Archive for the 'cerita' Category

Eh ada Nana !

beberapa hari yang lalu, tengah malem, handphone saya bunyi, telpon dari unknown number, biasanya kalo yang begini ini kalau enggak nagih deadline kerjaan ya nagih utang jadi ngangkatnya juga setengah hati. “halo cel, rumah makan Semarang yang buka 24 jam dimana?” suara di seberang langsung nyerocos dan oooooo… ternyata nggak lain dan nggak bukan adalah mbak Nana imigran dari Sumatra.

Dulu, pertama kali ketemu mbak Nana, first impression-nya jelek banget ketemunya ga ada 5 menit, terus saya ngutang duit parkir. Sekian tahun berlalu dan kita ketemu lagi, sekarang udah agak gendutan, udah lamar-able sak pole. Nah ini foto oleh-oleh kemaren :

IMG-20131225-WA0000

Selamat jalan mbak Nana!makasih udah mau tak culik,  semoga selalu bahagia dan makin sukses!

Hari Kartini Sebagai Ruang Komoditas Patriarki

Oleh : Rian Adhivira Prabowo[1]

Barangkali sudah menjadi musim, bila tiap tanggal 21 april tiba, orang kemudian berbondong-bondong menulis soal Kartini, beberapa yang lain menulis juga soal perjuangan perempuan Indonesia. Kartini, layaknya mode, fashion, dan lain sebagainya rupanya tidak bisa lepas juga dari perputaran trend, menjadi komoditas, yang menjelang hadir harinya, tiba-tiba bersemerbak dimana-mana : kontes, seminar, dan lain sebagainya.

Kartini, dalam perspektif saya, dengan meminjam istilah sosiolog, etnolog dan antropolog Perancis, Pierre Bourdieu, adalah seorang Agen. Dalam perspektif Bourdieu, seorang agen adalah orang yang mempertanyakan  tegangan antara harapan subyektif dan realitas obyektif. Apabila kebanyakan orang menerima begitu saja habitus dan doxa, maka seorang agen adalah subyek yang berusaha keluar, berusaha mempertanyakan melalui pandanganya yang kemudian behadapan denganr realitas obyektif itu sendiri[2].

Perlawanan yang dilakukan Kartini lebih bercorak subversif daripada frontal[3], melalui surat-suratnya, juga melalui syaratnya ketika dia hendak dipersunting menjadi seorang istri. Sementara para perempuan jawa lainya menerima takdirnya begitu saja, Kartini melakukan perlawanan sebagaimana pula Gadis Pantai dalam roman Pramoedya. Baik Kartini maupun Gadis Pantai sama-sama melawan patriarki aristokrat Jawa, dimana posisi perempuan tidak lebih baik dari kursi, tongkat, maupun keris, perempuan sama dengan barang-barang yang kepemilikan atasnya menunjukkan status sosial (simbolik sosial kapital) pemiliknya – suami. Bedanya, apabila Gadis Pantai baru mempertanyakan posisinya ketika dia terasing dari tempat tinggal, kampung asal, dan terasing dari dirinya sendiri, Kartini sudah berani melawan bahkan ketika dia hendak diperistri. Perlawanan tersebut terus berlangsung bahkan ketika Kartini telah menjadi istri yang tampak pada surat-suratnya yang disatu sisi mengecam patriarki aristokrasi jawa yang meski disisi lain  tampak menyerah karena kecintaan pada bapaknya, Gadis Pantai juga menerima pinangan Priyayi, seorang Bendoro, karena rasa hormat pada orang tuanya, yang kemudian ketika dipisahkan dari anaknya yang baru saja dilahirkan, baru sang Gadis Pantai melawan dengan segala yang dia bisa.

Sebagai seorang Agen perubahan, upaya Kartini dan Pram melalui roman Gadis Pantai-nya untuk merobek patriarki jawa, bukanlah perjuangan sekali jalan. Perempuan modern Indonesia, yang kini sekilas menikmati kebebasan yang dulu dirindukan Kartini : pendidikan, kerja, maupu politik, tetap menyembunyikan bahayanya sendiri. Ketika nilai seolah tersebar dan seseorang bisa mengambil nilai mana yang ia suka, baik feminin maupun maskulin, bahaya kembali muncul karena ditengah kebebasan tersebut nilai yang mapan akan kembali me-maintain dirinya, yaitu maskulin dengan patriarkinya. Kebebasan memperoleh pendidikan, bekerja, maupun dibukanya akses ke politik yang telah tercantum dalam Undang-Undang berjalan berdampingan dengan makin tingginya Kekerasan Terhadap Perempuan baik di ranah publik maupun privat serta minimnya keterwakilan perempuan di lembaga representasi[4].

Namun, penting pula untuk digarisbawahi, ketika semangat Kartini hanya bergema di tiap tanggal 21 april, sehingga dalam intepretasi saya, adalah ruang yang disediakan oleh Patriarki untuk menggemakan kata “emansipasi” yang kemudian sayup-sayup hilang tidak berapa lama ketika “ruang” yang disediakan habis. Jadi, perlawanan terhadap patriarki adalah perlawanan sepanjang waktu, 25 jam sehari, 8 hari seminggu, 5 minggu sebulan dan 370 hari setahun. Menjadikan Hari Kartini sebagai satu-satunya “ruang” untuk mengenang Kartini sama saja membunuh Kartini, menjadikan Kartini sekedar “pajangan” museum, menjadikan Kartini sama seperti perempuan lain di waktu dia hidup : sebagai komoditas, seonggok hiasan kamar patriarki.


[1]  keluarga Komunitas Payung yang diselenggarakan tiap jumat sore di Kantin FH UNDIP.

[2] Penjelasan lebih jauh mengenai konsep-konsep Boudieu dapat dilihat di Richard Jenkins. Key Sociologist : Pierre Bourdieu. Routledge. 1992. New York & London. Hlm 40-65.

[3] Pemaparan perlawanan subversif Kartini dipresentasikan dengan sangat baik oleh Donny Danardono. Ambiguitas dan Kesubversifan Kartini: Relevansinya bagi Politisi Perempuan Indonesia. dalam seminar “Relevansi Gagasan, Pemikiran dan Perjuangan Kartini Tentang Kesetaraan Gender Terhadap Keterlibatan Perempuan dalam Ranah Politik Pada Masa Kini” di Universitas Katolik Soegijapranata, 18 April 2013.

[4] Lihat Catatan Tahunan 2013 Komnas Anti Kekerasa Terhadap Perempuan. Di tahun 2012, Kekerasan yang tercatat mencapai lebih dari 200.000 kasus, hal tersebut juga masih dalam selubung gunung es yang berarti kekerasan yang terjadi jauh melebihi angka yang tercatat.

Janji Sofa Amir

Amir setengah terbangun ketika lenganya ditepuk oleh perempuan berbaju serba putih. Setengah tersadar dia berpikir dimana gerangan ini, “tidak mungkin kalau ini dirumah” pikirnya. Meski setengah tersadar amir tau betul kasur dirumahnya, tidak mungkin kasur yang ditidurinya sekarang adalah kasur dirumahnya. Kasur rumahnya dingin kasar dan bau pesing, pesing karena tiap kali Amir pulang ngasong, seringkali dia tidak mandi atau lebih tepatnya tidak bisa mandi, air yang mengalir kerumahnya sama seretnya dengan rejekinya, jarang sekali lancar,  nah bau yang dibawanya selama bekerja itu dibawanya pula pulang toh tidak ada yang memperdulikan tapi kadang ada pula anak-anak tetangga yang kencing dipojokan kamar di rumah yang beralaskan tanah tersebut bukan main gusar istrinya kalo hal itu terjadi. Ani, istrinya pada mulanya memprotes kebiasaan tidak mandi Amir, namun tidak berlangsung lama “mau bagaimana lagi” kilah Amir suatu kali.

Rumah Amir amat sederhana, cuma ada dua ruangan. Yang satu untuk tidur bertiga dan satu lagi ruang depan yang masih kosong.

Seumur hidup, Cuma sekali Amir merasakan tempat seempuk ini, itupun waktu tetangga perumahan sebelah, Ali menyuruhnya untuk mengambil sofa pesanan idaman istrinya. Setelah menaikkan sofa tersebut keatas pick-up Amir lebih memilih untuk duduk dibak belakang, tiduran di atas sofa mahal  sambil menghisap rokok dalam-dalam, tidak dihiraukan asap knalpot perkotaan karena pikiranya melayang-layang suatu hari dia anak dan istrinya duduk di sofa macam itu sambil menonton televisi, sambil mengobrol hal yang tidak penting. Lima belas menit lamanya Amir merasakan jadi orang kaya sebelum mobil pick up yang dikemudikan Imron sampai kerumah Ali.

Sekarang, Kasur yang ditempatinya ini nyaman sekali barang wangi pula, dan Amir kembali tidur dengan lelapnya.

“lihat tuh bapakmu, lelap sekali tidurnya”

“dia memang harus banyak istirahat, umm.. besok kita harus bagaimana bu?”

“ssst jangan ngomong gitu disini” buru-buru dicubitnya lengan kiri anaknya yang gemuk supaya tidak meneruskan omonganya.

“asal Tuhan menghendaki, pasti ada jalan keluarnya kok nak” ujarnya berbisik

Amir setengah sadar mendengarkan percakapan anak dan istrinya tersebut Cuma setengah sadar dan habis itu dia lelap lagi, kini ada kecemasan yang menjalar di dadanya entahlah mungkin insting seorang bapaknya yang berpikir demikian.

Dalam kesadaranya yang terbatas terbayang-bayang ninik, anaknya yang berpipi sintal sebentar lagi akan lulus smp, bangga benar rasanya kalo melihat dia dan istrinya yang jangankan sekolah, bisa membaca pun tidak. Sudah terbayang sebentar lagi dia dan Ani mengambil rapor sambil memakai baju batik kesayanganya, satu-satunya kepunyaanya, yang sebenarnya sudah usang dan berlubang di bagian bawah ketiak.

Entah berapa lama Amir tidak tersadar, dan waktu tersadar tahu-tahu didapati ada selang disana-sini dan disekelilingnya ada banyak orang, imron, ani, ninik, dan beberapa tetangga. Ada suara berisik yang berbunyi tiap beberapa waktu.

“suara apa to?” amir terbata-bata

“suara radio mir, si ani kesini sambil mbawa radio kesayanganmu” ujar imron berusaha mencairkan suasana.

“sudah bapak tidur, istirahat saja”

Amir terbata, berusaha berbicara tapi sia-sia tenaganya tak ada. Baru membuka mulut saja dia sudah tersengal-sengal

“bu aku keluar dulu, pipis” ninik keluar sambil mata berkaca-kaca

 “..ninik..sekolah..ninik..” kata amir sekuat tenaga

“sudah beres kok pak, sudah beres, bapak istirahat saja”

Tidak lama berselang suster mendekat dan memberi tanda jam berkunjung sudah selesai

“disuntik dulu ya pak”

——————————————————————————————–

“gimana bang, si Ali bisa kasih pinjeman?”

“aduh ga enak saya neng, kemaren waktu saya mau kesana tetangga bilang kalau Mas Ali lagi kacau, istrinya  mati kena kecelakaan kapal”

“sekolah ninik gimana? Tadi bang amir sempet ngigau juga”

Ditanya itu tumpahlah air mata Ani yang sedari tadi ditahan-tahanya.

“enggak bang, ninik masih nunggak tiga bulan, tapi uang yang dikumpulin bang amir sudah abis buat biaya disini”

“kemaren saya diundang kesekolah, besok paling lambat katanya,kalo enggak si ninik ga boleh ikut ujian akhir” Ani menambahkan

“yasudahlah Ni, pasrah aja, tawakal, saya keluar dulu mau ngerokok, di ruang tunggu ini ga boleh ngerokok, bisa diomeli suster ntar”

————————————————————————————–

Sorenya, Amir bangun lagi dari tidur ayamnya. Masih didengar suara mengganggu yang Imron bilang tadi radio. Ah Imron sialan batin Amir dalam hati. Sebenarnya Amir pernah melihat alat itu di televisi tetangga, di sinetron yang dia tonton bareng dengan anak-anak imron. Ceritanya tentu saja klise, tak berapa lama si jagoan berhasil bangun dan sehat lagi dan menikah dengan wanita idaman yang cantik.

“gimana?”

Ani paham betul arti dari pertanyaan singkat Amir ini. Kata itu sebenarnya mewakili banyak hal; gimana sekolah Ninik, gimana Ani dan Ninik makan sehari-hari, gimana melunasi utang-utang tetangga, gimana membayar biaya rumah sakit.

“beres kok mas, semua lancar, kalo bapak belum sembuh saya sudah minta tolong Imron buat nganterin Ninik ujian dan mengurus tetek bengek lainya, saya nunggu mas aja disini”

Dengan melihat mata Ani sekilas, Amir paham. Ada yang aneh dari sepasang manusia ini, sepatah-dua patah kata dan tatapan mata saja seolah cukup untuk mewakili semua yang ada di kepala masing-masing.

Amir bangun lagi malamnya, dia mendesah napas panjang dan mengumpulkan tenaga sekuat yang dua bisa. Digerak-gerakkan tanganya, diangkatnya tinggi-tinggi lalu diturunkanya lagi. Baru segitu saja dia sudah kepayahan, tapi Amir tersenyum.

Dia mengingat sewaktu malam pertama dengan Ani, betapa kikuk mereka berdua melakukanya. Betapa bahagianya waktu Ani mengandung Ninik, setelah tiga tahun menikah tidak juga dikaruniai anak, sewaktu melihat Ninik tumbuh dan masuk sekolah, walau untuk itu Amir dan Ani harus lebih sering berpuasa.

Ingatanya melayang kebeberapa waktu lalu, sehabis dia mengatarkan sofa kerumah Ali. Amir pulang kerumah  Bu Hatir, mertuanya, menceritakan mimpinya diatas sofa sambil makan sayur lodeh dengan begitu semangat. Saking semangatnya Amir berjanji kalo akan membelikan sofa seperti punya Ali, meletak-kanya di ruang depan yans masih kosong dan mengajak pula Bu Hatir menikmati sofanya. Ajakan itu sambil mensyaratkan Bu Hatir membawakan pula sayur lodeh buatanya yang sering Amir bilang sayur lodeh paling enak sedunia.

Amir mendesah lagi, mengumpulkan tenaga. Diingat-ingat nya lagi Ani dan Ninik, sesekali Imron juga muncul. Sekuat tenaga Amir bangkit dan dengan kepayahan diincarnya selang-selang yang berdesakan ditubuhnya, sambil tersenyum.

————————————————————-

“sudahlah neng, sudah”

“Tapi kenapa bang, kenapa Mas Amir tega”

“saya tau betul dia neng, barangkali memang sudah bulat keputusanya”

“saya ndak abis pikir bang”

“Amir ada benarnya juga ni, dia pasti paham betul kalo kalian tidak mungkin sanggup membiayai dia lama-lama disitu, belum tentu juga dia bisa selamat, kau tau sendiri kata dokter kemarin jantungnya bermasalah. Bahkan kalau dia sembuh pun belum tentu dia bisa kerja kayak dulu….”

“asal kamu tau ni, dia kerja terlalu keras sampai akhirnya ambruk, dulu tiap kutanya ngapain kerja sampe ngotot gitu Amir cuma senyum-senyum gak jelas”

Ani diam saja, menangis terus.

“lebih baik kamu pikir dulu soal pengajian tujuh hari kedepan dan biayanya Ni, kamu tau dimana akan mengubur Amir?”

Tercenung Ani memandang Ninik, membayangkan anak semata wayang-nya itu mengambil surat kelulusan SMP.

“Nik kamu harus jadi orang besar” bisik ibunya

“Bang Imron, saya tau dimana memakam-kan Mas Amir, satu-satunya tanah kosong yang kami punya…keputusan saya sudah bulat”

Begitulah, Ani membayar uang sekolah Ninik dengan semua uangnya yang tersisa. Dan tidak pernah terlihat ada sofa di ruang depan rumah mereka, yang ada adalah……

nb. cerita ini maaf saya yang mendalam untuk janji saya membeli sofa bersama Eyang Ratih yang belum sempat kesampaian. Beliau berpulang terlebih dahulu pada 4-6-2012

 

Wajah !

Dia terbangun, dia merasa sedikit gelisah pagi itu, ada sesuatu yang membuat resah hingga membuatnya bangun dari tidur. Dia memercikkan air di muka, setidaknya untuk menghadirkan sedikit rasa tenang, namun sia-sia saja, ketika dia menghadap ke arah cermin, betapa terkejutnya dia, dia sadar kalau dia tidak mempunyai wajah ! Tak ayal hal tersebut membuatnya malu, sebuah kenyataan yang menyesakkan ! “keadaan tidak mungkin jadi lebih buruk” katanya menghibur diri, tapi tak lama kemudian semua memang menjadi lebih buruk, dia sadar kalau juga tidak mempunyai nama!

Dengan mengumpulkan segenap keberanian, pelan-pelan dia mengambil jaket kulit tebal dan pergi keluar. Saat itu sedang musim hujan, dan langit agaknya juga terkejut dengan sosok makhluk yang tidak berwajah dan tidak bernama ini dijalanan kota, hingga turun hujan yang malu-malu membasahi Kota Lubak, sebuah kota yang tenang dengan sedikit taman.

Sambil berjalan menyusuri lorong-lorong kota, Dia mendapati dirinya diamati dan digunjingkan, samar terdengar “hei orang sepertimu harusnya tidak pantas berjalan dikota”, “kau melanggar peraturan Dewa Agung, dasar sesat, terkutuk!” beberapa bahkan lebih buruk, karena anak-anak yang tadinya sedang ceria bermain air hujan begitu melihatnya langsung memasang wajah jijik dari mata polosnya, yang lebih tua mengingatkan untuk berhati-hati dan menjaga jarak, sebuah peringatan secara terang-terangan. Tidak ada yang bisa dia lakukan, selain mengacuhkan dan terus berjalan.

Ditengah pejalanan, dia melihat dengan orang setengah telanjang berambut acak-acakan sedang menari-nari di dekat kuil tempat para dewa, sebuah bentuk penghinaan yang paling besar menurut peraturan kota Lubak yang serba teratur. Orang itu menginjak-injak persembahan dan berusaha meludahi patung dewa sebelum para penjaga menangkap dan menyeretnya. Dari kejauhan sambil berceceran air liur dia berteriak “kamu ! ya kamu, demi mata coklat dan bibir tipismu ! buat apa malu-malu, ayo bergabung denganku, untuk membunuh si pembunuh!” seolah menyadari kehadiranya disitu. Dengan sisa-sisa tenaganya orang itu melemparkan sesuatu ke udara sebelum sebatang tombak menembus dadanya.

Ketika suasana mereda, si tanpa wajah mengambilnya, ternyata sebuah buku kecil bercahaya keemasan, ini adalah buku suci, dia teringat cerita tentang buku itu waktu dirinya masih kecil, pasti orang gila tadi yang mencurinya. Dengan segenap rasa ingin tahu dia membukanya dan dunia tiba-tiba berputar tak tentu arah dan segala disekitarnya menjadi kabur.

—-

hey, berani benar kau membuka buku suci dan sampai ketempatku?” si tanpa wajah terkejut, itu adalah sosok Sang Aku, dewa tertinggi dari semua dewa dengan suara yang megah menggelegar. Dia berusaha menemukan kata-kata yang tepat, “Tuan, kenapa aku tak berwajah dan tak bernama ?”, “ya memang begitulah adanya, kamu tidak pantas berada di keramaian, tubuhmu menimbulkan hasrat yang bisa merusak moral, dan lagi kau tidak punya kekuatan dan kualitas yang cukup untuk bekerja, kau tidak layak mempunyai nama untuk diteruskan pada keturunanmu, percayalah ini demi kebaikanmu”, Kini dia tidak lagi merasa sungkan dan bertanya lantang, “dengan segala hormat, apakah alasan itu juga yang membuat Tuan membolehkan –sebagaimana yang aku saksikan- para bayi kecil tak berdosa yang kau sebut tak pantas tadi dikubur hidup-hidup karena terlahir sepertiku? Atau menjalani hidup dengan segenap rutinitas yang membosankan? Atau menerima tamparan dan pukulan atas kesalahan yang teramat sepele? Atau paksaan untuk memuaskan hasrat para pengikutmu yang bodoh? Atau menerima gunjingan ketika berada ditengah keramaian?”

Ketika berkata-kata dia melirik kearah cermin dibelakang Sang Aku, disudut matanya dia bisa melihat mata coklat dan bibir tipisnya ! wajahnya semakin jelas dalam tiap keraguan dan bantahan pada sang dewa, dia menemukan petunjuk dari kata-kata orang gila tadi, tapi dia tak bisa berlama-lama terpukau melihatnya karena Sang Aku terlanjur gusar. “Kejahatanmu adalah keraguanmu! Kau bersalah karena meragukanKu! Tidak ada hukuman yang lebih pantas selain ketiadaan!”, “apalah artinya ketiadaan, karena aku sudah merasakanya seumur hidupku!” seru si mata coklat lewat bibir tipisnya. Dengan penuh kemarahan, Sang Aku membuatnya sekarat dan mengirimnya kembali ketengah kota.

Tertatih-tatih si mata coklat berjalan. ada tawa dari tubuhnya yang babak belur, dan tawa itu bertambah lebar, tiba-tiba dia ingin menari dan dia pun menari dengan penuh tawa riang, di dekat kuil dewa.

Penjaga kuil sudah memasang wajah waspada dan bersiap menangkapnya, ketika mereka mendekat si mata biru mengumpulkan kekuatanya dan berujar “rantai belenggu tak akan mampu memenjarakanku, juga tatapan matamu! Suatu hari hujan dan matahari di kota ini akan diselingi dengan pelangi” tersengal-sengal kemudian tertawa untuk terakhir kali dan mati sebelum pedang penjaga sempat menyentuhnya.

Tiba-tiba para manusia tak berwajah dan tak bernama bermunculan, mereka bergumam, “lihat, dia Laila, yang membuat malu Sang Aku” mereka mengenali mata coklat itu dan tiba-tiba pula wajah mereka yang tadinya hilang mulai menampilkan hasrat untuk menampakkan diri, sambil lirih mereka berbisik karena mengingat kembali nama mereka; “aku Mariam” “aku Nana” “aku Hannah” “aku Martia” “aku Julia” “aku Astuti” disusul dengan lainya. Mereka, seperti halnya Laila, juga mulai melawan Sang Aku, demi memperoleh sebuah nama dan keluar dari anonimitas.

——

Sang Aku tak pernah lagi bisa tidur dengan tenang. Pelan-pelan di kota Lubak mulai terlihat pelangi.


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Agustus 2017
S S R K J S M
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors