Archive for the 'budaya pop' Category

Perempuan, Fesyen, dan Konsumsi

Dibandingkan dengan laki-laki, aktifitas berbelanja dan fesyen lebih dilekatkan pada perempuan. Terlebih ketika televisi dapat dimiliki oleh semua orang dan gemerlap berbagai kontes kecantikan yang diikuti dengan berbagai ragam kolom kecantikan di majalah-majalah wanita. Simmone de Buvoir feminis eksistensialis sebagaimana dikutip oleh Thornham mengatakan “maksud fesyen-fesyen atas mana (perempuan) diperbudak bukanlah mengungkapkan diri sang perempuan sebagai individu independen, tetapi sebaliknya untuk menjadikanya mangsa bagi hasrat laki-laki..”

Pendapat de Buvoir tersebut mewakili para feminis yang banyak mengkritisi determinasi perempuan dari fesyen yang merujuk pada suatu bentuk kecantikan. Determinasi yang tidak ada habisnya tersebut dapat menimbulkan kekerasan yang barangkali sama berbahayanya dengan kekerasan fisik. Kekerasan dari determinasi atas nama kecantikan berbahaya karena berlangsung secara terselubung dan seringkali tidak disadari sehingga perempuan sendiri justru meng-affirmasinya.

Disamping Budaya Fesyen dan Kecantikan yang tampak pada para model dan artis di televisi, Kontes Kecantikan juga mencerminkan betapa perempuan dipandang melalui kriteria tubuh tertentu. Affirmasi dari nilai determinasi tersebut dapat kita lihat dari tekanan pada perempuan untuk meraih kecantikan ala barbie yang mustahil, yang dalam beberapa kasus tertentu bahkan sampai pada obsesi yang menimbulkan anorexia dan Bulimia.

Di era ini, perempuan memang sudah mendapat tempat di ruang publik untuk bekerja dan turut berpartisipasi dalam hal produksi, sebuah dunia yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki. Namun para perempuan yang bekerja tersebut juga tidak luput dari determinasi tersebut, dimana nilai-nilai kecantikan turut dimasukkan kedalam kriteria pekerjaan untuk perempuan dalam bentuk jargon “berpenampilan menarik”.

Perempuan yang walaupun bekerja dan menempati sektor produksi sebagaimana diperjuangkan oleh feminis, terutama feminis liberal dan marxis, dalam konteks ini justru menemui rintangan dimana perempuan lebih dipandang semata-mata sebagai tubuh (komoditas) dan bukan manusia. “Kecantikan” yang dikejar dan dijadikan acuan tidaklah membebaskan melainkan memenjarakan perempuan itu sendiri.

Para perempuan haruslah lebih kritis dalam menyikapi fesyen dan kecantikan yang lebih merupakan kepanjangan dari dominasi patriarki. Munculnya gerakan fesyen alternatif semacam “big is beautiful” maupun fesyen yang androgini dapat diapresiasi sebagai bentuk perlawanan atas kecantikan yang dominan.

Selama perempuan belum menjadi tuan atas tubuhnya, kita akan terus menemukan fenomena gunung es atas pelaporan kekerasan perempuan baik di ruang privat maupun publik, terlebih untuk memasuki dunia politik untuk kemudian menghasilkan peraturan yang lebih sensitif gender. Kita dapat memulainya dengan menjadi konsumen yang rasional, yang tidak silau dengan gemerlap pernak-pernik fasyen maupun jargon-jargon kecantikan.

Susan Boyle, Tatapan dan Keajaiban

In 2009 the biggest selling album in the world was not by Beyonce  or Lady Gaga, it wasnt by Kings of Leon or U2, it was by unknown, unemployed, lonely woman from Scotland – Opening Susan Boyle : An Unlikely Superstar.

Susan Boyle adalah peserta reality show “Britain’s got talent”. Penampilan Susan yang seadanya membuat Simmon Cowel dan para juri tampak meremehkanya.  Tapi anggapan tersebut hanya bertahan sebentar saja, beberapa detik kemudian seluruh gunjingan sinis, pandangan setengah hati, dan tawa seolah luruh dalam decak kagum saat Susan mulai bernyanyi. Suara Susan membelalakkan mata seluruh orang yang ada disitu, yang kemudian disusul dengan standing ovation dan riuh tepuk tangan yang tidak kunjung henti disusul dengan bantuan Internet yang melejitkan Susan.

Susan Boyle mungkin adalah sebuah guncangan bagi pop culture, dia berusia setengah baya, tidak pernah pacaran, tidak cantik, punya sedikit masalah komunikasi, korban bully semasa sekolah, hidup di kota kecil di Scotland, dan seorang pengangguran jauh dari gambaran “perempuan yang diinginkan” tapi hal itu kemudian sirna melalui kesuksesan album-albumnya yang luar biasa

Dalam tatapan budaya pop, karena alasan diatas, Susan adalah liyan. Tatapan orang lain membekukan Susan dan mencoba merobek dan memperkosa transendensinya. Ketika ditanya “whats your dream?”, “i try to be a professional singer” Susan dihadapkan pada tatapan yang menjadikanya seonggok obyek yang dicibir dan ditertawakan.

Hal itu seperti kebalikan dari tatapan mata pada masa kecil Sartre. Sartre kecil, dalam Les Mots (kata-kata) juga mengalami momen keterjatuhan, pada awalnya tatapan orang lain memuji-muji dirinya sebagai anak yang tampan, tapi setelah rambutnya dipotong, ditambah dengan mata julingnya, Sartre menyadari kejelekan dirinya, tatapan orang lain menjadi tatapan yang menjatuhkanya.

Susan Boyle, sebaliknya, bagaimanapun juga berhasil melampaui Tatapan yang menjatuhkan tersebut. Dia melampaui definisi-definisi dari tatapan mata yang menjadikanya seonggok obyek. Dia menunjukkan tidak perlu menjadi cantik untuk dicintai, kecantikan adalah sebuah mitos. Sekarang -barangkali- yang dihadapinya adalah Tatapan yang menjadikan tubuhnya sebagai komoditi pengeruk dolar.

I Dreamed a Dream yang dinyanyikanya merubah Tatapan padanya sebagai Liyan menjadi seorang Susan yang meggairahkan untuk disentuh dan digeluti.  Si Liyan yang anonim tersebut kini mempunyai nama, dia adalah Susan Boyle, teruslah bermimpi Susan! we’re no longer laughing at you, we’re smiling… with you 🙂

…everyone was laughing at you, no one is laughing now, that was stunning, an incridible performance. (iers Morgan) ….Im thrilled because i knew that everybody was against you, i honesty think that we were being so sinical and that was the biggest wake up call ever. (Amanda Holdern)…

I had a dream my life would be
So different from the hell I’m living
So different now from what it seemed
Now life has killed the dream I dreamed – I Dreamed a Dream

Memikirkan Kembali arti “Menjadi Rasional”

Sebagai masyarakat modern, kita sering membanggakan kemampuan Rasio (akal budi, kesadaran, cogito) kita dalam memecahkan masalah. Namun, rasanya kita justru menjadi terlena dalam menyikapi rasio tersebut,kita menjadi terlalu bergantung menjadi rasio. Rasio tadinya adalah upaya proyek manusia pencerahan untuk menerangi perbuatan keluar dari mitos-mitos dogmatisme justru mengkhianati tujuanya dengan menjadi mitos bagi dirinya..

Bila kita melihat keseharian kita hari ini, seharusnya kita dapat menggugat, benarkah rasio tersebut menuntun kita menuju masyarakat yang tercerahkan? System kerja outsourcing yang merugikan buruh upah, eksploitasi yang berlebihan pada alam, standarisasi disana-sini, benarkah kita menciptakan kemajuan sementara disisi lain justru mengkhianati nilai-nilai emansipsi pada hidup?

“Rasio” pada awal pencerahan dimengerti sebagai akal budi, sebuah sinar yang menerangi manusia menuju otonomi dirinya, rasio di masa ini berusaha untuk memisahkan diri dari dogmatism gereja. Usaha tersebut ditempuh melalui klasifikasi Ilmu pengetahuan dan diramaikan oleh para ilmuan macam Galileo, Copernicus, Darwin, Newton dll.

Seiring dengan perjalananya, rasio lama-kelamaan semakin mengekerucut pada ilmu pengetahuan rigourus (ketat) yang diusung oleh Comte, yang kemudian disusul oleh euphoria revolusi industry dan gegap gempita kapitalisme. Rasionalitas seolah semakin mendapatkan legitimasinya dan iniliah yang kemudian menjadi perhatian, keresahan bagi para pemikir kritis, karena rupanya rasionalitas macam ini justru menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang sebenarnya ingin dihindarinya.

Rasio, Rasionalitas, dan proses Rasionalisasi kemudian dimengerti sebagai upaya menuju pemikiran teknis yang ketat tersebut, “Tindakan Instrumental” bagi Adorno dan Horkhaimer, “Rasio Teknokrat” bagi Mercuse. Menurut Jurgen Habermas, seorang filsuf tersohor Jerman abad ini berpendapat bahwa sebenarnya kita telah salah mengartikan arti dari Rasio, baginya Rasio telah direduksi hanya semata-mata kegiatan yang bersifat teknis-instrumental, mengeringkan nilai-nilai dunia.

“Paradigma filsafat kesadaran sudah kehabisan tenaganya. Karena itu simtom-simtom kehabisan tenaga ini mesti disingkirkan dengan peralihan ke paradigm pemahaman timbal balik”- Jurgen Habermas

Baginya Rasio sendiri tidak bisa dilihat semata-mata pada dimensi teknis-instrumental tersebut, pada pemikir kritis rasionalisasi barat macam Marx, Max Webber dan Generasi Pertama Madzhab Frankurt mereka mengalami kegagalan dalam mengkritik rasionalitas karena hanya memandangnya secara sempit. Habermas sendiri berpendapat bahwa seharusnya rasio selain dimengerti dalam artian teknis-instrumental (rasio instrumental) tersebut juga dimengerti secara komunikatif, Habermas menyebutnya sebagai “Rasio Komunikasi”, dan keduanya selain memiliki sifat bahasa-nya masing-masing juga rupanya saling mempengaruhi satu sama lain.

Maka dapat kita cermati sekarang bahwa rupanya “kekeringan” yang dialami oleh manusia modern dewasa ini rupanya karena tidak imbangnya pertumbuhan rasio tersebut. Rasio yang digunakan didominasi oleh salah satu bentuk rasio saja, yaitu rasio instrumental, sehingga bahasa yang digunakan oleh rasio instrumental tersebut mengintervensi bahasa komunikasi praktis sehari-hari (baca: masuknya pemahaman ekonomi-kapitalis pada pola hidup sehari-hari), kemampuan emansipasi dalam rasio dikebiri oleh pemutlakan bahasa teknis yang kurang tepat bagi bahasa komunikasi yang bersifat intersubyektif.

Saya pribadi setuju dengan Habermas, yang mengharapkan kedewasaan rasio secara seimbang, Rasio instrumental dalam hal mempelajari obyek dengan harapan menghilangkan hambatan manusia secara teknis dengan alam, berkembangnya kemampuan produksi, dan juga Rasio Komunikasi melalui terbukanya ruang berbicara yang bebas dari segala kooptasi kekuasaan, bebas tujuan melalui jalan menyingkirkan hambatan berbahasa. Dengan demikian kemajuan teknologi tidak berdiri sendiri dari emansipasi nilai-nilai dunia social-moral karena keduanya bergerak secara bersama dan terbuka pada kemungkinan reflektif, koreksi diri, rasio instrumental pun dapat menemukan, menyesuaikan, dirinya dalam praksis.

Maka disini kita dapat merefleksi arti rasio pada diri kita sendiri, dimana menjadi rasional tidaklah berarti meninggalkan bahasa dunia sehari-hari demi kepentingan teknis. Sekarangpun kita ini masih (sangat) membutuhkan orang-orang macam Bunda Theresa, Gandhi, Romo Magnis, Pak Marhaen, Munir, dan lainya untuk menyirami dunia dari “kekeringan nilai”.

Perempatan Jalan Kala Senja

Dibalik banyak dan menjulang berbagai gedung, ditengah gegap gempita lampu kehidupan, rupanya ada kehidupan disela-sela bayangan para kemegahan, ada yang hidup dibalik temaram lampu. Diantaranya adalah waria. Waria yang selalu dikonotasikan sebagai hal yang buruk, menjadi bahan candaan yang disusul gelak tawa yang tak kunjung henti. Namun terbesit ada rasa kagum, karena terdapat kejujuran pada para waria tersebut, waria setidaknya berani mengatakan “ya” pada hidupnya. Ternyata ada “ya” yang tulus ditengah masyarakat “normal” yang serba munafik dan berbelit.

Waria sering dicemooh, barangkali karena kerancuan seksnya yang dianggap keliru. Diluar wacana keagamaan dan medis-biologis, mungkin kita bisa memandangnya dalam sudut wacana yang agak berbeda, bahwa kenapa waria itu –dianggap- salah?

Banyak wanita yang kini menempati pos-pos yang dulunya hanya dikhususkan, di-eksklusifkan bagi laki-laki. Perempuan dirangkul untuk merayakan sikap yang dulunya hanya diperuntukkan bagi laki-laki, maskulinitas, demi kesetaraan dan kebebasan mereka bilang. Mereka dielukan sebagai pionir kemerdekaan gender, namun benarkah? Bukankah kesetaraan gender berarti dibebaskanya feminine dan maskulin secara terpecah belah keruang bebas, dimana setiap orang dapat menggapai apa saja yang mereka mau?

Bohong besar kala kita mengatakan kesetaraan dan kebebasan tapi kita masih saja memandang yang maskulin, yang dulunya dimiliki laki-laki sebagai dewa untuk disembah. Bukanya feminine yang dulu dimiliki oleh perempuan juga –seharusnya- mendapat tempat yang sama? Kalau kita menganggukmaka kita harus mengamini juga bahwa baik pria maupun wanita berhak mengambil maskulin maupun feminine dalam dirinya, atau bahkan mengambil keduanya sekaligus pada satu tubuh.

Mungkin karena kita menganggap maskulin beberapa tingkat lebih tinggi, lebih mulia daripada feminine, maka tanpa sadar kita berpikir bahwa para pahlawan wanita itu dengan mengambil sifat-sifat maskulin akan naik tingkat, naik ke sebuah ketinggian baru, sedangkan para pria yang mengadopsi feminine, akan dianggap turun kasta, dalam hal ini tentu saja waria adalah para mereka itu, sehingga mereka dibuang, tidak diakui. , bisa saja kita berkata kalau kemerdekaan dan kesamaan baru mungkin terjadi bila baik maskulin maupun feminine keduanya dibubarkan saja.

Berikutnya adalah ekonomi , di zaman yang serba berhitung, tiap orang harus melakukan kerja, haru mampu menjadi bagian dari suatu proses produksi yang berbelit, untuk menghasilkan sesuatu untuk dijual, untuk dibeli. Persaingan antara pabrik satu dan lainya membuat persaingan yang berhujung pada dirangkulnya sebuah kata untuk menemani “produksi” tadi, yaitu efisiensi. Dari sinilah ada standarisasi. Agar produk dapat dijual, maka dia mengambil standarisasi dari pandangan calon konsumenya, dan disini, “waria” tidak ada pada kolom pilihan jenis kelamin pendaftaran kerja. Mereka dianggap meresahkan, seolah-olah ada rasa risih ketika berdampingan. Karena kesempatan itu sudah dirampas, maka mereka hanya memiliki tubuh untuk dijual dalam cara yang lain. Waria dianggap tidak produktif, dan tidak berharga, dan suatu rantai belenggu-pun kembali berputar.

Kalau memang demikian cara kita berpikir dan memandang pada “yang lain” dan memandang yang lain itu lebih rendah, nista, mungkin masih melekat pada diri kita kesombongan ala fasis,  mengendap, saat kita berpikir bahwa Cuma kitalah yang memeluk kebenaran yang mahabenar itu.

Bagai mengetuk patung berhala raksasa berusia ribuan tahun dan mendapati hanya kekosongan didalamnya. Saya percaya, banyak wacana yang dapat kita gunakan untuk melihat waria dan “yang lain” (agama, etnis, ras, minoritas) disamping wacana dominan yang membutakan karena menutup kekayaan wacana yang sesungguhnya ada dan berbagai wacana lain yang dapat berbicara, mendekonstruksi wacana dominan.. Dari para waria, barangkali kita dapat belajar bahwa ada masa dimana  jumlah tidaklah selalu identik dengan kebenaran.

Yah, suatu saat kita mungkin akan merayakan, bahwa memang ada kehidupan yang menggeliat, di remang lampu perempatan jalan kala tiba sang senja.

Konsumerisme, Mitos Dari Etika yang Membeku

Di negeri ini, kini telah hadir berbagai pusat perbelanjaan sekarang orang tidak perlu lagi pusing untuk mengeluarkan dompetnya. Namun sayangnya, baik kita sadari maupun tidak, rupanya pola hidup konsumtif telah merasuk kedalam berbagai sendi kehidupan.

Tunggu dulu, lalu apa masalahnya? Berbelanja demi gaya hidup, secara tidak langsung telah menggiring pemikiran kita untuk berpusat pada tubuh (penampilan) . Tubuh menjadi sasaran obyektifikasi dari konsumerisme, karena melalui konsumsi, kita dapat mengaktualisasi diri lewat baju, perhiasan, gadget, bentuk tubuh, yang kita beli. Pola hidup yang demikian seolah-olah dilegitimasi melalui deretan iklan dan sinetron  yang memuja tubuh dengan bahasa dan symbol tertentu, aktualisasi tubuh via konsumsi dijadikan sebagai semacam ideology.

Lalu bagaimana dengan peran etika? Etika secara garis besar berbicara tentang “jalan menuju kebaikan”. Menurut Jurgen Habermas, Etika berkaitan dengan Konsensus, tentunya karena etika dihasilkan melalui diskursus untuk memperoleh kesepakatan bersama mengenai apa yang baik itu.

Problemnya adalah ketika diskursus tersebut disandarkan pada tubuh dan konsumsi, maka obsesi atas penampakan tubuh, dan bagaimana tubuh dilihat seolah semakin menemukan alasanya. Super-ego yang didasarkan konsumsi, tentu akan menimbulkan represi yang berbasis konsumsi pula. Simbol dan nilai tubuh dikelompokkan, kita membaginya ke tingkatan-tingkatan social, barang atau bentuk tubuh tertentu mencerminkan kelas social pemiliknya.  Karena wacana tubuh itu demikian dominan, kita mulai melupakan nilai-nilai yang lain, kita terbelenggu bahwa tubuh adalah satu-satunya media aktualisasi diri, penampilan adalah segalanya.

Pada Tahap ini saat etika tubuh mulai terjebak membeku menjadi dogma dalam system tertutup, kita dapat mempertanyakan kembali, merefleksi kebelakang mengenai apa tujuan etika itu sebenarnya. Etika sebagai tujuan kebaikan bersama, atau rasionalisasi terselubung kekuasaan (pemodal-konsumerisme) yang berujung opresi maupun represi?

Ketika dogma itu kita terima secara taken for granted, maka yang terjadi adalah penindasan (marx menyebutnya sebagai kesadaran palsu), yang dalam konteks ini yang dirugikan adalah pihak yang tidak mampu mengikuti bahasa etika konsumsi atas tubuh, seolah mereka adalah makhluk yang tidak beretika, dipinggirkan.

Mari kita mulai mencoba meredifinisi etika, dengan mulai memikirkan dan mengenali diri kembali sikap kita pada kehidupan sehari-hari, konsensus melalui diskursus yang bebas dan adil dan dibarengi kesadaran akal sehat. Barangkali ketika ambisi pada penampilan tubuh berakhir, tubuh tidak lagi menjadi sasaran obyektifikasi membabi buta, para koruptor berdasi mulai menyadari arti dari rasa malu, dan teman-teman bercelana sobek alakadarnya tak perlu merasa begitu rendah diri,   …dan etika-pun menjadi lebih manusiawi.

Referensi :

Suseno, Franz Magnis. Etika Abad kedua puluh. Kanisius. 2006. Yogyakarta.

Hardiman, Fransisko Budi. Kritik Ideologi. Kanisius. 2009. Yogyakarta.

Sumber gambar :

http://wartakotalive.com

keCantik-an, Tubuh, dan Mitos

Salah satu iklan di Tv : “Awalnya perempuan tidak percaya diri pada penampilanya, kemudian dia diberi solusi prodak pemutih kulit (dalam iklan lain bisa berupa pembentuk tubuh, penghalus rambut, dll), setelah pemakaian si perempuan tadi berubah menjadi percaya diri banyak laki-laki yang salah tingkah waktu melihatnya”.

Dari kotak ajaib yang tersebar di hampir setiap rumah, televisi, kita sering menyaksikan iklan ataupun berbagai tayangan lainya yang menampilkan perempuan dengan tubuh ramping, berdada besar, pantat mantap, kulit putih (bahkan ada prodak dengan alat pengukur tingkat keputihan), dan rambut gemulai menawarkan produk “kecantikan”, hal tersebut seolah diaffirmasi oleh tayangan baik sinetron maupun layar lebar dalam menampilkan tokoh yang cantik dalam bentuk sebagaimana yang ditampilkan oleh iklan. 365 hari setahun, 7 hari seminggu, dan 24 jam sehari kita dicekoki “standarisasi kecantikan” tersebut.

Semua orang tentu ingin menjadi cantik –dan sehat tentunya- , namun demikian, kita jarang memikirkan lebih lanjut mengenai apa itu cantik? Apakah cantik itu melulu identik dengan bentuk tubuh ala Barbie ?

Mungkin itu berasal dari kegemaran kita untuk menstandarisasi sesuatu secara membabi buta. Standarisasi tersebut rupanya juga terbentuk mengenai bagaimana manusia seharusnya berperilaku, dan berpakaian dan itu tertuang dalam apa yang kita sebut sebagai etika. Dari situ kita memisahkan mana yang baik dan mana yang tidak baik, sehingga dalam berkegiaatan kita mengacu pada nilai-nilai yang (tentunya) kita anggap baik, ada tingkatan-tingkatan(stratifikasi) berdasar nilai-nilai tersebut.

Dan nilai yang sering kita gunakan adalah nilai kemakmuran -yang disimbolisasi melalui konsumsi-, lalu apa hubunganya? Dalam masyarakat konsumerisme dimana pemasaran melulu menyajikan wacana yang kemudian membentuk mindset masyarakat bahwa anda adalah apa yang anda beli. Dari situ kemudian terbentuklah premis bahwa perempuan yang diterima masyarakat adalah perempuan dengan bentuk tubuh tertentu, melalui “perawatan tubuh”, konsumsi alat, proses, dan produk kecantikan untuk memperoleh standard yang diinginkan masyarakat (langsing, putih, berdada besar). Perempuan yang tidak sesuai dengan kriteria akan teropresi, ter-nomordua-kan, dipinggirkan. Festisisme Tubuh dan Komoditas, kepercayaan yang berlebihan dan sesat atas standar bentuk tubuh dan barang-barang konsumsi. Contoh simpelnya kerap kita temui banyak perempuan yang sebegitu takutnya dengan timbangan, takut kalau bobotnya tidak sesuai dengan standar “kecantikan”.

Kasus-kasus tersebut agaknya justru mengingkari upaya-upaya pembebasan opresi perempuan, bahwa perempuan bisa dan berhak menentukan nasibnya sendiri. Perempuan ditengah konsumerisme justru menyerahkan dirinya jatuh kedalam Alienasi tubuh, keadaan terasing dari tubuhnya sendiri, dandan, diet, memperbesar payudara, menghias tubuhnya untuk kenikmatan laki-laki, Lebih lanjut bahkan perempuan terasing dari perempuan lain karena bersaing untuk mendapatkan tubuh yang paling “ideal” (feminis thought-183). Perasaan kalau tubuhnya selalu diawasi oleh orang lain, membuat perempuan menjadi semacam polisi bagi dirinya sendiri mengenai bentuk tubuhnya, menurut Foucoult hal ini disebut panoptisisme sehingga seolah-olah tubuh perempuan adalah tubuh milik publik, aktualisasi diri supaya tubuhnya dilihat orang lain .

Disini kita bisa mempertanyakan peran televisi (atau alat media lainya) sebagai pemancang standarisasi kecantikan sekaligus sebagai penyebar wacana dalam ruang publik,sejauh mana peran kekuasaan (televisi, konsumerism) pada tubuh (kecantikan) perempuan ?

Barangkali sudah saatnya bagi perempuan untuk memberi nilai dan kembali memiliki tubuhnya sendiri, silahkan matikan televisi dan banting timbangan anda 😀

“ah, cantik itu cuma mitos”

Referensi :

  • Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought.  Jalan Sutra. 2010.  Yogyakarta.
  • Jones, Pip. Pengantar Teori-teori Sosial. Yayasan Obor Indonesia. 2009. Jakarta.

Sekilas Perempuan

Sekilas Perempuan

Dalam perkembangan abad 21 ini, hamper semua hal mengalami perubahan. Mulai dari pergeseran teoritis, filosofis, sampai pada kehidupan sehari-hari. Perang dunia I dan perang dunia II, yang kemudian disusul dengan perang dingin antara blok barat dan timur, runtuhnya tembok berlin pada 1990, dan tidak kalah seru jatuhnya rezim orba oleh kawan-kawan kita pada 1998 lalu. Penemuan-penemuan teknologi  yang memicu semakin derasnya alur perubahan komunikasi yang kini semakin luas menghubungkan tiap titik penjuru bumi, membuat kita bertanya dan terus bertanya, apa lagi? What next?

Tidak luput dari perubahan dan pergeseran yang terjadi tersebut, adalah kisah mengenai perempuan. Apa yang membuat perempuan begitu menarik? Dalam legenda yunani dari epos Hommerus yang tersohor itu perempuan dikisahkan sebagai hukuman atas manusia (man) sehingga Zeus, sang mahadewa memutuskan untuk membuat perempuan ( woman ) untuk mempersulit kehidupan manusia (man) sebagai hukuman karena mencuri api milik Hephasteus. Dikisahkan perempuan pertama yang diciptakan dari tanah liat dan diberi tiupan napas oleh Athena, kemudian diberi nama Pandora. Zeus melalui Hermes dengan dalihnya memberikan Pandora sebuah kotak yang didalamnya berisi seluruh penderitaan ( pain )manusia. Pandora yang memang diciptakan untuk mempersulit laki-laki pun akhirnya mendesak suaminya, Episthemus untuk membukanya meski sebelumnya Episthemus telah diingatkan oleh saudaranya, Prometheus untuk tidak membuka kotak pemberian para dewa. Tapi Episthemus tidak kuasa menahan bujukan Pandora untuk membuka kotak tersebut hingga akhirnya dibukalah kotak yang berisi segala macam kejahatan, penyakit, penderitaan, dan lain-lain buru-buru Ephistemus menutup kotak tersebut. Kini manusia telah dijangkiti oleh berbagai hal kutukan para dewa, namun demikian Ephistemus mendengar suara ketukan dari kotak tersebut dan dibukanya kembali, ternyata ada satu hal yang tertinggal dari kotak tersebut, yaitu : harapan ( hope ) untuk mengatasi segala hal buruk yang keluar sebelumnya.

Cerita diatas cukup menarik untuk diulas. Bagaimana ternyata perempuan, telah dikondisikan sedemikian rupa sejak dahulu (bahkan sampai tertuang dalam bentuk mitologi) sebagai gender kedua setelah laki-laki.  Perempuan (semenjak dahulu) ternyata telah mengalami suatu reduksi mengenai nilai kapasitasnya sebagai “manusia”.

Adalah seorang filosof Athena dan murid Socrates, Plato yang agaknya adalah yang pertama kali berpendapat bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama dalam memimpin suatu (meski ada juga teorinya yang bias gender) Negara. Hal ini terkait dengan model Negara Aristokrasi yang dianggapnya adalah bentuk pemerintahan yang ideal dimana Negara tersebut dipimpin oleh para filsuf yang bijaksana sehingga tidak perlu memandang jenis kelamin.

Akan tetapi pandangan positif mengenai perempuan tersebut ternyata tidak dilanjutkan oleh muridnya yang juga filosof Athena; Aristoteles. Menurut Aristoteles, perempuan adalah manusia yang tidak sempurna secara seksual dibandingkan laki-laki. Aristoteles memandang Negara berbentuk seperti manusia dan makhluk hidup, maka dari itu, dia berpendapat bahwa perempuan dengan organ dan sifat pasifnya dalam hubungan seksual sebagai kelas yang lebih rendah tingkatanya daripada laki-laki.

Celakanya,  justru pendapat Aristoteles (termasuk mengenai ketimpangan gender)-lah yang banyak dijadikan acuan pada masa abad pertengahan. Masa abad pertengahan adalah masa dimana pengaruh kuat doktrin agama dalam segala aspek. Kelahiran Yesus Kristus (1 M) dan Muhammad (7 M ) yang kemudian menjadi dua agama terbesar didunia (Islam dan Nasrani), pada abad pertengahan banyak menjadikan pemikiran-pemikiran Aristoteles sebagai rujukan. Nicolaus Copernicus adalah contoh yang popular, pemikiranya mengenai Heleosentris yang bertentangan dengan pendapat Aristoteles dan Gereja dikala itu membuatnya dihukum mati, begitu juga pencongkelan mata Galileo oleh inkuisisi Gereja,

Rennesaince , Illumination, dan Aufklarung atau abad pencerahan yang diawali dengan dualism Cartesian oleh Rene Descartes tidak kunjung memberikan angin segar bagi perempuan. Schopenhauer, bahkan seperti mengulang Aristoteles dengan mengatakan bahwa “perempuan adalah makhluk tengah antara anak-anak dan pria dewasa”. Tekanan represi terhadap perempuan kemudian menimbulkan penyakit mental berupa Hysteria yang kala itu didaulat sebagai penyakit eksklusif milik perempuan (dari kata latin hysteros yang berarti rahim).

Feminisme sebagai Antitesis

            Rupanya represif gender dari laki-laki kepada perempuan mulai melahirkan antithesis. Gerakan-gerakan feminism dengan berbagai sudut pandang mulai menggugat dan mengajukan redefinisi mengenai “siapa itu manusia?”

Terdapat beberapa pandangan mengenai Feminisme, jadi feminism bukanlah sebuah gerakan tunggal, dia lebih tepat bila dilihat sebagai sebuah pohon besar dengan banyak cabang-cabang. Berikut adalah beberapa jenis gerakan feminism secara garis besar:

  1. Feminism liberal :

Gerakan feminism liberal beranggapan bahwa kesetaraan gender dapat diperoleh melalui tekanan politik dan struktur hokum sehingga memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan.

  1. Feminisme Radikal :

Menurut Feminisme Radikal, tekanan politik dan struktur hokum saja tidaklah cukup, standar patriarkhial seharusnya dicabut hingga ke-akar-akarnya. Gerakan ini kemudian terbagi dalam 2 kubu besar yaitu Radikal Libertarian yang beranggapan bahwa setiap orang sebaiknya berhak menjadi androgin untuk mengeksploitasi baik sisi maskulin maupun feminine, yang kedua adalah Radikal-kultural beranggapan bahwa susunan patriarkhial dimulai dari penomor-duaan sisi feminine. Hal ini tercipta melalui eksploitasi tubuh perempuan, pornografi, prostitusi, dan lain-lain. Jadi mereka menolak hal-hal tersebut dan mengutarakan bahwa perempuan seharusnya bebas melakukan eksperimen seksual (bukan hanya dikendalikan oleh laki-laki).

  1. Feminisme Marxis-sosialis :

Sesuai dengan namanya, feminis marxis-sosialis didasarkan pada teori konflik antar kelas; borjuis dan proletar, dimana oposisi binair keduanya juga terbawa pada ketidakadilan ranah kerja bagi perempuan. Upah dan status yang lebih rendah dan hanya dianggap sebagai pekerja sekunder.  Mereka berpendapat bahwa kesetaraan tidaklah mungkin diperoleh dari system masyarakat berkelas.

  1. Feminisme Psikoanalisa

Psikoanalisa adalah sebuah teori psikologi yang dikembang oleh Sigmund Freud. Psikoanalisa membagi manusia menjadi 2 bagian; alam sadar super-ego dan ego dan alam bawah sadar: Id dimana pada kenyataanya manusia lebih banyak dikontrol oleh alam bawah sadarnya. Maka Feminis Psikoanalisa berpendapat bahwa ketidaksetaraan gender berakar dari pengkondisian masa kanak-kanak dimana laki-laki identik dengan maskulinitas dan perempuan dengan fiminitas juga bahwa oposisi binair yang mengatakan maskulin lebih baik daripada feminin.

  1. Feminisme Kulit Hitam

Hal yang dilupakan oleh gerakan feminism adalah bahwa gerakan mereka terbatas pada kelas atau etnis tertentu saja. Feminisme kulit hitam didasarkan pada fakta bahwa selain mendapatkan represi dari segi rasial, mereka juga mendapatkan tekanan secara gender.

