Archive for the 'instropeksi' Category

Mengintip Kejujuran bersama Eksistensialisme Sartre

Tema mengenai kejujuran selalu menarik untuk dibahas, sempat terusik di benak saya “kenapa manusia memerlukan kejujuran?” ajakan kejujuran sering kita temui dalam ajaran agama-agama, nilai-nilai budaya, dan lain sebagainya. Immanuel Kant dalam imperatif kategoris-nya misalnya, bahwa manusia haruslah jujur dalam kondisi dan situasi apapun, atau Jurgen Habermas dalam Etika Diskursus-nya dimana suatu pernyataan dalam diskursus yang fair haruslah mengandung unsur “ketepatan”, “kejujuran” dan “kebenaran” sekaligus[1]. Namun –menurut saya- tema kejujuran menarik untuk dibicarakan dalam kacamata Eksistensialisme, dalam tulisan ini Eksistensialisme Sartre.

Jean-Paul Sartre bisa dibilang adalah salah satu tokoh eksistensialisme yang paling termahsyur. “Manusia Bebas” Sartre berpijak pada eksistensialisme atheisnya, yang mana dalam kondisi apapun, entah oleh suatu hukum maupun norma tertentu, manusia tetaplah bebas dalam menentukan pilihan hidupnya, membentuk dirinya secara terus menerus. Karena itulah Sartre menolak keberadaan Tuhan yang karena totalitasnya tentu manusia bukanlah makhluk yang bebas, dengan adanya Tuhan manusia sama derajatnya dengan batu dan rumput. Bukanya Tuhan ada maka manusia bebas, tapi justru karena manusia bebas, maka Tuhan tidak mungkin ada[2].

Cara manusia untuk meng-Ada dijelaskan oleh Sartre Dalam Letre de Lneant. Sartre memisahkan dua Ada yang berbeda; yaitu ertre en soi dan ertre pour soi.  Ada secara en soi berarti Ada secara padat, penuh, sama seperti benda-benda, sementara pada pour soi, Ada memiliki kesadaran, dan Ada jenis ini-lah yang melekat pada manusia, dan dengan kesadaran tersebut, manusia sebagai subyek memiliki kemampuan untuk menidak pada Ada.

Manusia, dengan kesadaranya memiliki kemampuan untuk selalu bertindak menghindari maupun melampaui ke-Ada-an disekelilingnya, transenden. Dari titik itulah kemudian Sartre mengatakan kalau “neraka adalah orang-orang lain[3]” karena dengan kehadiran orang lain yang meng-obyek-kan kita, melalui tatapan matanya (le regard) membekukan transendensi kita, meng-ensoi-kan, membuat kita seolah menjadi makhluk yang imanen, menangkap dan menjatuhkanya dalam kategori-kategori dalam pandanganya, mencuri semesta dunia kita.

Pandangan tersebut sekilas tentu menunjukkan kalau pemikiran Sartre memiliki implikasi yang buruk pada kehadiran orang lain, liyan, namun justru dengan adanya orang lain itulah kita dapat menyadari kesadaran tersebut. Sebelum adanya orang lain, kesadaran bersifat langsung pada obyek (pra-reflektif), namun setelah adanya orang lain, kesadaran kemudian menyadari dirinya sendiri (reflektif).

Kemudian, bagaimana manusia seharusnya bertindak? Manusia bagi sartre adalah makhluk yang eksistensinya mendahului esensi karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan untuk menanyakan keberadaanya, disini kita dapat memahami pemikiran Sartre yang menolak keberadaan Tuhan karena baginya bahwa manusia itu bebas, “jadi tidak ada kodrat manusia karena tidak ada Allah yang bisa mengkonsepsikanya. Manusia sekedar ada saja. Bukannya ia merupakan apa yang dia pikirkan sendiri, tetapi ia adalah apa yang dikehendakinya, dan bagaimana ia menghendaki dirisendiri sesudah loncatan itu kedalam eksistensi, Manusia bukan lain hanyalah apa yang diciptakanya sendiri”[4]. Manusia yang dihampiri oleh lautan pilihan dan kebebasan itu tentu tak lantas membuatnya menjadi seenaknya sendiri, karena dalam setiap pilihan, langkah yang kita pilih disana, dipundak kita, sudah terkandung juga pilihan semua orang. Maka selain bertanggung jawab atas eksistensinya pada dirinya sendiri, dia juga bertanggung jawab pula pada semua orang “…saya bukan hanya mengambil sebuah posisi bagi diri saya sendiri. Saya merelakan diri atas nama semua, maka, sebagai akibatnya, langkah saya mengikat seluruh umat manusia”[5].

Eksisensialisme Sartre mengajak kita untuk keluar dari persembunyian dengan kedok nilai, norma, atau aturan apapun dengan mengingatkan untuk jujur atas setiap pilihan kita, karena kitalah yang menciptakan nilai-nilai tersebut dalam mengambil setiap langkah dalam kebebasan kita (contoh: pelukislah yang menciptakan nilai seni, bukan sebaliknya). Maka salah atau benar-nya -dalam artian tertentu- suatu tindakan tidaklah dapat dinilai, yang dapat dinilai adalah kejujuranya, yaitu sikap legowo untuk mengakui bahwa pilihan tersebut adalah atas dasar kebebasanya, hal ini bukan berarti tidak jujur tidak diperbolehkan, tapi bersikap tidak jujur berarti adalah suatu kepalsuan karena menyembunyikan, mengingkari, sifat kebebasanya.

Zaman selalu berubah, terutama pada era globalisasi sekarang ini, dimana situasi terus berubah dengan cepat, nilai-nilai yang menjadi sedemikian majemuk dan rancu, Sartre mengingatkan bahwa kita sendirilah yang menciptakan nilai-nilai tersebut melalui langkah yang kita ambil, seruan tersebut mungkin merupakan ajakan untuk tidak takut dalam menentang arus dan menjadi “berbeda”, “unik” sekaligus mengakui perbedaan dan keunikan orang lain dengan sikap Jujur dan Bertanggung jawab, sebuah keberanian untuk mengatakan “Ya! Ini jalanku” barangkali sebuah sikap yang sulit dan mahal ditengah kegilaan untuk mengharamkan ini-itu dan gemerlap bujuk rayu barang-barang untuk dibeli.


[1] F. Budi Hardiman. Demokrasi Deliberatif: menimbang negara hukum dan ruang publik dalam teori diskursus Jurgen Habermas. Kanisius. 2009. Jogjakarta. Hlm 37

[2] A. Setyo Wibowo & Majalah Driyakarya Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Kanisius. 2011. Jogjakarta. Hlm 129

[3] Ibid hlm 74

[4] Sartre dalam “L’Eksistentialisme est un Humanisme” dikutip dari Franz Magnis Suseno, Etika Abad Keduapuluh : 12 teks kunci. Kanisius. 2009. Jogjakarta. Hlm 73.

[5] Ibid hlm 75.

Memikirkan Kembali arti “Menjadi Rasional”

Sebagai masyarakat modern, kita sering membanggakan kemampuan Rasio (akal budi, kesadaran, cogito) kita dalam memecahkan masalah. Namun, rasanya kita justru menjadi terlena dalam menyikapi rasio tersebut,kita menjadi terlalu bergantung menjadi rasio. Rasio tadinya adalah upaya proyek manusia pencerahan untuk menerangi perbuatan keluar dari mitos-mitos dogmatisme justru mengkhianati tujuanya dengan menjadi mitos bagi dirinya..

Bila kita melihat keseharian kita hari ini, seharusnya kita dapat menggugat, benarkah rasio tersebut menuntun kita menuju masyarakat yang tercerahkan? System kerja outsourcing yang merugikan buruh upah, eksploitasi yang berlebihan pada alam, standarisasi disana-sini, benarkah kita menciptakan kemajuan sementara disisi lain justru mengkhianati nilai-nilai emansipsi pada hidup?

“Rasio” pada awal pencerahan dimengerti sebagai akal budi, sebuah sinar yang menerangi manusia menuju otonomi dirinya, rasio di masa ini berusaha untuk memisahkan diri dari dogmatism gereja. Usaha tersebut ditempuh melalui klasifikasi Ilmu pengetahuan dan diramaikan oleh para ilmuan macam Galileo, Copernicus, Darwin, Newton dll.

Seiring dengan perjalananya, rasio lama-kelamaan semakin mengekerucut pada ilmu pengetahuan rigourus (ketat) yang diusung oleh Comte, yang kemudian disusul oleh euphoria revolusi industry dan gegap gempita kapitalisme. Rasionalitas seolah semakin mendapatkan legitimasinya dan iniliah yang kemudian menjadi perhatian, keresahan bagi para pemikir kritis, karena rupanya rasionalitas macam ini justru menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang sebenarnya ingin dihindarinya.

Rasio, Rasionalitas, dan proses Rasionalisasi kemudian dimengerti sebagai upaya menuju pemikiran teknis yang ketat tersebut, “Tindakan Instrumental” bagi Adorno dan Horkhaimer, “Rasio Teknokrat” bagi Mercuse. Menurut Jurgen Habermas, seorang filsuf tersohor Jerman abad ini berpendapat bahwa sebenarnya kita telah salah mengartikan arti dari Rasio, baginya Rasio telah direduksi hanya semata-mata kegiatan yang bersifat teknis-instrumental, mengeringkan nilai-nilai dunia.

“Paradigma filsafat kesadaran sudah kehabisan tenaganya. Karena itu simtom-simtom kehabisan tenaga ini mesti disingkirkan dengan peralihan ke paradigm pemahaman timbal balik”- Jurgen Habermas

Baginya Rasio sendiri tidak bisa dilihat semata-mata pada dimensi teknis-instrumental tersebut, pada pemikir kritis rasionalisasi barat macam Marx, Max Webber dan Generasi Pertama Madzhab Frankurt mereka mengalami kegagalan dalam mengkritik rasionalitas karena hanya memandangnya secara sempit. Habermas sendiri berpendapat bahwa seharusnya rasio selain dimengerti dalam artian teknis-instrumental (rasio instrumental) tersebut juga dimengerti secara komunikatif, Habermas menyebutnya sebagai “Rasio Komunikasi”, dan keduanya selain memiliki sifat bahasa-nya masing-masing juga rupanya saling mempengaruhi satu sama lain.

Maka dapat kita cermati sekarang bahwa rupanya “kekeringan” yang dialami oleh manusia modern dewasa ini rupanya karena tidak imbangnya pertumbuhan rasio tersebut. Rasio yang digunakan didominasi oleh salah satu bentuk rasio saja, yaitu rasio instrumental, sehingga bahasa yang digunakan oleh rasio instrumental tersebut mengintervensi bahasa komunikasi praktis sehari-hari (baca: masuknya pemahaman ekonomi-kapitalis pada pola hidup sehari-hari), kemampuan emansipasi dalam rasio dikebiri oleh pemutlakan bahasa teknis yang kurang tepat bagi bahasa komunikasi yang bersifat intersubyektif.

Saya pribadi setuju dengan Habermas, yang mengharapkan kedewasaan rasio secara seimbang, Rasio instrumental dalam hal mempelajari obyek dengan harapan menghilangkan hambatan manusia secara teknis dengan alam, berkembangnya kemampuan produksi, dan juga Rasio Komunikasi melalui terbukanya ruang berbicara yang bebas dari segala kooptasi kekuasaan, bebas tujuan melalui jalan menyingkirkan hambatan berbahasa. Dengan demikian kemajuan teknologi tidak berdiri sendiri dari emansipasi nilai-nilai dunia social-moral karena keduanya bergerak secara bersama dan terbuka pada kemungkinan reflektif, koreksi diri, rasio instrumental pun dapat menemukan, menyesuaikan, dirinya dalam praksis.

Maka disini kita dapat merefleksi arti rasio pada diri kita sendiri, dimana menjadi rasional tidaklah berarti meninggalkan bahasa dunia sehari-hari demi kepentingan teknis. Sekarangpun kita ini masih (sangat) membutuhkan orang-orang macam Bunda Theresa, Gandhi, Romo Magnis, Pak Marhaen, Munir, dan lainya untuk menyirami dunia dari “kekeringan nilai”.

Konsumerisme, Mitos Dari Etika yang Membeku

Di negeri ini, kini telah hadir berbagai pusat perbelanjaan sekarang orang tidak perlu lagi pusing untuk mengeluarkan dompetnya. Namun sayangnya, baik kita sadari maupun tidak, rupanya pola hidup konsumtif telah merasuk kedalam berbagai sendi kehidupan.

Tunggu dulu, lalu apa masalahnya? Berbelanja demi gaya hidup, secara tidak langsung telah menggiring pemikiran kita untuk berpusat pada tubuh (penampilan) . Tubuh menjadi sasaran obyektifikasi dari konsumerisme, karena melalui konsumsi, kita dapat mengaktualisasi diri lewat baju, perhiasan, gadget, bentuk tubuh, yang kita beli. Pola hidup yang demikian seolah-olah dilegitimasi melalui deretan iklan dan sinetron  yang memuja tubuh dengan bahasa dan symbol tertentu, aktualisasi tubuh via konsumsi dijadikan sebagai semacam ideology.

Lalu bagaimana dengan peran etika? Etika secara garis besar berbicara tentang “jalan menuju kebaikan”. Menurut Jurgen Habermas, Etika berkaitan dengan Konsensus, tentunya karena etika dihasilkan melalui diskursus untuk memperoleh kesepakatan bersama mengenai apa yang baik itu.

Problemnya adalah ketika diskursus tersebut disandarkan pada tubuh dan konsumsi, maka obsesi atas penampakan tubuh, dan bagaimana tubuh dilihat seolah semakin menemukan alasanya. Super-ego yang didasarkan konsumsi, tentu akan menimbulkan represi yang berbasis konsumsi pula. Simbol dan nilai tubuh dikelompokkan, kita membaginya ke tingkatan-tingkatan social, barang atau bentuk tubuh tertentu mencerminkan kelas social pemiliknya.  Karena wacana tubuh itu demikian dominan, kita mulai melupakan nilai-nilai yang lain, kita terbelenggu bahwa tubuh adalah satu-satunya media aktualisasi diri, penampilan adalah segalanya.

Pada Tahap ini saat etika tubuh mulai terjebak membeku menjadi dogma dalam system tertutup, kita dapat mempertanyakan kembali, merefleksi kebelakang mengenai apa tujuan etika itu sebenarnya. Etika sebagai tujuan kebaikan bersama, atau rasionalisasi terselubung kekuasaan (pemodal-konsumerisme) yang berujung opresi maupun represi?

Ketika dogma itu kita terima secara taken for granted, maka yang terjadi adalah penindasan (marx menyebutnya sebagai kesadaran palsu), yang dalam konteks ini yang dirugikan adalah pihak yang tidak mampu mengikuti bahasa etika konsumsi atas tubuh, seolah mereka adalah makhluk yang tidak beretika, dipinggirkan.

Mari kita mulai mencoba meredifinisi etika, dengan mulai memikirkan dan mengenali diri kembali sikap kita pada kehidupan sehari-hari, konsensus melalui diskursus yang bebas dan adil dan dibarengi kesadaran akal sehat. Barangkali ketika ambisi pada penampilan tubuh berakhir, tubuh tidak lagi menjadi sasaran obyektifikasi membabi buta, para koruptor berdasi mulai menyadari arti dari rasa malu, dan teman-teman bercelana sobek alakadarnya tak perlu merasa begitu rendah diri,   …dan etika-pun menjadi lebih manusiawi.

Referensi :

Suseno, Franz Magnis. Etika Abad kedua puluh. Kanisius. 2006. Yogyakarta.

Hardiman, Fransisko Budi. Kritik Ideologi. Kanisius. 2009. Yogyakarta.

Sumber gambar :

http://wartakotalive.com

Marx, Marxisme vs Kapitalisme & Konsumerisme

Bila sampeyan berbicara mengenai Marx, apa yang akan terlintas di benak anda untuk pertama kali? Soal Atheisme? Kapitalisme? Revolusi Buruh? Atau bahkan mungkin peristiwa G30S PKI? Apapun itu saya menyarankan untuk tidak terburu-buru dalam men-judge Karl Marx. Karena secara personal, sejujurnya apa yang dicita-citakanya adalah sebuah kemerdekaan, kebebasan, kebahagiaan, untuk terlepas dari belenggu –dalam hal ini masyarakat berkelas-yang membutakan manusia. Meskipun ramalanya mengenai kejatuhan Kapitalisme tidak kunjung tiba, dan bahkan semakin sedikit negara yang menggunakan pahamnya, pemikiran mendalam dan kritis dari seorang Marx tetaplah layak untuk dikaji. Setidaknya Marx memberi kita sebuah warisan, yaitu harapan untuk menuju masyarakat yang bebas. Namun bebas dari Marx berbeda dengan bebas menurut para liberalis, Marx justru berpendapat bahwa keberadaan hak milik –atas alat produksi yang dikuasai golongan tertentu-lah penyebab dari munculnya masyarakat berkelas, ayo kita cicipi sekilas pemikiran Karl Marx ini:

 “Para filsuf tidak lebih dari sekadar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubahnya” – Marx

Karl Marx lahir di Trier 1818, Marx lahir dikala sedang hebohnya revolusi industri yang kelak akan dia kritisi dampaknya. Dikala muda Marx menaruh minat pada jurusan hukum sebelum kemudian mengurungkan niatnya dan beralih ke fakultas filsafat di universitas Berlin, dia menaruh minat mendalam pada pemikiran GWF Hegel, yang kemudian memberikan pengaruh besar pada filsafatnya nanti. Pada usia 23 tahun Marx memperoleh gelar Doktor dari Universitas Jena (wow!). Karena pemikiranya, dia hidup berpindah-pindah, dari Paris, Brussel, hingga akhirnya menetap di Inggris bersama sahabatnya, Engels.

Marx dan Hegel

George Willem Fredrich Hegel adalah filosof yang terkenal dengan metode dialektikanya. Pada masa Pencerahan, instrumen utama yang digunakan dalam menalar dunia adalah Rasio (conciusness, kesadaran) nah, bagi Hegel, kesadaran adalah suatu proses yang dicapai terus menerus dari satu tegangan (tesis) yang berbenturan dengan tegangan lain (antitesis) sehingga pada akhirnya melahirkan kesadaran absolut (sintesis), hal ini dilkenal sebagai “Fenomenologi roh” yang berbentuk roh absolut dimana kesadaran untuk memperolehnya didapat dari sejarah manusia (proses dialektik) . Jadi rasio yang berlaku disini adalah rasio yang menyadari asal-usul pembentukanya.

  

Marx pada dasarnya setuju pada pemikiran Hegel, namun dengan pandanganya yang materialistik, dia menjungkir balikkan pemikiran Hegel bahwa kesadaran itu tidak terbentuk melalui manusia menuju Yang Absolut, melainkan secara materialistis dalam artian; bahwa kesadaran itu pada dasarnya terbentuk dari sistem kerja produksi manusia dalam mengolah alam, proses dialektik tersebut disebut sebagai materialisme dialektik dan sejarah alat produksinya sebagai materialisme historis. Jadi secara singkatnya, Marx memodifikasi dialektika Hegel dalam bentuk sejarah produksi manusia dan berpendapat bahwa sejarah manusia adalah sejarah perkembangan alat produksi (ekonomi), disini dimaksudkan bahwa pemikiran manusia terstruktur dengan ekonomi sebagai dasarnya dimana pada akhirnya akan menentukan pola superstrukturnya (hukum, iptek, seni, dll).

Perjalanan Materialisme Historis

Materialisme Historis yang didasarkan dari dialektik mengandaikan tercapainya zaman melalui era-era berikut: komunis primitif, kuno, feodal, kapitals, dan berujung pada komunis. Masyarakat pada setiap era memiliki ciri-cirinya tersendiri dengan hubungan produksi dan kelas sosial yang berbeda. Dari setiap hubungan kelas dan produksi tersebut, Marx menilai bahwa akan ada pihak yang mengambil keuntungan dan yang dirugikan, dalam bentuk eksploitasi dimana satu kelas menindas kelas yang lain (kecuali era komunis primitif dan komunis).

Pada era komunis primitif tidak ada eksploitasi, hal ini karena masih sangat sederhananya kebutuhan dan terbatasnya pengetahuan manusia, kemudian berkembang menjadi Masa Produksi Kuno, dimana dimasa ini lah pemisahan kelas lahir, penyebabnya sudah dapat kita duga, yaitu pemilikan produksi dengan menggunakan budak dari kelas lain.

Pada masa Feodalisme, yang berkuasa adalah para pemilik tuan tanah dengan kekuataan paksaan berupa senjata. maysaralkat diluar kelompo2k mereka untuk bekerja sebagai petani yang menggarap tanah yang disewakan oleh para pemilik tanah. Setelah revolusi pertanian,  yang memungkinkan perolehan hasil pertanian secara efektif, para pemilik tanah kemudian membuat akta pembatasan dimana para pekerja kemudian tidak diperbolehkan untuk menggunakan lahan kosong milik tuan tanah feodal sehingga kehilangan tanah tempat memperoleh SDA dan pencaharian mereka, kenapa? Karena tanah tersebut dialih fungsikan sebagai tempat beternak domba yang dianggap lebih menguntungkan pemilik tanah. Kejadian tersebut kemudian dikenang sebagai Domba mengunyah manusia dengan mulut mereka sendiri karena begitu berlimpahnya lahan kosong untuk diolah, dan disaat bersamaan banyak orang tidak memiliki pekerjaan dan alat produksi untuk memenuhi kebutuhan dan ditempat lain domba-domba tersebut terkonsentrasi di tangan sedikit orang (feodal).

Bila pada masa feodal kekuasaan produksi ada pada pemilik tanah, melalui pengolahanya maka pada masa Kapitalisme para pemilik modal menginvestasikan uangnya pada peralatan industri, pabrik-pabrik,karena tidak tersedianya lapangan kerja, maka masyarakat pun menjual tenaganya pada masyarakat kapitalis,  menjadi buruh yang kemudian dibayar dengan upah yang sangat rendah dan waktu kerja yang tidak manusiawi. Dasar pengupahan dari masa kapitalis adalah “nilai lebih” yang tertanam pada barang.

Nilai Lebih

Pertanyaan yang kiranya mendasar pada masa kapitalisme adalah “darimana Kapitalis memperoleh keuntungan?” Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya bila lebih dahulu membahas tentang bagaimana berjalanya sistem pertukaran dengan uang.

Pada era kapitalisme, para kapitalis dengan pabrik-pabrik dan alat produksi mereka membanjiri pasar dengan komoditas-komoditas , barang-barang yang dijual dan ditawarkan kepada konsumen. Hal yang menarik adalah, bagaimana mungkin benda-benda hasil produksi yang berbeda tersebut dapat dipertukarkan satu sama lain,semisal, bagaimana bisa sebuah emas dianggap setara dengan taruhlah misalnya, 5 kg beras? Atau sepasang sepatu dengan 2 ekor kambing? Bagaimana hal tersebut dapat dikatakan sebagai pertukaran yang fair? Karena sebuah kambing tetaplah sebuah kambing dan sepatu tetaplah sepatu.

Ternyata Jawabanya adalah pada “Festisisme komoditas” semacam kepercayaan, pada nilai yang menubuh dalam bentuk “harga”.  Hal tersebut merubah nilai guna sederhana (beras untuk makan, sepatu untuk berjalan) menjadi nilai ajaib. Intinya adalah bahwa segala sesuatu tersebut, baru dapat dikatakan berguna, bila dia mempunyai kekuatan untuk dijual. Diproduksi untuk dijual.

Lalu dari mana kapitalis mendapatkan keuntungan? Jawabnya ada di 3 huruf sederhana ini: M-C-M’. Uang dalam artian modal (M-Money) , merubah, mengelola, komoditi (Comodity), untuk dijual, sehingga menghasilkan uang baru atau keuntungan(Money’). Darimana? Dari waktu kerja yang tidak dibayarkan.

Bayangkan misalnya untuk membuat 1 buah handphone, seorang pekerja membutuhkan waktu 1 jam, maka pemilik modal akan memaksa pekerja sebisa mungkin menyelesaikan Handphone tersebut kurang dari waktu yang ditentukan, semisal 45 menit, maka handphone yang dihasilkan adalah 1,25 handphone. Nah, 0,25 ini adalah waktu keuntungan dari pemilik modal atau kapitalis yang kelak akan diberi label berupa “harga”. M’ (harga) = harga bahan baku + upah tenaga kerja.

M-C-M ini adalah pola produksi kapitalis, yang berbeda dari pola sebelumnya C-M-C dimana seseorang mengolah komoditas hanya untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan hidupnya saja, Pola M-C-M membuat para Kapitalis pemilik modal untuk terus memperoleh Laba, terus menerus, dengan membuat sistem kerja yang se-efisien mungkin.

Penindasan Manipulatif

Ingat, Marx berpendapat bahwa struktur basis-ekonomi- mempengaruhi bangunan suprastruktur diatasnya. Peranan Suprastruktur (agama, hukum, seni, institusi,dll) rupanya turut melanggengkan subordinasi dan eksploitasi yang dilakukan oleh para pemilik modal. Subordinasi seperti yang dipaparkan bisa saja dilakukan dibawah senjata seperti era feodal, tapi sebenarnya cara yang paling efektif dalam hubungan subordinasi tersebut sebenarnya adalah melalui ideologi, keyakinan, dengan menanamkan bahwa sistem kelas yang demikan itu adalah adil, sehingga pihak yang didominasi tidak menyadari kondisi tersebut.

Sistem pendidikan, media massa, berperan –dalam bentuk ideologi- untuk mengaburkan, menyembunyikan realitas sebenarnya. Institusi-institusi yang seperti itu , menurut Marx berperan dalam memberikan semacam ”petunjuk hidup palsu”.

“Agama adalah candu masyarakat!” – Marx

Marx’s Prophecy : Kejatuhan Kapitalisme & Bangkitnya Buruh

“Buruh diseluruh dunia, bersatulah, kita tidak akan kehilangan apapun kecuali rantai yang membelenggu”

Dari sifat-sifat kapitalisme yang demikian, marx meramalkan bahwa Kapitalisme akan jatuh dengan sendirinya, bagaimana? Melalui persaingan antar-pemilik-modal, sehingga mereka bersaing se-efisien mungkin untuk menjual produknya dengan harga termurah, hal ini berarti semakin berkurangnya “nilai lebih” untuk mendapatkan keuntungan, hal ini berarti mereka harus menambahjam kerja demi menaikkan produksi dan nilai lebih tersebut. Dampak dari eksploitasi yang kian menjadi dari kompetisi para pemilik modal tersebut adalah alienisasi pekerjaan (manusia menjadi terasing karena produksi karya-nya ditentukan oleh pemilik modal) dan de-humanisasi (jam kerja yang tidak manusiawi).

Karena kondisi yang sedemikian tidak menguntungkan, kaum proletar pada akhirnya akan menyadari  keadaanya, kesadaran kelas muncul, dan mendorong mereka untuk melakukan sebuah revolusi guna merebut keberadaan alat-alat produksi. Hal ini berarti kaum pekerja-lah yang memimpin pemerintahan dan menguasai alat produksi tersebut dan setiap orang bebas dari subordinasi, setiap orang bisa melakukan pekerjaan yang dikehendaki, terbebas dari alienisasi pekerjaan.

….berburu di pagi hari,memelihara ternak dimalam hari, berdebat setelah makan malam, itulah yang ada di pikiranku tanpa pernah aku menjadi pemburu, nelayan, atau tukang debat” – Marx

Kritik atas Marx

Pemikiran Marx kelak akan terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu Marxisme Ortodoks dan Neo-Marxisme. Marxisme Ortodoks adalah penerapan Paham Marx secara kaku dan deterministik, antara lain adalah Lenin dan Stalin yang justru mempraktekkan kekuasaan represif dan jauh dari kebebasan yang dicita-citakan Marx.

Neo-Marxisme atau revisionis, berbeda dari Marxisme Ortodoks, mereka menyadari bahwa tuntutan dan ramalan Marx telah meleset dan tidak sesuai lagi dengan keadaan zaman, tokohnya antara lain Bertell Ollman dan Edward Vernoff. Yang patut juga dicermati adalah munculnya Madzhab Frankurt generasi pertama dengan para tokohnya antara lain : Horkheimer, Adorno, dan Mercuse. Madzhab Frankurt kemudian melanjutkan Marx dalam mengkritik Kapitalisme dalam bentuk Teori Kritis. Mereka sudah tidak lagi menaruh harapan pada kaum buruh, melainkan dari kaum intelektual, mahasiswa untuk melakukan perubahan, namun sayang, Madzhab Frankurt justru jatuh ke sikap pesimistis dalam menghadapi Kapitalisme. Sekali lagi Kapitalisme menang.

Pewaris Madzhab Frankurt, Jurgen Habermas mengatakan bahwa setidaknya ada beberapa alasan ketidak-relevanan Marxisme untuk masyarakat hari ini, antara lain :

  • Pemisahan negara dan masyarakat pada kapitalisme liberal sudah tidak lagi relevan, mengenai ekonomi sebagai basis dan politik sebagai suprastruktur diatasnya. (menurut Habermas keduanya saling mempengaruhi)
  • Perkembangan standar hidup yang sangat pesat.
  • Kelas sosial yang semakin terintegrasi dalam masyarakat dan manipulasi kelas yang semakin canggih
  • Kaum proletar yang sudah tidak lagi dapat dijadikan tumpuan harapan (Habermas menumpukan harapanya pada “rasio”)
  • Jalan yang ditempuh Uni Sovyet yang justru jauh dari cita-cita kebebasan Marx

Secara garis besar sesungguhnya Habermas ingin mengatakan bahwa Marx terlalu jatuh pada semangat positivisme yang dirintis oleh Comte, mengenai sah-atau-tidaknya suatu pengetahuan, dan terlalu terpaku pada “rasio kerja/instrumental” yang disandarkan pada pandangan ekonominya. Demikian Habermas menambahkan “Rasio Komunikasi” yang kemudian akan terwujud pada teorinya mengenai Diskursus dan Ruang Publik.

Kapitalisme Hari ini:

Pada masyarakat Kapitalisme Lanjut belakangan ini, masih dengan festisme tubuh yang berlebihan, melalui anjuran untuk melakukan konsumsi, dengan provokasi dari media massa –iklan, sinetron, dll- yang bahkan menawarkan kepada kita hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Hypperrealitas, kalau Braudillard bilang, dimana yang mana yang kenyataan dan mana yang bukan menjadi begitu kabur. Menurut Mercuse : Perbudakan manusia modern yang dilakukan dalam semangat sukarela, melalui manipulasi sistem kebutuhan “saya adalah apa yang saya beli”  mungkin begitulah cara berfikir masyarakat kita sekarang, bahkan orang yang ridak dapat melakukan konsumsi pun menjadi korban, dengan peminggiran, labelling karena “baik” dalam artian ini adalah “beli”, tidak mampu beli, maka silahkan out.

Penutup

Marx dengan penuh semangat –setidaknya- telah menunjukkan upaya untuk membongkar selubung penindasan demi kemerdekaan manusia, sudahkah kita melakukanya? Beranikah kita melawan arus besar konsumerisme? Beranikah kita untuk mengatakan tidak dari zaman yang meninabobokan ini? Barangkali jawabanya kembali pada rasio setiap individu. Selamat menjalani penindasan terselubung sebagai keseharian 😛 eh, emang kita ditindas?

Daftar Pustaka :

  • Jones, Pip. Pengantar Teori-Teori Sosial.Yayasan Obor Indonesia.2009.Jakarta.
  • Smith, David & Phill Evans. Das Kapital Untuk Pemula.Insist Press.Jogjakarta.
  • Budiarjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik.Gramedia Pustaka Utama.2008.Jakarta.
  • Hardiman, F. Budi. Kritik Ideologi.Kanisius.2009.Jogjakarta.
  • Hardiman, F.Budi. Filsafat Modern.Gramedia Pustaka Utama.2007.Jakarta.
  • Tanya, Bernard L. Teori Hukum.Genta Publishing. 2010.Jogjakarta

Namanya Minsih..

Sabtu 13 november lalu akhirnya dapat kesempatan  juga buat rame-rame bertandang ke salah satu tempat pengungsian di Boyolali. Kira-kira 2 jam perjalanan dari semarang, saya bersama rombongan sampai ke posko PMI untuk menaruh obat-obatan dan dilanjutkan penyaluran logistik ke tempat penampungan tidak jauh dari situ.
Dari sekitar 270 pengungsi yang ada disitu, saya dapet kesempatan sebentar buat ngobrol dengan Eyang Minsih. Beliau menuturkan kalau bersama 6 anggota keluarga yang lain mengungsi ke Boyolali karena pemukimanya hanya berjarak 4 kilo dari puncak Merapi yang sedang sensi itu.

Hebatnya, meski berada ditengah keterbatasan, Eyang Minsih tetep sempet buat tersenyum, beliau berkata kalau sebenarnya sama saja tinggal di kampung maupun di penampungan selama mereka masih bisa bersama-sama.

“sayang satu, sayang semua”

Begitu kira-kira kalimat dari Yang Minsih, yang menggambarkan kalau dimanapun mereka berada, mereka tetap menyayangi satusama lain.

Jadi malu, karena selama ini seringkali kita berhubungan dengan orang lain atas dasar kepentingan tertentu saja, ada udang dibalik batu. Tapi syukur masih ada orang-orang seperti Eyang Minsih dan kawan-kawan yang tidak (atau belum?) termarjinalkan oleh gegap gempita merek.

Sentilan dari Minsih dan kawan-kawan di penampungan juga membuat saya berpikir, apa harus menunggu ada bencana-bencana dulu baru mata kita terbuka pada sesama. Para korban Merapi, Mentawai, Wasior dan lainlain mungkin sedikit lebih beruntung, karena mereka disorot oleh media. Sadarkah teman, kalau disekitar kita ndak sedikit orang yang kondisinya lebih susah dari mereka?

Saya juga jadi merasa bersalah, karena hanya bertandang dan tidak sempat berbuat apa-apa. Saya malu, karena berlagak menjadi turis dan para teman-teman di penampungan seolah jadi obyek pemandangan wisata saya.

Untuk semuanya, semoga keadaan menjadi lebih baik kedepan ya… amin.

Fotofoto dari: Satrio Prabhowo Trihadmojo

nb. ini dia senyum para jagoan kita, para pembawa harapan 😀

Badai !

Selamat datang badai abad 21 ! Era dimana semua serba mudah, sekaligus serba susah, suatu masa dimana kita (sebagai manusia) seolah merasa bangga dengan apa yang sudah kita capai melalui teknologi-teknologi mutakhir yang kita temukan.

Era dimana kebenaran begitu rancu, semua serba relatif, tidak ada yang pasti, tidak ada yang tetap, dimana yang lambat akan tertinggal. Kita dibuat seolah-olah tidak bisa berpaling dari realitas tanpa sempat memikirkan nilai fundamental, atau dengan mudah melemparkanya ke agama, tinggal terima dan pakai, beres.

Zaman dimana manusia sudah direduksi sedemikian rupa. Kita melihat cuma dari apa yang tampak, dimana dia tinggal, baju merk apa yang dia pakai, mobil apa yang dia kendarai, seberapa tebal dompetnya, dan seterusnya dan seterusnya.

Sebenarnya saya cuman mau bilang, jangan mau kalau kita direduksi, jangan mau kalau kita hanya dilihat dari apa yang tampak.  Berbuatlah selaku manusia sebagai manusia , kepada manusia.  Jangan mudah tunduk pada zaman, selalulah mencoba untuk melampaui, seperti Odysseus yang begitu berani menantang kutukan para dewa demi bertemu lagi dengan Penelope. Seperti cerita Nuh yang membuat kapal demi bisa melalui banjir besar, kita juga pasti bisa melewati badai ini.. ayo !!

Suara Tuhan dari Punakawan

Semar, siapa yang tidak tahu semar? kebanyakan orang jawa atau yang pernah tinggal di jawa pasti tau atau seenggaknya pernah dengar soal Semar. Semar bersama bolo-bolo nya di Punakawan adalah rekaan asli dari budaya jawa. Berbeda dari versi aslinya, di pewayangan jawa pihak pandawa didampingi oleh sekelompok abdi yang sangat setia dan juga jenaka, Punakawan.

Mungkin untuk sekilas, penampilan punakawan nggak mencerminkan apa-apa melainkan hanya untuk mencairkan suasana, karena fisik dan wajah-wajah mereka yang lucu, tapi sebenernya tiap-tiap anggota Punakawan punya cerita sendiri-sendiri lho..

Ada banyak versi untuk Semar, tapi yang pasti dia adalah penjelmaan dewa, tepatnya Batara Ismaya yang turun ke bumi untuk mengasuh Pandhawa. Gareng dan Petruk dulu juga adalah kesatria yang tangguh, sakti yang bertengkar satu sama lain yang karena saking lamanya berkelahi fisik dan muka keduanya jadi rusak.  Dalam perjalananya turun ke Bumi, Semar yang melihat mereka berkelahi kemudian melerai mereka dan mengajak untuk ikut Semar menjalani jalan kebenaran dengan turut serta mengasuh Pandhawa.Sedangkan Bagong, dia adalah hadiah dari Sang Hyang Tunggal berupa perwujudan dari bayangan Semar yang setia menemani Punakawan lainya.

Penokohan Punakawan sebagai abdi kaum ksatria Pandhawa, terutama Semar disini seolah mencerminkan bahwa sesungguhnya suara mereka sebagai pengasuh dan pemberi nasehat tersebut adalah personifikasi dari suara rakyat biasa yang dalam negara demokrasi  bagaikan suara tuhan. Demokrasi bukanlah apa-apa bila suara rakyatnya endak ditanggepi, demokrasi palsu, Demokrasi cuma sampah kalau tujuan utamanya cuman mengibuli dan memeras rakyatnya. Karena negara sendiri terbentuk dari rakyat, jadi apa gunanya negara  kalau tidak melibatkan rakyat didalamnya?

Sama seperti Punakawan yang punya kesaktian sendiri-sendiri dan merupakan penjelmaan dari pribadi-pribadi yang sesungguhnya memiliki kemampuan dan kebijaksanaan tinggi tapi karena kerendahan hatinya mau menjelma jadi orang biasa, begitu juga rakyat indonesia yang tetep sabar walau hukum di negaranya carut marut, tetep tabah walau sekolah saja dianggap mewah, tetep senyum meski makan saja susah. Suara mereka, suara kita adalah suara tuhan. Ayo pak presiden, pak mentri, pak polisi, dengerin kita ya…. pliss pasti kalian juga nggak mau kan kalau Tuhan ini marah. Nah Lho !!



Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya

September 2019
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors