda” – Yesus

Apa yang tidak Anda inginkan dibuat kepada Anda, jangan perbuat itu terhadap orang lain” – Confucius

Jangan Seorang pun dari kamu memperlakukan saudaramu atas cara yang ia sendiri tidak ingin diperlakukan” –  Muhammad

Seseorang harus mencari untuk orang lain kebahagiaan yang ia inginkan untuk dirinya sendiri” – Buddha

Dari beberapa kutipan diatas, semua memiliki maksud dan tujuan yang sama, hanya penyampaianya yang sedikit berbeda. Lalu apa maksudnya? yak! beberapa kutipan diatas adalah Golden Rule yang mendasari beragam prinsip-prinsip etika.

Sebelum membaca lebih lanjut kita seharusnya bertanya terlebih dahulu, Apa itu etika? ada banyak definisi mengenai etika, tapi secara umum etika adalah mengenai bagaimana manusia seharusnya berbuat secara “baik”. Salah satu favorit saya adalah mengenai Imperatif Kategoris dari Rasio Praktis Immanuel Kant yang mengatakan bahwa “berbuatlah sebagaimana maxim perbuatanmu diterima secara universal” (Filsafat Modern – F. Budi Hardiman) bahwa dalam berbuat, seseorang harus menimbang terlebih dahulu apakah perbuatan tersebut dapat diterima oleh orang lain atau tidak.

Tapi sayang, teori tersebut sudah dianggap tidak memadai lagi. Bahkan dikatakan kalau Rasio Praktis telah mengalami kebangkrutan (Demokrasi Deliberatif – F. Budi Hardiman) sehingga sudah tidak bisa diterapkan lagi. Pertanyaanya adalah “Kenapa”? jawabanya karena Rasio Praktis terlalu bertumpu pada subyek. Menurut filosof kondang Jerman, JB.Habermas tidaklah cukup kalau setiap orang sendirian memeriksa apakah ia dapat menghendaki keberlakuan universal sebuah norma ( Etika Abad keduapuluh – F. Magniz Suseno). Lalu apa jalan keluarnya? yaitu melalui proses diskursus -musyawarah- yang mengakomodir kepentingan semua pihak.

Etika Lingkungan

Dasawarsa terakhir ini kita sedikit banyak heboh mengenai permasalahan lingkungan. Dari felem dokumenter  Inconvenient Truth-nya si Al gore sampai ke Hollywood The Day After Tomorrow. Kalau orang jawa pas panik bilang Lhaiske!! ayo sadar!

Yah harus kita akui ya, semenjak revolusi industri yang dibarengi pemikiran-pemikiran yang bersifat “subyektif” ala modernisme-pencerahan, kita seolah lupa dan terhanyut dalam konsumerisme dan eksploitasi yang berlebihan terhadap bumi yang katanya berumur 4,5 milyar taun ini (udah sepuh ya).

Positifnya, tema diatas ternyata menghasilkan sebuah antitesis baru: tumbuhnya kesadaran terhadap lingkungan. Persoalan lingkungan jadi urusan para menteri di PBB dan Protokol Kyoto sampai ke Blogger kacangan kayak saya yang aji mumpung  sekalian ikutan lomba (ups hehe).

Jadi poin pentingnya adalah, melalui wacana dan diskusi dari yang serius sampai sedehana yaitu : kita bertanggung jawab terhadap bumi yang sudah sepuh ini. Bahwa seharusnya kita bersama sepakat kalau bumi beserta isinya ini harus kita rawat, bukan buat siapa-siapa tapi demi kita sendiri (ingat Rasio Praktis Kant dan Diskursus Habermas diatas). Wacana dan diskursus yang berkelanjutan mengenai lingkungan seharusnya cukup untuk membuat kita aware dan peka pada lingkungan kita sehari-hari.

Terus mas, apa hubunganya sama JuPe yang montok  itu? hahaha JuPe adalah JUrus PEncegahan sederhana yang bisa kita terapkan pada our common life.Apa saja yak ini dia :

  • Pertama : ingat golden rule mengenai etika : sebelum membuang sampah, meludah, mengumpat, mengotori, sembarangan selalu ingat kalau apa yang kita lakukan itu menyalahi kepentingan dan keselamatan umum, terutama cucu kita besok
  • Kedua : selalu ingat ke peraturan pertama :P. Kita pasti nggak terima to, kalau tempat maen masa kecil kita yang ijo royo-royo besok hilang diganti pabrik-pabrik dan asepnya.

Buat yang udah kadung ngiler mbayangke mbak JuPe beneran dari judul diatas, nyoh tak kasih potone sekalian 😛

Selamat Semangat Membumikan Bumi ya !! salam hangat !

Selamat Ulang Tahun Devi ! :D

Saya sering ngabisin waktu di PKL Undip di Peleburan Semarang. Kangen rasanya kalo beberapa hari saja ga bertandang kesana, nasi gorengnya, ayam gepuknya, nyam! haha ! tapi ada cerita yang mau saya bagi disini; Namanya Devi, masih kelas 1 SD anak salah satu penjual di PKL yang juga sering main main disitu. Saya sering goda-godain dia, bukan karena pedofil tapi gemes 😛

Devi: mas mas aku kemaren ulang taun lhooo
Saya: oh ya? musooook? gimana ulang taune?
Devi: enggak dirayain og, tapi aku diucapin selamet sama mamaku
saya: haha sama, aku juga gak pernah dirayain oo dev, memang gimana dev ucapanya?
Devi:

Devi selamat ulang tahun ya, cepet gede, biar bisa cepet cari uang.

Saya: *senyum kecut, selamat ulang tahun ya dev hehe

Miris ya rasanya, cita-citanya terpatok pada acuan  “biar bisa cepet cari uang”. Apa cuma Devi ini saja? atau ada Devi yang lain? . Kalau dicoba melihat dari sudut pandang yang sedikit lebih luas, mungkin Rousseau benar juga, dengan mengatakan kalau kemajuan manusia tidak mendatangkan kebahagiaan melainkan justru menambah penderitaan, karena ilmu pengetahuan berasal dari sisi negatif mansia;  seperti  ilmu ekonomi dari keserakahan, etika dari kesombongan kelas, fisika dari kemalasan (dst) ? kalau begitu bukankah tidak salah kalau saya mengatakan bahwa arus besar kapitalisme turut berperan semakin menggencet cita-cita Devi?

Sedikit Flashback, selama saya sekolah 20 tahun saya menyimpulkan kalau tujuan manusia secara garis besar pada hakikatnya cuma satu : “kebahagiaan”. Tapi kebahagiaan macam apa? apa yang melulu materi? kekuasaan? kekuatan? kepintaran? terus apa dong?.

Rasanya sudah terlalu banyak “?” dalam postingan ini, tapi bukan manusia namanya kalau tidak mencoba untuk terus bertanya. Ayo kita lampaui Rousseau dengan membuat ilmu pengetahuan membawa kemajuan yang positif buat cita-cita Devi. Untuk penutup, nggak ada salahnya buat sekali lagi mengucapkan selamat;

Selamat ulang tahun ya Devi, semoga panjang umur, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu 😀

Semar ditengah Kapitalisme (Suara Merdeka 4 sept 2010)

Hari kebangkitan nasional pada 20 mei, mengingatkan kita akan pentingnya semangat dari amunisi akademisi-akademisi muda dalam pentingnya peran mereka dalam menancapkan tonggak perlawanan terhadap kolonialisme yang telah mengkungkung negri ini selama lebih dari 350 tahun setelah gagalnya upaya-upaya perlawanan yang sebelumnya hanya dilakukan secara sporadis.

Kemudian melongok ke lebih dari satu dekade lalu dimana para mahasiswa yang mewakili suara rakyat kembali menunjukkan keampuhanya dalam menumbangkan rezim orde baru. Dalam perspektif bahwa setiap mahasiswa adalah tonggak harapan, utusan dari para orang tuanya untuk melakukan suatu sumbangsih pada kehidupan bermasyarakat sekaligus menularkan spirit dari nuraninya untuk melakukan perubahan pada hal-hal yang bertentangan baik dari tatanan kesusilaan, tatanan hukum, maupun tatanan kebiasaan bagi sekitarnya untuk yang tidak beruntung merasakan bangku kampus atau bahkan bagi yang tidak pernah mengecap pendidikan sama sekali.

Pertanyaan yang timnbul kini adalah, dalam bentuk apa kemudian  pengejawantahan peran dari mahasiswa pada masyarakat kini dalam hiruk-pikuk himpitan sesak kapitalisme yang menurut Muhammad Yunus adalah sebuah system yang baru setengah jadi itu?

Justru sekarang inilah peranan mahasiswa Indonesia kembali diuji, tantangan ini tidak kalah berat dari penggulingan tantangan kolonialisme Belanda-Jepang maupun cengkraman Orba. Disini, sekarang,kita berperang mempertahankan identitas bangsa melawan gempuran musuh yang tidak kasat mata ini, yang bagaikan  angin topan yang bisa menghempaskan pohon sampai ke akar-akarnya, saat inilah kita harus berpegang erat pada nilai budaya. Lihatlah Jepang dan Cina dimana sukses secara ekonomi dengan tetap mempertahankan nilai kebudayaan.

Tugas mahasiswa Indonesia kini,adalah melakukan perubahan paradigma berupa penyelamatan darurat terhadap “nilai” dari warisan budaya dalam rangka menjaga supaya empek-empek, loenpia, gudeg, wingko, sate  Madura dan kawan-kawan tetap mampu bersaing melawan rumah makan-rumah makan bergaya luar negri. Supaya Semar, Gareng, Petruk, Bagong tidak kalah bersanding dengan komik-komik import. Agar kita dapat menengok kembali kekayaan khasanah budaya kita.Karena hanya dengan menjaga identitas bangsalah, kita dapat terus melaju kencang menjawab tantangan jaman.

nb:tulisan ini saya kirim ke Suara Merdeka dan di muat di rubrik Debat pada hari sabtu 4 september 2010 halaman 19 dengan judul “Terimpit Kapitalisme”. masih perlu banyak perbaikan disana-sini, tapi tetep semangat deh !

Dibalik Mahabharata

Mahabharata, epos besar perang antara Pandawa melawan Kurawa. Banyak benget yang bisa kita ambil dari cerita Mahabharata ini, perang dari semua perang ini kalo sedikit kita liat lebih dalem, bukan perang semata-mata antara good vs evil. Disini semua tokohnya bukan serba hitam atau putih karena masing-masing punya sisi positif dan posisi negatifnya sendiri-sendiri. Bahkan Yudhistira pun terpaksa berbohong soal Aswatama buat mengelabui Mahaguru Durna, Arjuna yang membunuh Karna selagi roda keretanya terperosok, Setyaki yang menyerang musuhnya disaat sedang semedi, ataupun Bima yang menyerang tubuh bagian bawah Duryudana. Toh perang kurusetra ini juga terjadi karena permasalahan judi dadu antara Yudhistira dan Sengkuni dan Duryudana. Kalau saja Pandawa mau nrimo dan tidak mempermasalahkan, pasti nggak perlu ada banyak nyawa yang melayang, hal ini juga akhirnya disadari dan disesali oleh Yudhistira di akhir perang.

Di Mahabharata ini ,peran terbesar dan pemegang skenarionya adalah Batara Wisnu (salah satu trimurti Hindu, dewa pemelihara) yang mennyaru kedalam Sri Kresna, raja Dwaraka (dalam perang jadi sais kereta arjuna). Kresna-lah yang mengatur kematian Bhisma dengan memakai Srikandi, membunuh Durna melalui Drustadumya,  dan bahkan Gatotkatcha yang dijadikan tameng martir karena mati di tangan Prabu Karna dengan tombak Konta yang seharusnya disimpan untuk kemudian akan dipakai untuk membunuh Arjuna.

Memang tidak semua hitam dan tidak semua putih, namun Sang Maha Kuasa (disini Wisnu, Kresna) selalu punya skenario yang mengatur plot jalanya cerita, dan cuma sedikit orang yang sadar dan punya kebijaksanaan yang cukup untuk memahaminya. seperti Bhisma yang pasrah ketika Kresna akan melanggar sumpahnya dan sudah berancang-ancang untuk membunuhnya karena Bhisma tahu kalau Kresna adalah jelmaan dari Wisnu.

Jadi, pihak yang didukung dan dinaungi oleh Yang Maha Kuasa adalah pihak yang akan memperoleh kemenangan. Ayo-ayo pada baca Mahabharata ! 🙂

Ayo bikin Avatarmu !

Ga tau saya yang gak apdet apa gimana, tapi baru-baru ini saya nemu cara lucu bikin avatar.. lewat faceyourmanga. Bikinya gampang & gak ribet tinggal set set set set bat bet langsung jadi, terus masukin email dan beres deh ! tinggal di download via email. Ini nih contoh hasil artwork saya :

hahaha lucu ya, malah gantengan avatarnya daripada aslinya.. ayo silahkan kalo ada yang minat nyusul mau bikin juga.

nb: selain di faceyourmanga, bisa juga bikin di muggmaker, dan urfooz. Selamat mencoba dan berkreasi !


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya

Desember 2019
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

my tweets @rianadhivira

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

wordpress visitors