  1. Feminisme Eksistensialisme

Feminisme dengan pendekatan eksistensialisme dari Jean Paul Sartre, melalui karya The Second Sex dari Simmone de Buvoir. Pada pendekatan ini perempuan dikatakan sebagai “yang lain” (the others) dari laki-laki karena posisinya yang selalu tersubordinasi dari laki-laki. Eksistensialisme mendorong setiap perempuan untuk menemukan sendiri caranya dalam bereksistensi.

  1. Feminisme Postmodern

Postmodern, gerakan menolak permarginalan dalam hegemoni tunggal, juga diterapkan pada gerakan feminism, banyak dipengaruhi oleh Irrigay,Derrida, Kristeva, Lacan, juga pengembangan dari feminism eksistensialisme Simmone de Buvoir, dengan mengakui ke-berbedaan-(keliyanan) perempuan sebagai bentuk keterbukaan dan keberagaman.

H.  Ekofeminisme

Beranggapan bahwa subordinasi laki-laki pada perempuan terkait dengan eksploitasi manusi terhadap alam. Maka, pembebasan perempuan juga harus dibarengi dengan penghentian eksplorasi yang merusak lingkungan hidup.

 

 

 

Menuju Keberagaman

Kita telah melihat beberapa aliran dari feminism, dengan tidak menutup munculnya perspektif baru dalam gerakan feminism yang mungkin akan lahir. Bila kita cermati dalam kehidupan sehari-hari, gerakan-gerakan tersebut sebenarnya sudah mulai muncul dan tumbuh, meski tak kalah sering juga kita menemukan bias maupun diskriminasi gender di lingkungan kita.

Pergeseran hubungan seks misalnya, dahulu pandangan perempuan mengenai hal ini adalah bahwa perempuan merupakan ladang dan laki-laki adalah penanam benih, dimana berarti laki-laki mengendalikan seksualitas perempuan melalui institusi-institusi tertentu (rumah sakit, psikolog, pemuka agama) kini telah bergeser. Perempuan kini tidak lagi tergantung pada laki-laki dalam hal seks, dildo,atau variasi seksual lainya (atau bahkan lesbian) membuat perempuan dapat memenuhi kebutuhan seksnya sendiri tanpa laki-laki (sekarang banyak gerakan HAM mengenai lesbian dan homoseksual).

Saya sependapat dengan kutipan dari Simmone de Buvoir yang mahsyur itu, “one, isn’t born as a woman, yet become a woman” ya, seorang perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan, tapi menjadi perempuan, yang berarti perempuan bebas dari definisi yang mengungkungnya, untuk kemudian berada diproses “menjadi”, menjadi seorang perempuan, boleh menjadi akuntan, binaragawan, pembalap, astrounout, atau apapun!

Terlebih dikala zaman semakin menuju ke arah keberagaman semenjak dibukakanya gerbang postmodern melalui teriakan “Tuhan sudah mati” dari Nietszche di penghujung modernitas abad 19. Ya, kini manusia berhak memilih hidupnya, perempuan berhak menjadi apapun, mereka telah memperoleh hak pilih di tahun 1920, semenjak diperjuangkan di Saneca Falls pada 1848, sekarang mereka berhak mendapat pendidikan yang sama, berhak menempati posisi di pemerintahan, perempuan, bersama dengan laki-laki kini bisa menentukan arah bersama mengenai siapa dan apa itu manusia.

Kembali ke awal, kita tidak boleh lupa bahwa subordinasi seksual dan gender telah mengakar semenjak era sebelum masehi, sehingga membebaskan diri dari dogmatism yang terbentuk dan diwariskan secara turun-menurun bukanlah hal yang mudah. Hal itulah yang –karena sedemikian mendarah daging – seringkali dijadikan alasan karena kita begitu nyaman terlena.

Alangkah indahnya bila kini, laki-laki, perempuan, maupun transgender, beragama maupun tidak, apapun latar pendidikan, ekonomi, ras, orientasi seksual, ideology, atau apapun, bergerak bersama sebagai manusia untuk kembali pada prinsip dasar golden rule etika : “Berbuatlah sebagaimana ingin diperbuat”,Bila demikian, bukan hal yang aneh bila besok, barangkali kita menjumpai adik-adik kecil di sekolah dasar menjawab atas pertanyaan klasik anak Indonesia:

“Bapak pergi ke …(salon, pasar, atau manapun)….”

“Ibu pergi ke …(kantor, melaut, atau kemana saja dia suka)….”

 

Daftar pustaka :

Jones, pip. Pengantar Teori-teori sosial. Yayasan Obor Indonesia. 2009.Jakarta.

St.Sunardi. Nietszche. LKiS.2009. Yogyakarta

Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought. Jalan Sutra. 2010.Yogyakarta.

O’Donell, Kevin. Postmodernisme. Kanisius.2009.Yogjakarta.


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya

Oktober 2019
S S R K J S M
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

my tweets @rianadhivira

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

wordpress visitors