Archive for the 'Uncategorized' Category

Angka bukan Cerita

Bung Darno menengok ke kanan, tatapanya tenggelam dalam-dalam, pada sosok jenderal lama yang dirangkum dalam pigura, yang berjaya lebih dari tiga kali sepuluh tahun lamanya, yang menyingkirkan petani, duda, janda, pria, wanita, guru, pejuang, ada yang mati telanjang, dibuang, atau hilang, yang masih hidup dipopor senjata, ditendang seragam loreng yang katanya berwibawa, lantas dirangkum dalam jumlah-jumlah, untuk membuat rezim baru, jumlah-jumlah dikumpulkan, tak peduli cerita dibaliknya, karena yang penting adalah angka.

Bung Darno mendongak ke atas, tatapanya tenggelam dalam-dalam, pada para orang alim, dengung-dengung yang berteriak tak sudah-sudah, kadang seru kadang luruh, sibuk menghitung kepala dengan imbalan dosa dan pahala, surga atau neraka, di tunjuknya orang-orang tak sependapat sebagai sesat dan durjana, sembari jumlah-jumlah dikumpulkan, tak peduli cerita dibaliknya, karena yang penting adalah angka.

Bung Darno menengok ke kanan, para teknokrat memberikan solusi-solusi, sambil membuat kalkulasi untung rugi, dalam siapa yang jual dan siapa yang beli, sibuk membuat solusi-solusi, memilih dan memilah mana yang disayang dan yang ditendang, mana yang akan kalah dan yang menang, jumlah-jumlah dikumpulkan, tak peduli cerita dibaliknya, karena yang penting adalah angka.

Bung Darno menengok ke kiri, luruh dalam harap dan asa, melihat tangan terkepal dari orang-orang muda yang setengah miskin, dan para paruh baya yang sebagian gagal kaya, dengan kata-kata menolak lupa, merapalkan dan menolak penguasa, dengan mereka yang disewenangkan dipoles dalam jumlah-jumlah yang dikumpulkan, tak peduli cerita dibaliknya, karena yang penting adalah angka.

Putus asa, Bung Darno melihat ke belakang lalu melengos ke depan, dalam lorong berisi orang besar dalam pigura, yang pidato-pidatonya pernah menggema seantero dunia, meski lalu kalah taktik dan ditendang dari kursinya, Darno berkunang, ingin dia pulang, tapi apa daya, dia cuma jalang, yang dikepung mantra-mantra dengan jumlah-jumlah, dengan nafas setengah menyerah, dia mau bicara tapi terbata, hendak memekik namun tercekik, dia cuma satu kepala, dalam lautan angka-angka, yang tak akan pernah peduli pada cerita-cerita.

 

Iklan

Menara

Menara-menara dibangun sekuat tenaga menjulang ke angkasa, berlomba dengan seluruh mata angin dipenuhi pengeras suara, dengan suara menderu supaya mencapai yang maha kuasa, dengan dendang doa yang kadang syahdu namun lebih sering tanpa nada, sementara di sekelilingnya, mereka yang di bumi tak bisa mendengar dan bicara, mereka yang mau tidur harus tutup telinga, mereka yang harus merelakan malam-malamnya untuk membaca digantikan bising dengung surga, mereka yang harus menerima, karena bila mereka menolak, mereka tahu akibatnya, dikatai tak punya iman, dikatai komunis, dan dikatai tak toleran, dalam bising yang berlebih-lebih, dalam gunjing, dan kadang, dalam benci yang berbuih-buih.

Tukang Zina

Orang berjubah dan suci berteriak mengecam para tukang zina, dengan dompetnya yang berisi kartu-kartu riba, dan anak dan istrinya bermandi wewangian lebih menusuk dari bunga-bunga, dengan berkah dari doa-doa, dengan ancaman dosa-dosa, dengan gantungan surga dan neraka, yang setelahnya menunggu kiriman, dari para pemuja iman, yang meminta  berkah para lacur dan mereka yang bercinta dengan ibunya sendiri, para munafik dan para bajingan.

Ageman

Ageman adalah candu, penuh rayu, yang buang akalmu, akalku, gantikan dengan ayat yang kadang dibaca mendayu, kadang penuh seru, yang padahal, kita tak perlu.

Hukum Progresif yang Menangis dalam Kuburnya

Bukan, tulisan diatas bukan judul film horor murahan yang memamerkan birahi lewat pameran paha dan dada.

Dulu, sewaktu saya baru-baru masuk ke Fakultas Hukum di Undip, istilah “hukum progresif” menjadi sesuatu yang lekat dengan pengajaran di Undip. Istilahnya sendiri awal mulanya diperkenalkan oleh Pak Tjip, seorang profesor yang dikenal sebagai “begawan hukum”. Jujur saja, konsep, teori, dan metode untuk menyebut apa itu hukum progresif tidak pernah jelas, bahkan beberapa orang bilang  tidak pernah ada. Pak Tjip sendiri tidak memberikan klarifikasi lebih jauh secara meyakinkan mengenai apa itu hukum progresif. Tapi bukan disitu masalahnya. Bukan pada kesulitan -kalau tidak mau dibilang ketidakbisaan- untuk menerjemahkan niat baik Pak Tjip menciptakan hukum yang “mengalir”, “membebaskan”, dan “untuk manusia”. Masalahnya adalah dari bagaimana para penerusnya hari ini, memberi makna dari kata “progresif”.

Beberapa waktu lalu, saya diminta untuk bicara sedikit tentang hukum progresif, di salah satu Fakultas Hukum di Semarang. Sebagai seorang pembicara pro bono, saya iyakan saja undangan itu, acara di hotel yang cukup mewah di Semarang. Di ruang singgah saya bertemu dengan seorang guru besar, dan disinilah saya merasa sedih.

Dia menanyakan ke saya, dimana saya sekarang. Saya jawab, saya tengah menyelesaiakan tesis dari kuliah saya di Thailand. Jurusan apa yang kamu ambil. Saya bilang hak asasi manusia. Apa topikmu? saya timpali lagi, tentang 1965. Dan jawaban dia berikutnyalah yang buat saya sedih. “oh jadi kamu mbelani PKI ya?”. Saya hampir terbelalak dan mau menjelaskan, bahwa 1965 adalah peristiwa yang tidak jelas, bahwa motif dari peristiwa tersebut adalah pertarungan modal besar, dan bagaimana itu digunakan untuk menyingkirkan Bung Karno. Tapi entah bagaimana, topik kemudian bergeser soal D.N. Aidit. Dia berujar pada intinya, pantas saja kalau Aidit dibunuh. Saya menjawab, “tapi kenapa dia tidak dibawa ke pengadilan?”. Dia menjawab “Karena dia membunuh para jenderal”. Saya bilang lagi “Kalaupun dia membunuhi para jenderal, apakah lantas boleh dia dibunuh di tengah jalan sementara dia sudah ditangkap?”. Dia jawab lagi “ya karena dia sudah membunuh duluan, seperti qisos”. Saya timpali lagi “oh, memangnya dalam hukum Islam diperbolehkan membunuh diluar pengadilan?”. Dia menjawab lagi “Ya intinya karena dia membunuh para jenderal”. Dalam beberapa kesempatan selanjutnya, dia selalu bilang -dengan agak sinis- soal PKI dan kiri-kiri di Indonesia.

Yang saya tak habis pikir, bagaimana bisa seorang yang katanya giat berkampanye soal cara berhukum dengan “hati nurani”, “kontemplatif”, pendekatan “surgawi”, dan istilah-istilah “luhur lainya”, bisa dengan saat yang bersamaan, berkampanye pula soal kebengisan. Pada saat itu, saya tidak mengeluhkan mengenai minimnya klarifikasi dari istilah-istilah “moral” yang dia pakai dalam pemaparanya. Yang saya sayangkan, bagaimana seorang guru besar fakultas hukum yang bicara soal progresifitas hukum pada saat yang bersama juga bicara soal sesuatu yang sedemikian keji. Tidak tahukah dirinya bahwa peristiwa 1965 adalah tragedi yang menjadi beban buat negara ini dengan jumlah korban yang besar? dan bagaimana peristiwa tersebut menjadi jalan untuk mengubah negara ini melalui masuknya modal-modal besar yang dilegitimasi lewat pembunuhan yang tak kalah besar?

Kemungkinanya hanya dua, antara dia tak mengetahui, atau dia tahu dan jawaban diatas adalah pilihan sadarnya. Keduanya akan berujung pada simpulan yang sama-sama mengerikan. Dan disinilah, istilah hukum progresif itu, menggali kuburnya dan menangisi dirinya sendiri. Saya hanya membayangkan, bagaimana perasaan Pak Tjip, bahwa hari-hari ini idenya dibaca dengan cara demikian oleh penerusnya. Kali ini, semoga saya keliru. Semoga cuma satu pengajar dan satu guru besar itu saja yang punya pikiran semacam itu. Amin.

 

Pulang Kampung

Darto pulang. Setelah rentetan pesan-pesan singkat yang diterimanya, akhirnya dia bisa pulang. Adik-adiknya telah berkumpul dirumah, katanya. Kini tinggal ia seorang supa semua bisa lengkap.  Tapi tentu pulang bukan perkara yang sederhana. Ia harus merangkap giliran kerja dulu di tempat kerjanya, supaya dia bisa menggantinya dengan rekan kerjanya, untuk bisa pulang. Baru hari ketiga, dan setelah merangkap tiga giliran kerja secara berturut-turut, disertai dengan sogokan berupa tiga bungkus rokok pada kawan-kawanya, ia baru bisa, pulang.

Selesai giliran jaga yang terakhir, dia pulang sebentar mengambil beberapa pasang baju. Usai Adzan Subuh, ia bersiap, mandi, dan mengecek lagi perbekalan, lalu menuju terminal. Sengaja dibelinya tiket bus pada pagi hari supaya bisa sampai sebelum siang. Dia berangkat pukul tujuh. Ditambah perkiraan macet dan sebagainya, ia akan sampai sekitar pukul sepuluh. Seperti politisi, jadwal bis murah sering bohong. Tapi ia beruntung, bisnya hanya meleset tiga puluh menit. Ia sampai di terminal, dan naik ojek sampai ke rumah. Tak ada angkot. Sebelumnya, sebelum sampai di kampungnya, ia meminta untuk berhenti sebentar guna membeli buah. Makan waktu sebentar untuk memilih dan memilah buah-buah itu, sebelum akhirnya dia menyerah dan meminta penjual untuk memilihkan. Ojek meliuk, dilewatinya gerbang kampung, dan sawah, tempat dulu dia main-main bersama adik-adik dan kawanya. Tak berapa lama ia sampai di daerah dekat rumahnya dulu, tinggal dua tikungan, ada masjid bercat hijau -dulu putih- di tikungan pertama, dan masjid dengan menara agak tinggi di tikungan kedua. Lima belas menit kemudian, ia baru benar-benar sampai, pulang.

Tapi pulang tak pernah jadi perkara mudah. Sampai di depan pintu, telah ada tiga adiknya menunggu. Narto, Tira, dan Edhi. Sebetulnya ada satu lagi, adik kesayanganya yang keras kepala, Rasyid, tapi ia dipukuli orang sampai mati karena membuat bunting seorang gadis kala merantau di negeri orang. Kini dihadapan mereka ada ayahnya yang sakit keras. Sudah seminggu terakhir ia tak bisa bangun, tak bisa pula makan maupun mandi sendiri. Adik-adiknya lah yang bergantian merawatnya.

“Siapa?” tanya si sakit. “Darto, dia pulang” jawab Narto. Memasuki rumah, Darto disambut oleh perayaan kecil. Karena jarang sekali rumah ada dalam jumlah yang utuh. Bagaimana kerjaanmu, istrimu, anakmu, dimana mereka, dan bagaimana segalanya. Dijawabnya semua itu satu-satu, pelan-pelan, yang tentu disusul oleh rentetan pertanyaan yang lain, sembari ia menanyai adik-adiknya itu satu demi satu. Ditengah haru, Adzan Dzuhur. Suara mereka tenggelam dalam pengeras suara masjid, menyisakan sedikit ruang pada yang rindu yang tertahan. Hingga Qomat berakhir, baru mereka kembali bicara. Sebelum dipotong oleh Tira. “Kamu sebaiknya lihat bapak dulu”.

Masuklah Darto ke kamar bapaknya. Dilihatnya wajah dan tubuh yang dulu perkasa kini terbaring nampak begitu lemah. “Darto, kenapa lama sekali?”. Untuk sekadar bertanya, ia kepayahan. Dijawabnya pertanyaan itu seadanya. Tapi lalu terpotong. “Ada orang datang” kata Tira. Darto keluar untuk menyambut. Empat orang berbadan besar dengan buku tebal disaku. Dua diantaranya dengan dengan rokok masih terselip di mulutnya. Melihat tuan rumah keluar, satu diantara orang itu menaruh rokoknya di pagar, maju ke depan.

“Siang”. “Siang, Cari siapa?”. “Narto ada?”. “Narto, narto….”. “Narto tak ada, besok saja kesininya” Tira memotong. “ah, Kami tunggu diluar saja” dengus mereka. “Terserahlah”. Mereka berdua masuk, dan kali ini dengan menutup pintu depan.

“Siapa mereka?”. Tanya Darto. “Sudahlah”, jawab Tira. Keluar kamar, kali ini giliran Narto, “Mereka lagi?” Tira mengangguk. Tapi Narto segera berujar. “Mas, maaf, aku terlilit hutang”. “Pada siapa? Lintah darat? guoblok! Kau tak ingat kata bapak?”, “Berapa dan Buat apa uang itu?” Darto naik pitam. Diantara cekungan hitam, matanya menjadi merah. Nyaris ditempeleng adiknya itu, tapi tak sampai hati. “Nanti akan kubuat perhitungan dengan kau”. Diburu penasaran, tak kuasa ia menahan tanya. “apa yang kau gadaikan?”. “sertifikat rumah”.  “aku terpaksa, aku ditipu” tambahnya. “Kau bajingan, bagaimana kau membayarnya? Kau tahu kita semua meski tak terlalu miskin, tak punya sesuatu yang lebih”. “Ini rumah Bapak Ibu, rumah pusaka!”. Jeda sejenak, Darto semakin berang, tapi tak bisa dia meledak, karena ada bapaknya di kamar. “Kata Edhi, ada jalan keluarnya, tapi harus menunggu bapak bicara” jawab Narto. Darto tak menjawab, dia tenggelam. Ruang tamu jadi hening dalam jeda. Lagi.

Darto tahu, untuk bisa menyelamatkan rumahnya, hanya bapaknya yang bisa. Berpuluh tahun yang lalu, bapaknya selalu berujar, berkali-kali, untuk menghindari semua riba. Jangan berhubungan dengan sesuatu apapun yang memiliki kandungan riba. Selain renta, Bapaknya orang kuno. Tak pernah dia menabung di bank. Semua harta miliknya disimpan dalam satu tempat persembunyian yang hanya dia sendiri yang tahu. Tidak istrinya, yang mati duluan tiga tahun yang lalu. Apalagi anak-anaknya. Barangkali, tuhan dan setan pun tak juga tahu dimana. Satu jam lagi berlalu. Tira menawari makan. hanya Narto yang makan. Sisanya tetap berada di tempat masing-masing.

Selang tak berapa lama. “Kalian, tolong segera kekamar, bapak mau bicara”,  Edhi berucap. Di kamar yang sempit itu, Tira duduk disamping bapaknya. Edhi di kursi dekat pintu, Narto dan Darto berdiri.

“Senang sekali semua berkumpul”. Bapaknya bicara, tertatih dan kepayahan. Dalam payah itu, lagi dia bilang. “Di zaman bapak dulu, pada tahun 50an, bapak dulu mencegat mobil Bung Karno, buat kemudian meminta dia buat pidato”. “Waktu itu, hal demikian itu lazim”. “Semua sayang pada Bung Karno, kalian, dan anak-anak kalian, harus  ikuti jalan Bung Karno”. “Sayang Bung Karno ditelikung, dia tak pernah buat salah. Bung Karno tak bisa salah. Kalian camkan”. Semuanya diucapkan dalam kepayahan dan suara yang lirih. Semua mengangguk. Bapaknya orang lama dan kuno. Alih-alih pigura tanah suci, satu-satunya foto yang terpampang disitu adalah foto Soekarno. Buku pedomanya adalah Di Bawah Bendera Revolusi, dua jilid edisi pertama, yang selalu ada di dekat tempat tidurnya,  lusuh, sebagaimana kondisi pemiliknya sebulan belakangan.

“Negara ini kacau” terusnya. “Dan yang membuat kacau adalah orang-orang yang suka duit, mereka makan duit kompeni, Soekarno tak suka duit kompeni”. “Di Konferensi Meja Bundar Dulu, dia menolak bayar utang Belanda yang kalah perang”. “Kurang ajar memang, mereka yang menjajah, kita yang suruh bayar”. “ Tapi Soekarno dipukul dari belakang, rezim seterusnya memilih untuk membayar”. “Berjuta-juta Gulden”. Semuanya mengangguk. Lagi. Bapaknya orang lama dan kuno. Sudah ubahnya seperti kaset antik, yang terus berputar dari A ke B dan begitu seterusnya. Semuanya selalu tentang Soekarno dan kemerdekaan. Kadang bila beruntung, tapi amat jarang, tentang percintaan masa mudanya dengan mendiang istrinya. Bagaimana mereka bertemu waktu jaman revolusi. Tapi sama misteriusnya seperti cara dia menyembunyikan hartanya, cerita itu selalu berhenti pada tahun-tahun Soekarno jatuh, lalu bagaimana mereka menikah di awal tahun 80an, dan kembali lagi ke Soekarno. Cerita selalu melompat. Singkatnya, ingat Darto, bapaknya akan mendongeng soal Bung Karno, merdeka, pacaran, Bung Karno jatuh, menikah, beranak-pinak, lalu kembali lagi ke Bung Karno dengan tambahan kata “andai” dan “jika”.

Siang itu juga agaknya sama saja. Setelah Soekarno, bapaknya sedikit cerita soal ibunya, sebelum kembali lagi ke Soekarno. Lagi. Hanya saja dengan tempo yang lebih lambat dan suara yang lebih pelan. Membuat semuanya jadi lebih panjang. Satu jam itu, rasanya seperti terhenti dalam situasi yang memburu untuk menunggu kereta api lewat di persimpangan jalan, yang sebetulnya singkat tapi tak sudah-sudah.

Tapi rupanya siang itu berbeda. Puas dengan Soekarno bapaknya tiba-tiba berbelok. “Bapak ada sedikit simpanan”. “Dulu kakekmu orang kaya”. “Tapi waktu Bung Karno jatuh, dia terpaksa menjual semuanya untuku dan ibumu”. “Soal uang itu, aku tak pernah masalah, kesedihanku adalah kalau ingat Bung Karno ditikam dari belakang”. “Andai saja dia tak ditikam, negara kita tak jadi kacau begini”. Suaranya meninggi, tapi tetap pelan dan payah. Lalu jeda. Bapaknya minta air putih. Tira mengambilkan gelas dan menyapuapinya hingga bapaknya bilang cukup pada sendok ketiga.

“Kami tak lagi kaya, tapi masih cukup, aku masih punya beberapa sisa uang dan logam mulia, ibu kalian juga tak mau ikut campur, dia serahkan semuanya padaku buat urus”.  “Sekarang kalian yang urus”. “Jadi, setelah Bung Karno jatuh, kakekmu menjual semua miliknya buat aku dan ibumu, yang tersisa adalah rumah ini”. “Kalian urus yang adil, tapi hanya satu pesanku, rumah ini tak boleh kalian jual, sesulit apapun”. Semuanya mendekat, kerena suara bapak makin lirih. “Jadi harta itu aku simpan di….”. Adzhan ashar. Semua suara tenggelam. Lagi. Darto hanya mengangguk dalam pura-pura. Bapaknya terus bicara. Hingga qomat berakhir, bapaknya meneruskan “kalian harus saling jaga, saling sayang, saling bantu”.  “Bung Karno dulu bilang, hanya dengan gotong royong semua itu mungkin, termasuk mengusir penjajah”. “Urus uang itu dengan baik, itu lebih dari cukup untuk kalian semua, jangan pakai untuk yang tak perlu”. “Bapak lelah, bapak mau tidur, kalian keluarlah”. Masih dengan suara yang pelan dan payah. Semua mengangguk.

Mereka keluar. Narto ke ruang tamu, dengan waspada mengintip keluar memastikan. Lalu kembali ke meja makan. “Masih?” tanya Darto. “masih”.

Darto bertanya pada Tira dan Edhi. “Kalian dengar”. Edhi mengerling, lalu menatap Tira, “Kau tadi lebih dekat”. “aku juga tak dengar, kita tanya bapak besok pagi, biasanya dia selalu lebih segar sehabis sarapan”. Darto duduk. Tertidur. Tira ke dapur. Narto masuk ke kamar. Edhi keluar rumah, merokok. Malamnya Darto makan, lalu kembali tidur. Tira, Narto dan Edhi juga.

Pukul lima tiga puluh, pintu rumah diketuk. Darto membukanya. “Apa Narto ada?”. “Kalian dari tadi di depan, Narto belum pulang”. “Lalu kapan dia pulang?”. “Tak tahu, kalian tunggu saja”. “Kapan dia pulang?” setengah berteriak tuan tamu membalas. Darto nyaris naik pitam. Lagi. Tapi adzan magrib berkumandang. Semua suara tenggelam. Lagi. Narto di ruang tamu mengintip lewat tirai. Tira terbangun dan menyiapkan makan malam. Edhi memeriksa bapaknya. Satu yang akan mereka segera tahu. Besok, bapaknya tak lagi sarapan, dan Darto harus di kampung lebih lama.

 

Puisi untuk adik-ku

Beberapa waktu lalu, menikahlah sudah, kau dengan seorang laki-laki, yang berarti kau jadi bagian dari keluarganya dan dia jadi bagian dari keluarga kita. Tapi diantara ritual-ritual yang melelahkan dan tak berkesudahan itu, diantara haru dari ibu dan bapak, ada satu hal yang kusesalkan, tak sempat aku mainkan lagu untukmu, juga puisi yang sebenarnya ku persiapkan buat jadi semacam penebus dosa, karena aku sedikit (atau malah tidak) saja membantu dalam persiapan-persiapan panjang itu. Orang bisa saja bilang dengan enak, “doa saja sudah cukup”, tapi sebagaimana kau juga barangkali tahu, aku tak pandai berdoa, aku juga tak fasih untuk berpura-pura hanyut dalam khidmat kidung-kidung suci, jadi, hanya puisi ini saja yang bisa kuberikan meski juga barangkali tak akan pernah atau sempat kau dengar dan baca. Tadinya, puisi ini hendak aku bacakan di antara lagu yang rencananya akan kumainkan dengan kawan-kawanku. Sialnya, rencana itu gagal karena aku tak berani untuk menyanyikanya sendiri waktu kawanku berkata dia tak bisa datang. Demi segalanya aku bersumpah bahwa aku telah berlatih untuk memainkan dua atau tiga lagu, tapi rupanya aku terlalu canggung.

IMG-20170924-WA0034

Betapa pun buruknya puisi ini, ada satu hal yang pasti; tak pernah sekalipun aku menolak pilihanmu. Karena itu adalah hak-mu sepenuhnya untuk menentukan dengan siapa kau nantinya akan melihat orang itu ketika menutup mata tiap malam dan membukanya tiap pagi. Entah ini karena rasa percayaku atau ketidak-pedulianku, tapi buatku, ini bentuk rasa sayangku padamu, dengan mempercayakan pilihanmu padamu. Tidak sepertiku dan sebagian orang lain, untuk soal kawin ini, bagaimanapun kau adalah orang yang beruntung. Untuk itu, sebagai tanda sayangku, selain puisi ini, kuucapkan sekali lagi padamu; selamat dan berbahagialah.

Buat Rani

Selamat atas perkawinanmu
masih kuingat candamu yang wagu, atau marahmu yang terlalu, kala kau masih kecil dulu,
sebalmu padaku waktu diam-diam aku curi makananmu, atau ketika aku lupa tak ingat pulang,
kini, hari ini, kau telah memilih.

Tak perlu kau risau,
meski berada diantara orang dengan tebalnya bedak dan gincu yang menipu,
dan senyum dan doa para tamu yang diucapkan sambil lalu,
sedari pagi ini, kau akan hidup bersama dengan pilihanmu.

Selain bingkisan seserahan, sebagai bentuk restu-ku, adalagi sebetulnya pesanku untukmu, Rani-ku,
bahwa ini semua hanya separuh atau seperempat jalan saja,
karena hubungan insan itu harusnya antar cinta,
karena ia menentukan alih-alih ditentukan.

Cinta itu, aku percaya, lebih berkuasa daripada kata-kata,
lebih indah dari puisi-puisi,
ia lebih kuat dibanding surat-surat,
ia melampaui makna-makna dari kitab-kitab yang dianggap paling suci,
lebih hebat dibanding adat-istiadat,
lebih sakti daripada kutukan tuhan-tuhan dan dewa-dewi,

misalnya bisa kita temukan, dari besarnya harap Oddysey pada Penelope untuk pulang setelah perang,
atau ketika echo tenggelam dalam gema pada ujaran yang tak pernah sampai untuk narsisus, atau barangkali yang lebih dekat dan sederhana, penantian seorang nenek pada kakek yang tak pernah bisa pulang,
semuanya menentang kehendak dan kutukan dari negara-negara pun dewa-dewi,
cinta-cinta itu, melebihi semua yang terberi. Ketika hendak dirangkum, ia melawan.

Ia menentukan, dan bukan ditentukan. Ia pada dirinya adalah penciptaan.

Pengharapanku padamu adalah sebagaimana orang mengharap untuk hujan sesekali saat terik musim kemarau,
atau pada matahari agar cerah sejenak kala hujan menderu,
pengharapan dalam rindu dan haru,
Kini harus kukatakan, Rani-ku, bukan selamat atas kawin-mu,
tapi selamat atas. cintamu.
Bahagialah selalu.

Kakakmu
Rian Adhivira Prabowo.
September 2017.

 


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Desember 2017
S S R K J S M
« Nov    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors