Posts Tagged 'fesyen'

Perempuan, Fesyen, dan Konsumsi

Dibandingkan dengan laki-laki, aktifitas berbelanja dan fesyen lebih dilekatkan pada perempuan. Terlebih ketika televisi dapat dimiliki oleh semua orang dan gemerlap berbagai kontes kecantikan yang diikuti dengan berbagai ragam kolom kecantikan di majalah-majalah wanita. Simmone de Buvoir feminis eksistensialis sebagaimana dikutip oleh Thornham mengatakan “maksud fesyen-fesyen atas mana (perempuan) diperbudak bukanlah mengungkapkan diri sang perempuan sebagai individu independen, tetapi sebaliknya untuk menjadikanya mangsa bagi hasrat laki-laki..”

Pendapat de Buvoir tersebut mewakili para feminis yang banyak mengkritisi determinasi perempuan dari fesyen yang merujuk pada suatu bentuk kecantikan. Determinasi yang tidak ada habisnya tersebut dapat menimbulkan kekerasan yang barangkali sama berbahayanya dengan kekerasan fisik. Kekerasan dari determinasi atas nama kecantikan berbahaya karena berlangsung secara terselubung dan seringkali tidak disadari sehingga perempuan sendiri justru meng-affirmasinya.

Disamping Budaya Fesyen dan Kecantikan yang tampak pada para model dan artis di televisi, Kontes Kecantikan juga mencerminkan betapa perempuan dipandang melalui kriteria tubuh tertentu. Affirmasi dari nilai determinasi tersebut dapat kita lihat dari tekanan pada perempuan untuk meraih kecantikan ala barbie yang mustahil, yang dalam beberapa kasus tertentu bahkan sampai pada obsesi yang menimbulkan anorexia dan Bulimia.

Di era ini, perempuan memang sudah mendapat tempat di ruang publik untuk bekerja dan turut berpartisipasi dalam hal produksi, sebuah dunia yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki. Namun para perempuan yang bekerja tersebut juga tidak luput dari determinasi tersebut, dimana nilai-nilai kecantikan turut dimasukkan kedalam kriteria pekerjaan untuk perempuan dalam bentuk jargon “berpenampilan menarik”.

Perempuan yang walaupun bekerja dan menempati sektor produksi sebagaimana diperjuangkan oleh feminis, terutama feminis liberal dan marxis, dalam konteks ini justru menemui rintangan dimana perempuan lebih dipandang semata-mata sebagai tubuh (komoditas) dan bukan manusia. “Kecantikan” yang dikejar dan dijadikan acuan tidaklah membebaskan melainkan memenjarakan perempuan itu sendiri.

Para perempuan haruslah lebih kritis dalam menyikapi fesyen dan kecantikan yang lebih merupakan kepanjangan dari dominasi patriarki. Munculnya gerakan fesyen alternatif semacam “big is beautiful” maupun fesyen yang androgini dapat diapresiasi sebagai bentuk perlawanan atas kecantikan yang dominan.

Selama perempuan belum menjadi tuan atas tubuhnya, kita akan terus menemukan fenomena gunung es atas pelaporan kekerasan perempuan baik di ruang privat maupun publik, terlebih untuk memasuki dunia politik untuk kemudian menghasilkan peraturan yang lebih sensitif gender. Kita dapat memulainya dengan menjadi konsumen yang rasional, yang tidak silau dengan gemerlap pernak-pernik fasyen maupun jargon-jargon kecantikan.


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya

Agustus 2018
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors