Arsip untuk Februari, 2011

JuPe & Etika Lingkungan

Perbuatlah bagi orang lain apa yang Anda ingin mereka perbuat terhadap anda” – Yesus

Apa yang tidak Anda inginkan dibuat kepada Anda, jangan perbuat itu terhadap orang lain” – Confucius

Jangan Seorang pun dari kamu memperlakukan saudaramu atas cara yang ia sendiri tidak ingin diperlakukan” –  Muhammad

Seseorang harus mencari untuk orang lain kebahagiaan yang ia inginkan untuk dirinya sendiri” – Buddha

Dari beberapa kutipan diatas, semua memiliki maksud dan tujuan yang sama, hanya penyampaianya yang sedikit berbeda. Lalu apa maksudnya? yak! beberapa kutipan diatas adalah Golden Rule yang mendasari beragam prinsip-prinsip etika.

Sebelum membaca lebih lanjut kita seharusnya bertanya terlebih dahulu, Apa itu etika? ada banyak definisi mengenai etika, tapi secara umum etika adalah mengenai bagaimana manusia seharusnya berbuat secara “baik”. Salah satu favorit saya adalah mengenai Imperatif Kategoris dari Rasio Praktis Immanuel Kant yang mengatakan bahwa “berbuatlah sebagaimana maxim perbuatanmu diterima secara universal” (Filsafat Modern – F. Budi Hardiman) bahwa dalam berbuat, seseorang harus menimbang terlebih dahulu apakah perbuatan tersebut dapat diterima oleh orang lain atau tidak.

Tapi sayang, teori tersebut sudah dianggap tidak memadai lagi. Bahkan dikatakan kalau Rasio Praktis telah mengalami kebangkrutan (Demokrasi Deliberatif – F. Budi Hardiman) sehingga sudah tidak bisa diterapkan lagi. Pertanyaanya adalah “Kenapa”? jawabanya karena Rasio Praktis terlalu bertumpu pada subyek. Menurut filosof kondang Jerman, JB.Habermas tidaklah cukup kalau setiap orang sendirian memeriksa apakah ia dapat menghendaki keberlakuan universal sebuah norma ( Etika Abad keduapuluh – F. Magniz Suseno). Lalu apa jalan keluarnya? yaitu melalui proses diskursus -musyawarah- yang mengakomodir kepentingan semua pihak.

Etika Lingkungan

Dasawarsa terakhir ini kita sedikit banyak heboh mengenai permasalahan lingkungan. Dari felem dokumenter  Inconvenient Truth-nya si Al gore sampai ke Hollywood The Day After Tomorrow. Kalau orang jawa pas panik bilang Lhaiske!! ayo sadar!

Yah harus kita akui ya, semenjak revolusi industri yang dibarengi pemikiran-pemikiran yang bersifat “subyektif” ala modernisme-pencerahan, kita seolah lupa dan terhanyut dalam konsumerisme dan eksploitasi yang berlebihan terhadap bumi yang katanya berumur 4,5 milyar taun ini (udah sepuh ya).

Positifnya, tema diatas ternyata menghasilkan sebuah antitesis baru: tumbuhnya kesadaran terhadap lingkungan. Persoalan lingkungan jadi urusan para menteri di PBB dan Protokol Kyoto sampai ke Blogger kacangan kayak saya yang aji mumpung  sekalian ikutan lomba (ups hehe).

Jadi poin pentingnya adalah, melalui wacana dan diskusi dari yang serius sampai sedehana yaitu : kita bertanggung jawab terhadap bumi yang sudah sepuh ini. Bahwa seharusnya kita bersama sepakat kalau bumi beserta isinya ini harus kita rawat, bukan buat siapa-siapa tapi demi kita sendiri (ingat Rasio Praktis Kant dan Diskursus Habermas diatas). Wacana dan diskursus yang berkelanjutan mengenai lingkungan seharusnya cukup untuk membuat kita aware dan peka pada lingkungan kita sehari-hari.

Terus mas, apa hubunganya sama JuPe yang montok  itu? hahaha JuPe adalah JUrus PEncegahan sederhana yang bisa kita terapkan pada our common life.Apa saja yak ini dia :

  • Pertama : ingat golden rule mengenai etika : sebelum membuang sampah, meludah, mengumpat, mengotori, sembarangan selalu ingat kalau apa yang kita lakukan itu menyalahi kepentingan dan keselamatan umum, terutama cucu kita besok
  • Kedua : selalu ingat ke peraturan pertama :P. Kita pasti nggak terima to, kalau tempat maen masa kecil kita yang ijo royo-royo besok hilang diganti pabrik-pabrik dan asepnya.

Buat yang udah kadung ngiler mbayangke mbak JuPe beneran dari judul diatas, nyoh tak kasih potone sekalian 😛

Selamat Semangat Membumikan Bumi ya !! salam hangat !

Warna-warni Imlek Kampung Semawis

Gong Xi Fat Choi, selamat taun baru Cina ! Pasti ramai ya, perayaan taun baru cina ditempat masing-masing. Buat temen-temen yang tinggal atau kebetulan sedang singgah di Semarang, bisa dicoba mampir ke Kampung Semawis di kawasan pecinan.

Ada apa disana? banyak ! mulai dari acara-acara khas taun baru cina macam barongsai, tari kipas (sayangnya saya ga kebagian nonton 😦 ), kita juga bisa nemu banyak jajanan disini, yang khas semarang sampai makanan cina, yang suka cemilan pasti seneng deh 😀 . Mau cari pernak-pernik ? disini juga ada kok, angpau, boneka barongsai, dan aneka kerajinan yang lucu-lucu.

Tapi ada hal yang melebihi enaknya makanan dan cantiknya pernak-pernik ; yaitu kerukunan, kebersamaan ditengah perbedaan. Pengunjung pasar Imlek di Semawis nggak melulu didominasi sama etnis tiong hoa saja kok. Sejuk rasanya melihat kerukunan dari beragam etnis dan agama keyakinan tumpek blek saling berbagi senyum di satu tempat.



Sudah saatnya kita melupakan kenangan rasial masa lalu, di era yang katanya sudah melampaui batas modernitas ini, mari kita sambut hari besok dengan mengatakan dan mengamini YA pada perbedaan, YA pada pluralitas. Mungkin suatu hari nanti rumah-rumah etnis tionghoa sudah tidak lagi identik dengan pagar yang tinggi, karena memang sudah tidak ada lagi yang perlu dicemaskan. Buktinya? silahkan liat pegelaran imlek di Semawis yang penuh warna-warni. Mari kita rayakan tahun baru cina bersamaan dengan merayakan keberagaman disekitar kita 🙂


Gravatar

blog sederhana dari pemikiran saya yang juga ndak kalah sederhananya, silahkan dinikmati

ayo-ayo buat yang ga sempet buka blog ini bisa baca via email, gampang kok tinggal klik disini

Bergabunglah dengan 22 pengikut lainnya

Februari 2011
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

my tweets @rianadhivira

wordpress visitors