Archive Page 2

Bella – Pablo Neruda

Bella,

como en la piedra fresca
del manantial, el agua
abre un ancho relámpago de espuma,
así es la sonrisa en tu rostro,
bella.

Bella,
de finas manos y delgados pies
como un caballito de plata,
andando, flor del mundo,
así te veo,
bella.

Bella,
con un nido de cobre enmarañado
en tu cabeza, un nido
color de miel sombría
donde mi corazón arde y reposa,
bella.

Bella,
no te caben los ojos en la cara,
no te caben los ojos en la tierra.
Hay países, hay ríos
en tus ojos,
mi patria está en tus ojos,
yo camino por ellos,
ellos dan luz al mundo
por donde yo camino,
bella.

Bella,
tus senos son como dos panes hechos
de tierra cereal y luna de oro,
bella.

Bella,
tu cintura
la hizo mi brazo como un río cuando
pasó mil años por tu dulce cuerpo,
bella.

Bella,
no hay nada como tus caderas,
tal vez la tierra tiene
en algún sitio oculto
la curva y el aroma de tu cuerpo,
tal vez en algún sitio,
bella.

Bella, mi bella,
tu voz, tu piel, tus uñas
bella, mi bella,
tu ser, tu luz, tu sombra,
bella,
todo eso es mío, bella,
todo eso es mío, mía,
cuando andas o reposas,
cuando cantas o duermes,
cuando sufres o sueñas,
siempre,
cuando estás cerca o lejos,
siempre,
eres mía, mi bella,
siempre.

-Pablo Neruda

Iklan

KGB – Beda

 

Sample latihan dari lagu “Beda”, yang rencananya akan dijadikan satu album dengan judul yang sama, tentang kisah cinta yang harus terbentur tembok-tembok agama dan primordialitas yang bebal–dan kerap kali membosankan. Terinspirasi dari kisah nyata, nantinya, seluruh album akan bercerita tentang Melvin, sang tokoh utama yang harus berhadapan dengan bingkai-bingkai sosial, dalam hal ini ras dan agama. Sebagaimana setiap roman, satu kisah cinta tak melulu berhasil memang. Tapi keberanian Melvin dalam canggungnya untuk menerjang setiap bingkai itu sendiri, sudah merupakan satu pencapaian, sebagai seorang Melvin, dengan seluruh darah dan dagingnya. Meski kalah. Dalam senyumnya yang sebentar, seluruh ruang-waktu terangkum dan mampat dalam hatinya yang membara.

Kami percaya, bahwa cinta, kalau itu ada, maka sebagaimana Melvin, adalah melampaui dari segala bingkai yang tersedia. Bahkan, barangkali, ketika ia lewat, tuhan-tuhan pun harus rela minggir untuk memberi jalan. Tapi, entahlah.

Lirik:

melvin~ cina~
hatinya bunga-bunga
jatuh cinta kali pertama

melvin~ cina~
sadar telah jatuh cinta
dengan seorang gadis jawa

melvin~ cina~
cintanya tiada berbalas
terhalang tembok agama

dalam tangisnya terselip doa
agar bisa hidup bersama ha aa~
tiada guna

hanya karena beda agama
cinta bisa dipaksa kalah ha aa~
sia-sia

tuhan, dewa, para berhala
baik di surga atau neraka ha aa~
kasihanilah

melvin~ cina~
cintanya tiada berbalas
terhalang tembok agama
kasihanilah.

Bisik

Kemarilah, barang sebentar,
sembari peganglah tangan kiriku yang gemetar,
“Ini rahasia”, kataku,
sibaklah rambut yang menutup daun telingamu,
condongkan tubuhmu padaku,

Supaya,
aku bisa pakai tangan kananku tuk menutup bibirku dengan benar,
agar bisik-ku tak bisa orang lain baca dan dengar,
yang meski lidahku kelu,
dan hatiku ragu,
kupersiapkan diri dengan mengulur waktu,

Supaya,
diam-diam, aku bisa kecup basah pipi merahmu yang lucu,
sambil berharap, kau akan merona tersipu.

Sama,
seperti dulu,

Semoga.

“I’m so sorry”

Pintu

Lewat pintu itu,
orang alim atau jalang lalu lalang,
disini aku tunggu kau, datang.

Lewat pintu itu,
entah dalam girang atau malang,
di sini aku tunggu kau, pulang.

[…] as fickle as a paper doll […]

Senyum

Apa yang lebih menakutkan dari neraka?
waktu puisi tak lagi punya bunyi,
waktu rima-nya tak lagi punya nada,
waktu,
kau punya senyum,

tak ada….


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 23 pengikut lainnya

Juli 2018
S S R K J S M
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors
Iklan