Archive for the 'jalan-jalan' Category

Eh ada Nana !

beberapa hari yang lalu, tengah malem, handphone saya bunyi, telpon dari unknown number, biasanya kalo yang begini ini kalau enggak nagih deadline kerjaan ya nagih utang jadi ngangkatnya juga setengah hati. “halo cel, rumah makan Semarang yang buka 24 jam dimana?” suara di seberang langsung nyerocos dan oooooo… ternyata nggak lain dan nggak bukan adalah mbak Nana imigran dari Sumatra.

Dulu, pertama kali ketemu mbak Nana, first impression-nya jelek banget ketemunya ga ada 5 menit, terus saya ngutang duit parkir. Sekian tahun berlalu dan kita ketemu lagi, sekarang udah agak gendutan, udah lamar-able sak pole. Nah ini foto oleh-oleh kemaren :

IMG-20131225-WA0000

Selamat jalan mbak Nana!makasih udah mau tak culik,  semoga selalu bahagia dan makin sukses!

Iklan

Perempatan Jalan Kala Senja

Dibalik banyak dan menjulang berbagai gedung, ditengah gegap gempita lampu kehidupan, rupanya ada kehidupan disela-sela bayangan para kemegahan, ada yang hidup dibalik temaram lampu. Diantaranya adalah waria. Waria yang selalu dikonotasikan sebagai hal yang buruk, menjadi bahan candaan yang disusul gelak tawa yang tak kunjung henti. Namun terbesit ada rasa kagum, karena terdapat kejujuran pada para waria tersebut, waria setidaknya berani mengatakan “ya” pada hidupnya. Ternyata ada “ya” yang tulus ditengah masyarakat “normal” yang serba munafik dan berbelit.

Waria sering dicemooh, barangkali karena kerancuan seksnya yang dianggap keliru. Diluar wacana keagamaan dan medis-biologis, mungkin kita bisa memandangnya dalam sudut wacana yang agak berbeda, bahwa kenapa waria itu –dianggap- salah?

Banyak wanita yang kini menempati pos-pos yang dulunya hanya dikhususkan, di-eksklusifkan bagi laki-laki. Perempuan dirangkul untuk merayakan sikap yang dulunya hanya diperuntukkan bagi laki-laki, maskulinitas, demi kesetaraan dan kebebasan mereka bilang. Mereka dielukan sebagai pionir kemerdekaan gender, namun benarkah? Bukankah kesetaraan gender berarti dibebaskanya feminine dan maskulin secara terpecah belah keruang bebas, dimana setiap orang dapat menggapai apa saja yang mereka mau?

Bohong besar kala kita mengatakan kesetaraan dan kebebasan tapi kita masih saja memandang yang maskulin, yang dulunya dimiliki laki-laki sebagai dewa untuk disembah. Bukanya feminine yang dulu dimiliki oleh perempuan juga –seharusnya- mendapat tempat yang sama? Kalau kita menganggukmaka kita harus mengamini juga bahwa baik pria maupun wanita berhak mengambil maskulin maupun feminine dalam dirinya, atau bahkan mengambil keduanya sekaligus pada satu tubuh.

Mungkin karena kita menganggap maskulin beberapa tingkat lebih tinggi, lebih mulia daripada feminine, maka tanpa sadar kita berpikir bahwa para pahlawan wanita itu dengan mengambil sifat-sifat maskulin akan naik tingkat, naik ke sebuah ketinggian baru, sedangkan para pria yang mengadopsi feminine, akan dianggap turun kasta, dalam hal ini tentu saja waria adalah para mereka itu, sehingga mereka dibuang, tidak diakui. , bisa saja kita berkata kalau kemerdekaan dan kesamaan baru mungkin terjadi bila baik maskulin maupun feminine keduanya dibubarkan saja.

Berikutnya adalah ekonomi , di zaman yang serba berhitung, tiap orang harus melakukan kerja, haru mampu menjadi bagian dari suatu proses produksi yang berbelit, untuk menghasilkan sesuatu untuk dijual, untuk dibeli. Persaingan antara pabrik satu dan lainya membuat persaingan yang berhujung pada dirangkulnya sebuah kata untuk menemani “produksi” tadi, yaitu efisiensi. Dari sinilah ada standarisasi. Agar produk dapat dijual, maka dia mengambil standarisasi dari pandangan calon konsumenya, dan disini, “waria” tidak ada pada kolom pilihan jenis kelamin pendaftaran kerja. Mereka dianggap meresahkan, seolah-olah ada rasa risih ketika berdampingan. Karena kesempatan itu sudah dirampas, maka mereka hanya memiliki tubuh untuk dijual dalam cara yang lain. Waria dianggap tidak produktif, dan tidak berharga, dan suatu rantai belenggu-pun kembali berputar.

Kalau memang demikian cara kita berpikir dan memandang pada “yang lain” dan memandang yang lain itu lebih rendah, nista, mungkin masih melekat pada diri kita kesombongan ala fasis,  mengendap, saat kita berpikir bahwa Cuma kitalah yang memeluk kebenaran yang mahabenar itu.

Bagai mengetuk patung berhala raksasa berusia ribuan tahun dan mendapati hanya kekosongan didalamnya. Saya percaya, banyak wacana yang dapat kita gunakan untuk melihat waria dan “yang lain” (agama, etnis, ras, minoritas) disamping wacana dominan yang membutakan karena menutup kekayaan wacana yang sesungguhnya ada dan berbagai wacana lain yang dapat berbicara, mendekonstruksi wacana dominan.. Dari para waria, barangkali kita dapat belajar bahwa ada masa dimana  jumlah tidaklah selalu identik dengan kebenaran.

Yah, suatu saat kita mungkin akan merayakan, bahwa memang ada kehidupan yang menggeliat, di remang lampu perempatan jalan kala tiba sang senja.

The Hangover’s Soundtrack : Stu’s song

What do tigers dreams of?
When they take a little tiger snooze
Do they dream of mauling zebras
Or Hallie Barry in her catwoman suit

Don’t you worry your pretty striped head
Were gonna get you back to Tyson and your cozy tiger bed
And then were gonna find our best friend Doug
And then were gonna give him a best friend hug
Doug Doug Oh Doug Doug Dougie Doug Doug

but if hes been murdered by crystal meth tweekers…then were shit out of luck.

hahahaha enjoy it pals ! 

Yak! libur selesai

Mulai 2 Maret 2011 ini habis sudah masa libur kuliah yang lumayan panjang ini. Hmm, kalo sedikit di-review selama liburan ini sempet ngapain aja ya? yang jelas waktu yang tadinya padet banget kesita buat kuliah, yang tadinya buat tidur siang aja susah pas liburan bisa tidur dari pagi sampe pagi lagi :P. Bisa nyambi les segala, kalo pas kuliah boro-boro deh. Postingan nggak penting ini isinya cuman mau cerita sekelumit cerita masa liburan yang rasanya sebentar banget ini, here we go ;

Hmm ini nih poto-potonya dikit :

Diskusi gender & Filsafat Islam di Komisariat HMI FISIP Undip Tembalang. Sayangnya gak bisa sampe selesai & harus cabut ditengah acara, tapi seru kok!

Piknik Asik bareng temen-temen milis semarangan  Loenpia.net di Taman KB Menteri Supeno, asiknya berangkat ga bawa apa-apa tapi pas balik mulutnya belepotan abis nyomot cemilan sana-sini, ehehe.

Orart-Oret edisi Pasar Burung, Jazz Ngisoringin, sama Pahlawan. kalau saya ditanya “ikutan orat-oret emangnya bisa nggambar?” jawabnya adalah enggak bisa sama sekali, gambar saya masih balapan levelnya sama anak kelas 6 esde jadi plis, jangan tanya apa saya bisa nggambar apa enggak.

CV 5 LIA Tendean, seumur-umur ikutan LIA baru sekali ini deh nemu kelas yang ramenya gak ketulungan, nggak yang udah tua apa yang masih muda pada labil semua.

Sebenernya ada banyak lagi sih kegiatan nggak penting lainya, yang intinya  : dolan dan ngabisin waktu luang. Saya hampir nggak nyentuh buku blas, padahal buku yang nganggur dari pameran buku kemaren masih banyak, hedeh.

Yah, bubye holiday, ill miss you so :*


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Oktober 2017
S S R K J S M
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors